
Alex mengangguk dan berjalan ke samping Jonas, lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Halo, aku adalah Alex, direktur PT. Atish.”
Jonas hanya menatap Alex dengan acuh tak acuh, “Benarkah? Kalau kamu hanyalah direktur PT. Atish, aku rasa aku nggak mungkin kemari.”
Alex mengerutkan alisnya. Ekspresi Jonas sangat aneh, seolah-olah Alex sudah berutang miliaran rupiah padanya. Namun, Alex tetap tersenyum, “Maaf, kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Aku adalah anggota Biro Red Shield. Untuk sementara, aku bertanggung jawab atas misi di Provinsi Sulawesi Tenggara.”
Setelah itu, Jonas baru menatap mata Alex, tetapi dia juga masih tidak berdiri. Dia hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Anggota Biro Red Shield? Statusmu memang terhormat.”
Alex sedikit kebingungan. Orang itu sepertinya tidak menyukai dirinya dan entah mau berbuat apa. Dia ingin tahu kenapa Jonas bersikap begitu pada dirinya lantaran sikapnya ini jelas-jelas sangat aneh.
“Maaf, Tuan Jonas. Apakah aku pernah menyinggungmu dulu?” tanya Alex.
Jonas menggeleng. “Ini pertama kalinya kita bertemu.”
Alex bertanya lagi, “Kalau begitu, kenapa kamu bersikap seperti ini terhadapku? Seperti aku sudah berutang padamu.”
Kepribadian Alex yang blak-blakan itu membuat anggota pemerintah di sekeliling sedikit terkejut. Mereka tahu bahwa Jonas adalah orang yang berstatus paling tinggi di antara mereka semua.
Saat mereka melihat ekspresi Jonas sebelumnya, mereka sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ternyata memang benar, Jonas jelas-jelas bukan datang untuk menyelamati Alex. Apakah dia ingin membuat keonaran?
Namun, seharusnya tidak. Jika Jonas memang ingin membuat keonaran, dia seharusnya tidak akan datang kemari. Lagi pula, Jonas mewakili pemimpin Provinsi Sulawesi Tenggara. Jika Jonas bersikap begini terhadap Alex, apakah itu berarti pemimpin Provinsi Sulawesi Tenggara juga bersikap seperti itu?
Jonas menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku hanya merasa bahwa kamu sudah melakukan begitu banyak perbuatan ilegal dengan meminjam nama Biro Red Shield. Tapi, kenapa nggak ada yang menggugatmu?”
Alex sedikit terkejut dan tidak mengerti apa maksud Jonas. Sejak kapan dia pernah melakukan hal ilegal? Semua yang dilakukannya adalah keadilan untuk rakyat!
Saat melihat ekspresi tidak berdosa Alex. Jonas langsung mencibir, “Sepertinya kamu masih ingin berdalih. Aku sudah bosan melihat sandiwara seperti ini.”
Kata-kata itu lebih keliru lagi, karena Alex sama sekali tidak bersandiwara. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah didengar oleh Jonas sehingga dia menganggap Alex sebagai orang seperti itu.
“Meskipun aku nggak tahu dari mana kamu mendengar tentangku, kamu nggak seharusnya menyimpulkan seseorang secara subjektif. Apalagi kamu nggak mengamati orang itu sendiri dan hanya mendengar kata-kata orang. Aku benar-benar merasa sedih untuk pemimpin Provinsi Sulawesi Tenggara lantaran orang sepertimu bisa menjadi sekretaris.”
Alex hanya bisa menatap Jonas dengan tidak berdaya dan mengutarakan isi hatinya.
Tepat di saat itu, ekspresi semua anggota pemerintah langsung berubah. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara Jonas dan Alex.
Namun, Max adalah orang yang paling cepat bereaksi dan langsung menghubungkannya dengan keluarga Jonas. Dia tiba-tiba menyadari kenapa Jonas bisa memiliki kesan yang buruk terhadap Alex. Alex sudah difitnah!
Setelah mendengar kata-kata Alex, Jonas langsung berdiri dari kursi dan ekspresinya menjadi muram, “Diam! Aku nggak menyangka bahwa seorang anggota Biro Red Shield malah nggak bisa membedakan mana yang benar dan buruk. Sepertinya, nggak semua anggota Biro Red Shield rela mempertaruhkan nyawanya demi negara!”
Alex hanya tersenyum, “Memang benar. Aku nggak bermaksud untuk mempertaruhkan nyawaku untuk Negara Indonesia. Aku hanya akan mempertaruhkan nyawaku untuk istriku.”
Alex malah berkata dengan sinis, “Kalau kamu bahkan nggak bisa mempertaruhkan nyawa untuk melindungi istrimu, untuk apa membicarakan tentang melindungi negara? Aku benar-benar nggak percaya kamu bisa melakukannya, yang ada mungkin kamu akan menjadi pengkhianat!”
Jonas langsung menjadi sangat marah sehingga tidak dapat berkata-kata. Namun, dia tetap menunjuk dan menatap Alex dengan ekspresi murka.
Alex malah hanya melambaikan tangannya dengan santai, “Tempat ini nggak menyambutmu. Silakan pergi!”
Pada akhirnya, Jonas meninggalkan Perusahaan Jaya Shield dengan murka. Sementara anggota pemerintah yang lain sedikit kewalahan. Jonas mewakili pemimpin Provinsi Sulawesi Tenggara, sedangkan Alex juga memiliki latar belakang yang kuat. Jadi, mereka tidak bisa langsung mengambil keputusan.
Alex melambaikan tangannya lagi, “Aku juga nggak ingin menyulitkan kalian. Kalian toh sudah mengenalku dan aku juga sudah mengenal kalian. Jadi, kalian bebas melakukan apa pun yang kalian inginkan.”
Ada beberapa orang yang buru-buru meninggalkan tempat itu, tetapi masih ada sebagian yang tetap tinggal.
Selain Jonas, masih ada satu orang yang duduk di atas sofa. Matanya menatap kosong ke depan. Alex sedikit penasaran dengan orang ini.
Max pun cepat-cepat memperkenalkan mereka, “Ini adalah teman lamaku. Kami telah berkontribusi besar dalam revolusi pembebasan bangsa. Saat aku mengatakan bahwa aku akan menemuimu, dia juga mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan anggota Biro Red Shield. Jadi, aku membawanya kemari. Aku benar-benar minta maaf.”
Alex mengangguk. “Nggak apa-apa. Aku sangat menghormati para senior ini.”
Namun, Alex masih penasaran. Jika dia datang untuk menemui Alex, kenapa dia tetap menatap kosong ke depan padahal Alex sudah berdiri di hadannya?
Max berkata dengan canggung, “Mata Heri terluka dalam peperangan sehingga menjadi buta.”
Alex mengangguk sedih dan hanya bisa menerima situasinya. Kemudian, dia duduk di samping Heri dan berkata, “Paman, aku adalah anggota Biro Red Shield. Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah.”
Heri mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk meraba wajah Alex. Kemudian, dia berkata dengan senang, “Akhirnya aku merasakannya. Dulu, saudaraku mengatakan bahwa dia akan membiarkanku meraba emblem Biro Red Shield miliknya setelah dia bergabung dengan Biro Red Shield. Tapi, aku hanya ingin meraba wajahnya.”
Alex juga tidak menolak. Dia merasakan ada kapalan yang sangat tebal di tangan pria tua ini. Kapalan ini terbentuk karena memegang pistol untuk waktu yang lama.
Pria tua ini adalah seorang prajurit tua.
Heri tersenyum sambil berkata, “Tapi, setelah masuk ke Biro Red Shield, saudaraku itu nggak pernah kembali lagi. Dengar-dengar, misi pertama mereka sangat berat sehingga ada banyak anggota Biro Red Shield yang mati. Orang dari pihak Biro Red Shield hanya memberiku sebuah jam saku.”
Alex melihat ada sebuah jam saku yang bergantung di saku Heri. Sepertinya, Heri sering meraba jam saku itu sehingga jam saku itu terlihat sangat mengkilap.
Heri tersenyum dan berkata, “Nama saudaraku itu adalah Arwan. Kita berada di tim yang sama. Setelah perang berakhir dan kami masih hidup, kami pun saling bergantung. Dia bilang bahwa dia adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarganya. Aku juga begitu, jadi kami berjanji untuk menjadi saudara.”
Heri menceritakan persaudaraan mereka yang sangat mengharukan itu.