
Sebenarnya berita kepergian Pak Bryan ke Kediaman Japari sudah diketahui oleh Alex sejak awal melalui pemberitahuan dari Damian. Setelah mengetahui mereka berhasil keluar dengan aman, Alex pun merasa tenang.
Satu informasi lainnya yang dilaporkan oleh Damian juga berhasil menarik perhatian Alex, yaitu kemarin malam Richard mengutus banyak orang untuk pergi ke Kampung Satria.
Dalam waktu singkat, Alex mendapatkan informasi lain yaitu peredar narkoba Borez dan juga pengawal, mati di Kampung Satria!
Meskipun Alex sudah mengetahuinya sejak awal, akan tetapi pemberitahuan dari Damian ini juga tidak terlalu terlambat.
Bila menggabungkan semua informasi yang didapatkan, Alex menarik sebuah kesimpulan yaitu seharusnya Richard yang mengutus orang untuk membunuh Borez.
Alex bergumam sendiri, “Bisa dipahami kenapa Richard membunuh Borez di tengah malam, lalu ada warga yang melapor polisi? Atau secara kebetulan ada warga yang melapor polisi? Perbuatannya ini jelas sedang menyatakan dia berperang dengan Barni! Apakah Richard sudah gila?”
Damian menggelengkan kepalanya, “Aku juga tidak paham. Perbuatan Richard ini sama saja dengan menambahkan musuh untuk dirinya sendiri.”
Tiba-tiba ponsel Alex bergetar dan ada sebuah pesan masuk. Dia membukanya dan rupanya Nova yang mengirimnya sebuah foto yang bertulisan: Orang yang membunuh adalah Alex.
Pesan yang tertulis dengan darah? Alex membalas sambil mengerutkan kening: Di mana kamu menemukan ini?
Alex ada di lokasi, tapi seingat dia tidak ada pesan seperti ini.
Nova membalas: Aku menemukannya di lokasi kematian Borez, sebenarnya aku tidak boleh memberitahumu soal ini, akan tetapi aku tahu kamu tidak akan melakukan hal seperti ini, jadi aku pun membocorkannya padamu.
Oh, oke. Alex tertawa terbahak-bahak, “Pantas saja Richard berani membunuh Borez, rupanya dia ingin menjadikan aku sebagai kambing hitamnya.”
Damian langsung marah begitu melihat foto tersebut, “Richard si brengsek itu! Jelas-jelas dia yang membunuh Borez, tetapi berani-beraninya dia melimpahkannya pada Tuan Alex? Kita tidak boleh mengampuni dia!”
Alex melambaikan tangannya, “Perbuatan Richard yang seperti ini hanya akan membuat Barni mencarinya. Kamu tenang saja, aku tidak akan menjadi si kambing hitam itu.”
Damian menenangkan emosinya, “Tuan Alex, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Alex berkata, “Dengan Richard mendapatkan begitu banyak narkoba, dia pasti akan menjualnya. Jadi kita cukup bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menjatuhkan Richard!”
“Bagus! Bagus sekali! Tuan Alex, aku akan segera mengaturnya!” Damian menjadi sangat bersemangat. Awalnya dia masih khawatir Alex akan terlibat dalam narkoba, akan tetapi sepertinya Alex tidak tertarik dengan hal ini dan membuat Damian merasa sangat senang.
“Tuan Rafatar, Nova itu benar-benar sialan! Berani-beraninya dia mengutus mata-mata di berbagai tempat hiburan milik kita hanya untuk mencari narkoba! Sekarang ini banyak orang kita yang ditangkap oleh dia!”
Ketika Rafatar mendapatkan informasi ini, ekspresinya berubah, “Aku sudah berapa kali memberitahu kalian? Harus memperhatikan kemampuan anti-pengintaian! Siapa pun yang tertangkap adalah idiot!”
“Tuan Rafatar, sekarang masalahnya bukan karena ini! Kali ini, bahkan Sonic saja juga tertangkap!”
“Sonic? Bukannya cecunguk ini sangat licik, kenapa bisa tertangkap?” Rafatar kebingungan.
“Sonic bisa ditangkap karena seseorang yang ikut campur. Orang ini sangat misterius, bahkan CCTV kita saja tidak berhasil merekam wajahnya.”
Rafatar langsung paham, “Kali ini ada orang yang bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menyerang kita!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah orang-orang kita yang tersisa harus bersembunyi?”
“Tentu saja tidak perlu!” Rafatar tertawa dingin, “Aku akan mengurusnya secara langsung! Aku akan mencari cara untuk memancing mereka keluar, lalu menghabisinya! Aku ingin melihat siapa yang berani melawan Tuan Richard.”
Di sisi Rafatar ada dua orang anak buah yang duduk di sudut ruangan bar untuk menunggu mangsa mereka.
Ada beberapa tokoh kecil yang menjual pil ekstasi dan sejenisnya, sudah memulai aktivitasnya.
Mengambil keuntungan dari pencahayaan yang aneh, saat melakukan transaksi, seorang pria muda berambut kuning yang sedang memegang ‘barang’, ditangkap oleh seorang pemuda yang menari di sebelahnya!
Lalu pemuda yang sedang menari itu, menarik pemuda berambut kuning keluar dari lantai dansa.
Dua petarung itu langsung menghampiri si pemuda yang sedang menari tadi dan salah satu orang memegang tangannya, “Sobat, ikuti kami.”
Ketika si pemuda berambut kuning itu melihat dirinya terselamatkan, dia pun berkata, “Dua tuan, cecunguk ini melanggar aturan dengan berjualan obat-obatan terlarang di tempat kita!”
“Lepaskan aku!” Pemuda itu melawan.
Bang! Bagian belakang kepala pemuda itu terkena hantaman dan dia jatuh pingsan.
Dua petarung itu membawa pemuda itu ke samping ruangan, lalu menyiram wajahnya dengan air, “Anak muda, katakanlah siapa yang mengutus kamu kemari untuk membuat kekacauan?”
Pemuda itu mencibir, “Aku adalah polisi! Awas saja bila kalian berani menyentuh aku. Kapten Marvin akan segera mengepung bar ini!”
“Oh? Rupanya kamu adalah polisi! Maaf, maaf. Kalau begitu coba keluarkan tanda pengenal kamu dan perlihatkan padaku.”
Pemuda itu berkata, “Kami tidak akan membawa tanda pengenal ketika sedang menjalankan misi! Kalian cepat lepaskan aku! Tindakan kalian ini sudah termasuk dalam tindakan menyerang aparat keamanan!”
“Menyerang aparat keamanan apanya! Kita akan berbicara lagi setelah aku mematahkan kakimu! Apakah kamu tidak tahu bahwa ini adalah hasil akhir dari membuat kekacauan di daerah kekuasaan Tuan Richard?!”
“Kamu berani?!” aura pemuda itu juga tidak kalah dari mereka, “Bila kalian berani menyerang aparat keamanan, maka tempat kalian ini tidak akan bisa beroperasi lagi!”
Rafatar tertawa, “Anak muda, dari gaya bicaramu ini tidak terdengar seperti seorang polisi. Cepat patahkan kaki dia terlebih dahulu!”
Brak! Seorang petarung memberinya sebuah pukulan, lalu pemuda itu berteriak dan jatuh pingsan.
“Buang keluar! Pergi lihat siapa yang akan datang untuk membereskannya!” ucap Rafatar dengan ekspresi gelap.
Maka dari itu, pemuda itu dibuang keluar di jalanan di luar pub dan Rafatar membawa beberapa puluh orang pergi melihatnya.
Para pejalan kaki meskipun merasa simpati, tetapi karena ada yang berjaga, mereka pun tidak berani menolongnya.
Dua orang polisi yang sedang berpatroli menghampiri mereka, “Ada apa ini?”
Rafatar berkata, “Pak polisi, ini adalah anak buah kami yang sedang bermain-main. Anda sebaiknya berpatroli di tempat lain.”
Pemuda yang satu kakinya sudah dipatahkan itu kesakitan, akan tetapi dia menggertakkan giginya tanpa berani berteriak.
Ketika dua polisi itu melihat Rafatar, mereka pun tertawa, “Oh rupanya ada Tuan Rafatar. Baik, baik, kalau begitu teruskan permainan kalian dan kami akan pergi.”
“Apa? Identitas Andrian sudah diketahui oleh Rafatar dan sebelah kakinya dipatahkan?” Ketika Marvel mendapatkan informasi ini, ekspresinya pun langsung berubah, “Cepat lakukan pertolongan!”
Saat ini sudah pukul sepuluh malam lewat, di mana angin malam terasa dingin hingga menusuk tulang dan Andrian yang berbaring di jalanan pun hanya bisa meringkukkan badannya dan tubuhnya gemetar.
Kebetulan sekali, pada pergerakkan kali ini tidak ada pihak polisi yang membantu mereka.
Mark muncul di dalam kerumunan orang, akan tetapi Andrian sedang meringkuk, jadi dia pun tidak melihat jelas wajahnya.
Akan tetapi dia tetap berdesak-desakkan maju ke depan dan berteriak, “Orang ini jelas-jelas dilukai oleh orang lain! Apa yang sebenarnya terjadi?”
Andrian pernah melihat Mark! Lalu saat ini ponselnya dirampas dan tidak mempunyai cara untuk menghubungi Marvel, akan tetapi ketika dia mendengar suara Mark, Andrian tiba-tiba berteriak, “Kak Mark!”
“Hm?” Mark yang sudah pernah berada di situasi di bawah serangan ribuan peluru itu pun tertegun ketika mendengar ada orang yang memanggilnya, lalu melangkah mendekat dengan cepat, “Kamu adalah…Andrian?”
“Iya itu aku, kakiku dipatahkan oleh mereka,” ucap Andrian dengan susah payah.
“Sialan!” Reaksi pertama Mark adalah tiba-tiba menegakkan tubuhnya, “Kalian sekelompok sialan ini berani-beraninya memukul saudara aku? Apakah kalian sudah bosan hidup?”