Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pertandingan Kilat


Ridwan merasa senang di dalam hati, "Hah, sombong sekali kamu, Roselline. Kamu sengaja membiarkan kami menang 1 ronde dan berencana memenangkan 2 ronde berturut-turut? Tidak semudah itu. Keahlian Chandro lebih baik daripada Ibnu. Paling buruknya dia juga bisa seri dengan orangmu."


  Chandro menyerang Lexi duluan. Kemampuan bertarung Lexi sangat luar biasa, dia terlihat lembut dan lemah dari luar, tetapi setelah bertarung dengannya, Chandro baru tahu siapa si kuat sebenarnya. Dengan kurang dari sepuluh jurus, Chandro sudah tidak bisa menghadang serangan dahsyat Lexi.


  “Sial, hebat sekali dia?” Ridwan menggosok matanya, dia curiga dengan penglihatannya, tetapi situasinya sangat jelas, Chandro memang sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Pada saat ini, Lexi mengeluarkan aura kuatnya secara bertahap, dan dia seolah- olah berubah menjadi orang lain! Seketika muncul sebuah perasaan tertekan yang sangat berbahaya.


  Chandro sangat kewalahan melawan Lexi karena kekuatan lawannya. Setelah 30 jurus berlalu, keringat telah membasahi Chandro. Menghadapi serangan bertubi- tubi dari Lexi, dia kemudian memaksakan diri untuk menahan belasan jurus. ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Jika terus dilanjutkan, dia pasti akan terluka parah oleh Lexi. Akan tetapi, Lexi tiba- tiba berbalik ke belakang Chandro, lalu memukul bagian belakang posisi jantung Chandro dengan telapak tangannya.


  Lexi sudah berbelas kasih. Jika ini benar- benar musuh di medan perang, orang yang menerima pukulannya ini pasti akan mati, atau setidaknya terluka parah.


  Lexi berhasil sudah melakukannya, jadi tidak perlu membunuh orang ini. Dia hanya menggunakan 50% dari kekuatannya. Namun demikian, Chandro tetap saja terhuyung ke depan beberapa langkah sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.


  Chandro tahu jelas kalau lawannya sudah berbelas kasih padanya, wajahnya memerah karena malu, lalu dia bangkit dan berkata, "Aku menyerah."


  Ridwan mengerutkan kening dan berkata kepada Chandro: "Tidak apa-apa, masih ada aku."


  Roselline berkata, "Ridwan, sekarang skornya sudah 1-1, sisanya tergantung kita." Setelahnya, Roselline melambaikan tangannya untuk meminta Ridwan maju. Setelah kekalahan Chandro, kekuatan Lexi dan tantangan Roselline membuat kening Ridwan dibanjiri keringat.


  Orang-orang Roselline saja sudah sekuat itu, kekuatannya sendiri diperkirakan pasti berada di atas dua orang ini, dia benar-benar sudah meremehkan wanita ini. Namun, dia tidak mungkin mengundurkan diri di saat seperti ini, kan?


  Mengalahkannya pasti sudah tidak mungkin, tapi akan sangat memalukan jika tidak bertarung dengannya. Ridwan berpikir sejenak dan mendapat ide. Dia berkata sambil tersenyum: "Komandan Rose, bukankah barusan kamu bilang sibuk? Aku juga tahu itu. Kita tidak perlu bertarung berlarut- larut agar tidak banyak waktumu yang terbuang. Begini saja, kita akan menggunakan 20 jurus sebagai penentunya. Kalau masih tidak bisa ditentukan, maka anggap saja kamu menang, gimana?”


  Ridwan sangat licik. Merasa tidak bisa mengalahkan Roselline, makanya dia mengatakan 20 jurus. Jika hasilnya seri, maka Roselline dianggap menang, dengan begitu dia tidak akan terlalu malu.


  Chandro, yang baru saja dikalahkan, sedikit marah, "Ridwan, kamu tidak malu mengatakan ini? Meskipun Roselline sangat terkenal, tapi dia tetap seorang wanita, kamu tidak setenar dia, dan statusmu juga tidak sehebat dia. Bagaimanapun juga kamu tetap seorang pria, tidak malu apa hanya berani beradu jurus."


  Namun, di luar dugaan semua orang, Roselline malah berkata, "Ridwan, kamu terlalu percaya diri. Tidak perlu 20 jurus untuk menghadapi orang sepertimu, tiga saja sudah cukup."


  “Apa? Tiga?” Ridwan merasa telinganya salah dengar.


  Roselline mengulangi: "Tiga jurus, jika aku tidak berhasil, maka aku kalah."


  Wajah Ridwan memerah, “Sombong sekali, oke, perlihatkan padaku jurus apa yang akan kamu lakukan.” Setelahnya, Ridwan mengerahkan tenaga di seluruh tubuhnya dan memfokuskan tenaga untuk menghadapi serangan kuat Roselline.


  Roselline terlihat sangat santai, tetapi aura pembunuh di tubuhnya telah sedikit demi sedikit bangkit, dan tiba-tiba, Roselline menyerang. Ridwan sangat tidak tahu diri, berani sekali dia menantangnya di depan umum. Dia pasti sudah bosan hidup, apa katanya tadi? Ingin aku menggunakan 20 jurus? Mimpi!


  Roselline tidak hanya sekedar berkata- kata saja, dia sudah sangat paham akan kekuatan Ridwan, dengan satu langkah ke depan, keduanya yang awalnya terpisah sekitar delapan meter, seketika hanya berjarak kurang dari 1 meter. Serangan yang dikeluarkan Roselline adalah jurus pamungkasnya, jurus Bumi dan Langit. Ridwan berusaha keras untuk melawan. Sebuah suara benturan keras terdengar saat keduanya saling melancarkan pukulan. Ridwan merasa semua sendi, ligamen, otot, dan tubuhnya seperti diledakkan oleh bom. Darah di pembuluh darahnya juga tampak terguncang. detak jantungnya berdegup kencang dan darahnya juga melonjak, organ-organ dalamnya seakan ingin melompat keluar, dan tubuh juga terdorong mundur beberapa langkah.


  Dia segera menarik nafas, “Sialan, kenapa dia bisa sekuat itu?” Dirinya hampir kehabisan nafas hanya dengan satu pukulan. Dia harus sangat berhati-hati, kalau tidak dia pasti akan mati hari ini.


  Baru saja Ridwan menghela nafas, Roselline sudah kembali melayangkan jurus keduanya, ada total 18 jurus yang terdapat dalam jurus Bumi dan Langit, dan kekuatan serangan dan penghancur dari setiap jurus itu sangatlah dahsyat. Sebuah serangan api kemarahan sekali lagi mendatangi Ridwan. Ridwan buru-buru menahan serangan lawan dengan kedua tangannya. Meskipun dia berhasil menahan pukulan Roselline ini, tapi tubuhnya tetap saja mundur beberapa langkah ke belakang dan sudah bersandar di dinding ruang pertemuan.


  Sebelum Ridwan dapat mengkonsolidasikan kembali tenaganya, Roselline sudah tiba di depannya. Wanita ini benar- benar mengerikan sekali, dia sama sekali tidak bisa menghadapinya. Karena tenaganya tidak bisa dikumpulkan, Ridwan hanya bisa memaksakan diri menahan pukulan itu dengan sedikit sisa tenaganya.