
Alex berkata, “Kamu tenang saja, aku punya pertimbanganku sendiri. Aku juga tidak akan melawan mereka secara paksa, serahkan saja masalah ini padaku. Oh iya, siapa tadi nama Pak Lurah yang bermasalah dengan Ayahmu waktu itu?”
Christie berpikir sejenak, lalu berkata, “Namanya aku lupa, karena waktu itu aku masih kecil. Hanya saja aku pernah dengan Kakek mengatakannya beberapa kali, kalau tidak salah namanya Bambang Kaseno. Selain itu, tampangnya juga mudah diingat, kepalanya besar dan gemuk, matanya satu besar satu kecil.”
Alex mengangguk, lalu berkata, “Oke, dengan adanya ciri khas ini sudah cukup. Christie, pulanglah dulu. Aku akan meninggalkan nomor teleponku padamu, tolong jaga Istriku sebentar, kalau ada yang terjadi padanya, misalnya pingsan, tolong segera hubungi aku.”
Christie menjawab, “Jangan khawatir, Kak. Aku pasti akan menjaganya baik-baik.”
Alex sudah memutuskan untuk pergi ke kantor pemerintah untuk memberi keadilan pada kasus orang tua Christie. Dia juga tahu kalau masalah ini tidak mudah diselesaikan mengingat sudah 6 tahun berlalu. Para pimpinan di kelurahan juga mungkin sudah berganti beberapa kali. Selain itu, dia hanyalah tamu dari tempat lain, atas dasar apa dia membantu mereka?”
Namun, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di dunia ini, yang ada hanya orang yang berniat membuat masalah, kalau dirinya tidak pergi, maka sedikit kesempatan pun tidak akan ada. Dengan begitu, Alex meminjam sebuah sepeda dengan ketua tim produksi, lalu mencari informasi nama si wakil lurah tersebut, dan mengetahui namanya Bambang Kaseno seperti yang dikatakan Christie. Setelah mengingat nama tersebut, Alex langsung menuruni gunung. Saat sampai di depan kantor pemerintah, hari sudah siang, penjaga di depan kantor menghentikannya dan bertanya maksud kedatangannya.
Alex menjawab sambil tersenyum, “Pak, aku mencari Pak Kaseno.”
“Di sini tidak ada yang namanya Pak Kaseno. Pergilah.” jawab penjaga dengan singkat, padat dan jelas.
Alex berkata, “Kok tidak ada? Pak, aku benar-benar mencari Pak Kaseno karena ada urusan.”
Penjaga tersebut menatap Alex dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mencibir, “Kubilang tidak ada ya tidak ada, asal sebut nama Pak Kaseno, kurasa kamu pasti datang membuat petisi, kan?”
Alex bertanya dengan heran, “Kenapa kamu tahu kalau aku ke sini untuk itu?”
Penjaga tersebut berkata, “Aku sudah bekerja di sini selama 3 tahun. Nama Lurah di sini ada semua, kecuali yang namanya Kaseno.”
Alex berpikir sejenak sebelum berkata, “Maaf, yang kumaksud itu Pak Kaseno yang menjabat sebagai wakil Lurah di sini 5 tahun yang lalu, apa dia sudah pensiun sekarang? Namanya Bambang Kaseno, apa orang ini tidak ada?”
Penjaga kembali berkata, “Kulihat kamu cukup pintar, tapi kenapa pertanyaanmu begitu bodoh? Aku belum bekerja di sini 5 tahun lalu, jadi tidak tahu. Coba cari ke tempat lain.”
Alex menjawab, “Baiklah kalau begitu, aku coba cari ke dalam saja.” selesai mengatakannya, Alex berjalan masuk.
Penjaga tersebut kembali menghadangnya, “Eh, eh, apa-apaan kamu ini? Kamu mau menyelinap ke dalam, hah? Kamu pikir tempat apa ini bisa masuk seenaknya?”
Tatapan Alex jadi dingin, ekspresi wajahnya juga berubah, “Hei Pak, kenapa perkataanmu begitu tidak enak didengar? Kenapa aku tidak boleh masuk? Siapa yang menetapkan kalau rakyat tidak boleh masuk kantor kecil seperti ini? Walau kantor pusat kalian sekalipun juga aku bisa masuk hanya dengan membuka pintu.“
Penjaga tersebut mencibir, “Kamu? Bisa masuk kantor pusat? Bual memang tidak perlu bayar pajak, bual saja terus. Bagaimanapun kamu tidak diperbolehkan masuk ke dalam tempat ini.”
Alex jadi sedikit marah, “Aku memintamu membantuku mencarinya, tapi kamu tidak kenal. Aku mau mencarinya sendiri ke dalam, eh kamu tidak memperbolehkanku masuk. Apa kantor ini milik keluargamu? Siapa yang bilang tidak boleh masuk ke dalam?”
Penjaga tersebut juga tidak mau kalah, “Kami punya aturan, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk. Kalau berani laporkan saja aku ke tingkat Kabupaten.” saat keduanya tengah bertengkar, tiba-tiba datang seorang pria paruh baya. Melihat penjaga sedang bertengkar dengan seseorang, dia menghentikan sepeda dan bertanya, “Hei, Damar, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?”
Alex buru-buru mengatakan, “Pak Kaseno yang kumaksud itu Bambang Kaseno, dia Lurah di sini 5 tahun yang lalu.”
Pak Lurah yang memakai kacamata menatap Alex, lalu bertanya, “Untuk apa kamu cari Bambang?”
Mendengar pertanyaannya, dia sepertinya kenal dengan Bambang, jadi Alex berkata, “Tentu saja ada urusan. Kamu pasti kenal dia, kan?”
Pak Husman menganggukkan kepala, lalu berkata, “Dulu kami teman kerja, ada perlu apa kamu mencarinya?”
Ekspresi wajah Alex seketika berubah serius, dia melihat ke kiri dan ke kanan, lalu berkata, “Ceritanya panjang. Kalau boleh tahu, kemana dia sekarang jika tidak di kantor sini?”
Pak Husman berkata, “Bambang sekarang sudah jadi wakil bupati di kabupaten kami.”
Alex tiba-tiba tersadar, lalu mencibir, “Orang seperti itu bisa naik jabatan? Bisa dibayangkan seberapa buruknya kondisi pemerintahan kalian ini.”
Penjaga yang mendengar Alex memarahi Pak Bambang segera memarahinya, “Hei, nak, beraninya kamu memarahi Pak Bambang? Awas kutangkap kamu nanti.”
Alex berkata, “Lagian kamu juga tidak kenal dia, apa hanya karena mendengar aku memarahinya, kamu jadi mau mengadukanku ke tingkat kabupaten? Hmph, Bambang sialan, tidak punya hati nurani, aku tidak hanya ingin memarahinya, tapi juga menuntutnya.”
Meskipun penjaga tersebut tidak mengenal Bambang, tapi mendengar Pak Husman mengatakan kalau dia adalah wakil Bupati, maka dirinya pasti juga punya wewenang tersendiri. Sebagai staf di kantor kelurahan, dia juga harusnya melindungi kehormatan pimpinannya, kan? Maka dari itu dia berkata, “Pak Husman, saya panggil orang dulu ke kantor polisi untuk menangkap bocah ini.” Kantor polisi terletak tepat di sebelah kantor lurah, Damar hanya cukup berteriak saja agar para polisi di dalam keluar untuk menangkapnya. Hanya saja, Pak Husman berada di sini, jadi dia perlu meminta pendapatnya terlebih dahulu.
Ekspresi wajah Pak Husman sangat serius, dia tidak menyetujui maksud Damar, melainkan melambaikan tangan, “Sudahlah.”
Damar agak tidak senang, dia menatap Alex dengan kesal dan berkata, “Pak, warga seperti ini harus diberi pelajaran.”
Pak Husman berkata, “Masalah ini menyangkut pimpinan, kamu juga tidak bisa mengurusnya terlalu jauh. Mar, sana kerjakan tugasmu, biar aku yang mengurusnya.”
Damar tetap saja sedikit tidak bersedia, tetapi dia terkejut sampai tidak berani bersuara lagi saat dipelototi oleh Pak Husman dengan wajah masam.
Pak Husman berkata pada Alex, “Untuk apa kamu mencari Pak Kaseno? COba katakan padaku. Kalau tidak bisa dibicarakan di sini, kita bisa mengobrol di kantorku.”
Alex merasa Pak Husman tidak seperti orang jahat, setidaknya dia tidak bersekongkol dengan Bambang, kalau tidak dia pasti tidak akan membiarkannya begitu saja setelah memarahi Bambang. Ya, memahami situasinya dari yang paling dasar juga tidak buruk. Pahami dulu seperti apa si Bambang ini. Oleh karena itu, Alex mengikuti Pak Husman masuk ke dalam gedung kantor kelurahan.
Gunung Pandani berada di bawah yurisdiksi Kabupaten Sriwongso. Di sini adalah kantor kelurahan Desa Sriwongso, gedung perkantorannya sangat sederhana yang terdiri dari 4 lantai, pintu dan jendelanya masih terbuat dari kayu, desain interiornya juga sangat sederhana. Tata ruang di dalam kantor Pak Husman juga terbilang sederhana dengan sebuah meja kerja yang di atasnya terdapat miniatur bendera kebangsaan, telepon, beberapa dokumen, dan tempat alat tulis.
Di samping meja terdapat dua buah kursi kayu dan sepasang sofa single yang sudah usang. Pak Husman menunjuk sofa dan berkata, “Silakan duduk.”
Alex langsung duduk tanpa merasa sungkan, Pak Husman juga menuangkan segelas air untuk Alex, dan Alex mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia bertanya, “Pak, sudah berapa lama Anda bekerja di sini?”