Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Penangkapan Rahasia


Alex beristirahat selama sehari sebelum tenaganya berangsur-angsur pulih. Siangnya dia kembali ke hotel Emperor untuk menangani pekerjaan sehari-harinya. Saat hendak pergi ke rumah sakit, tiba-tiba Hengky masuk dari luar dan berkata, "Kak, ada seorang pria bernama Reyhan mencarimu."


Alex berpikir, "Bukankah Reyhan keponakannya Wendy? Untuk apa dia mencariku?"


"Biarkan dia masuk."


Tak lama kemudian, Hengky membawa Reyhan masuk, Alex tersenyum, "Rey, ada apa mencariku?"


Reyhan memandang Hengky, dia tidak segera menjawab. Alex berkata, "Tidak apa-apa, dia bukan orang lain."


Reyhan berkata: "Paman, bukankah kamu memintaku mengamati pergerakan Elno? Dia muncul tadi malam."


Alex segera bertanya, "Kamu benar-benar melihatnya?"


Reyhan berkata: "Bawahanku memantau rumahnya 24 jam sehari. Dia melihat Elno berkeliaran di sekitar rumahnya, tetapi dia tampak ragu-ragu dan tidak berani pulang. Menurut pemahamanku, dia mengkhawatirkan putrinya, makanya dia berencana untuk mengambil risiko pulang dan melihatnya."


Alex bertanya: "Lalu apa kamu tahu apa yang terjadi dengan keluarganya?"


Reyhan berkata: "Iya. Seharusnya karena auditorium sekolah tempat putrinya Noviani belajar runtuh. Noviani terperangkap di bawah puing-puing dan sedikit cedera. Elno tidak tahu kondisi luka putrinya, dan dia juga tidak berani menelepon ke rumah, jadinya dia pulang saat hari sudah gelap."


"Ngomong-ngomong, Paman, kamu harusnya kenal Noviani, bukankah kamu menyelamatkan 24 gadis kecil di sekolah?"


Alex tiba-tiba menyadari, "Oh iya, nama gadis itu memang Noviani. Tak kusangka dia adalah putri Elno."


Alex berpikir sejenak sebelum menelpon Nova. Setelah Nova mendengar berita itu, dia langsung berkata: "Alex, jika berita ini benar, kami akan segera menangkap Elno. Sebaiknya kamu datang kemari. Kita diskusikan dulu rencana penangkapannya."


Alex berkata, "Oke. Aku akan segera ke sana."


Alex berkata kepada Hengky: "Heng, pergi ke rumah sakit untuk melindungi keselamatan kakak iparmu. Aku dan Reyhan akan pergi ke kantor polisi."


Saat Alex tiba di kantor polisi, Nova sedang menunggunya, "Alex, Inspektur Gilang juga ada di sini, mari kita diskusikan rencana penangkapan Elno."


Nova berkata: "Menurut petunjuk yang diberikan oleh Reyhan. Tadi malam, Elno muncul di dekat rumahnya. Alasan dia tidak memasuki rumah, kupikir Noviani belum keluar dari rumah sakit tadi malam, dan prosedur pemulangan baru dilakukan pagi ini. Elno kembali kali ini karena dia ingin melihat putrinya. Oleh karena itu, aku rasa dia akan pulang malam ini. Kita akan menangkapnya malam ini."


Inspektur Gilang bertanya pada Nova, "Rencanamu adalah bertindak sendiri dengan Alex? Tidak membawa pasukan?"


"Ya." Nova menjawab dengan tegas.


Inspektur Gilang berkata dengan cemas, "Jika Elno adalah pembunuh yang kejam, apa kalian berdua akan berada dalam bahaya?"


Nova berkata: “Tenang saja. Jika kita banyak orang, sebaliknya malah akan sulit. Pak, ada yang tidak beres dengan tim kita. Aku khawatir seseorang akan memberitahu Elno. Hanya dengan menangkap Elno kita bisa menetapkan hukuman Devan. Tolong menyetujuinya."


Inspektur Gilang berkata: "Baiklah, aku menyetujui tindakanmu. Perhatikan keselamatan. Selain itu, aku akan meminta polisi khusus bersiaga untuk memberi bantuan kapan saja."


Nova berkata: "Tadi malam, aku melihat-lihat file Elno. Beberapa tahun yang lalu, dia sudah diburon karena memukul orang hingga cacat. Namun, tercatat dalam file bahwa dia adalah putra yang berbakti dan dia memiliki seorang ibu yang sudah berumur dan juga seorang putri. Devan pasti sudah memberinya banyak uang untuk kabur ke luar negeri saat terakhir kali membantu Devan meledakkan pabrik. Alasan dia tidak pergi pasti karena dia merindukan keluarganya di rumah. Mana mungkin dia mau melakukan perjalanan yang sia-sia jika tidak melihat ibu dan putrinya?"


Alex setuju dengan pemikiran Nova. Inspektur Gilang berkata, "Baiklah, semoga kalian berhasil. Kita bisa menghukum Devan setelah menangkap Elno."


Sore harinya, Alex dan Nova mengikuti Reyhan ke Jakarta Timur dan makan malam di rumah Wendy.


Setelah hari gelap, Alex dan Nova diam-diam mendatangi rumah Elno. Nova tidak berani memarkirkan mobil di dekat rumah Elno. Dia tahu bahwa orang-orang seperti itu pasti sangat sensitif.


Nova menemukan ada bangunan komersial dua lantai sekitar lima puluh meter dari rumah Elno. Keduanya diam-diam naik ke puncak gedung, di mana mereka bisa melihat ke rumah Elno yang ada di bawah dari jarak lima puluh meter. "Di sini saja malam ini. Jika Elno tidak pulang malam ini, maka ada yang salah dengan analisisku. Aku akan menyesuaikannya tepat waktu besok dan menyusun kembali rencana lain."


Karena mereka tidak tahu apakah Elno akan muncul, keduanya harus menunggu dengan sabar, udara di musim hujan agak dingin, dan pakaian Nova sedikit kurang, dia memeluk erat dirinya sambil gemetaran.


Alex berkata: "Nova, pakaianmu kurang tebal. Nah, pakai mantelku."


Melihat Alex melepaskan jaketnya, Nova berkata, "Tidak perlu. Kamu akan kedinginan jika melepaskannya. Jangan dilepas, kamu bisa memelukku."


Alex tersenyum dan tetap melepas jaketnya untuk Nova.


Wajah Nova memerah karena Alex menolak untuk memeluknya, "Gimana kondisi Erika?"


Alex menjawab: "Sudah tidak serius, dia bisa keluar dari rumah sakit dalam dua hari."


Alex juga mengubah topik pembicaraan, "Kenapa aku tidak pernah melihat ayahmu?"


Nova berkata: "Aku bukan orang Jakarta. Kampung halamanku di Semenanjung Minahasa, aku orang Manado. Ayahku bekerja di Manado. Dia terlalu sibuk, selalu aku yang meluangkan waktu untuk mengunjunginya!"


Alex mengangguk, "Kalau ibumu?"


Ketika Nova ditanya tentang ibunya, matanya memerah, air matanya pun tak terbendung lagi, "Ibuku sudah gugur."


Alex terkejut, "Ibumu juga seorang polisi?"


Nova mengangguk, "Dia adalah polisi anti narkotika yang hebat. Dia mengabdikan diri di Jakarta! Dia juga berkorban di tanah yang dia cintai. Karena itu, aku bertekad untuk memberantas semua bandar narkoba di Jakarta juga untuk membalaskan dendam ibuku."


"Aku baru kelas enam ketika ibuku meninggal. Di hari ulang tahunku, ibuku awalnya ada di rumah untuk merayakan ulang tahunku. Namun, dia tiba-tiba menerima telepon bahwa sekelompok pengedar narkoba bersenjata akan memasuki Jakarta, jadi dia pergi untuk menjalankan tugasnya. Dalam misi penangkapan, ibuku meninggal ditembak demi melindunginya rekannya yang baru saja bergabung."


Berbicara tentang ini, air mata Nova mengalir, "Dia adalah polisi anti-narkotika terbaik, dan juga Dewa Perang abadi di hatiku."


Alex berkata dengan marah, "Para pengedar narkoba itu benar-benar terkutuk."