
“Mobil ini sangat indah. Kak, berapa harganya?” Tanya Siska.
Saras berkata dengan penuh kemenangan: "Harganya 2.4 miliar."
Leni berkata dengan iri: "Benar-benar hebat. Putrimu benar-benar luar biasa. Nilainya sangat bagus saat sekolah, sekarang ketika baru mulai bekerja, dia mendapatkan proyek besar. Penghasilannya pasti tidak sedikit, kan?"
Saras berkata: "Proyek itu bernilai 21 triliun. Keluarga Buana kami dapat menghasilkan setidaknya 216 miliar. Namun, mustahil bagi Erika untuk mendapatkan semua uang ini. Lasmi yang ada dalam keluarga kami pasti akan mengambil sebagian besar darinya."
Siska berkata dengan cemburu, "Mengapa wanita tua di keluarga itu begitu jahat? Bukankah Erika adalah cucunya? Proyek ini tidak akan bisa didapatkan jika bukan karena Erika."
Saras menghela nafas dan berkata: "Dia memiliki kekuasaan atas keluarga. Kami hanya bisa menahannya. Tapi ketika proyek selesai, Erika pasti akan mendapatkan bonus sekitar 21 miliar."
Leni berkata: "Itu tidak buruk. 21 miliar, keluargaku bahkan tidak berani memikirkannya."
Siska bertanya: "Kak, Rino ingin membeli rumah, berapa yang kamu sponsori?"
Saras berkata: "Aku telah menyiapkan 400 juta."
Siska berkata: "Aku dan kakak tertua tidak sekaya keluargamu, masing-masing dari kami mengeluarkan 130 juta. Kak, harap dimaklumin."
Saras berkata: "Itu sudah pasti. Selain itu, 660 juta cukup untuk membayar uang muka. Setelah Rino menikah, dia harus bisa bertanggung jawab. Biarkan dia membayar sendiri angsurannya."
Siska berbalik dan melihat Alex, "Kak, siapa ini?"
Wajah Saras langsung muram, ketika Alex dan Erika menikah, semua anggota keluarganya menghadiri perjamuan. Tak disangka, keberadaan Alex begitu rendah sampai-sampai bibi Erika tidak mengenalinya.
Alex tidak marah, dia tersenyum dan berkata, "Bibi. Aku suami Erika, Alex. Apakah kamu lupa, aku bahkan bersulang denganmu di perta pernikahan."
Siska menepuk kepalanya, "Oh! Aku ingat. Kamu adalah suami tak berguna yang dinikahi Erika, kan?"
Saras sedikit menyesal sekarang, dia seharusnya tidak membawa Alex pulang ke rumah keluarganya, ini sangat memalukan. Ke mana pun Alex pergi, dia tidak akan bisa melepaskan embel-embel menantu tak berguna.
Leni mengerutkan kening, "Saras, kenapa Erika tidak datang, dan kamu malah membawa sampah ini kemari?"
Saras berkata: "Pekerjaan Erika di lokasi konstuksi terlalu sibuk, dan dia juga tidak ada pekerjaan di rumah, jadi sekalian menjadi sopirku.Aku jadi bisa minum dengan ayah dan ibu."
Ketika tiba waktunya makan siang, ketiga kakak beradik itu membuat semeja hidangan mewah dan menunggu Rino membawa pacarnya ke rumah. Tapi tidak ada yang datang setelah menunggu lama. Tidak hanya itu, bahkan tidak ada yang menjawab saat ditelepon.
Ketiga kakak berasik itu mulai berspekulasi. Saras berkata, "Apa yang dilakukan si Rino? Apa mungkin dia sedang bertengkar dengan pacarnya?"
Kakek dan nenek Erika juga mengkhawatirkan putranya, dan terus menelepon Rino, tetapi Rino tidak menjawab teleponnya, hal ini sungguh membuat cemas.
Tidak ada yang berselera makan semeja hidangan enak ini.
Alex, seorang menantu dengan nama keluarga lain, merasa bahwa dia tidak harusnya berbicara pada awalnya, tetapi akhirnya dia kehilangan kesabaran dan berkata kepada Saras, "Bu. Apa mungkin terjadi sesuatu pada paman?"
Siska berkata dengan kesal, "Alex, apa yang kamu tahu? Apa kamu punya hak untuk berbicara di sini?"
Siska menoleh dan berkata kepada kakaknya: "Haruskah kita mencarinya?"
Leni berkata dengan wajah sedih: "Rino menganggur sepanjang hari, berkeliaran dengan sekelompok teman, di mana kita bisa menemukannya?"
Saat sekeluarga khawatir, tiba-tiba, ponsel Rino menelepon ke telepon rumah. Saras dengan cepat berkata, "Rino menelepon."
Saat mengangkatnya, dia menyadari bahwa penelepon itu sama sekali bukan Rino.
"Siapa kamu?"
Nada suara pihak lain dingin dan blak-blakan, lalu berkata: "Tidak penting siapa aku. Yang penting adalah Rino dan istrinya ada di tangan kami. Alasannya adalah Rino berhutang 1 miliar pada bos kami. Sekarang batas waktu telah habis dan dia tidak dapat membayarnya. Kami hanya bisa memberi tahu anggota keluarga untuk melunasi uang yang terhutang kepada kami dalam jangka waktu 24 jam dengan bunga, jika tidak, kalian tidak akan pernah bertemu orang ini lagi. "
Saras ketakutan pada saat itu, "A, apa yang kamu bicarakan? Bagaimana mungkin Rino bisa berhutang begitu banyak kepadamu?"
Pihak lain berkata, "Kami memiliki kontrak pinjaman yang ditandatanganinya. Tidak ada gunanya jika kalian pergi ke pengadilan untuk menuntut kami. Aku menyarankanmu untuk membayar uang itu baik-baik. Ingat, kami ingin uang tunai. Telepon kami jika uangnya sudah cukup, lalu aku akan memberi tahumu cara pembayarannya. "
Pihak lain menutup telepon setelah berbicara.
“Ayah, Ibu, Rino diculik!” Saras berkata dengan wajah pucat.
Seluruh keluarga segera panik, kondisi jantung si Ayah kurang baik, jadi dia langsung koma. Untungnya, Alex ada di sana, dia langsung memberi pak tua CPR, barulah pak tua itu selamat dari maut.
Setelah mengantar si pak tua ke rumah sakit, mereka semua mulai mendiskusikan cara menyelamatkan Rino. Siska menyarankan untuk lapor polisi. Saras berkata: "Tidak boleh sembarangan lapor polisi. Kita masih tidak tahu siapa pihak lain itu sekarang. Bagaimana jika dia jadi kesal dan bertindak jauh?"
Leni berkata, "Tapi dari mana kita bisa mendapatkan uang 1 miliar? Mereka bahkan ingin uang tunai. Apa yang bisa kita lakukan?"
Alex berkata, "Bu! Kakek, nenek, bibi sekalian, jika kalian percaya padaku, bisakah serahkan urusan ini padaku?"
Siska berkata: "Pergi sana, kami sedang mendiskusikan hal penting, jangan membuat masalah. Atas dasar apa kami harus percaya padamu?"
Saras ragu-ragu dan bertanya, "Alex, cara apa yang kamu punya?"
Alex berkata: "Aku kenal beberapa teman gangster. Aku bisa meminta mereka untuk berbicara dengan rentenir, dan jika memang harus membayar, kita akan membayarnya. Yang penting paman aman."
Siska berkata: "Kamu benar-benar berbicara tanpa berpikir. Membayar jika memang harus dibayar. Jika kami punya uang, apa masih perlu caramu itu? Apa kamu yang akan membayarnya?"
Alex berkata, "Bibi. Kenapa kamu selalu merendahkanku seperti orang lain. Bukankah hanya karena aku bergantung pada keluarga Buana? Tapi aku menikah dengan Erika karena menyukainya, bukan untuk mengandalkannya. "
Siska juga marah, "Kamu masih bilang tidak mengandalkannya? Ibu mertuamu tidak buta, kan? Katakan, apa yang sudah kamu lakukan sejak bergabung dengan keluarga Buana? Berapa banyak uang yang sudah kamu hasilkan?"
Alex berkata dengan enteng: "Karena aku tidak pernah kekurangan uang, jadi setelah masuk ke keluarga Buana, aku sama sekali tidak menghasilkan uang."