
Erika hanya merasa dirinya dipeluk erat oleh Alex dan meninggalkan tanah, saat mendengar suara deruman mesin mobil, tubuhnya malah melayang.
Reaksinya hanya memeluk pinggang Alex erat-erat, hanya 1 hal yang dipikirkannya, Asal ada kamu, mau hidup atau mati, di dalam air atau lautan api, aku akan ikut denganmu meski harus mati!
Duak! Mobil sedan tersebut langsung menabrak dinding pembatas jalan setelah naik ke bahu jalan, dan berhenti mendadak! Namun, bagian depan mobil sudah hancur.
Pengemudi di dalam mobil sedan tersebut agak pusing karena guncangan tersebut, dia melihat ke segala sisi, lalu berkata dalam hati, “Lho, mana orangnya?”
Alex merangkul pinggul Erika dan berdiri di atas atap mobil.
Mobil terakhir yang hendak melaju kemari tercengang setelah melihat Alex berhasil menghindar, dalam sekejap dia lupa cara mengemudikan mobilnya.
Alex melompat turun dari atap mobil, tetapi dia tetap merangkul pinggul Erika.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian berbahaya tersebut mulai bertepuk tangan.
Pengemudi mobil ke-4 langsung mematikan mesin mobilnya dan tidak berani bertindak sembarangan.
“Keluar!” ucap Alex sembari membuka pintu mobil sedan dan menarik paksa pengemudi tersebut keluar seperti seekor anjing, lalu melemparnya ke jalan dan menginjaknya.
Sedangkan, pengemudi 3 mobil lainnya bergegas membuka pintu mobil dan melarikan diri.
Pengemudi mobil Jeep sebelumnya yang menabrak tiang listrik hingga berdarah-darah, justru yang paling cepat larinya.
Pengemudi mobil ke-4 akhirnya mengerti, dia segera menyalakan mobil dan melaju pergi dengan membawa 2 orang lainnya.
“Ampun, ampuni aku.”pengemudi tersebut telah merasakan kehebatan mutlak Alex, ditambah dengan aksi Alex tadi yang bagaikan dewa, dia sama sekali tidak berani memberontak, dan pasrah diinjak oleh Alex.
“Pembunuhan!”
“Astaga! Aku menyaksikan pembunuhan dengan mata kepalaku sendiri!”
“Siapa pembunuh ini?”
“Ayo lihat!”
“Oh iya, lapor polisi!”
Para penonton seketika jadi antusias.
Tepat pada saat ini, ponsel pengemudi yang diinjak Alex berdering.
Alex memastikan tidak ada lagi bahaya di sekitar sebelum membungkuk untuk mengambil ponselnya.
Para penonton tiba-tiba jadi tenang. Ada banyak anak muda yang kagum pada kecantikan Erika saat melihatnya: Hanya orang hebat seperti Alex yang sepadan dengan wanita secantik ini!
“Gimana, hah? Ketabrak ngak? Ngomong woi! Kamu tuli ya? Ngomong! Aku Kak Rian mu!”
Alex berkata dengan santai, “Dia sudah kutangkap, hei ‘Kak Rian’ tolong datang selamatkan dia.”
“Kak Rian! Tolong aku!” teriak pengemudi malang itu.
Namun, sambungan telepon segera diputuskan oleh pihak penelepon.
Alex kembali membungkukkan badan dan menatap pengemudi yang sudah kencing di celana saking takutnya, “Katakan, siapa kak Rian? Aku akan melepaskanmu kalau kamu bilang.”
“Kak Rian adalah bos di wilayah sekitaran sini, dia punya hubungan dengan keluarga Mahari.” kata pengemudi tersebut sekaligus karena benar-benar ketakutan.
“Pergi sana!” Alex mengangkat kakinya, lalu menarik Erika keluar dari kerumunan orang dan menghilang.
Namun, pengemudi itu sangat sial, meskipun Alex melepaskannya, tapi para penonton di sekitar tidak berpikir begitu.
“Sudah lapor polisi belum? Dia harus ditangkap!”
“Brengsek!”
“Mau kabur? Hajar dia!”
“Pukul!”
Pengemudi tersebut hanya bertahan sekitar 4 menit sebelum suaranya melemah akibat dihajar massal.
Saat polisi sampai, pengemudi tersebut sudah terbaring di jalan, entah masih hidup atau sudah mati.
Yang bisa dilakukan polisi hanya membereskan TKP, lalu menderek mobil yang rusak tertabrak dan membawa pengemudi yang dipukul massal kembali ke kantor polisi.
“Kemana kita? Ngak balik ke hotel?” tanya Erika saat merasa salah jalan.
Alex menggelengkan kepala, dia tiba-tiba menarik seorang pria paruh bayah di samping jalan, “Permisi Pak, kami kawin lari dan ngak bawa KTP, lalu mau nginap di hotel, tapi mereka tidak membolehkan, boleh tolong pesankan 1 kamar untuk kami tidak?”
Saat pria paruh bayah tersebut hendak menolak, Alex tiba-tiba menyodorkan uang 1 juta kepadanya.
Pria paruh baya itu langsung tersenyum, “Baiklah, aku ngerti kok, kamu ngak mau pakai KTP sendiri karena takut ketahuan Istri, kan? Hahaha.”
Biaya kamar double bed hanya sekitar 200 ribu, setelah memesan kamar dan mendapatkan kartu kamar, pria paruh baya tersebut kembali dan memberikan kartu tersebut kepada Alex, lalu dia berbalik dan pergi secepat kilat.
Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, dia sudah mendapatkan 800 ribu!
Erika menahan tawanya, lalu berkata, “Segalanya memang bisa dilakukan dengan uang ya.”
Alex bergegas membawanya masuk ke kamar.
“Ingat, jangan buka pintu kalau ada yang panggil. Polisi yang datang juga tidak boleh dibuka! Kamu kunci dari dalam ya.” pesan Alex
“Uhm, kamu mau kemana?” tanya Erika sambil merangkulkan kedua tangannya di leher Alex dan memandangnya.
Alex berkata sambil tersenyum, “Aku mau pergi cari si Rian, ngak lama kok. Jangan khawatir, dia cuma udang kecil doang.”
“Baiklah, aku tunggu kamu pulang.” Erika tahu jika dirinya ikut, dia juga hanya akan jadi beban bagi Alex, jadi akan lebih baik jika dia menunggu di sini.
Sebenarnya ketertarikan Alex terhadap Rian berasal dari kalimat si pengemudi bahwa Rian punya hubungan dengan keluarga Mahari.
Alex teringat akan pesan Roselline bahwa Lukisan 《Langit Biru》karya Ismail Kusuma yang merupakan salah satu bagian dari peta harta karun berada di kota Medan, dan kemungkinan berada di tangan keluarga Mahari.
“Kak Rian, gimana sih kamu ini? 3 kelompok orang bahkan tidak bisa mengatasi seorang pemuda dari luar kota?” Charles sangat kesal karena si Rian sudah menerima uangnya!
“Sialan! Charles, ngapain kamu menyalahkanku?” ucap Rian sambil merokok, “Aku sudah rugi 3 kelompok orang, tapi pihak musuh malah baik-baik saja, tahu apa artinya? Artinya dia bukan orang biasa! Bisa-bisanya kamu menyembunyikannya, terus cuma kasih aku 200 juta buat ngalahin seorang ahli? Kamu mempermainkanku ya?”
Charles menggertakkan giginya, lalu berkata, “Kak Rian, aku tambah 200 juta lagi, apapun caranya, kamu harus bantu aku membasminya!”
“Tidak! Berapapun aku tidak mau! Yang aku singgung sekarang itu seorang ahli! Tahu? Charles, kamu harus beri aku ganti rugi 2 miliar!” ucap Rian dengan ekspresi marah, “Kalau si ahli itu cari perhitungan denganku… akibatnya akan fatal! Kalau tidak mau beri ganti rugi juga tidak apa-apa, aku akan bilang kalau kamu yang suruh!”
Charles tertegun, “Hah? Ngak bisa gitu dong, Kak Rian! Kamu harus taat aturan!”
Rian tersenyum jahat, lalu berkata, “Saudaraku yang terluka perlu berobat, kan? MObil yang rusak juga perlu diperbaiki, kan? Terus kalau misalnya orang itu datang balas dendam, aku juga harus membayar harga mahal! Jangan banyak omong kosong kamu, cepat kumpulkan uangnya!”
Charles hanya bisa menyetujuinya untuk mengumpulkan uang.
Tak lama setelah dia pergi, Alex pun tiba di klub tempat Rian berada, “Aku cari Rian.”