Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Rencana Gila


Jasmin sangat gugup, padahal tahu ada 2 kelompok orang berbeda yang mengawasi, tapi Alex malah mengajukan rencana segila ini, namun yang bisa dia lakukan hanya menyetujuinya.


Alex keluar dari gedung PT. Atish lewat jendelanya, jadi nanti dia pasti akan masuk lewat sini juga. Selain itu, Alex mengatakannya dengan jelas tadi, 15 menit 10 detik, dia meminta Keano untuk mematikan sebentar listrik di lantai ini tepat waktu, lalu menghidupkannya kembali 1 menit kemudian.


Jika Alex tidak dapat kembali ke kamar Jasmin dalam waktu 15 menit, maka kemungkinan akan meninggalkan bukti pada pihak kepolisian!


Jasmin menunggu dengan cemas, menatap waktu yang terus berlalu di layar ponsel, hatinya gelisah.


Tepat saat Yudi bergegas keluar, lagi-lagi terdengar suara benda berat jatuh ke tanah!


Walaupun otak Yudi tidak pintar, tapi sekarang dia juga seharusnya tahu kalau ini benda jatuh bebas!


Mungkinkah ada lagi kasus kriminal? Dia bergegas memasuki lift, menekan tombol lantai 1, dan berdoa dengan gelisah, “Ayolah, cepat! Lebih cepat lagi!”


Setelah sampai di lantai 1, dia segera keluar dari pintu unit, tiba-tiba ada yang berteriak keras di bawah, “Cepat! Ada yang lompat! Ada yang lompat!”


“Di mana? Siapa yang lompat?” Hanya ada seorang polisi muda di sisi Yudi, keduanya bergegas menuju ke sana.


Jatuh dari ketinggian belasan lantai membuat kondisi orang tersebut mengenaskan, pakaiannya saja sudah tidak bisa terlihat jelas, dan juga tidak bisa diverifikasi.


“Cepat cari lagi! Pasti ada 3 orang yang lompat! Cepat cari!” Reaksi Yudi cukup cepat, dia berlari ke sisi barat sambil melambaikan tangan kepada polisi di sisinya untuk mencari ke sisi timur!


Dalam waktu kurang dari setengah menit, mereka berdua menemukan 2 orang lainnya yang melompat dari gedung!


Ekspresi Yudi suram, dan dia tiba-tiba menepuk kepalanya, "Alex! Pasti Alex yang membunuhnya! Cepat, pergi ke PT. Atish segera!"


Orang-orang yang bertanggung jawab untuk memantau di jalan tidak melihat ada orang yang melompat dari gedung, dan Yudi lah yang menemukannya. Petugas polisi yang berada di jalanan sangat gugup, "Pak, kita ke PT. Atish sekarang?"


“Jangan banyak bicara! Segera terobos ke dalam! Cepat!” Yudi mengeluarkan perintah dengan lantang sambil berlari, “Minta bantuan dari markas! Kirim dokter forensik kemari! Orang-orang dari tim investigasi teknis, segera turun lapangan!”


Dia memimpin 6 petugas polisi dan bergegas ke pintu gedung PT. Atish hanya dalam 2 menit.


“Eh? Kok banyak polisi?” Hengky yang menjaga pintu utama tiba-tiba membuka matanya, “Eh, Kapten Yudi? Ngapain malam-malam kemari?”


Yudi tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mendorong Hengky dengan kuat, "Minggir! Polisi sedang menangani kasus! Aku harus menggeledah ke dalam gedung segera!"


Hengky mencoba mencegahnya masuk dengan tubuhnya, "Tunggu! Kapten Yudi, kalau begitu, tolong tunjukkan surat perintah penggeledahan Anda, terima kasih."


Yudi tidak bisa menggerakkan tubuh Hengky, dan kemudian mundur selangkah dan mengeluarkan pistolnya, "Cepat mundur! Ada kasus mendesak sekarang! Jika kamu berani menghentikan kami, maka aku akan membunuhmu segera!"


“Eh, Kapten Yudi, jangan terlalu galak, oke? Kamu juga akan bertanggung jawab secara hukum jika menembak dan membunuh warga seenaknya!” Hengky benar-benar tidak takut padanya.


"Aku peringatkan! Mundur segera!"


Dor! Yudi menembak ke langit!


Hengky segera menundukkan kepalanya dan menutupi kepalanya dengan kedua tangan, "Kapten Yudi, kamu beneran nembak! Oke, oke, nyawa lebih penting, aku ngak bisa menahan kalau kamu maksa masuk."


Jadi, Hengky mengikuti instruksi beberapa polisi, berjongkok menghadap dinding, memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


Erika tidak mengetahui hal ini sama sekali, dia tidur dengan nyenyak.


“Matikan!” Jasmin menatap stopwatch di ponsel dengan kedua matanya, dan ketika waktunya tiba, dia berkata dalam hati.


Benar saja, Keano memang orang yang sangat tepat waktu, dan seluruh listrik di lantai pertama langsung padam.


Pada saat ini, Jasmin merasa ada sosok yang muncul di jendela kamarnya!


Ya Tuhan! Tuan Alex benar-benar luar biasa! Ini seperti melakukan sesuatu dengan stopwatch, satu detik pun tidak terlewat! Dia kembali tepat waktu!


“Cepat! Kembali ke kamarmu.” Jasmin mengambil pakaian yang Alex lepas sambil berjalan, dan segera meletakkannya di suatu tempat untuk dihancurkan.


Pintu kamar Alex tertutup, lampu di lorong tiba-tiba menyala, dan pintu lift juga kebetulan terbuka, Yudi memimpin timnya dan bergegas menelusuri lorong!


Klang Klang! Pintu kamar Alex dipukul dengan keras.


Ketika suara Alex terdengar, dia tampak sedikit malas, "Eh, Ada apa? Gempa atau apa? Mau menghancurkan pintuku, hah? Siapa sih, berani sekali."


"Polisi! Buka pintunya sekarang! Kalau tidak, kami akan mendobraknya!"


"Polisi? Mau periksa kamar? Oh oh, bentar, akan segera kubuka. Jangan hancurkan pintunya, makasih." Meskipun Alex berjanji, tapi dia masih saja bergerak lambat. Butuh setengah menit penuh sebelum pintu kamar itu terbuka, dia menjulurkan kepalanya keluar, "Hei, kalian datang tengah malam gini buat periksa kamar? Mau nyari yang ngak-ngak ya?"


Syut! Pistol Yudi mengenai dahi Alex, "Minggir! Aku ingin menggeledah kamar!"


Di sepanjang jalan, Yudi sudah menemukan identitas dari 3 orang yang baru saja 'melompat dari gedung'. Mereka semua adalah mata-mata rahasia yang dikirim oleh keluarga Mahari untuk memantau Alex!


Tindakan Alex dimaksudkan untuk memberi keluarga Mahari peringatan serius! Mungkin ini balas dendam pada keluarga Mahari atas kecelakaan mobil orang tua Tika!


Tapi bagaimana bisa Alex muncul di kamarnya? Bagaimana Alex kembali dengan cerdik setelah melakukan kejahatan?


“Wik, periksa cctv! Cepat!” Yudi tiba-tiba berteriak.


"Baik!" Seorang petugas bernama Wiky menyahut dan berlari keluar.


Tiga petugas polisi lainnya mengenakan penutup sepatu dan sarung tangan dengan sangat berpengalaman, dan kemudian mereka memasuki kamar Alex dan mulai menggeledah di seluruh penjuru.


"Hei? Jangan menodongkan pistol padaku! Aku benci orang yang menodongkan pistol padaku! Kalian punya surat perintah penggeledahan ngak? Kalau ngak ada, tindakan kalian ini ilegal! Aku mau menuntut kalian!" Alex hanya mengenakan singlet dan celana pendek. Dia dipaksa kembali ke tempat tidur oleh Yudi, jelas dia adalah satu-satunya di sini.


"Kamu juga ngak akan bisa melarikan diri. dari pengawasanku." Yudi meletakkan pistolnya, "Cari baik-baik, lihat ada petunjuk atau tidak! Jangan lewatkan detail apa pun."


Alex duduk di tempat tidur dan Yudi berdiri di hadapannya, menatapnya dengan merendahkan, "Oke! Alex, kamu benar-benar seorang ahli! Katakan, gimana kamu kembali ke kamar setelah melakukan kejahatan?"


“Kejahatan apa? Kapten Yudi, kamu ngak akan melemparkan semua kasus sulit dan lain-lain yang dihadapi kalian kepadaku, kan?” Alex tampak seperti “kebingungan”.


Yudi terus mengamati struktur ruangan kamar, dia merasa jika Alex keluar dari kamar, hanya akan ada dua jalan, satu adalah pintu dan yang lainnya adalah jendela. Tidak ada kemungkinan lain.


Jendela ruangan ini terus diawasi oleh orang-orangnya, maka Alex pasti keluar melalui pintu! Dalam hal ini, cctv perusahaan pasti akan meninggalkan petunjuk!