
Kedua satpam klub yang melihat penampilan biasa Alex seperti seorang petani tidak menghiraukannya, “Mau ngapain? Apa hubunganmu dengan Kak Rian?”
Alex berkata sambil tersenyum, “Rian itu kerabatku, aku datang dari luar kota untuk meminta bantuannya.”
“Oh, Kak Rian ada di lantai 4.” ucap satpam acuh tak acuh terhadap Alex yang terlihat sangat biasa.
Alex berhasil naik ke lantai 4, lalu dia melihat 2 anak buah berwajah gendut berdiri di depan sebuah ruangan, dia langsung mengetahui kalau Rian pasti ada di dalam, jadi dia berjalan ke sana.
“Berhenti, mau ngapain?” tanya 2 anak buah itu dengan tegas.
“Aku cari Rian, mau lihat di lagi apa.” ucap Alex sambil berjalan mendekat.
“Kurang ajar! Beraninya manggil nama Kak Rian tanpa embel-embel!” kedua orang itu masing-masing berdiri di kiri dan kanan, lalu mulai mengayunkan tinju.
Rian yang saat ini sedang menikmati teh di dalam ruangan, sama sekali tidak menghiraukan suara di luar.
Begitu sudah nyaman dengan hari-hari damai, baginya, sudah tidak ada lagi orang yang berani memaksa masuk ke klubnya.
“Hm? Kok tiba-tiba ngak ada suara?” Rian berdiri dengan bingung, lalu melihat ke luar ruangan.
Pintu ruangan terbuka, Alex berjalan masuk sambil membawa kedua pria itu di masing-masing tangan, lalu melempar mereka ke lantai.
Bisa dipastikan dari gaya kedua pria kekar yang terjatuh itu bahwa mereka dihajar sampai pingsan.
“Siapa kamu? Gimana kamu bisa masuk?” ucap Rian mengeluarkan pisau dan membuang puntung rokoknya.
Alex tersenyum dan berkata, “Tentu saja aku masuk paksa, Rian, ada yang perlu kubicarakan denganmu.”
“Hah? Bi… bicara apa?” Rian tahu kalau di lantai 4, mau dia berteriak sekencang apapun juga tidak berguna, karena tidak ada yang berani naik ke lantai 4.
Pemuda yang mengatakan dirinya masuk secara paksa, memiliki aura tenang dari dalam walaupun penampilannya terlihat biasa, hal ini membuat Rian ketakutan.
Meskipun dia memegang pisau, tapi saat Alex masuk, dia malah menarik sebuah kursi dan duduk dengan biasa, lalu berkata, “Simpan saja pisaunya, kamu sama sekali bukan lawanku. Kalau aku mau membunuhmu, itu lebih mudah dari membunuh seekor ayam.”
Rian merasakan sebuah tekanan yang membuatnya ingin berlutut meminta ampun dari tubuh lawan.
Otot di sekujur tubuhnya hampir lumpuh, dia menyimpan kembali pisau tersebut dengan blak-blakan, “Siapa kamu sebenarnya?”
“Alex.”
“Hah? Kamu…” dia hendak mengeluarkan pisau lagi secara reflek.
Alex menyilangkan kakinya dan menatapnya dengan penuh sindiran, “Kenapa kamu tiba-tiba memerintahkan orang untuk membunuhku?”
Rian menyeringai, lalu berkata, “Aku tidak suka melihatmu.” sembari berkata, dia kembali menggenggam pisau dan menatap Alex dengan penuh amarah.
Namun, baru saja dia selesai berbicara, dia merasa Alex yang duduk di hadapannya tiba-tiba menghilang, dan wajahnya tiba-tiba tertampar keras!
Suara tamparan yang nyaring itu sungguh nyata, kemudian disusul suara gemingan pada telinganya, kepalanya terasa pusing, eh? Mana pisauku?
Rian berusaha memusatkan kesadarannya, rupanya pisau tersebut sudah ada di tangan Alex, selain itu, bagian ujung pisau sedang berada di bagian jantungnya!
Dengan tindakan dan kemampuan Alex barusan, asalkan pisau tersebut ditodongkan perlahan ke depan, dan menikam jantung Rian, maka dia pasti akan langsung mati tanpa bisa bersuara lagi.
Rian tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, dan otot di kedua kakinya menjadi kaku, “Kamu…”
Rian sesungguhnya tidak mau berlutut, tapi dia sama sekali tidak bisa melawan setelah ditampar beberapa kali.
Kedua kakinya ini tidak mau bekerja sama dan langsung saja berlutut!
Alex berdiri tegak, lalu berkata dengan suara berat, “Rian, aku akan terus terang padamu. Kalau aku sudah datang ke Medan, maka aku sungguh tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang rendah sepertimu! Tapi kalau kamu cari masalah denganku, hmph! Ceritanya lain lagi, berapa Charles membayarmu?”
”2… 200 juta.” kata Rian dengan jujur.
“Kalau gitu kamu beri aku ganti rugi 2 miliar, kalau kurang selembar…” Alex melihat-lihat klub ini, lalu berkata lagi, “Akan kuledakkan tempat ini, percaya ngak?”
Di satu sisi, Rian sangat takut kepada Alex, dan di sisi lain, dia benar-benar tidak percaya dengan perkataan Alex barusan!
Oleh karena itu, dia ragu-ragu sejenak.
Krak! Alex langsung menginjak kaki kanan Rian dan menimbulkan suara patah tulang yang sangat jelas.
“Ahh! Aduh, sialan! Aku…” Rian menjerit kesakitan, sekujur tubuhnya kejang-kejang, dan tumbang.
Rasa sakit akibat patah tulang bukanlah hal yang bisa diterima orang seseorang.
Alex tersenyum tipis, lalu berkata, “2 miliar, tidak boleh kurang selembar pun.”
Rian sungguh ingin meneriakinya! Tapi dia tidak berani.
Dia bisa melihat kalau Alex pasti akan melakukan apa yang sudah dikatakannya, jika nantinya beneran kurang satu lembar, maka tidak hanya klub ini yang akan meledak, tapi mungkin dirinya sendiri juga akan diremukkan.
Rasa takut yang tiada batas seketika menyelimuti hati Rian, dia buru-buru berkata, “Iya, iya, Tuan Alex, 2 miliar, tak kurang selembar pun. Mohon tunggu sebentar.”
Harus menahan rasa sakit dan juga mendesak uang, Rian benar-benar sial hari ini.
“Charles, sialan kamu! Mana uangnya, awas kalau kurang selembar, aku bunuh seluruh keluargamu!” ucap Rian saking marahnya.
“Eh, Kak Rian, aku baru dapat 1.8 miliar, boleh tunggu dulu tidak?” Charles terlihat jelas takut kepada Rian.
“Cepat transfer 1.8 miliar padaku! Brengsel!” Rian tetap mempertahankan rasa angkuhnya, kalau tidak, akan gawat kalau 1.8 miliar ini tidak sampai ke tangannya.
“Oke, oke, sisa 200 jutanya akan segera kutransfer.” janji Charles.
Rian akhirnya bisa tenang, tapi sekujurnya tubuhnya sudah dibasahi keringat karena rasa sakit, dia meringkuk di sisi lain dan menatap Alex dengan penuh ketakutan, “Tuan Alex, apa yang Anda inginkan sebenarnya?”
Alex berkata, “Aku tidak membunuhmu karena kamu sama sekali tidak pantas untuk mengotori tanganku. Kennedy sekalipun juga harus mengalah padaku kalau aku sudah datang ke Medan! Kamu tunggu saja!”
“Hah? Baik, baik.” mana berani Rian membantah lagi sekarang.
Namun, tadi Alex bilang Kennedy juga harus mengalah padanya? Pandai sekali dia membual? Siapa yang tidak tahu Kennedy Mahari? Kennedy saja belum tentu akan menundukkan kepala pada Walikota Medan saat ini!
Apa jangan-jangan Alex keturunan dari orang yang lebih hebat?
Ting! Ponsel Rian berdering, uang sebesar 1.8 miliar sudah ditransfer kepadanya, dan membuat Rian seakan melihat malaikat penyelamat, dia segera menggabungkan uang yang ada di ponselnya, lalu bertanya pada Alex dengan deg-deg’an, “Tuan Alex, bagaimana… aku mentransfer uang ini padamu?”
Alex tiba-tiba merasa sedikit menyesal, sebenarnya dia sama sekali tidak menganggap Rian, dia merasa memeras 2 miliar darinya akan membuat anak ini kesulitan, tapi tak disangka dia bisa mendapatkannya semudah itu.
Namun, Alex terkenal menepati ucapannya, jadi mana bisa dia mengubah kata-katanya? Dia mau tak mau memberikan nomor rekeningnya dan menerima transfer sebesar 2 miliar tersebut.