Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bahaya Teratasi


“Aku akan menyayangimu jika kamu patuh.” kata Olivia sambil tersenyum jahat, jemarinya juga menyentuh wajah Nova dengan pelan.


 


 


Entah sejak kapan tangan Nova muncul dari belakang.


 


 


“Bukannya tangannya diikat? Kapan lepasnya?”


 


 


Olivia terkejut, dia membalikkan tangan untuk menangkan tangan Nova, namun tangannya justru diborgol oleh borgol yang dingin, hatinya diselimuti perasaan terkejut, matanya membelalak, dan menatap Nova yang tersenyum dingin, “Kena kamu!”


 


 


Olivia berteriak dan menangkap Nova dengan tangan satunya, Nova melompat ke dalam air seperti ikan, sedangkan Olivia yang hendak berdiri untuk mengejarnya menyadari tangannya sudah diborgol erat di tepi kapal.


 


 


Nova memanfaatkan saat di mana dia terlena dalam nafsunya untuk memotong tali yang mengikatnya dengan cutter yang tersembunyi di balik pakaiannya, dan juga memborgol lawan di sisi kapal dengan erat. Olivia berusaha membebaskan diri, tapi borgol itu malah semakin erat, dia marah sampai berteriak dan mencari pistolnya ke sekeliling, dia ingin menembak borgol tersebut sampai hancur agar bisa terbebas.


 


 


Nova mengeluarkan kepala dari dalam air, lalu berkata sambil menodongkan pistol, “Jangan cari lagi, pistolnya ada denganku!” setelah itu dia menembak.


 


 


Olivia membungkukkan badan, lalu menggunakan kaki kirinya untuk mengendalikan kemudi kapal, sedangkan kaki kanannya menginjak rem, perahu motor tersebut memutar arah sambil mengeluarkan suara aneh, dan mengarah ke arah Nova, dia ingin menggunakan baling-baling untuk menghancurkan Nova, “Dasar wanita tidak tahu diri, akan kubunuh kamu!”


 


 


Dua tembakan yang dilepaskan Nova tidak mengenai Olvia, perahu motor sudah berputar balik saat ini dan membelah air dengan kecepatan penuh ke arahnya, Nova memegang pistol, tapi tidak bisa membidik target, karena dia di dalam air, sedangkan lawan ada di atas perahu, dan juga lawan mengemudikan perahu dengan keadaan berbaring.


 


 


Menghindar sudah tidak mungkin lagi baginya, Nova mengingatkan diri untuk tetap tenang dan tenang, dia membidik tangki minyak perahu dan menembakkan 3 tembakan sekaligus, dalam sekejap perahu meledak.


 


 


Perahu motor diselimuti lautan api, Olivia masih terborgol di atas perahu, dia mengeluarkan suara aneh seakan-akan sedang tertawa, tapi suaranya malah lebih buruk dibandingkan menangis.


 


 


Helikopter militer kembali dengan selamat bersama Nyonya Ningsih, di saat bersamaan, helikopter militer yang menjalankan tugas bertanggung jawab untuk menyelamatkan Nova,


 


 


Dalam kegelapan malam, sebuah perahu yang sedang terbakar seketika menarik perhatian helikopter militer terbang mendekat dengan bantuan penerangan.


 


 


Nova berendam lumayan lama di dalam air, begitu melihat helikopter mendekat, dia buru-buru menembak ke langit untuk memberitahu posisinya pada orang yang berada di dalam helikopter.


 


 


Tangga diturunkan, Nova memanjat naik dengan tangga tersebut, dia agak kelelahan sehingga lemas seketika setelah naik ke dalam helikopter, “Cepat, beri aku air.”


 


 


“Kapten, ini larutan nutrisi glukosa, minumlah sedikit.” seorang anggota kepolisian memberikan larutan glukosa kepada Nova.


 


 


Setelah minum setengah botol, tenaga Nova akhirnya kembali pulih, dia berkata, “Gimana keadaan gudang bahan peledak?”


 


 


Anggota kepolisian tersebut berkata, “Alex berhasil menembak orang yang memegang detonator itu. Benar-benar bahaya sekali tadi! Selain itu, orang yang bertarung dengannya juga sudah terbunuh, gudang bahan peledak aman sekarang.”


 


 


Nova seolah-olah melepas semua beban berat di tubuhnya, senyuman juga muncul di wajahnya, “Alex, aku tahu kamu pasti bisa menang!”


 


 


Bahaya yang mengancam gudang bahan peledak telah teratasi, Nyonya Ningsih juga berhasil diselamatkan, hal ini tidak luput dari jasa Alex, seperti biasa, Alex tidak mengizinkan media apapun untuk mewawancarainya. Dia meminta pihak kepolisian untuk menjaga rahasia ini.


 


 


Pak Harun menjabat tangan Alex sambil berkata, “Alex, ini semua berkatmu, kalau tidak Istriku pasti tidak akan bisa selamat. Nyawa puluhan juta penduduk Jakarta juga mungkin akan melayang. Aku akan mentraktirmu siang ini, gimana?”


 


 


Akan tetapi, Alex malah berkata, “Aku terima niat baikmu, Pak. Namun, aku rasa yang seharusnya kamu lakukan sekarang adalah menghibur keluarga para martir yang gugur, bukannya membuat perayaan untukku.”


 


 


Pak Harun berkata dengan rasa bersalah, “Alex! Benar katamu. Jasamu terhadap penduduk Jakarta akan kuingat seumur hidup. Begini saja, aku akan melakukan tugasku dulu. Setelah semuanya teratasi, aku akan mentraktirmu.”


 


 


 


 


Alex juga kelelahan dengan perang sengit semalam, dia segera kembali ke rumah setelah semuanya selesai.


 


 


Yang membuatnya kaget adalah Erika dan Saras sedang mengemasi koper.


 


 


Alex bertanya, “Ka, apa yang kalian lakukan? Kenapa seperti mau pindahan?”


 


 


Erika menjawabnya dengan dingin, “Benar, memang mau pindah.”


 


 


Alex bertanya dengan kaget, “Pindah kemana? Kenapa aku tidak tahu?”


 


 


Erika kembali menjawab, “Sepertinya aku tidak perlu mendiskusikannya denganmu. Alex, surat perceraian sudah kubuat dan kuletakkan di meja ruang tamu. Bu, jangan hiraukan dia…”


 


 


Alex kebingungan, dia menghentikan Ferdi yang sedang memindahkan koper, “Yah, ada apa ini sebenarnya?”


 


 


Ferdi menghela napas, “Alex, lihat saja ke dalam, kamu akan tahu nanti.”


 


 


Alex buru-buru lari ke dalam, yang dilihatnya di atas meja ruang tamu adalah surat perceraian yang telah dibuat oleh Erika.


 


 


Yang membuatnya kaget adalah, di bawah surat perceraian, terdapat 3 lembar foto mesranya dengan Nova.


 


 


Alex mengambil foto itu dan berjalan ke hadapan Erika, “Ka, hanya gara-gara foto ini? Aku tidak tahu siapa yang melakukannya! Aku bersumpah, tidak ada apa-apa antara aku dan Nova, aku bekerja sama dengannya terkait kasus si mesum di danau Runju waktu itu. Kamu juga tahu kalau tidak begini, kami tidak akan bisa menarik perhatian si mesum.”


 


 


Erika berkata dengan wajah datar, “Alex! Aku akhirnya sadar sekarang. Sebenarnya, Nova lebih cocok untukmu. Kumohon, jangan menggangguku lagi. Jika begini terus, bukan hanya kamu yang lelah, aku juga capek.”


 


 


Alex membuka kedua tangannya, “Ka, aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kamu tiba-tiba jadi gini? Pasti ada yang mengancammu, kan? Katakan padaku.”


 


 


Erika menggelengkan kepala, “Aku sudah mengatakan semuanya. Alex, aku hanya ingin mohon padamu untuk bercerai denganku. Semua barang milikmu akan tetap jadi milikmu! Vila, mobil, dan semua kehormatan yang tak terhingga, aku benar-benar tidak pantas untuk semua itu.”


“Yah, Bu, ayo pergi.”


 


 


Erika memanggil Saras dan Ferdi untuk masuk ke dalam mobil Volkswagen Golf lama itu, mobil mengemudi keluar dari vila puncak gunung Runju.


 


 


Hanya tersisa Alex seorang berdiri melamun di tengah halaman!


 


 


Alex memikirkannya dengan kepala dingin, dia merasa ada yang tidak beres dengan masalah ini, Erika tidak mungkin bercerai dengannya hanya karena beberapa lembar foto.


 


 


“Siapa sebenarnya itu? Apa mungkin nenek?”


 


 


Alex sudah tidak peduli lagi dengan perasaan lelahnya, dia segera mengemudikan mobil ke kediaman besar keluarga Buana, Lasmi sedang menyirami bunga di halaman sekarang.


 


 


“Eh Alex, ada apa kemari?”


 


 


Alex bertanya dengan buru-buru, “Nek, Anda tahu tidak kenapa Erika ingin bercerai denganku?”


 


 


Lasmi terkejut dengan pertanyaannya, “Alex, apa yang kamu katakan? Aku sudah tua, telingaku juga tidak bagus, aku tidak salah dengar?”