
Oleh karena itu, Erika dan Friska kembali bertemu di kantor pusat PT. Atish, Erika memeluk Friska dan berkata sambil menangis, “Tahu ngak sih, pas kamu koma, aku masih harus ngurus perusahaan, pas udah santai juga harus mengkhawatirkanmu.”
Sama halnya dengan Friska yang juga memeluk Erika erat-erat, “Udah, udah, pasti sibuk banget ya belakangan? Aku udah balik sekarang! Jadi kamu bisa lebih santai dikit.”
Erika mendengus, “Aku tuh khawatir sama keselamatanmu! Kalau soal sibuk sama capek mah ngak ada apa-apanya.”
Friska melebarkan matanya, lalu berkata, “Hm? Kalau gitu, kamu aja ya yang lanjutin tugas berat ini?”
“Sana! Kan kamu udah ngak kenapa-napa, jadi tentu saja harus bantuin!” ujar Erika sambil tertawa, keduanya pun tertawa bersama.
“Ini siapa?” tanya Erika yang akhirnya menyadari keberadaan Jasmin yang berada di sisi Friska, dia seketika merasa tertarik padanya begitu melihat penampilannya yang heroik.
“Jasmin dari Aliran Rajawali.” ucap Jasmin sambil mengulurkan tangan.
“Eh! Rupanya Jasmin, cantik banget ya!” Erika buru-buru memperkenalkan diri pada Jasmin, “Aku Erika.”
Jasmin berkata dalam hati, kecantikan Erika memang tidak biasa, auranya juga ngak sama dengan orang biasa, pantas saja Alex bilang padaku kalau dia sudah punya cewek.
Ketiga wanita itu duduk bersama dan mulai berdiskusi, mereka merasa permasalahan terbesar saat ini untuk mendapatkan proyek pembangunan kembali pelabuhan Medan adalah kekurangan modal, ketiganya segera menyerahkan masalah kekurangan modal kepada bagian administrasi untuk menghitung perkiraannya, hasil akhirnya adalah, meskipun dengan kemampuan PT. Atish saat ini, kekurangan modalnya juga setidaknya mencapai 3 triliun!
Friska berkata, “Walau aku mengumpulkan sejumlah dana dari pihak keluargaku juga tidak akan bisa menyelesaikan masalah.”
Jasmin berkata, “Modal yang bisa aku keluarkan paling banyak hanya 200 miliar."
Erika mengangguk dan berkata lirih, “Aku telpon Alex dulu, mungkin dia punya solusi.”
Jasmin berkata, “Tuan Alex punya modal sebanyak itu?”
Friska menjawab, “Yang jelas kalau ada masalah ya cari saja dia! Hmph.”
Jasmin semakin yakin kalau kemampuan Alex jauh lebih besar dari yang dipikirkannya, dia sedikit gugup menunggu hasil dari panggilan Erika.
"Oke! Dia sudah setuju, dananya akan sampai besok." ucap Erika kegirangan.
"Besok?!" Mulut Jasmin ternganga lebar, "Tuan Alex bilang bisa dapat berapa?"
Erika berkata, "Dia bilang biar dana kita berkecukupan, dia bakal ngasih 4 triliun dulu, kalau ngak cukup baru tambah lagi."
Kepala Jasmin sedikit pusing, "Maksudmu, tuan Alex punya dana yang begitu besar?"
Erika berkata, "Dia sih bilangnya pinjam sama teman, mau dia pergi ngerampok bank juga yang penting besok kita akan punya dana sebanyak itu."
Jasmin tersenyum pahit, "Walaupun tuan Alex mulai merampok ke setiap bank sekarang juga ngak mungkin bisa dapat 4 triliun."
Erika berkata, " Udah, tugas kita sekarang yaitu mengatur urusan perusahaan dengan baik dan membuat dokumen penawaran, jadi kita harus melakukan kontak dengan para eksekutif PT. Atish dan mempelajari setiap aspek dari proyek pembangunan kembali pelabuhan Medan dengan jelas.
Saat Hengky berdiri dalam keadaan baik-baik saja di hadapan Larry, Larry seketika jadi lemas!
Dia tahu kalau menyelamatkan Hengky bukanlah hal mudah, kecuali Alex berhasil menguasai Kitab Aliran Elang dalam waktu 3 hari dan sudah sampai ke tahap tertentu! Tapi hal ini sama sekali tidak mungkin! Kalau Alex berhasil, berarti keberadaan orang ini hampir setara dengan dewa.
"Larry, bagiku kamu sudah ngak berguna lagi. Aku bakal tanya 1 pertanyaan padamu, kalau kamu bisa jawab, aku akan mengampuni nyawamu." ucap Alex datar.
Larry terdiam.
Alex berkata, "Segera telpon Ehsan, bilang padanya ada hal penting."
Larry tetap diam, Alex memberi kode pada Hengky, "Bukannya kamu pengen balas dendam?"
"Siap!" Mata Hengky memancarkan sinar jahat, dia muncul di hadapan Larry dalam sekejap mata, lalu menamparnya puluhan kali hingga wajah Larry membengkak seperti kepala babi.
"Tidak! Jangan!" Tapi, mau dia menolak seperti apapun, Hengky mana mungkin berhenti? Setelah sekitar 6 gigi copot akibat dipukuli, Alex perlahan mengangkat tangannya, Hengky segera berhenti dan kembali ke sisi Alex.
"Kak Alex, jangan biarkan dia mati! Aku pengen motong dia jadi 1000 potong! Sepotong pun ngak boleh kurang! Aku harus memotongnya perlahan-lahan." ujar Hengky kejam.
Larry sebenarnya sangat ketakutan, tujuannya mencelakai Hengky adalah untuk memastikan keselamatannya, tapi sekarang ini sudah tidak mungkin lagi, oleh karena itu, dia berusaha menggunakan mulutnya yang sudah babak belur untuk berkata, "Alex, kamu mempelajari Kitab Aliran Elang kami?"
Alex mendengus, lalu berkata, "Ini bukan urusanmu! Dunia ini kaya akan ciptaannya, dan hanya orang yang berakhlak yang pantas tinggal! Larry, aku mau menemukan Ehsan karena aku ada perlu, dan kamu harus bekerja sama denganku sekarang. Kalau ngak, akan kuserahkan kamu pada Hengky."
"Baiklah, ada 3 tempat yang sering didatangi Ehsan, aku akan memberitahumu lokasi tepatnya." Demi hidup, Larry hanya bisa bekerja sama dengan Alex.
“Bagus! Larry, kalau aku ngak bisa menemukan Ehsan, tunggu saja nanti!" Alex dan Hengky berbalik dan pergi.
Larry berkata dengan galak, "Kalian akan menerima pembalasan habis-habisan dari keluarga Mahari kalau berani membunuhku!"
Di tengah perjalanan, Hengky yang sedang menyetir bertanya, "Kak Alex, Larry mau kita apain? Kenapa ngak dibunuh saja?"
Alex berkata, "Perusahaan di bawah nama Ehsan sudah seharusnya jadi milik kita. Lalu Larry sendiri juga pasti punya perusahaan, kan?"
Mata Hengky berbinar, "Bener juga! Kak Alex memang hebat, tentu saja harus menguras habis nilai mereka! Hahaha!"
Di dalam vila putra Ehsan, Andika Wardoyo, Ehsan tengah berbaring di atas kasur sambil terus menghela nafas, "Dika, Alex sungguh amat hebat! Aku awalnya mau menghubungi gurumu Larry untuk menghadapinya, eh tahu-tahu malah ngak bisa dihubungi. Untuk sementara ini kita harus hati-hati, sebaiknya kamu jangan ke perusahaan dulu, bahaya nanti kalau dia sampai ke sana."
Andika yang angkuh mengerutkan kening dan berkata, "Yah, Anda sudah umur segini loh, kenapa masih terlibat dalam pembunuhan dendam begini sih? Lagian sekarang sudah zamannya hukum yang berbicara, emangnya dia berani nyari masalah ke perusahaan? Emang polisi ngak bisa nanganin dia? Aku ngak percaya!"
Ehsan berkata dengan marah, " Jangan ngebantah! Di dunia ini pasti ada kekuatan yang berada di luar aturan hukum. Misalnya saja keluarga Mahari yang sekarang ini, waktu awal-awal memulai bisnis mereka juga pakai cara kotor! Tentu saja, punya kita juga ngak bersih-bersih amat! Kalau sampai pemerintah mau menghitungnya dengan kita, takutnya kita juga ngak akan bisa baik-baik saja. Jadi, kita harus peluk erat-erat pohon besar seperti keluarga Mahari."
"Oke, Yah, aku ngerti." Meskipun Andika terlihat hormat di luar, tapi sebenarnya dia tidak berpikir seperti itu.
"Perketat penjagaan vila! Tambah lagi penjaganya!" ingat Ehsan lagi.