Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Salut Padamu


Setiap adegan yang ada di dalam video akan memberi pukulan besar bagi Arnold.


Pemuda di hadapannya berkata dengan singkat, “Desy, wanita, 24 tahun, punya 1 putra berumur 3 tahun yang bersekolah di TK Betel…”


“Hentikan! Aku tanda tangan! Tanda tangan!” Arnold sudah ambruk sekarang, dia mengambil pulpen tersebut dan segera membubuhkan tanda tangan di semua tempat yang ditunjuk pemuda itu, selain itu, dia juga segera mengeluarkan stempelnya dan mencap dokumen tersebut tanpa ragu sedikitpun.


Desy adalah salah satu dari kekasih gelap Arnold, sedangkan putra yang berusia 3 tahun itu tentu saja putra kandung Arnold!


Tampaknya pihak lawan sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum datang merebut PT. Atish miliknya, dibandingkan dengan kehilangan perusahaan, dia tidak boleh kehilangan anggota keluarganya!


Video yang ada di depan matanya ini cukup untuk mengantarkan dirinya dan Charles ke dalam penjara, bahkan mungkin akan mendatangkan malapetaka yang lebih besar.


Arnold hancur! Dia dihancurkan sepenuhnya dengan beberapa trik lawan.


“Mana Charles?” tanya Arnold melihat musuh belum juga memperlihatkan informasi Charles.


“Aku menyuruh seorang penembak membidik kepalanya dari luar kamar. Kalau kamu telat tanda tangan 30 detik, maka nyawa Charles akan melayang. Karena, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk menyesal.” jawab lawannya dengan singkat, tapi justru menakuti Arnold hingga jantungnya hampir berhenti berdetak.


Arnold tidak berani bergerak sedikitpun walau mereka sudah pergi.


Setelah tanda tangan, PT. Atish akhirnya resmi jadi milik orang lain, bahkan mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.


Meskipun pihak lawan menginvestasikan sedikit saham, tapi pada akhirnya semua akan menjadi milik perusahaan, hal ini sama saja dengan tidak berinvestasi sama sekali.


Setelah beberapa saat berlalu, ponsel Arnold tiba-tiba menerima panggilan dari Charles, “Yah, kenapa tadi ditutup? Ada apa?”


Arnold terdiam sejenak, lalu menghela nafas dan menjawab, “Perusahaan kita… sudah terjual.”


“A… apa?! Yah, ini tidak lucu! Bukannya tadi sudah kubilang jangan jual perusahaan kita?! Kenapa…” ucap Charles tidak percaya.


Arnold menghela nafas panjang, lalu berkata dalam hati: Mana ngerti kamu perasaan dihampiri kiamat barusan?


Dia berkata perlahan, “Char, apapun yang terjadi, walau perusahaan kita sudah dijual, tapi nyawa kita masih ada, kan? Jangan mempermasalahkan hal-hal duniawi seperti itu, kita masih bisa mulai dari nol.”


“Yah! Tapi aku… aku kalah taruhan!” jawab Charles sambil melihat waktu, masih sisa 6 hari sebelum hari yang ditentukan.


“Yah! Bisa tidak beli lagi perusahaan kita?” tanya Charles pantang menyerah.


“Beli lagi? Heh, Charles, sudahlah jangan dipikirkan lagi, aku capek, tutup dulu.” Arnold langsung menutup telepon.


Orang yang mengakuisisi PT. Atish secara paksa tak lain adalah Friska, Hengky, dan Rega. Sedangkan, Martin bertanggung jawab mengawasi di luar.


Keesokan harinya, walaupun Arnold tidak datang ke PT. Atish, tapi ada berita yang tak henti-hentinya datang dari para eksekutif perusahaan bahwa pihak tersebut telah mengambil alih PT. Atish!


Orang-orang dari pihak tersebut sangat hebat, semua orang yang sebelumnya berhubungan erat dengan Arnold dipecat,  entah mereka dapat berita dari mana sehingga membersihkan semua kekuatan keluarga Kavindra tanpa sisa!


Sehari telah berlalu, Arnold tidak lagi mendapatkan panggilan dari karyawan lamanya.


Dia tidak berani pergi ke PT. Atish untuk memeriksa keadaan, jadi dia menelpon Suprianto, “Kakak Ipar, perusahaanku diakuisisi paksa oleh orang, begini ceritanya…”


Suprianto sama sekali tidak menganggapnya, sebelum dia selesai berbicara, Suprianto langsung menceramahinya, “Arnold, sudah kubilang kamu tidak bisa! Perusahaan diakuisisi? Baguslah kalau begitu, jadi kamu bisa santai, kan? Pergi jalan-jalan saja kalau begitu, aku masih ada urusan, bye! Semoga beruntung ya.”


Selesai berbicara, Suprianto sungguh-sungguh menutup telepon!


“Kak?! Eh? Kak!” Arnold meletakkan ponselnya dengan tak berdaya, “Kekuasaan keluarga Mahari besar, jadi kalian menghina perusahaanku? Huh, entah seberapa banyak yang Alex mau. Jangan-jangan dia juga mau menelan keluarga Mahari? Kalau memang benar begitu, aku harus memperingatkan keluarga Mahari.”


Tapi tak lama kemudian, dia malah merasa keluarga Mahari bisa dikatakan tidak takut akan segala hal di seluruh kota Medan. Jika memperkirakan keluarga Mahari juga akan musnah hanya karena Atish diakuisisi, bukankah itu akan jadi lelucon di mata para anggota keluarga Mahari?


Keluarga Mahari tidak boleh asal dijatuhkan! Meski pejabat tinggi kota Medan juga tidak boleh! Apalagi oleh seorang pemuda dari luar kota.


Oleh karena itu, Arnold memutuskan untuk tetap memperingatkan Suprianto walaupun dia tidak berani menelepon.


Arnold yang terlihat suram muncul di hadapan Suprianto, sedangkan Suprianto melihat sepasang suami istri itu dengan penuh mana tersirat, “Aduh, Arnold, mau aku bilang apalagi kamu, hah? Aku sudah bantu kamu mengembangkan Atish, eh kamu malah memberikannya kepada orang lain tanpa info apapun, hebat ya kamu, aku benar-benar salut.”


“Itu salah paham, Kak! Bukan aku yang mau melakukannya, tapi mereka yang memaksaku tanda tangan!” ucap Arnold berlinangan air mata, “Kak, aku rasa kemunculan Alex mendadak di Medan dan merebut PT. Atish tanpa takut, jangan-jangan dia mengincar keluarga Mahari?”


“Hahaha! Arnold, dasar tidak berguna kamu ya, kamu mau main tebak-tebakan denganku? Jadi maksudmu, yang mau Alex lawan itu keluarga Mahari? Lalu mau aku bantu kamu menyingkirkan dia? Heh! Kamu kira aku akan masuk jebakanmu?” jelas Suprianto tidaklah bodoh, tapi dia juga tidak cukup peka.


 “Bukan gitu, Kak! Mana berani aku macam-macam denganmu! Begini…” Arnold menceritakan secara singkat kejadiannya, dia juga sengaja mengatakan ketangguhan lawan.


Tatapan mata Suprianto seketika mulai menjadi tajam, dia berkata, “Hm? Arnold, maksudmu, mereka pakai cara kotor untuk mengambil Pt. Atish?”


Arnold menjawab dengan mata berkaca-kaca, “Benar, Kak. Kamu harus membantuku balas dendam! Mereka benar-benar keterlaluan, aku tidak bisa melawannya.”


Suprianto bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata, “Brengsek! Medan adalah wilayah keluarga Mahari! Berani mengusik Arnold sama saja dengan mengusik keluarga Mahari! Tidak bisa dibiarkan! Segera bawa orang ke PT. Atish!”


Istri Arnold berjalan lenggak-lenggok menghampiri Suprianto dan memeluk lengannya, lalu berkata, “Kak, makasih ya! Kamu memang baik banget sama kami, kamu pahlawan di hatiku.”


Matanya yang indah dan kecantikannya membuat Arnold mencubit tangannya secara diam-diam, dia merasa luar biasa bersikap seperti ini di hadapan Arnold, “Hahah! Aku mau lihat siapa mereka sebenarnya sampai berani cari masalah dengan keluarga Mahari.”