Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Takut Bahaya


Wajah pria besar itu ditendang oleh sepatu hak tinggi Riska, rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan hingga dia berteriak. Suara jeritannya sangat nyaring, tetapi Riska tidak tidak berhenti menendangnya.


Alex berkata kepada Riska: "Riska, hentikan, kamu akan membunuhnya jika masih menendangnya. Pergilah ke bagasi mobil untuk mencari tali dan mengikat orang-orang ini."


"Oke.” Riska berlari ke arah mobil untuk mencari tali.


Tapi baru saja dia sampai di depan mobil, seorang pria tiba-tiba keluar dari belakang mobil dengan meletakkan pisau di leher Erika.


Riska berteriak: "Kak Erika!"


Alex yang sedang menginterogasi Kevin tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari belakangnya. Dia menoleh dan melihat seorang pria bertubuh besar meletakkan pisau di leher putih Erika. Saat disandera oleh pria itu, Erika tidak terlalu sadar karena mabuk.


Kevin tersenyum penuh kemenangan, "Alex, memangnya kenapa kalau kamu hebat? Kamu tetap saja tidak punya otak. Indra, jaga wanita itu dengan baik. Alex, kamu sebaiknya menyerah. Jika tidak, aku akan meminta Indra menikam Erika sampai mati."


Indra tersenyum dan berkata, "Alex, kamu benar-benar jago berkelahi, bahkan kak Kevin saja bukan lawanmu. Tapi jika kamu tidak ingin istrimu mati, kamu sebaiknya menyerah."


Alex memarahi dirinya sendiri karena terlalu ceroboh, dia tidak menyangka mereka menyembunyikan seseorang dan menyandera Erika. Dia pasti masuk saat Riska keluar dari mobil barusan.


Alex khawatir Erika akan terluka, jadi dia tidak berani bergerak, dan memikirkan rencana dalam hatinya.


Melihat Alex tidak berkutit sama sekali, Indra merasa kesal dan memarahinya: "Alex, apa kamu tuli! Biar kuucapkan lagi, jika kamu tidak menyerah, wanita ini akan mati!" Indra menggunakan tenaganya sembari berteriak sehingga pisau itu hampir melukai leher Erika.


“Jangan, jangan gegabah, aku menyerah.” Kata Alex sambil mengedipkan mata pada Riska, menyuruhnya untuk tidak bertindak gegabah.


Riska bersembunyi karena ketakutan.


Indra mencibir, "Anton dan Toni, kalian berdua cepat bangun dan ikat mereka."


Anton dan Toni berdiri dengan menahan rasa sakit, lalu mengambil tali yang ada di tubuh mereka, kemudian mengikat tangan Riska terlebih dahulu.


Riska memarahinya: "Dasar brengsek, kamu tidak memegang perkataanmu, aku sudah menyerah, kenapa kamu masih mengikatku?"


Alex berkata pada Indra, "Indra, aku juga telah menyerah.Biarkan mereka pergi, aku akan tetap di sini, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau!"


Indra berkata: "Alex, aku tahu kamu hebat, siapapun dari kami bukanlah lawanmu. Bukankah aku bodoh jika melepaskan mereka duluan? Kamu pasti akan menyerang kami, jadi aku tidak akan melepaskannya dulu. "


Alex bertanya: "Lalu apa yang kamu mau?"


Indra mengertakkan giginya dan berkata: "Alex, turuti perintahku. Biarkan mereka mengikatmu. Aku akan menghitung hingga hitungan ketiga. Jika kamu tidak mengikutinya, aku akan segera membunuh istrimu!"


Alex mencengkeram leher Kevin, "Nak, aku akan menemanimu bermain sampai akhir jika kamu mau. Jika kamu berani menyentuh istriku, aku akan membunuh kakakmu!"


Kevin memerintahkan dengan lemah, "Indra, jangan lepaskan wanita itu. Jika kamu melepaskannya, aku akan mati ..."


Melihat bahwa Indra tidak terancam, Alex tidak punya pilihan selain berkata, "Tunggu, Indra. Aku menyerah." Alex menghela nafas dan mengulurkan tangannya, menyatakan kekalahan.


“Anton, ikat dia!” Di bawah perintah Indra, Anton mengambil tali dan mengikat tangan Alex.


Setelah Alex diikat, dia berkata kepada Indra: "Indra, aku sudah menyerah. Tepati kata-kata untuk melepaskan mereka."


Indra itu tertawa dan berkata, "Ya ampun, dasar bodoh! IQ segini saja masih berani mencari masalah? Lebih baik tunggu saja kematianmu."


Kevin juga tertawa penuh kemenangan: "Indra, kerja bagus."


Indra menyandera Erika sambil berjalan ke arah Alex, akan tetapi dia tetap menjaga jarak yang agak jauh dari Alex. Dia tetap tidak berani mendekat meskipun tangan Alex sudah diikat. Indra itu menunjuk ke arah tebing dan berkata, "Alex, kamu mau lompat sendiri, atau kami yang melemparmu? "


Lima orang lainnya bangun dengan rasa sakit dan mendekat, kecuali Kevin yang luka parah akibat tendangan Alex, "Kak Kevin, kita tidak bisa tetap merajalela di kota Jakarta jika tidak membunuh orang ini hari ini. "


Alex berkata dengan marah, “Dasar brengsek, kamu tidak memegang janjimu, aku tidak akan melepaskanmu.” Alex tiba-tiba melompat beberapa langkah ke depan Indra.


Jarak mereka lebih dari sepuluh meter, Indra sama sekali tidak punya persiapan Dia berpikir bahwa kemampuan Alex akan berkurang karena tangannya diikat. Melihat Alex yang tiba-tiba mendekat, dia panik dan mengayunkan tangannya untuk menebas pergelangan tangan Alex.


Dia tidak pernah menyangka bahwa Alex akan tiba-tiba memisahkan tangannya, meraih tangan kiri Indra yang memegang pisau, kemudian mengarahkan tangan kanannya ke titik lemah Indra, kemudian meninju dengan keras.


Pukulan Alex juga tidak sembarangan. Jika dia menggunakan kekuatan lebih, Indra pasti akan langsung mati. Jika kekuatannya lemah, dia tidak akan terluka.


Dengan kekuatan yang pas dia mematahkan dua tulang rusuk Indra. Ah! Suara jeritan Indra terdengar sampai kejauhan.


Tidak tahu kapan tali yang diikat ke tangan Alex putus. Pukulan keras yang mengenai Indra membuatnya terlempar jauh hingga beberapa meter. Dia jatuh ke tanah dan tidak bisa bergerak. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana tali di tangan Alex bisa terlepas.


Sementara itu, kini Alex tengah memapah Erika yang sempoyongan dengan kedua tangan. Kelima gangster yang barusan menyerang bersama Indra tiba-tiba saja menyaksikan Indra yang terlempar jauh. Sebelum mereka menyadarinya, mereka semua telah dipukul oleh Alex hingga terkapar di tanah.


Erika ketakutan dengan situasi barusan, tubuhnya menjadi lemas, dia bersandar pada Alex dengan napas terengah-engah, "Alex, aku takut setengah mati tadi."


Alex tersenyum dan memeluk Erika, lalu berkata: "Erika, jangan takut, aku di sini, tidak ada yang bisa menyakitimu."


Alex berteriak pada Riska, "Riska, cepat kemari untuk memapah kakakmu."


Riska menjawabnya. Mungkin dia kecanduan menginjak orang tadi. Ketika dia berjalan ke arah Alex, dia melangkah ke arah Kevin. Dia sudah tahu bahwa si Kevin ini adalah dalang di balik semua ini, “Brengsek, beraninya berbuat jahat pada kamu.” Riska mengangkat kakinya dan menginjak wajah Kevin.


Tak disangka, pada saat ini, Kevin yang terluka oleh Alex tiba-tiba memeluk kaki Riska. Riska berteriak dan jatuh ke tanah.


Kevin yang dipukul oleh Alex terluka parah hingga muntah darah, tetapi dia masih bisa mengatasi Riska. Dia menyeret sebelah kaki Riska sambil menahan rasa sakit, kemudian mengeluarkan pisau hitam yang bersinar dari tubuhnya, berkata, "Alex, kamu yang memaksaku, pisauku ini penuh dengan racun mematikan. Jika kamu tidak melepaskan kami, maka bersiap-siaplah untuk membereskan mayat gadis cantik ini. "