Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Adu Tangan


“Oke.” Jasmin segera meminta Keano untuk membawakan tali dan mengikat Larry dengan erat sehingga tidak dapat bergerak sama sekali, kemudian melemparkannya sembarangan ke lantai.


Alex yang gelisah sudah tidak tahu harus berbuat apa pada Larry. Dia membuka tas kecil itu dan melihat sebuah buku bersampul kulit yang sudah usang, setelah dilihat dengan cermat, dia baru mengenalinya: Kitab Aliran Elang.


Larry yang tampak seperti binatang yang diikat memelototi Alex dengan garang seolah-olah ingin memakannya.


“Kurung dulu dia, kita bicarakan nanti. Jaga yang ketat.” ujar Alex sambil mengayunkan tangan, Jasmin pun segera meminta Keano untuk melaksanakannya.


Kemudian, Jasmin membawa Alex dan yang lainnya ke sebuah kamar lain, “Tuan Alex, Larry benar-benar licik!”


Alex menghela nafas, lalu berkata, “Ini juga salahku ngak ngasih dia kesempatan hidup, makanya dia bisa menggunakan cara begitu untuk menyelamatkan diri. Aish, yang penting itu kita ngak ngerti sama sekali dengan ilmu yang dia pakai! Makanya dia bisa berhasil melakukannya di bawah pengawasan kita.”


“Kitab ini… harusnya penting bagi Aliran Elang milik mereka.” ujar Jasmin sambil melihat ke tangan Alex.


Alex berkata, “Ya, sekarang aku harus tenang dan memikirkan cara untuk meneliti kitab ini. Semoga saja aku bisa menguasainya dalam waktu singkat.”


Jasmin mengangguk, lalu berkata, “Oke! Kalau gitu aku pamit dulu.”


Sesampainya di luar, Jasmin memesan Keano untuk tidak menyiksa Larry supaya tidak menambah cedera pada Hengky.


Di saat yang sama, Jasmin mengutus orang untuk melayani Friska dan hengky, Rega tetap tinggal di sini, sedangkan Martin kembali ke PT. Atish, dia masih perlu memimpin orang untuk melindungi Erika.


Jasmin sangat perhatian, dia mengutus Keano untuk mendengarkan perintah Martin untuk menambah jaminan keselamatan bagi Erika.


“Waktunya makan.” ujar Jasmin yang sudah berdiri di depan pintu Alex dalam balutan setelah kulit berwarna hitam yang membuatnya tampak menawan, di dalam sorot matanya terdapat senyuman yang akrab.


Orang hebat yang bisa menaklukkan Keano tentu saja patut dia hormati.


Alex duduk bersilang kaki di atas kasur, di hadapannya terdapat Kitab Aliran Elang, kedua tangannya perlahan menekan ke arah bawah sambil menghembuskan nafas, dia mengakhiri latihannya dan melompat turun dari kasur, “Ketua Jasmin, kenapa kamu yang repot-repot memanggilku?”


Mata Jasmin berbinar sekilas, lalu berkata sambil tersenyum, “Tuan Alex, Anda itu tenaga intinya, jadi ya sudah seharusnya menjaga Anda.”


“Hahaha, terima kasih.” Alex mengikutinya ke sebuah ruangan, lalu bertanya, “Cuma kita berdua?”


Jasmin mengambilkan nasi untuk Alex dengan penuh perhatian, “Tentu saja, aku akan jadi pelayanmu.”


Alex merasa tidak nyaman mendekat saat melihatnya mengambilkan nasi untuknya, “Eh jangan! Masa iya repotin ketua Jasmin? Biar aku sendiri saja.”


Saat dia mengulurkan tangan, tangannya kebetulan menyentuh tangan Jasmin, seketika dia merasa ada yang halus di ujung jarinya, sentuhan kenyal itu bisa-bisanya membuat hatinya bergetar, “Uhm, maaf.”


Jasmin malah membiarkannya menyentuh, dia menatap Alex sambil tersenyum, lalu berkata, “Tuan Alex, kamu duduk saja, aku kok yang mau mengambilkannya untukmu.”


“Uhm, makasih ya.” Alex segera menarik kembali tangannya dan kembali ke kursinya dengan agak canggung.


“Gimana latihannya tadi?” Saat Jasmin duduk di sisi Alex, tercium aroma wangi.


Alex berkata dengan serius sambil mencium wangi itu, “Aku sudah membacanya sekali dan menemukan kalau ilmu-ilmu Aliran Elang memang punya kegunaan yang luar biasa. Saat menuliskan ilmu-ilmu itu, sebenarnya yaitu menyalin kekuatan dan kesadaran ke dalam kertas tersebut, dan saat menggunakannya, pengguna akan bisa membangkitkan kekuatan dan kesadaran tersebut sebagai bantuan dari kekuatan dirinya yang dapat mempercepat reaksi.”


“Hm?” Jasmin menatapnya dengan senyuman, “Tuan Alex, jadi maksudmu, untuk saat ini kamu sudah menguasainya?”


Jasmin mengangguk, “Hm. Tuan Alex, Larry terlalu licik, jangan sampai dia yang mengobati nona Friska, kalau ngak kondisinya akan semakin buruk jika dia membahayakan nona Friska.”


Alex berkata, “Dia memang sangat cerdas karena tidak membunuh Hengky, kalau ngak, aku akan membunuhnya tanpa ragu.”


Jasmin berkata, “Tuan Alex, tenang saja, kamu sekarang cukup fokus meneliti ilmu Aliran Elang saja. Pastikan untuk segera mematahkan ilmu mereka. Urusan lain bisa diserahkan padaku.”


Alex merasa sedikit bersyukur, “Terima kasih, ketua Jasmin.”


“Ngak perlu sungkan begitu kok.” senyum Jasmin sangat lembut, di dalam sorot matanya tersirat seutas hasrat.


“Hm?” Alex merasakan maksud Jasmin, dia menggelengkan kepala dan berkata, “Aku sudah punya istri.”


“Hah? Ehem, maksudku kita ini kan partner!” ujar Jasmin buru-buru menyembunyikan rasa canggung.


“Makasih, kuharap kedepannya kita hanya sebatas partner, selain itu, aku adalah bosmu.” ujar Alex tegas.


“Baik, aku mengerti.” Jasmin tidak sedikitpun melawan, di dalam hati dia justru merasa kalau Alex yang bersikap seperti ini semakin mempesona.


Di dalam Aliran Rajawali, Jasmin adalah pemimpinnya, dia terlihat sangat tegar, bisa memendam dan juga tegas dalam membuat pilihan, jelas dia sudah punya kriteria sebagai sosok burung pemangsa, tapi saat dia bertemu Alex, dan merasakan konflik di antara Alex dan keluarga Mahari, terlebih lagi proses Alex menghadapi Larry, dia jadi punya rasa kepercayaan yang sangat besar terhadap Alex!


Dia percaya, hanya dengan bekerja sama dengan Alex, barulah dia punya kesempatan untuk menjatuhkan keluarga Mahari! Dia mungkin akan sangat kesulitan untuk melawan keluarga Mahari lagi meskipun berusaha seumur hidup jika melewatkan kesempatan ini.


Kemunculan Alex membuatnya melihat harapan.


Sehingga dia jatuh hati pada pandangan pertama pada Alex, dan ingin sekali segera menjadi wanita dari orang sehebatnya!


Jasmin masih saja sangat tegang saat ini melihat Alex keluar dari kamarnya, sebenarnya ini pertama kalinya dia mengutarakan isi hati kepada seorang pria. Hanya saja cara seperti ini dipatahkan oleh Alex begitu baru dimulai.


Meskipun dia agak kecewa, tapi dia yakin, ibarat batu yang terus menerus terkena tetesan air, walaupun Alex adalah batu, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menghangatkan hati Alex. Alex punya pacar? Apa hubungannya? Dia hanya ingin menjadi wanita Alex, bukan istri!


Keesokan paginya, Alex bangun pagi-pagi sekali, dia meregangkan tubuh di teras.


Para murid Aliran Elang yang berada di sekitar ketakutan saat melihat Alex keluar.


Sebenarnya, mereka semua dapat melihat kalau bos mereka menyukai Tuan Alex!


Oleh karena itu, segera ada seseorang yang melaporkannya kepada Jasmin.


Belum sampai 1 menit, Jasmin sudah berlari keluar dengan pakaian olahraga. Dia berlagak seperti baru saja habis olahraga pagi, “Eh? Pagi banget, Tuan Alex.”


Alex menjawab dengan nada panjang tanpa menghentikan gerakan tinjunya, “Pagi, ketua Jasmin.”


Setelah melakukan pemanasan pada tangan dan kakinya, Jasmin tiba-tiba berkata, “Tuan Alex, aku sangat ingin beradu ilmu denganmu, boleh?”


Alex menghentikan gerakannya dan berkata sambil tersenyum, “Pukulanku sangat keras, takutnya bakal bikin kamu cedera.”


“Ngak masalah, ayo!” ujar Jasmin sembari memasang kuda-kuda.