Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pengobatan


Ketiganya menuruni gunung dan kembali ke desa, setibanya di desa sudah pukul 10 malam.


 


 


“Apa? Ketangkap?” dokter jenius juga turut senang.


 


 


Alex mengambil jaring emas tersebut, dokter jenius melihat Lembuswana emas dan mengangguk, lalu berkata, “Bagus sekali. Dengan adanya hewan ini, cacing di kepala nona Erika pasti bisa dihilangkan. Namun, ada yang perlu kuberitahukan padamu, Lex.”


 


 


Alex bertanya, “Ada apa, Dok?”


 


 


Dokter jenius berkata, “Aku hanya perlu mengambil sisik secukupnya saja untuk mengobati penyakit Istrimu. Kusarankan untuk melepaskan Lembuswana emas ini. Hewan mitologi ratusan tahun tidak boleh mati di tanganku, apalagi di desa ini. Kalau tidak, desa kami akan terkena musibah.”


 


 


Alex berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku juga berpikir begitu. Kalau begitu terserah Anda saja, aku akan melepaskannya.”


 


 


Maka dari itu, dokter jenius mengambil sisik emas secukupnya dari tubuh Lembuswana emas. Kemudian, membuka jaring emas dan melepaskan hewan mitologi tersebut. Setelah mendapat kembali kebebasannya, hewan tersebut tidak buru-buru kabur, melainkan berdiri di atas dinding rumah dokter jenius dan tampak membungkukkan diri kepada Beliau sebelum masuk kembali ke dalam hutan secepat kilat.


 


 


Semua orang berkata, “Dia memang punya kesadaran.”


 


 


Dengan adanya sisik emas, dokter jenius segera meracik obat untuk Erika, obat-obatan yang lain telah selesai diracik, dan hanya tinggal obat primer satu ini. Sisik emas yang telah dihaluskan menjadi bubuk dicampurkan dengan bubuk obat yang lain, lalu diminum oleh Erika.


 


 


Dokter jenius kembali berkata, “Malam ini aku akan menyelesaikan racikan obat yang tersisa, jadi kalian bisa membawanya besok saat pergi. Setelah pulang, ingat untuk minum obatnya secara teratur dan juga olahraga teratur. Dalam waktu 1 bulan penyakitnya akan sembuh.”


 


 


Alex sangat berterima kasih, dia juga mengatakan, “Dok, untuk mengucapkan rasa terima kasihku, aku bersedia memberikan bantuan 10 orang guru untuk desa kalian. Hal ini akan aku urus setelah pulang. Para guru akan segera datang mengajar dalam waktu dekat.”


 


 


Dokter jenius bersyukur sambil memegang tangan Alex, “Baguslah kalau begitu, aku berterima kasih padamu mewakili anak-anak!”


 


 


Alex dan Erika kembali ke rumah ketua tim produksi untuk sementara waktu. Keesokan harinya sebelum jam sarapan, Alex pergi ke rumah dokter jenius seorang diri untuk mengambil obat.


 


 


Dia merasa ada yang tidak beras saat hendak memasuki teras rumah dokter jenius. Begitu melihat ke dalam, dia melihat ada belasan unit motokros terparkir di dalam teras rumah.


 


 


Di teras juga berdiri belasan orang misterius berpakaian serba hitam dan topi hitam, masing-masing dari mereka memegang senjata. Tepat pada saat ini, seorang wanita berpakaian putih berjalan keluar dari dalam rumah.


 


 


Meskipun wanita ini menutupi wajahnya dengan kain, tapi Alex sangat mengenalinya, haya dilihat dari postur tubuh saja sudah ketahuan kalau orang itu adalah Mega.


 


 


Alex bergegas menghampiri dan berteriak, “Ngapain kamu ke sini, Mega?”


 


 


Mega juga agak terkejut melihat kedatangan Alex, lalu dia berkata, “Alex, tak kusangka kita bisa ketemu! Kalau begitu tidak ada yang perlu aku sembunyikan, jangan harap bisa meminta dokter jenius ini untuk menyembuhkan Istrimu! Kamu sudah menghancurkan keluargaku, aku mau kamu membayarnya!”


 


 


“Mega, aku sudah cukup mengasihani keluarga kalian. Tapi kamu malah tidak tahu diuntung, tidak tahu bersyukur! Kalau begitu jangan salahkan aku.” Alex berjalan kedepan dan hendak turun tangan, tapi dia malah melihat Mega melambaikan tangan dan 2 orang pria berpakaian hitam membawa dokter jenius yang telah diikat ke hadapannya.


 


 


Alex menghentikan langkahnya, lalu berkata sambil menunjuk Mega, “Mega, ada salah apa orang tua ini kepadamu? Ini urusan di antara kita, hadapi aku kalau berani!”


 


 


 


 


“Dia punya keahlian, dan kalian satu komplotan. Jadi, aku tidak akan melepaskannya. Gimana? Tidak ada yang tidak adil, kan? Kalian semua pantas mati! Aku ingin kalian mati!”


 


 


Mega melambaikan tangan dan seorang anak buah menarik dokter jenius, lalu menekan kepalanya ke bawah, kemudian mengangkat tinggi-tinggi sabit menunggu perintah Mega untuk memenggal kepala orang tua ini.


 


 


Orang tua itu tidak tahu syarat apa yang ingin diajukan Mega, tapi dia tidak takut mati, lalu mencibir, “Nak, bunuh saja sesukamu, leherku ini sangat keras, pisaumu terlalu lembut untuk memenggalnya.”


 


 


Alex kagum pada dokter jenius di dalam hatinya, dia juga merasa bersalah telah melibatkan keluarganya karena urusan pribadi, “Mega, kalau kamu berani membunuh dokter jenius, maka aku akan membuatmu mati mengenaskan.”


 


 


Mega menggertakan gigi dan menurunkan tangannya. Anak buah di belakangnya yang memegang sabit mengayunkannya dan hendak memenggal leher dokter jenius.


 


 


Darah menyembur disertai kilatan cahaya bilah sabit, sebuah kepala berguling sembarangan. Namun, kepala tersebut bukanlah milik orang tua itu, melainkan anak buah yang barusan memegang sabit.


 


 


Mega sendiri juga tidak menyangka akan jadi seperti ini, dia segera melompat ke samping dan melihat dengan seksama. Di belakang pria tadi berdiri seorang wanita berpakaian hitam, postur tubuhnya seksi dan wajahnya cantik, raut wajahnya tampak dingin dan sangat lincah.


 


 


Barusan, saat sabit pria tersebut diturunkan, cambuk di tangannya keluar tepat waktu dan melilit erat di ujung sabit, kemudian saat menariknya, sabit tersebut berbalik memenggal kepala si pria.


 


 


Mega tentu saja kenal orang tersebut, dia berteriak tanpa sadar, “Friska, kamu?”


 


 


Alex kegirangan melihat kedatangan Friska yang tepat waktu, dia harus membereskan orang-orang ini terlebih dahulu sebelum memikirkan hal lain, lalu dia berkata, “Friska, tepat sekali kamu datangnya. Lindungi keluarga ini.” Alex segera menghampiri Mega, sekarang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.


 


 


Mega merasa sangat marah karena rencananya telah gagal, dia mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya dan menunggu kedatangan Alex. Perkelahian terjadi di antara keduanya. Para bawahan yang berada di teras mengepung kemari, ada yang membantu menghadapi Alex, dan ada juga yang mengepung Friska.


 


 


Para bawahan yang dibawa oleh Mega sebagian besar adalah para elit bela diri. Namun, mereka sama sekali bukan lawan bagi Friska.


 


 


Dalam sekejap, Friska telah mengalahkan 4 orang pembunuh.


 


 


Orang yang tersisa hanya berseru dan tidak berani mendekat. Friska bertarung sambil mundur, dia melindungi dokter jenius masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, kemudian menghalangi di depan pintu dengan cambuk di tangannya untuk membantu Alex. Para bawahan Mega perlahan kewalahan.


 


 


Alex sudah sangat membenci Mega, dia sama sekali tidak memberi ampun, jurusnya juga semakin cepat. Mega dikepung oleh sekumpulan bayangan tinju. Setelah berusaha menahan belasan jurus, dia akhirnya kalah.


 


 


Mega melirik ke sisi lain, para bawahannya sama sekali tidak berarti bagi Friska.


 


 


“Tidak, kalau begini terus aku pasti akan mati di sini.” Mega adalah wanita yang sangat cerdik, melihat situasi yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk menang, dia kemudian melarikan diri dan berniat untuk membuat rencana lagi.


 


 


Ada dua orang pembunuh yang setia datang untuk menyerang Alex, salah satu di antaranya langsung terlempar ke luar dinding oleh pukulan Alex begitu mendekat.