
Alex berkata, “Sebenarnya waktu aku membiarkan kalian pergi, aku juga berharap kalian ngak menghambat tindakanku. Namun, kemudian aku mulai khawatir kalian akan bertemu lawan yang lebih hebat. Untung saja mereka terlalu meremehkan kalian! Sana, kalian kembali ke perusahaan saja, di sana lebih aman. Di masa-masa penting harus tetap waspada setiap saat.”
“Oke, paham.” Friska mengiyakan, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam tersentuh oleh Alex, bisa-bisanya dia ingin menangis. Rupanya perasaan disayangi dan diperhatikan begitu luar biasa.
Setelah kembali ke perusahaan, Jasmin segera berjalan menghampiri saat melihat Alex, “Tuan Alex, anggota keluarga Mahari semuanya hebat-hebat! Ditambah dengan Sony, mereka maju satu-satu ya?”
Keano membelalakan matanya dan membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan kondisi pertempuran Alex.
Alex mengangguk, “Ya, selain Kennedy dan Tambo, semua yang bisa bertempur di keluarga Mahari sudah datang. Mereka majung bareng-bareng…”
“Hah?” Jasmin, Friska dan Erika terkejut, tatapan ketiga wanita itu secara serentak memandangi kondisi Alex berkali-kali.
Alex menaikkan bahunya, “Tenang, aku ngak luka.”
Keano menganggukkan kepala, “Tuan Alex hebat banget! Baguslah kalau ngak terluka!” Entah kenapa, Keano jadi agak tersedak saat mengatakannya.
Mata Erika juga agak sembab, “Uhm, baguslah ngak apa-apa, kita harus merayakannya! Ayo pergi makan!”
Danny yang merupakan karyawan biasa PT. Atish melamun cukup lama saat mendengar Tuan Alex selaku anggota eksekutif dikepung oleh ahli dari keluarga Mahari demi dirinya. Dia yang tidak pandai berbicara pun menangis, “Aku hampir saja membahayakan Tuan Alex.”
Para karyawan PT. Atish dapat merasakan bahwa kini PT. Atish sedang melangkah maju, kemampuannya telah bertambah puluhan kali lipat dalam sekejap, bonus karyawan juga semakin meningkat hingga sudah bisa dibandingkan dengan keluarga Mahari yang merupakan konglomerat di kota Medan!
Dan semua perubahan ini dikarenakan keberadaan Tuan Alex.
Di dalam hati mereka, Tuan Alex adalah sumber kebahagiaan para karyawan, penopang semangat PT. Atish.
Oleh karena itu, setiap karyawan di perusahaan pusat Atish mengagumi Alex dari lubuk hati terdalam saat bertemu dengannya, dikarenakan adanya bayangan terhadap masa depan, para karyawan juga semakin bersedia bekerja keras.
Bahkan Jasmin dan Keano yang baru bergabung juga menaruh semua harapan pada Alex, menganggapnya sebagai penyelamat mereka.
4 bersaudara keluarga Mahari, ditambah dengan Sony, tapi Alex yang bisa baik-baik saja sungguh dapat dianggap keajaiban.
“Son, kamu terluka?” tanya Tambo yang sedang menikmati tehnya saat melihat Sony yang berjalan terhuyung-huyung, “Orang seperti apa yang bisa mengalahkanmu dengan kekuatanmu itu?”
“Alex, dia memang sangat hebat! Aku dan 4 tuan muda menyerangnya bersama, tapi dia malah melukaiku duluan.” ujar Sony jujur di hadapan gurunya.
“Hm?” Tangan Tambo yang memegang cangkir teh berhenti di udara, “Ceritakan lebih detail situasinya.”
Sony merasa sangat bersalah, “Guru, ini salahku.”
“Ceritakan kondisi saat itu.” ujar Tambo.
Beberapa menit kemudian, sorot mata Tambo perlahan menjadi tajam, “Hm? Sony, kamu yakin dia ngak terluka sama sekali setelah dikeroyok oleh mereka berempat?”
Sony mengingat kembali kejadian saat itu dengan teliti dan mengangguk dengan pasti, “Benar, guru. Menurut pengalamanku, dia hanya sedikit lelah saja, memang ngak ada luka serius di tubuhnya.”
“Guru, aku pamit istirahat dulu.” ujar Sony sambil pamit memberi hormat pada gurunya.
“Ehm, sana. Son, aku ada obat luka di sini, ambillah.” Tambo mengeluarkan sebuah botol porselen dari dalam lacinya dan memberikannya kepada Sony.
“Terima kasih, guru.” Sony menerimanya dan pergi terburu-buru.
Tambo mulai berpikir keras: Sony dibekali ilmu pertahanan yang lebih hebat 2 kali lipat dari kebal pada pisau dan lainnya, tapi masih saja terluka parah hanya dengan 1 pukulan dari lawan!
Jika begini, maka Alex setidaknya berada di tingkat dewa perang? Kalau memang benar, apa itu artinya akan terjadi pergolakan besar-besaran lagi di kota Medan?
Tambo tentunya tidak terima, dia pura-pura tenang dan datang ke kediaman Kennedy.
“Tambo? Pasti ada masalah, kan?” Kennedy yang juga sudah bergelut lama di dunia persilatan bisa langsung menebak isi hati Tambo.
Tambo mengangguk pelan, “Tuan, Medan sedang menghadapi perubahan besar.”
“Hm? Ada apa?” tanya Kennedy bingung.
Tambo pun menceritakan seluruh proses pertarungan dengan Alex yang diceritakan Sony kepada Kennedy, kemudian berkata, “Sepertinya Alex datang ke Medan bukan tanpa alasan. Mungkin, dia datang karena keluarga Mahari!”
“Konyol!” Kennedy menyeringai, “Hanya dia? Mau dia terbuat dari besi sekalipun juga berapa banyak paku yang bisa dia terima? Emang kenapa kalau hebat? Ahli yang mati di tanganku ngak hanya satu.”
Sorot mata Tambo juga terlihat ganas, “Tuan, sepertinya kita berdua perlu bekerja sama lagi.”
Kennedy langsung berdiri dan berjalan ke lemari dinding, lalu mengeluarkan sebuah barang yang mirip dengan tas biola, dan membukanya perlahan, benda di dalamnya rupanya adalah senapan sniper!
Senapan sniper ini terlihat dirawat dengan sangat baik, jelas Kennedy sering mengelapnya.
Tambo mengangguk perlahan, “Tuan, keahlian menembakmu ngak mundur, kan?”
Kennedy berkata dengan bangga, “Aku dulunya juga penembak jitu top dalam pasukan khusus, selama ini meskipun sudah ngak perlu memakai senapan, tapi aku masih giat berlatih. Tam, asal kamu bisa menahannya, aku pasti bisa membunuhnya dalam sekali tembak.”
Tambo tertawa, “Oke! Tuan, aku rasa kita bisa memanfaatkan kesempatan tender kali ini. Di satu sisi kita bisa menghentikan mereka menghadiri tender, di sisi lain kita bisa membunuh Alex kalau dia berani muncul.”
“Ehm, akan kupanggil Ghaston kemari, biar dia atur orang untuk membantu kita. Harus pastikan rencana ini tidak ada kegagalan sedikitpun. Kalau ngak, begitu polisi menyadari tindakan kita, maka ini akan jadi masalah juga.” ujar Kennedy dengan wajah masam.
Tambo mengangguk, “Iya, sekarang di mana-mana ada pengawasan pihak kepolisian, memang sangat sulit untuk menghindari itu semua. Jadi, kita perlu minta Ghaston mencari ahli di bidang elektronik mencari cara untuk merusak kamera cctv di sepanjang jalan, ini sangat penting.”
“Mau nyerang mereka dalam perjalanan ke tempat tender? Bagus!” Ghaston seketika senang mendengar saran dari sang Ayah, “Yah, Anda katakan saja, apa yang bisa aku bantu?”