
Namun, Aston tahu bahwa keluarga Bazel sedang berjaya pada saat ini. Sangat mudah bagi keluarga Bazel untuk menyerang PT. Infood dan keluarga mereka.
Selama ini dia tidak mau berinteraksi dengan mereka dan keluarga Bazel karena dia tahu kekuatan keluarga Bazel sangat besar. Keluarga Bazel bahkan sudah merajalela pada dua atau tiga puluh tahun yang lalu.
Dulu ada petinggi yang datang untuk menyelidiki suatu hal, tapi orang itu malah tewas dalam hotel yang dibakar.
Hal ini telah mengguncang seluruh negara pada saat itu.
Akan tetapi, pada akhirnya keluarga Bazel berhasil meredakan masalah ini dengan mencari beberapa kambing hitam.
Saat itu, Aston tahu bahwa nasib keluarga Bazel sudah sampai di ajalnya. Petinggi tidak akan mungkin mengizinkan keberadaan keluarga semacam itu.
Aston mendesah tidak berdaya. “Meskipun aku percaya pada kalian, sekarang keluarga Bazel masih tetap berjaya. Kalau kita terus tinggal di sini, nggak butuh menunggu lama, bahkan malam ini mereka akan langsung mengirim pasukan untuk mencari masalah dengan kita.”
Alex mengeluarkan ponselnya. “Aku tahu. Oleh karena itu, aku sudah memanggil bala bantuan. Selama ada dia, seharusnya nggak ada masalah.”
Aston melihatnya dengan heran.
Di Provinsi Sulawesi Tenggara, siapa yang berani menghalangi aksi keluarga Bazel?
Belasan menit kemudian, Amel muncul di depan Alex. Aston melihat Alex dengan kaget. “Pak Alex sedang bercanda?”
Ini hanya seorang wanita biasa, kan?
Maksud Alex, wanita yang tampak biasa-biasa ini mampu mengundurkan orang-orang yang akan datang malam ini?
Dengan cara apa?
Alex menepuk bahu Amel. “Tenang saja, dia adalah polisi. Para preman takut pada polisi. Kalau mereka berani beraksi, mereka pasti akan bernasib malang.”
Aston tetap tidak mengerti apa yang akan dilakukan Alex. Walau Amel adalah polisi, dia juga tidak bisa menghentikan para preman itu.
Apakah keluarga Bazel akan takut pada polisi?
Tentu tidak.
Amel melihat Alex dengan penasaran. “Kenapa kamu suruh aku kemari?”
“Bantu aku. Bukankah kamu polisi? Malam ini ada orang yang ingin menyerang Pak Aston dari PT. Infood. Tolong kamu lindungi dia.” Alex tersenyum.
Mata Amel membelalak. “Sekarang aku adalah mata-mata. Kamu juga tahu identitasku nggak boleh terbongkar!”
Alex menjawab, “Malam ini kamu bantu aku, sebagai gantinya aku bisa bantu dapatkan bukti yang kamu inginkan untuk penyelidikan kasusmu.”
Amel setuju setelah berpikir sejenak. “Oke, sepakat.”
Alex tersenyum. “Aksi malam ini akan dilakukan oleh keluarga Bazel. Apa kamu takut berurusan dengan keluarga Bazel?”
Amel melambaikan tangannya dengan gagah. “Apa itu keluarga Bazel? Aku adalah seorang polisi, nggak peduli siapa yang melanggar hukum juga akan kutangkap. Memangnya kenapa dengan keluarga Bazel? Memangnya dia bisa makan aku?”
Alex mengacungkan ibu jari padanya.
Benar saja, hanya orang keras kepala dan tidak kenal rasa takut yang berani melakukan aksi cari mati seperti ini.
Mungkin orang lain akan menyelesaikan masalah ini menggunakan pendekatan alternatif, bukannya berhadapan langsung dengan keluarga Bazel seperti Amel.
Aston tahu sekarang dia sudah tidak bisa membujuk putrinya lagi, maka dia mendesah dan duduk di meja. Lalu dia menyeduh teh untuk mereka semua.
Setelah menuangkan teh untuk mereka, dia berkata, “Mungkin mereka akan menyerang kita lewat tengah malam, tapi tidak tahu siapa yang akan memimpin aksi ini.”
Alex mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. “Terserah siapa pun itu. Kalau mereka berani datang, kujamin mereka akan bernasib malang.”
Tengah malam, Geya yang kecapekan terlelap di sofa sambil bersandar pada Friska. Friska memandang ke sekeliling dengan kewaspadaan tinggi. Dia tahu Geya sangat kecapekan. Sekarang tampaknya suasana hati Geya sudah kembali stabil, tapi sebenarnya tidak ada yang bisa memahami perasaan sedih yang terpendam di dalam hatinya.
Aston menyeduh teh dengan sangat tenang. Tidak ada bunyi lain di ruang tamu.
Amel sedang tidur nyenyak sambil menengadahkan kepalanya. Ada iler di sudut bibirnya.
Alex benar-benar merasa tidak berdaya pada wanita itu. Dari mana Amel mempelajari kebiasaan dan sifat yang begitu imut?
Huum!
Tepat ketika itu, sebuah bunyi nyaring membangunkan orang-orang yang tertidur. Aston menoleh pada Alex. “Sudah sampai.”
Alex mengangguk, lalu pergi keluar sambil menarik Amel yang terbengong.
Friska memeluk Geya sambil menghiburnya, “Kita nggak perlu pergi keluar. Alex akan menyelesaikan semuanya.”
Setelah keluar dari ruang tamu, sampailah di halaman rumah Aston. Pintunya ambruk karena ditabrak mobil minibus. Ada sekelompok orang yang masuk ke halaman rumah.
Pemimpinnya adalah Farrel.
Dia sedang menoleh ke kiri dan kanan seperti sedang menikmati pemandangan di halaman ini.
“Lumayan bagus, tapi kurang barang antik dan patung batu. Kalau gak, halaman rumah ini sangat sempurna.” Dia sama sekali nggak terburu-buru.
Ketika mendapatkan misi untuk datang ke tempat ini dan menangkap Aston beserta keluarganya, dia sangat penasaran mengapa Aston beserta keluarganya masih belum pergi.
Harus diketahui bahwa mereka bahkan sudah siap untuk pergi ke luar kota dan menangkap Aston beserta keluarganya.
Namun, Farrel terbengong ketika melihat Alex dan Amel yang berdiri di halaman rumah ini. Lalu dia menunjuk Alex. “Kamu! Kenapa kamu bisa ada di sini?”
Alex tersenyum. “Kenapa aku nggak bisa ada di sini?”
“Keparat! Aku pun heran kenapa selama ini aku terus gagal mencarimu. Ternyata kamu bersama Aston. Namun, hari ini lumayan juga bisa menghabisi kalian sekaligus. Aku juga nggak perlu repot-repot pergi mencarimu lagi,” kata Farrel dengan sangat gembira.
Kali ini dia membawa pasukan yang sangat banyak sehingga pasti bisa membunuh Alex.
Orang-orang di belakangnya juga membawa pistol. Sehebat-hebatnya Alex, memangnya Alex bisa membendung peluru?
Semakin banyak orang yang memasuki halaman rumah. Kebanyakan dari mereka memegangi tongkat baja dan pisau, tapi Alex melihat ada beberapa orang di antaranya yang memegang pistol.
Bagaimana mungkin keluarga Bazel yang begitu besar tidak menyembunyikan senjata api?
Senjata api sangat berperan besar dalam pertarungan besar-besaran.
Joshua dan Hadrian berdiri di samping Farrel. Namun, mereka sama sekali tidak menunjukkan keganasan setelah melihat Alex.
Mereka sepenuhnya tunduk setelah menyaksikan kehebatan Alex di Club Sky pada waktu itu.
“Kenapa? Kamu hanya membawa segelintir orang seperti ini?” tanya Alex dengan penasaran.
“Hanya segelintir? Totalnya ada seratusan orang, sudah cukup untuk meratakan villa kecil kalian. Hari ini, Aston dan keluarganya harus kami bawa pergi!” Farrel melihat Alex dengan tatapan dingin. “Kalau kamu tahu diri, cepat minggir.”