
Huarz, kerumunan tiba-tiba menjadi kacau, bahkan ada banyak orang yang langsung berbaring di lantai dengan gemetar. Juga ada orang yang menginjak orang-orang yang berbaring di lantai untuk berlari keluar dengan terhuyung-huyung.
Perbuatan mereka mengosongkan satu tempat untuk Alex dan pria bersenjata itu.
Kecepatan Alex seperti macan, dia mengangkat koper itu sambil mendekati pria bersenjata dengan cepat!
Ketika dia berhasil mengurangi jarak antara dirinya dan pria bersenjata itu, Alex tiba-tiba melempar koper di tangannya ke arah pria tersebut!
Pada saat yang sama, gerakan Alex berubah. Dia berjalan dengan rute berbentuk S, lalu dia menggunakan gerakan yang sangat aneh untuk mendekati pria bersenjata itu.
“Ah?” Mungkin pria bersenjata itu nggak bisa berpikir dengan cermat lagi. Gerakan Alex mengejutkannya hingga respon utamanya yaitu menembak Alex tanpa berpikir untuk menangkap orang sebagai sandera.
Melihat koper menyerang ke arahnya, dia pun tanpa sadar bersembunyi dan kesadarannya menjadi kacau.
Alex sudah sampai di depannya dan sialnya, pistol polisi di tangannya sudah tidak ada peluru!
Kabur? Ketika pria bersenjata memiliki niat itu, dia sudah merasa tatapan di depannya gelap! Selanjutnya, rasa pusing yang hebat menyerangnya sebelum tubuhnya tersungkur di atas tanah. .
“Wow! Ini sudah pelaku yang ketiga! Gagah sekali!”
“Hebat! Ini baru namanya pahlawan!”
“Aku harus menikah dengannya! Nanti aku akan mencarinya untuk meminta nomor teleponnya!”
“Apa? Aku ini pacarmu, oke?”
“Kamu tidak sehebat dia!”
“Apa? Kamu ini terlalu kejam!”
Alex menyeret pria bersenjata yang pingsan itu dan menumpuknya ke atas dua pria tadi. Pistol sudah berada di tangan Alex dan dia terus melihat ke arah di mana orang-orang berlari keluar.
Marvin sudah muncul di luar Sun Plaza dengan timnya.
“Cepat, tim pertama menjaga sekitar, sedangkan tim kedua masuk ke dalam! Semuanya harus hati-hati dan melindungi rakyat!” Marvin baru saja mengeluarkan pistolnya, lalu dia pun terkejut ketika melihat kerumunan yang keluar dengan tergesa-gesa: Situasi ini terlalu kacau!
“Cepat, pikirkan segala cara untuk masuk ke dalam dan membantu Kapten Nova!” Marvin terus mengeluarkan perintah dan para polisi juga langsung berlari ke samping pintu, tapi sulit bagi mereka untuk menembus keramaian.
“Baik!” seru para polisi sambil terus berusaha untuk masuk ke dalam.
Menghadapi kerumunan yang panik, Marvin pun juga tidak berdaya. Satu-satunya jalan adalah berteriak dengan pengeras suara, “Semuanya jangan panik! Pihak polisi sedang mengendalikan situasi saat ini, tolong semuanya jangan panik! Pihak polisi akan memastikan keselamatan semua orang, tolong tetap diam di tempatmu dan bekerja sama dengan aksi pihak polisi!”
Namun, kerumunan yang keluar dari plaza ini benar-benar tak bisa dikendalikan. Mereka masih terus mendorong untuk keluar.
Selain itu ada anak-anak dan orang tua yang jatuh karena didorong, bahkan ada yang terinjak sampai mati. Tapi, siapa yang akan mempedulikan hal ini ketika sedang panik?
Setelah kejadian ini selesai, mereka pun menghitung orang yang terinjak mati karena hal ini. Total ada 13 orang yang terinjak sampai mati, termasuk anak-anak!
Ketika ambulans tiba, paramedis juga tidak bisa bergegas masuk untuk menyelamatkan orang sehingga, waktu penyelamatan juga tertunda.
Lima menit kemudian, Marvin akhirnya masuk. Begitu dia melihat Alex serta beberapa penjahat yang diinjaknya, Marvin pun tahu bahwa Nova yang membawa Alex ke sini.
Alex melihat ada banyak polisi di belakangnya yang masuk ke dalam plaza, lalu dia mengangguk, “Kapten Marvin, aku serahkan tempat ini padamu.”
“Segera mulai proses penyelamatan! Awasi mereka!” Marvin memberi perintah, “Asal kalian bertemu dengan orang yang mencurigakan, maka kalian tembak saja, tidak usah ragu-ragu!”
Sudah ada beberapa dari pihak polisi yang menjadi korban, jadi Marvin nggak peduli dengan disiplin lagi. Selama anak buahnya aman, maka dia nggak keberatan untuk membunuh semua orang jahat itu!
Dia terus-menerus memberi perintah, bahkan memerintah anak buahnya untuk tidak perlu menjaga kedisiplinan. Mereka boleh menggunakan cara apapun selama mereka bisa mengendalikan situasi!
Dengan kata lain, kerahkan segalanya untuk mencapai tujuan!
Lima menit kemudian, Marvin yang baru saja tiba di lantai 4, mau dari lift atau tangga, semua telah dijaga ketat oleh pihak polisi. Lalu sebagian besar polisi sedang membubarkan para pelanggan di Sun Plaza dengan tertib.
“Bagaimana situasinya?” Marvin berjalan ke depan Nova.
Nova sudah menyimpan pistolnya, tapi ekspresinya sangat serius, “Kami telah mengorbankan tiga polisi! Kapten Marvin, nggak peduli apa caranya, kita harus menemukan semua penjahat itu!”
Marvin mengangguk sambil berteriak ke walkie-talkie, “Lakukan yang terbaik untuk menemukan pembunuh itu! Kawan-kawan, cepat selamatkan saudara-saudara kita, lalu segera menjaga pintu keluar! Juga harus pastikan orang-orang bubar dengan aman, pada saat yang sama nggak boleh melewatkan orang yang mencurigakan! Aku memberi kalian hak untuk menembak kalau melihat penjahat yang akan mengancam nyawa orang lain! Jangan berbelas kasihan!”
Namun, meski Marvin memberikan perintah dengan lantang, apabila terjadi masalah besar karena izinnya untuk bergerak tanpa aturan, dia sendirilah yang harus menanggung konsekuensinya.
Tetapi, kematian tiga temannya ini membuat Marvin sangat marah dan meski dia adalah seorang komandan, rasa dendam tersebut membuatnya tidak lagi peduli dengan kedisiplinan penegak hukum.
Setengah jam kemudian, suasana para pelanggan sudah tenang, pihak polisi juga sudah mengendalikan situasi. Polisi dari divisi investigasi teknis telah menguasai seluruh CCTV dan mencari bukti kejahatan.
Nova merasa sedih, “Kapten Marvin, ini semua salahku sehingga menyebabkan ketiga saudara kita meninggal!” Ketika berbicara sampai sini, sepasang mata Nova yang cantik penuh dengan air mata, bahkan dia juga menangis.
Marvin menggelengkan kepala, “Kapten Nova, sekarang bukan waktunya mengatakan hal ini! Cepat atasi tempat ini! Cepat! Bantu aku mengomando.”
“Baik!” Nova pun berhenti menangis, lalu membantu Marvin mengatasi masalah di sini.
Sepuluh menit kemudian, pembersihan tempat kejadian sudah selesai, sedangkan para polisi masih menyelidiki petunjuk yang tersisa.
“Di mana Alex?” Nova melihat sekeliling.
“Sepertinya sudah pergi,” jawab seorang polisi muda.
Bukan hanya Nova yang tidak memperhatikan kepergian Alex, bahkan orang yang memuja Alex pun tidak sadar akan kapan kepergian Alex karena ada banyak polisi yang masuk sehingga menarik perhatian mereka.
“Astaga! Kak polisi berpakaian biasa itu adalah idolaku selamanya! Aku tidur pun bisa memimpikannya! Dia adalah pangeranku.” Seorang gadis menghela napas dengan mata yang berbunga-bunga, penuh cinta.
“Sudahlah! Dia sudah pergi, kamu nggak usah begitu tergila-gila!” Pria di sebelahnya mengingatkannya.
“Kamu nggak mengerti! Dia itu adalah pria impianku. Aku harus menikah dengannya. Meskipun dia sudah menikah, tidak masalah bagiku bila hanya secara siri. Aku rela menjadi yang kedua!” Gadis itu masih tenggelam dalam fantasinya sendiri.
“Hei, dia pasti sudah menikah! Pria begitu baik pasti sudah menjadi sasaran wanita!” Pria itu naksir pada gadis itu, jadi dia mencoba menghancurkan fantasi wanita itu.
“Kamu jangan asal ngomong, apakah aku nggak baik? Kelaknya aku pasti akan memperlakukannya dengan sangat baik bila kita bersama!” Gadis itu masih bersikeras mempertahankan kemauannya sendiri.
Di sisi lain, Nova bergelayut dalam pekerjaannya sampai harus lembur lagi. Sampai jam menunjukkan pukul enam pagi, barulah Nova selesai mengerjakan semuanya. Dia sudah sangat lelah, jadi berpikir ingin istirahat di asrama, alhasil dia tertidur di dalam mobil ketika mau mengambil pakaiannya.