Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 471 Pembunuhan Satu Kali Jalan


“Sebenarnya, nggak akan ada masalah apa pun kalau dari awal kamu menyerahkan semua asetmu. Kenapa kamu nggak mau dengar? Apakah kamu benar-benar merasa bisa kabur dari genggaman Alex?”


Pria itu tidak menolak. Kenly pun tahu kalau dia setuju dengan usulnya.


Jadi, Kenly hanya bisa menatap istri dan anaknya dengan berat, lalu dia tersenyum kepada anaknya dan berkata, “Ayah pergi sebentar. Kalau pesawat sudah tiba, kalian dengan ibumu naik dulu ke pesawat.”


Mata istri Kenly penuh dengan air mata, tapi dia sadar saat ini mereka tidak punya pilihan lain. Kalau Kenly tidak melakukan ini, maka tidak ada satupun dari mereka yang dapat pergi.


Kenly sudah pergi dengan pria itu, sedangkan anggota keluarga Kenly sudah naik ke atas pesawat. Terdengar suara tembakan dari luar bandara saat pesawat lepas landas.


Seluruh aset Kenly didonasikan ke organisasi amal.


Pertunjukan komedi pun berakhir.


Ahmad tersenyum saat mendengar akhir dari masalah itu, “Tampaknya dia tetap nggak punya belas kasihan. Aku sempat mengira kalau dia akan menggertakku dan melepaskan Kenly.”


Pak Bryan berkata dengan suara yang dalam, “Sebenarnya dia nggak berencana membiarkanmu hidup enak, tapi bagaimanapun juga dia bekerja sama dengan Biro Red Shield yang mewakili keadilan di Indonesia. Dia baru memilih untuk mengikuti caramu setelah mempertimbangkan citra Biro Red Shield, tapi aku harap kamu nggak melakukan hal semacam ini lagi.”


Ahmad menggaruk-garuk kepalanya. Dia tersenyum. “Kamu juga tahu kalau sebenarnya sekarang aku sama sekali nggak perlu berbuat seperti ini, apalagi situasi di Kota Manado sudah kembali stabil. Begitu Richard mati, orang di atas pasti akan terguncang. Entah berapa banyak orang yang akan masuk panti jompo sebelum waktunya, tapi ini adalah akhir yang terbaik untuk kita.”


Target yang harus ditangani sudah ditangani, mereka bisa mengendalikan situasi Kota Manado sepenuhnya dengan lancar.


Alex tidak berencana pergi, karena saat ini masalah penawaran hadiah di situs web masih belum diselesaikan. Dia khawatir Erika akan jatuh dalam bahaya.


Orang dari Organisasi Wind sudah tiba di tempat Erika berada dan telah mengendalikan situasi di sekitarnya. Kalau ada pembunuh yang datang, maka mereka akan langsung menangani pembunuh itu secara diam-diam.


Kondisi PT. Atish semakin membaik dan perkembangannya sudah melampaui apa yang dibayangkan oleh orang-orang, juga telah mengokupasi 40% dari pangsa pasar, bahkan beberapa pengusaha lokal senior tidak dapat menekan perkembangan PT. Atish.


Di kantor, Alex duduk di atas sofa, di hadapannya ada Ilody yang berpakaian ala kadarnya, keduanya saling menatap.


Alex tersenyum getir sambil menggelengkan kepala, “Nggak disangka, ternyata kamu yang akan memimpin tugas ini, tapi bukankah kamu sudah mundur ke belakang layar?”


Ilody tersenyum tipis, “Betul, tapi aku mengajukan diri ke sini untuk melaksanakan tugas ini. Nggak ada orang Organisasi Wind yang keberatan, jadi aku pun datang.”


Alex menghela napasnya, “Tapi untuk apa? Apalagi sudah bertahun-tahun lamanya kamu nggak muncul. Kemunculanmu yang begitu tiba-tiba ini membuatku sangat resah. Apalagi begitu keluar, kamu langsung menerima tugasku.”


Ilody mengetuk-ngetuk meja sambil minum teh.


“Sepertinya kamu belum tahu kalau kali ini para pembunuh sudah berkumpul di situs web. Tampaknya mereka sadar kalau tingkat keamanan di sini mulai semakin ketat. Mereka selamanya nggak akan punya kesempatan lagi kalau masih nggak bertindak juga, jadi mereka berencana untuk menghabisimu dan Erika sekaligus.”


Alex terkejut, “Apakah itu berarti mereka sudah mengubah perburuan hadiah jangka panjang menjadi misi yang sangat singkat?”


“Betul, jadi aku pun ke sini, karena jumlah pembunuh yang datang untuk membunuhmu dan Erika sangat banyak. Selain itu, kemampuan mereka juga nggak buruk.”


Ilody menatap ke kejauhan, terlihat ada sebuah titik hitam di langit yang jauh.


Titik hitam itu perlahan-lahan menjadi besar.


Raut wajah Alex langsung berubah, dia bangkit berdiri dan berjalan ke ruangan kantor Erika.


Gedung PT. Atish adalah gedung yang paling tinggi di sekitarnya. Ruangan kantor Erika juga terletak di lantai tertinggi. Jadi kalau ada penembak jitu, mereka sama sekali tidak bisa mencari titik yang paling tinggi.


Di sinilah titik yang tertinggi.


Tapi masih ada satu cara, yakni ke sini menggunakan parasut untuk melakukan pembunuhan.


Pembunuh!!


Alex langsung menyadari poin itu, jadi dia harus pergi ke sisi Erika dan melindunginya dengan baik!


Erika sedikit terheran-heran saat melihat Alex menerobos masuk dengan tergesa-gesa. Tapi tepat pada saat ini, mendadak Alex menghempaskan diri kepadanya.


Sebuah lingkaran besi berwarna hitam menempel di kaca belakang Erika.


Prang!!


Lingkaran besi hitam itu langsung membuat seluruh kaca pecah.


Untungnya, dari awal Alex sudah menghempaskan diri ke Erika, jadi mereka tidak terluka.


Tapi Erika tetap saja terkejut, “Kamu baik-baik saja, 'kan?!”


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sekarang juga kita pergi dari tempat ini. Di sini sudah nggak aman lagi!”


Alex tidak menyangka ternyata pembunuh-pembunuh itu datang dengan begitu cepat. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Roselline.


Alex masih perlu mencari orang lebih banyak lagi walaupun saat ini sudah ada Organisasi Wind. Biro Red Shield punya kekuatan yang mutlak di Indonesia. Selama orang Biro Red Shield datang, maka pembunuh-pembunuh ini tidak akan bisa kabur!


Saat ini Ilody sedang berdiri di koridor, dia meregangkan ototnya. Alex berkata kepadanya dengan kesal, “Bukankah sudah seharusnya kamu mulai melaksanakan tugasmu? Kami semua akan mati di sini kalau kamu begini terus!”


Ilody tertawa terkekeh, “Kamu adalah Bos Gang Beruang Hitam. Kalau kamu begitu gampang untuk dibunuh, maka dari awal kamu sudah mati saat masih berada di Gang Beruang Hitam.”


Alex pun merasa yakin dengan Ilody saat melihat ekspresi wajahnya yang sangat tenang, tapi dia juga sadar kalau sekarang bukanlah saatnya untuk berdiam di tempat ini.


Lebih baik pergi dari tempat ini dulu. Dia tahu kalau Biro Red Shield memiliki kantor cabang di Kota Tomohon, jadi mereka akan aman asalkan mereka bergabung dengan Biro Red Shield.


Sedangkan Organisasi Wind hanyalah organisasi swasta, masih ketinggalan jauh kalau dibandingkan dengan Biro Red Shield.


Dalam hal persenjataan dan peralatan saja sudah berbeda jauh.


Setelah Alex dan Erika pergi dari sini, senyuman Ilody baru sirna. Dengan tenang, dia menyaksikan beberapa pembunuh yang berjalan keluar dari ruangan kantor.


Orang-orang ini masuk dari luar menggunakan parasut, peralatan di tubuh mereka lumayan canggih.


Semua karyawan di kantor sudah pergi menyelamatkan diri. Di lantai ini hanya tersisa Ilody beserta anggota Organisasi Wind yang menyamar sebagai karyawan kantor.


Beberapa pembunuh tertegun saat melihat Ilody.


Dari penampilan Ilody, dia tidak terlihat seperti seseorang yang hebat.


Dia lebih mirip dengan seorang paman yang berjualan makanan di luar.


Ilody hanya berjalan keluar dengan santai saat melihat mereka. Tepat pada saat ini, ekspresi seorang pembunuh langsung berubah dan dia segera bergerak mundur.


Leher dari para pembunuh yang tidak mundur itu sudah mengalirkan darah.


Pembunuh yang tidak dibunuh oleh Ilody itu wajahnya langsung menjadi muram. “Ternyata Ilody dari Organisasi Wind juga sudah keluar, sepertinya Alex sudah mengundang orang Organisasi Wind.”


“Orang yang bisa mengetahui identitasku sebagai anggota Organisasi Wind hanya dengan melihat senjataku, bisa dikatakan bahwa dia adalah orang yang punya reputasi di dunia. Apalagi kemampuan orang yang nggak terkenal itu biasa-biasa saja, sedangkan orang dengan kemampuan yang biasa-biasa saja sudah aku bunuh.” Jari Ilody sedikit bergerak. “Oleh karena itu, aku mau tahu siapa kamu.”