
Pria yang mengucapkan kata penghinaan itu mengenakan kacamata, tapi dia tidak bersikap sopan.
Orang yang lain juga tersenyum.
Saat ini, Geya hanya bisa bersembunyi di dalam pelukan Friska, sama sekali tidak berani melawan orang-orang ini. Bagaimanapun juga, dia tahu kalau orang-orang ini marah, pasti akan memukulnya.
Berharap Farraz menolongnya dan meminta balik barang itu sudah jadi hal yang tidak mungkin. Tidak benci padanya karena menyebabkan masalah saja sudah termasuk beruntung.
Tuan Finn mendecakkan lidahnya, “Sekarang kamu kira kamu sangat hebat ya karena ada teman yang melindungimu? Bahkan berani menolak permintaan kami, kamu tenang saja, kami nggak akan menyentuhmu. Bagaimanapun juga, keluarga Bazel pasti nggak akan mengampuni kami kalau kami sampai menyentuhmu. Tapi kamu tetap harus memberi muka padaku, jadi kamu perlu ikut aku ke sana.”
Geya masih menolak di dalam hatinya. Dia bisa menerima dirinya dihina, tapi dia tidak berharap Friska ditindas oleh orang-orang ini.
Jadi, maksud dari dia tidak berbicara adalah menolak.
Tuan Finn jelas tidak peduli dengan hal ini. Dia berjalan ke depan, lalu meraih tangan Geya untuk menariknya secara paksa.
Tepat ketika dia mengulurkan tangan, Friska memegang pergelangan tangan Tuan Finn, lalu dia memutar pergelangan nya dengan kuat sehingga Tuan Finn berbalik badan dengan patuh. Lengannya terletak di punggung dan wajahnya penuh dengan rasa sakit.
Teman-temannya Tuan Finn sangat kaget. Mereka tidak menyangka Friska berani turun tangan. Pria berkacamata itu menunjuk Friska sambil berkata, “Lepaskan Tuan Finn, apa kamu tahu siapa Tuan Finn? Beraninya kamu menyentuhnya!”
Friska tersenyum dingin, “Aku nggak peduli siapa dia. Kalau aku nggak senang, aku bisa saja melemparnya dari sini. Apa kamu percaya?”
Ekspresi pria berkacamata itu pun berubah, seketika dia tidak tahu harus bagaimana berbicara dengan Friska. Bagaimanapun juga, dia tidak tahu statusnya Friska.
Kata yang diucapkannya sangat kejam, seperti sering menghadapi masalah beginian.
Pria berkacamata lekas berkata, “Tuan Finn adalah tuan muda dari PT. Mega, apa kamu tahu PT. Mega? Kalau kamu berani melukai Tuan Finn, kamu nggak akan bisa keluar dari sini!”
Friska baru menyadari, “Pantesan saja aku merasa pria brengsek ini sangat familiar, ternyata tuan muda dari PT. Mega. Ayahmu termasuk orang berbakat, juga berkemampuan, tapi kok melahirkan anak tak berguna sepertimu.”
Saat ini, Tuan Finn kesakitan sampai menggertakkan gigi. Awalnya dia ingin membantah begitu mendengar perkataan itu, tapi Friska malah menekuk tangannya, sehingga dia hanya bisa berteriak sakit.
Kata-kata kejam yang ingin dikatakannya hanya bisa ditelan kembali.
“Jadi, apa sekarang kamu ingin memaksa kami ke pesta?” tanya Friska dengan dingin.
Tuan Finn hanya bisa menggelengkan kepala.
Sekarang, dia sudah tahu betapa hebatnya Friska, dia bisa menaklukkannya dengan satu gerakan.
Ketika Friska melihat Tuan Finn mengaku kalah, dia baru mendorong Finn ke samping, kemudian berkata pada Geya, “Kita cari tempat untuk istirahat dulu. Setelah melihat orang-orang ini, aku nggak berselera makan lagi.”
Setelah Finn dilepaskan Friska, dia langsung berteriak ke pengawalnya di depan, “Semuanya masuk ke dalam!”
Seketika puluhan pengawal muncul di dalam ruang VIP.
Finn menunjuk Friska sambil memaki, “Tangkap dia! Malam ini, aku ingin perempuan ini tahu akibatnya apabila berani menyinggungku!”
Friska tertawa. Dia sudah tahu Finn akan berbuat begitu, bagaimanapun juga orang seperti Finn berbuat semena-mena adalah hal yang wajar.
Friska tidak takut, karena dia tahu Alex akan membantu dirinya untuk memberi hukuman kepada mereka.
Tuan Fin tersenyum suram dan matanya tersembunyi rasa antusias.
“Tapi, kamu jangan khawatir. Aku nggak akan membunuhmu. Aku hanya akan membuatmu tahu betapa hebatnya aku. Tentu saja, hal ini hanya bisa ditunjukkan di tempat tidur.”
Empat sisi pengawal mulai turun tangan, tapi pada saat ini terdengar suara sumpit mengetuk mangkuk. Suara hentakan itu terdengar sangat lantang ketika tak ada lagi yang berbicara di dalam ruangan.
Pada saat ini, Tuan Finn baru ingat kalau di ruang VIP ini masih ada seorang pria.
Tuan Finn terus mengabaikan keberadaan Alex.
“Kalian memang keterlaluan sekali.” Alex menyeka mulutnya dengan tissue.
Lalu dia berdiri, sedangkan ekspresi Geya pun berubah dan berkata pada Friska dengan suara rendah, “Sebaiknya jangan biarkan Alex asal bertindak. Kalau dia terus duduk di sana, pasti nggak ada masalah!”
Friska membujuknya, “Jangan khawatir, nggak apa-apa. Dia sudah sering menangani masalah kecil begini, selain itu hal ini nggak akan membahayakannya.”
Harus diketahui, waktu itu mereka benar-benar bertarung dengan senjata, bahkan ada penembak jitu dan bom. Adegan tembak-menembak itu hampir seperti perang, hanya kurang pemboman pesawat.
Oleh karena itu, puluhan pengawal ini tidak mungkin bisa membangkitkan rasa ingin bertarung dalam diri Alex.
Tuan Finn menatap Alex dengan bingung, tidak tahu apa yang ingin Alex lakukan.
“Bocah, aku sarankan sebaiknya kamu jangan ikut campur. Kalau aku marah, aku akan membunuhmu!” kata Tuan Finn dengan tak senang.
Alex menggelengkan kepala. “Aku berbeda denganmu. Kalau aku marah, aku nggak hanya membunuh kamu saja, tetapi juga akan membunuh keluargamu.”
Ekspresi Tuan Finn menjadi masam, “Kurang ajar!”
Ada empat pengawal keluar dari puluhan pengawal itu, lalu menyerang ke arah Alex.
Sedangkan Alex hanya mengangkat bahu dengan tenang. Ketika menghadapi tinjuan para pengawal itu, dia hanya dengan santai memukul mereka empat kali.
Plak, plak, plak, plak!
Empat pengawal itu terbang hingga empat sampai lima meter.
Alex melambaikan tangan, “Memang terlalu lemah. Setelah bertemu begitu banyak orang hebat, aku benar-benar merasa tak senang melawan orang-orang biasa ini, karena ini akan menjadi penyiksaan sepihak.”
Tuan Finn serta anak buahnya sangat kaget. Mereka tahu kemampuan para pengawal itu. Meskipun tidak begitu hebat dalam seni bela diri, tapi kemampuannya lebih hebat dari orang biasa.
Bisa dikatakan, satu orang dari mereka bisa memukul tujuh hingga delapan preman biasa.
Namun, para pengawal itu ditaklukan Alex dengan santai. Hal ini benar-benar di luar dugaan Finn.
“Bunuh dia!” Tuan Finn yang merasa malu pun memerintah pengawalnya melawan Alex.
Akhirnya pengawal yang lain pun mulai menyerang Alex, tapi Alex terlihat sangat tenang. Dia mengulurkan satu kaki, lalu kecepatan pergerakannya meningkat dengan pesat. Seketika dia sudah datang di delapan hingga sembilan sisi pengawal.
Tinju dan tendangan saling bergantian dan pengawal terbang satu per satu. Mereka jatuh di atas fasilitas ruang VIP dan menghancurkan banyak kerajinan tangan yang cantik.