Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Menggoda


Satriya Buana berkata: "Erika adalah sepupuku. Ibunya kebetulan sakit, jadi dia pergi ke rumah sakit untuk merawatnya. Oh iya, saya akan bertanggung jawab atas semua bisnis yang bersangkutan dalam kerja sama dengan perusahaan Anda kedepannya."


Wajah Yudha Wibowo berubah, "Bicara denganmu? Kamu tidak pantas!"


Ekspresi Yudha tiba-tiba berubah, Satriya gemetaran karena terkejut, "Apa maksudmu, Presdir Wibowo?"


Lasmi Buana juga sangat terkejut, "Presdir Wibowo, apakah Satriya telah membuatmu kesal?"


Yudha mencibir, dia mengeluarkan beberapa foto dari saku jasnya, lalu membantingnya ke atas meja. "lihat hal yang telah kamu lakukan."


Foto-fotonya adalah foto dirinya dan Erika yang berpelukan di tepi danau. Ada juga sebuah perekam suara di atas foto itu.


Yudha sangat marah, "Beraninya mencemari namaku! Kamu merasa keluarga Wibowo bisa ditindas seenaknya? Masih mau membicarakan kerja sama denganku? Keluarga Buana harus memberiku penjelasan atas masalah ini, jika tidak, keluarga Buana pasti akan bangkrut dalam tiga hari! "


"untuk proyek Teluk Indah, kedua perusahaan sudah menandatangani kontrak. Aku hanya ingin berdiskusi dengan Erika untuk urusan kerjasama kedepannya!"


Yudha pergi dengan marah setelah selesai bicara.


Semua anggota keluarga Buana tercengang. Lasmi mengambil perekam suara, rekaman itu dengan jelas merekam seluruh proses Satriya menyogok bos percetakan untuk memalsukan foto-foto mesra Yudha dan Erika.


Ekspresi Lasmi berubah drastis saking marahnya, "Satriya, lihatlah hal yang kamu lakukan."


Satriya langsung panik, "Nenek, dengarkan penjelasan aku ..."


Lasmi menampar Satriya hingga mundur selangkah. "Aku sungguh bodoh! Seharusnya aku tidak mendengar perkataanmu kemarin. Keluarga Buana kemungkinan akan bangkrut karena telah membuat marah Presdir Wibowo."


Riska Buana menyela: "Nenek, kontraknya sudah ditandatangani! Apa mungkin Presdir Wibowo berani melanggar kontrak? Apa dia tidak takut kita akan menuntutnya?"


Lasmi memarahinya: "Gadis brengsek, apa yang kamu ketahui! betapa kuatnya keluarga Wibowo? Masih mau menuntut orang? Kurasa mungkin bahkan kita tidak akan tahu bagaimana keluarga kita berakhir. Apa kamu tidak tahu bagaimana keluarga Chandra bangkrut dan seluruh keluarganya keluar dari kota Jakarta 2 hari yang lalu? "


Riska tentu saja sudah mendengar berita kebangkrutan keluarga Chandra, dia sangat ketakutan hingga wajahnya memucat dan tidak berani berbicara.


Lasmi menoleh ke arah Satriya, lalu berkata, "Satriya! Aku benar-benar tidak ingin hal ini dikacaukan olehmu. Aku tidak ingin melihat keluarga Buana bangkrut karena ini. Karena masalahnya disebabkan olehmu, maka kamu juga yang harus menyelesaikannya. Jika masalah ini tidak diselesaikan, aku akan mengusir kalian sekeluarga dari keluarga Buana! "


Satriya menggigil ketakutan, nenek selalu kejam. Jika dia bilang mengusir keluarganya, itu pasti bukan hanya sekedar menakuti orang .


Lasmi menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, "Aku beri kamu waktu satu hari, aku akan pulang dan menunggu kabarmu."


Satriya momdar-mandir di kantor beberapa kali, dia mempertimbangkan beberapa kali dan memutuskan untuk menyelesaikan hal yang lebih penting adalah untuk menetap di keluarga Buana.


Erika sedang merajuk di rumah, tiba-tiba ponsel berdering, saat melihat layar ponsel, ternyata itu panggilan dari Satriya.


“Bajingan ini pasti telah menyelesaikan urusannya dengan Presdir Wibowo, dan menelepon untuk menertawakanku lagi.” Erika sengaja tidak menjawab telepon.


Alex yang berada di samping mengambil ponsel dan berkata, "Erika, Satriya sedang mencarimu. Karena kamu tidak ingin mengangkatnya, maka aku saja yang mengangkatnya, ya?"


Satriya marah begitu mendengar suara Alex: "Masalah ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku cari Erika, minta dia yang menjawabnya."


Erika bertanya, "Apakah itu Satriya? Mengapa dia mencariku?"


Alex berkata: "Huh! Yudha pasti akan mengabaikannya jika dia yang bertanggung jawab atas proyek Teluk Indah, kontraknya pasti akan segera diakhiri. Dia datang pasti untuk meminta bantuanmu. Erika, abaikan dia."


Erika mengerutkan kening, "Tapi, bagaimana jika Presdir Wibowo benar-benar tidak bekerja sama dengan kita? Bukankah aku jadi menghalangi hal besar seperti ini?"


Alex berkata, "Menurutku tidak. Presdir Wibowo sangat yakin kepadamu. Dia hanya tidak ingin bekerja sama dengan penjahat seperti Satriya. Sekarang Satriya Buana datang meminta bantuanmu, apakah kamu lupa bagaimana dia memfitnahmu?"


Erika memikirkan kekejaman Satriya, lalu berkata: "Tak kusangka dia juga akan berakhir seperti ini."


"Alex, jika aku tidak bekerja sama dengan Satriya, apakah nenek akan marah?"


Alex berkata: "Atas dasar apa dia marah padamu? Dia telah salah paham padamu, jadi sudah seharusnya meminta maaf kepadamu."


"Erika. Kamu tunggu saja di rumah dengan tenang. Biarkan si brengsek Satriya yang datang memohon padamu."


Di tempat Satriya, Riska berkata, "Kak, apa yang dikatakan Erika?"


Satriya berkata: "Alex yang menjawab telepon. Dia bilang Erika masih tidur. Itu pasti bohong, dia juga beraninya menutup teleponku. Memangnya siapa dia? Jika bukan karena nenek yang menghalangiku, sudah sejak awal dia kuusir dari keluarga Buana. "


"Kak, apa yang harus kita lakukan? Kita hanya punya satu hari. Jika kontrak ini dibatalkan, nenek benar-benar akan mengeluarkan kita dari keluarga Buana.” Kata Riska cemas.


Satriya berpikir keras, dia tidak bisa kalah begitu saja dari Erika. Dia berkata kepada Riska: "Dik, jika aku gagal, itu juga tidak ada untungnya bagimu. Untuk rencana saat ini, kurasa hanya bisa mengandalkanmu."


Riska bertanya dengan bingung: "Kak, apa yang bisa aku lakukan?"


Satriya berkata: "Kamu juga sudah melihat bagaimana Yudha membela Erika hari ini. Meskipun foto-foto itu adalah kerjaanku, tapi aku tetap curiga kalau ada sesuatu yang terjadi antara Erika dan Yudha."


Riska bertanya: "Apa gunanya kamu curiga?"


Satriya berkata: "Bagaimana kalau kamu saja yang maju? Kamu lebih muda dari Erika, bahkan juga belum menikah. Jika kamu pergi ke tempat Yudha dan menggodanya. Mungkin kamu bisa menggantikan Erika."


Riska mengerutkan kening, "Bagaimana jika Yudha mengabaikanku?"


Satriya berkata: "Kamu harus percaya diri. Yang jelas aku tidak tahu apa yang lebih baik dari Erika dibandingkan dirimu. Dik,, kamu juga harus berkorban kali ini ..."


Riska sedikit ragu, "Kak. Jika Yudha benar-benar tersentuh, apa yang harus aku lakukan?"


Satriya berkata, "Itu akan lebih bagus. Yudha adalah keponakan tuan besar keluarga Wibowo. Jika dia benar-benar menyukaimu, betapa bagusnya jika bisa memiliki menantu seperti itu. Saat kamu menikahinya dan menjadi nyonya muda keluarga Wibowo. Berapa banyak orang yang akan iri padamu? "


"Apalagi, kudengar tuan besar Wibowo hanya memiliki satu anak perempuan. Mungkin saja dia akan menyerahkan posisi kepala keluarga kepada Yudha di kemudian hari. Pada saat itu, kamu akan menjadi kepala keluarga Wibowo. Kita sekeluarga harus mengandalkanmu. "


Riska tergoda, "Oke. Aku akan mencobanya. Tapi bagaimana jika Yudha tidak mau bertemu denganku?"