Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 595 Tiba-tiba Merasa Nggak Senang


Para pekerja konstruksi memperkirakan bahwa Davin bisa dikalahkan dengan satu pukulan.


Alex hanya tersenyum setelah mendengarnya. Dia berdiri di depan dinding kaca kantor sambil menyaksikan dua kelompok orang yang sedang bertarung dengan wajah penuh senyum.


"Seru banget!" Alex bertepuk tangan.


Erika berdiri di samping Alex. Dia tidak menyangka Alex bisa terpikir cara yang membuat kedua belah pihak berkelahi seperti ini.


"Sudah boleh lapor polisi," kata Alex sambil mengeluarkan ponsel dengan wajah berseri-seri.


Erika memelototinya. Alex benar-benar menikmati pertunjukkan ini!


Tak lama kemudian, polisi pun sampai di lokasi konstruksi dan menangkap orang-orang yang berkelahi itu. Davin juga dibawa ke kantor polisi untuk memberi keterangan.


Robert memijat-mijat pelipisnya. Dia tidak menyangka tempat ini adalah wilayah PT. Atish. Dengan kata lain, hal ini juga berhubungan dengan Alex.


Robert sudah mengerti bahwa semua kasus yang berhubungan dengan Alex sangat rumit. Jadi, dia tidak bisa menindaklanjuti kasus-kasus itu seperti biasa.


Hanya saja, Robert sangat penasaran saat melihat sekelompok orang yang dia tangkap ini. Orang-orang yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit.


Di dalam ruang interogasi, Davin mengamati sekitarnya. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke tempat seperti ini, dia pun sangat penasaran. Tak lama kemudian, Robert menghampirinya.


Robert dan Gordon menatap Davin, tetapi Robert terlebih dulu bersuara, "Katakanlah, apa yang sudah terjadi? Saat ini, ada 5 orang yang tewas dan 17 orang yang terluka di lokasi konstruksi kalian. Kalian harus tanggung jawab, 'kan?"


Davin menjawab sambil tersenyum, "Maaf, Pak. Orang-orang itu nggak ada hubungannya dengan PT. Atish. Salah satu pihak adalah Tim Konstruksi Cahaya. Mereka datang untuk cari kerja, jadi kami setuju untuk mempekerjakan mereka. Tapi mereka malah tiba-tiba menyerang pengawal yang kami sewa."


Setelah mendengar hal itu, Gordon langsung membelalakkan matanya, "Apa? Pengawal yang kalian sewa?"


Davin mengangguk dengan tenang, "Iya, mereka adalah pengawal yang kami sewa dari PT. Zrank. Tujuan kami menyewa mereka adalah untuk menjaga keamanan lokasi konstruksi. Tak disangka, mereka malah diserang preman-preman itu. Menyedihkan sekali!"


Ini adalah kata-kata yang diajarkan Alex pada Davin.


Gordon langsung menyipitkan matanya, dia sudah mengerti apa yang terjadi. Kemudian, dia berkata sambil menggertakkan giginya, "Biarpun begitu, masalah ini terjadi di lokasi konstruksi kalian ...."


Davin langsung menyela Gordon, "Aku bisa bilang hal ini nggak ada hubungannya dengan PT. Atish karena semua pengawal itu menandatangani kontrak dengan PT. Zrank. Mereka hanya diutus ke PT. Atish untuk membantu kami. Jadi, semua tanggung jawab ada di pihak PT. Zrank."


Saat ini, Robert sudah tercengang. Dia tentu saja tahu bahwa Alex yang mengatur semua ini, tetapi dia tidak menyangka Alex bisa membuat masalah ini sama sekali tidak berkaitan dengan PT. Atish.


Bagaimana Alex bisa terpikirkan cara seperti ini?


Di dalam kantor PT. Zrank, Trevor dan Morgan sedang berdiskusi tentang bisnis mereka yang mulai naik lagi. Awalnya, mereka mengira tanpa bantuan keluarga Bazel, PT. Zrank pasti bangkrut.


Namun, tepat di saat mereka sedang putus asa, seorang bos besar tiba-tiba menyewa 30 orang pengawal mereka. Ini adalah bisnis besar.


Setidaknya, uang itu bisa digunakan untuk menyokong operasi perusahaan mereka selama sebulan.


Akan tetapi, setelah situasinya kembali stabil, PT. Zrank akan kembali menjadi satu-satunya perusahaan keamanan di kota ini. Perusahaan Jaya Shield yang ada di seberang mereka tentu saja akan bangkrut.


Saat ini, Perusahaan Jaya Shield memang terlihat sangat berjaya. Namun, Morgan dan yang lainnya tahu bahwa tanpa dukungan keluarga Bazel, Perusahaan Jaya Shield tidak akan bisa bertahan selama sebulan.


"Entah untuk apa bos besar itu butuh begitu banyak pengawal?" tanya Trevor dengan penasaran.


Morgan menjawab sambil tersenyum, "Biarin saja! Yang penting kita sudah membeli asuransi untuk pengawal-pengawal itu. Biarpun mereka mati, kita juga nggak perlu ganti rugi banyak, malah bisa dapat banyak uang lagi."


Trevor tertawa, lalu berkata, "Benar juga. Sekarang, yang paling penting itu bisa menghasilkan uang. Biaya untuk 30 pengawal itu sudah dua miliar."


Namun, tepat pada saat ini, Argo dan Amel menyerbu masuk ke kantor mereka. Ekspresi Amel terlihat marah.


Saat melihat Amel dan Argo, Morgan langsung merasa kesal. Ketika ditangkap waktu itu, dua orang ini sudah menginterogasi mereka paling lama.


"Pak Argo, untuk apa kamu datang kemari? Amel, kenapa aku dulu nggak merasa kamu bisa bersikap arogan, ya? Aku masih lebih suka kamu yang menunduk di hadapan kami seperti dulu," kata Morgan sambil tertawa mengejek.


Amel mencibir, "Kalian masih belum tahu maksud kedatangan kami, 'kan?"


Morgan menggeleng, "Tentu saja nggak. Tapi sekarang, perusahaan kami seharusnya nggak melanggar peraturan, 'kan? Kami toh sudah membayar semua pajak. Kalau nggak, kami juga nggak bisa hidup senang di sini."


Dia tersenyum sambil menatap Amel dan Argo.


Amel berkata dengan tenang, "Sebenarnya, kami hanya datang untuk meminta kerja sama kalian dalam pemeriksaan. Lagian, kalian juga nggak melanggar hukum. Tapi, dari 30 pengawal yang kalian sewakan, ada 3 yang tewas, 9 yang cacat dan 12 orang dengan tingkat luka berbeda-beda. Kalian seharusnya mau tahu, 'kan?"


Morgan tertegun sejenak, senyumannya tadi sudah lenyap. Dia menatap Amel dengan terkejut, "Kenapa bisa begitu parah? Apa yang dilakukan pengawal-pengawal itu?"


Amel menjawab sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, mereka hanya berkelahi dengan Tim Konstruksi Cahaya di lokasi konstruksi PT. Atish."


Morgan dan Trevor saling memandang, ekspresi mereka langsung berubah. Mereka pada dasarnya bekerja sama dengan keluarga Bazel, jadi mereka tentu saja tahu Tim Konstruksi Cahaya berada di bawah pimpinan siapa.


Mereka sudah menyinggung keluarga Bazel lagi.


Morgan dan Trevor sudah hampir putus asa, bahkan uang yang mereka dapatkan juga langsung terasa tidak berharga.


Amel terkekeh, "Jadi, aku hanya datang untuk membawa kalian ke kantor polisi agar kalian bisa memberi keterangan. Tentu saja, kalian juga boleh menolak. Tapi, aku rasa keluarga Bazel pasti akan dengan senang hati mencari kalian sendiri, 'kan? Bagaimanapun juga, kalian sudah merusak rencana mereka."


Morgan dan Trevor langsung menjadi lemas. Setelah mendengar sudah merusak rencana keluarga Bazel, mereka sudah tahu seberapa serius masalahnya. Bagaimanapun juga, keluarga Bazel memang sedang menyusun rencana untuk menyerang lokasi konstruksi PT. Atish.


Sayangnya, rencana itu sudah dirusak oleh PT. Zrank!


Keluarga Bazel tidak akan mengampuni mereka!


Morgan buru-buru berkata pada Amel, "Sebaiknya kami ikut kalian ke kantor polisi saja. Tapi tolong tunggu sebentar, ada yang harus kami sampaikan pada karyawan dulu."