Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Dimanfaatkan


Bagi Alex, dikelilingi oleh enam buah pistol bukanlah apa-apa!


Namun, dia harus waspada terhadap senapan sniper yang bersembunyi dalam kegelapan, jika peluru tersebut mengenai dirinya, dia pasti akan mati.


Keenam orang itu semakin mendekat, dan Alex melompat keluar tiba-tiba dari balik tanaman.


Alex melepaskan dua tembakan ke udara, dan berhasil membunuh dua pria bersenjata.


Yang lain menembak Alex bersama-sama, Alex berguling di tempat untuk menghindari peluru lawan. Pada saat yang sama, senapan sniper juga berbunyi, dan peluru melesat melewati tubuh Alex.


Setelah mengunci letak penembak jitu bersembunyi, Alex kembali melompat dan membunuh empat pembunuh yang tersisa sesegera mungkin sebelum senapan sniper kembali membidiknya untuk kedua kalinya.


Alex menggunakan waktu yang sangat singkat untuk menembakkan empat tembakan sekaligus!


Empat peluru merenggut empat nyawa. Hanya tersisa satu orang yang berhasil menghindari peluru Alex dengan mengandalkan keahliannya yang lumayan bagus.


Pada saat yang sama, si pembunuh segera bersembunyi di balik batu pajangan.


Alex tidak berani memaksakan situasi, dia juga bersembunyi di balik bebatuan untuk menghindari tembakan lawan.


Ridwan hampir gila melihat pelurunya tidak mengenai Alex, dan bahkan 5 orang anak buahnya malah tewas. Dia memerintahkan pembunuh lainnya lewat walkie-talkie, "Bunuh dia. Aku akan melindungimu."


Pembunuh itu tidak berani keluar, oleh karena itu Ridwan berkata dengan marah, "Jika kamu tidak keluar, aku akan membunuhmu duluan!"


Pembunuh itu mau tidak mau harus keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerang Alex dengan senjatanya.


Ridwan mengarahkan senapan snipernya ke bebatuan, asalkan Alex menunjukkan kepalanya, dia akan menembaknya!


Di bawah pengawasan Ridwan, si pembunuh datang ke hadapan Alex dengan pistolnya. Dari celah di belakang bebatuan, Alex melihat si pembunuh bergerak kemari. Dia dengan tenang mengarahkan pistol ke lawan, akan tetapi tidak langsung menembak.


Alex berencana untuk memikat Ridwan agar maju lebih dekat, pistolnya tidak bisa menjangkau orang yang menggunakan senapan sniper karena jarak yang terlalu jauh, dan dia akan menjadi pihak pasif nantinya.


Pembunuh itu sungguh tidak berani maju lagi, dia bersembunyi di sisi lain bebatuan tempat Alex bersembunyi sambil terengah-engah.


"Bos, keahlian menembak lawan terlalu akurat, aku juga akan mati kalau ke sana. Tidak masalah jika aku harus jadi umpan, tapi ini sama sekali tidak ada artinya. Dalam beberapa menit, polisi akan mengepung tempat ini. Anda juga tidak akan bisa membunuhnya. Bagaimana kalau kita kepung dia dari dua sisi?"


Ridwan berpikir sejenak, dia juga merasa apa yang dikatakan si pembunuh masuk akal. Sekarang, Alex bersembunyi di balik bebatuan dan tidak berniat untuk keluar. Jika dia tidak keluar, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah pasti bukan hal baik jika harus menghabiskan waktu seperti ini.


Dia harus segera membuat keputusan.


Kemudian, Ridwan berjalan keluar dari kegelapan sambil memegang senapan sniper.


Menurutnya, Alex hanya memiliki satu pistol di tangannya, dan jarak tembak efektif pistol itu hanya 70 atau 80 meter. Selama dirinya menjaga jarak seratus meter darinya, lalu berputar ke sisi lain bebatuan dan menembak, dia pasti bisa membunuhnya.


Melihat Ridwan berjalan bolak-balik sambil memegang senapan sniper sejauh seratus meter, Alex mencibir, "Nak, hari ini hari kematianmu."


Sebentar lagi Ridwan akan berada dalam garis lurus dengan Alex, oleh karena itu Alex mengambil nafas panjang, kemudian menghentakkan kaki sekuat tenaga di tanah dan melompat seperti anak panah ke arah Ridwan.


Alex sangat cepat, hanya dengan sebuah lompatan saja dia sudah bergerak sejauh tiga puluh hingga empat puluh meter, Ridwan tidak menyangka Alex akan mengambil inisiatif untuk menyerang!


Dia buru-buru membidik Alex dan menarik pelatuknya. Tembakan ini terlalu tergesa-gesa, ditambah reaksi cepat Alex, peluru sama sekali tidak mengenainya, jarak antara peluru dengan Alex setidaknya 1 meter.


Selain itu, Alex juga menembak! Peluru melesat ke arah Ridwan.


Ridwan dengan cepat menghindar karena ketakutan, setelah aksi menghindar dilakukan, dia tidak bisa lagi menembak lawan.


Alex tidak memberi Ridwan waktu untuk menembakkan tembakan kedua. Ketika Ridwan hendak menembak, Alex sudah berada di depannya sebelum dia sempat membidik.


Alex mengulurkan tangannya dan meraih senapan sniper Ridwan. Pada saat ini, pembunuh yang pergi mengepung Alex juga menyusul dan menembak Alex!


Alex segera menghindar, dan kedua peluru mengenai tubuh Ridwan!


Meski pelurunya tidak mengenai organ vital,  tapi Ridwan tahu kalau dia sudah tamat.


Bagaimana dia menghadapi interogasi di setiap tingkatan pengadilan jika sampai ditangkap hidup-hidup oleh Alex?


Dia menggertakan gigi dan mengulurkan tangannya untuk menekan detonator di pinggangnya. Ada sebuah bom waktu yang disembunyikan di pinggang Ridwan, dia awalnya berencana memasang bom ini di mobil Alex, tetapi dia tidak punya waktu, jadi dia membawanya. Tak diduga ternyata ini akan menjadi bom bunuh diri untuknya.


Merasa ada yang tidak beres, Alex buru-buru melepaskan Ridwan dan menghindar ke samping!


Ridwan meledakkan dirinya menjadi berkeping-keping.


Pembunuh yang tersisa berencana melarikan diri begitu melihat hal itu.


Mana mungkin Alex membiarkannya kabur? Ridwan sudah mati, dan dia harus menangkap satu yang masih hidup.


Alex sampai di hadapannya dalam sekejap, lalu menjatuhkan pistolnya dengan satu pukulan, kemudian menendangnya jatuh, dan mengendalikannya!


Setelah memastikan tidak ada pembunuh di dekatnya lagi, Alex menghela nafas lega dan memanggil Erika untuk keluar.


Beberapa menit kemudian, mobil polisi akhirnya tiba. Polisi Kabupaten Wongso mengenal Alex. Setelah mendengar apa yang dikatakan Alex, mereka segera mengendalikan pembunuh terakhir.


Kapten polisi yang bertugas berkata, "Tuan Alex, maksud Anda, Anda mengenal penembak jitu itu?”


Alex mengangguk dan berkata, "Aku sempat beradu dengannya sebelum dia menekan bom. Dia seharusnya anggota kepolisian juga. Terkait identitasnya, kalian bisa menyelidikinya sendiri."


Seorang polisi menemukan mayat Dewita di dalam gunung. Setelah diverifikasi, identitas Dewita adalah adik kandung dari istri Prasmulyo, Shinta.


Alex tiba-tiba sadar, "Tidak heran Prasmulyo mencari orang untuk membunuhku, rupanya dia ingin membalaskan dendam adik iparnya! Sayang sekali kalian semua dimanfaatkan oleh Ridwan."


Setelah menyerahkan masalah ini kepada pihak polisi Kabupaten Wongso, Alex dan Erika kembali ke Jakarta.


Sampai di rumah, Erika masih merasa agak takut, "Lex, hari ini benar-benar berbahaya. Ridwan pasti sudah gila, bahkan kerabatnya saja tidak diberi ampun. Semua orang di dalam villa diledakkan begitu saja. Jika kita terlambat sedetik, pasti juga sudah jadi berkeping-keping."


Alex berkata, "Untungnya, kamu baik-baik saja. Saat di toilet, aku melihat sosok yang mencurigakan. Jika tidak, hari ini kita benar-benar dalam bahaya. Sudahlah, aku akan lebih waspada lagi mulai detik ini. Kujamin kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. "