
Arkan menekan pisau panjang di tangannya lagi dan lagi, lalu berkata, “Jadi kamu yang namanya Alex? Kudengar kamu jago bertarung! Murid yang paling kubanggakan juga mati di tanganmu, kan?”
Alex menatap matanya dan berkata, “Oh? Kita rupanya punya dendam beginian ya? Pantas saja kamu menginginkan kepalaku. Oke, nah sudah kubawakan untukmu. Tapi, bisa mengambilnya atau tidak itu tergantung dirimu.”
Arkan berkata sambil tertawa, “Hei, bocah tengik, masih belum pernah ada orang yang berani menyombongkan diri di hadapanku! Kalau bukan karena kalian banyak trik, aku pasti sudah memelintir kepalamu dari tadi.”
“Oke! Kalau itu memang dendam pribadi, maka jangan libatkan orang lain. Begini saja, kita akhiri semuanya di sini hari ini! Kalau kamu bisa mengalahkanku, maka silakan bawa kepalaku, gudang ini juga silakan kamu ledakan! Tapi kalau kamu yang kalah, maka nyawamu akan jadi milikku, oh iya, jangan pernah mengatakan kalau dirimu adalah raja tentara nomor 1 di Asia lagi, memalukan!”
Arkan cukup kagum dengan keberanian anak muda ini, dia sedang mempertimbangkan untuk beradu tanding dengannya atau tidak.
Di sisi lain, Alex berkata dengan penuh sindiran, “Katanya raja tentara, kalau kubilang sih cuma pengecut doang!”
Arkan tertawa keras, “Oke, kuberi kamu satu kesempatan biar kamu tidak mati penasaran! Tapi..” dia juga memberikan sebuah syarat, “Biarkan Olivia pergi dulu, kita berdua battle!”
“Paman, aku tidak boleh pergi!” Olivia juga merasa bersalah terhadap Arkan, bagaimanapun juga dirinya lah yang membawa Arkan ke Indonesia, sekarang semua anggota tentara bayaran Petir sudah mati di sini, dia tidak akan bisa tenang kalau hanya pergi sendiri.
Arkan berkata, “Pergilah, aku pasti akan keluar dari sini hidup-hidup, kalau aku mati, kamu harus memimpin organisasi dan menjalankannya terus, cepat pergi!”
Olivia berjalan keluar dengan membawa Nyonya Ningsih, dua orang tentara menunjuknya dengan senjata dan menghalangi jalan keluarnya. Nova mengangkat tangan dan menepis pisau Arkan, lalu menghampiri anggota timnya dan memerintahkan, “Biarkan dia pergi!” setelah itu dirinya juga ikut dari belakang.
Alex juga menyimpan kembali pisaunya di pinggang, lalu berkata pada Arkan, “Karena kamu lebih tua, katakan, mau bertarung apa dan di dimana? Tentukan saja!”
Arkan menjawab, “Oke! Kalau begitu kita bertanding dengan jujur! Ikut aku.” setelah mengatakannya, dia mengambil senapan snipernya dan juga ikut keluar dari ruang bawah tanah. Dia ingin melihat Olivia pergi dengan selamat.
Sandi juga ikut keluar bersama Arkan dengan luka parah di tubuhnya, dia mencari sebuah sudut dinding dan duduk, terlukis senyum jahat di wajahnya, jarinya juga tidak berpindah dari detonator itu.
Seluruh gudang bahan peledak telah dikepung oleh pihak berwajib, di atas langit juga ada sebuah helikopter pengintai, untuk saat ini seekor burung sekalipun juga akan kesulitan terbang dari sini. Namun, Nova telah memberitahu tim yang bersiaga di luar untuk tidak menembak tanpa perintahnya.
Arkan akhirnya tenang setelah melihat Olivia membawa Nyonya Ningsih melewati dinding, kemudian melewati garis pertahanan pertama, kedua, dan ketiga. Dia berdiri berhadapan dengan Alex, lalu berkata, “Oke, sekarang giliran kita!”
Alex yang melihat Nova yang sedang diam-diam mengikuti Olivia keluar juga jadi tenang, sekarang dia akan fokus bertarung dengan Arkan, lalu dia berkata, “Oke, kita mulai menembak setelah 10 detik! Lihat siapa yang duluan tertembak.”
Keduanya berbalik bersamaan dan berjalan saling membelakangi ke arah berlawanan, semua orang menghitung dalam hati, “1, 2, 3… 8, 9, 10.” keduanya hampir membalikkan badan pada saat bersamaan dan juga menembak pada saat yang sama, lalu melakukan gerakan menghindar yang bagus di saat bersamaan lagi, dan mencari tempat perlindungan.
Di ronde pertama, meskipun tidak ada yang tertembak, tapi keahlian menembak, kecepatan bereaksi yang secepat kilat, dan juga gerakan menghindar yang lincah itu membuat beberapa instruktur yang berada di samping bertepuk tangan sambil bersorak!
Pelindung Alex ialah setengah buah tiang yang roboh karena ledakan, sedangkan Arkan bersembunyi di balik sebuah tembok yang sudah rusak, keduanya sedang memeriksa senjata masing-masing. Bagi seorang penembak jitu super, dengan jarak tidak lebih dari 300 meter, sekecil apapun kesalahan pasti akan terbunuh oleh lawan.
Alex yang bersembunyi di balik tiang hendak mengamati pergerakan musuh, tapi tiba-tiba sebuah peluru melesat ke arahnya dan mengenai tiang tersebut sehingga membuat goresan sedalam 5 cm.
Berdasarkan bekas yang ditinggalkan oleh peluru ini, dia segera mengetahui jenis peluru yang digunakan oleh lawan: Ini peluru penembus zirah!
Untung saja dirinya bersembunyi di balik tiang besar, diameter tiang ini sekitar 70 cm yang terbuat dari batu marmer, dan dikarenakan bentuknya yang bulat dan licin, peluru akan berbelok arah jika mengenai permukaannya, jadi dia aman jika berada di belakang tiang ini.
Keduanya tidak bertindak sembrono, sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal bagi keduanya, dan menjadi kesempatan bagi lawan untuk menembak diri mereka masing-masing. Suasana sangat hening, yang mereka tandingkan ialah kesabaran.
Hanya saja, bukan rencana bagus jika harus berlama-lama di sini. Alex mengambil sebuah pecahan kaca dengan perlahan, lalu menjepitnya di depan moncong senjata dan mengulurkannya ke luar untuk mengamati jejak lawan. Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, dan sebuah peluru tepat mengenai moncong senjatanya.
Senjata sniper di tangan Alex terlempar ke samping sejauh 5-6 meter jauhnya. Tangannya sampai kesemutan karena efek getaran itu, lalu dia mengumpat, “Dasar sialan, gimana dia bisa melihatku?”
Sebenarnya ini adalah kelebihan Arkan, dinding yang digunakannya untuk bersembunyi memiliki lubang peluru karena hasil tembakan sebelumnya, dia bisa mengamati pergerakan di sisi tersebut lewat lubang-lubang itu, sedangkan Alex yang bersembunyi di balik tiang tebal tidak punya keuntungan seperti itu.
Keahlian menembak Arkan juga patut dipuji, dengan jarak 300 meter saja dia bisa menembak tepat ke dalam senjatanya dengan satu tembakan, hal ini membuatnya seketika jadi unggul. Sekarang Alex sudah tidak punya senjata lagi. jadi dia hanya bisa menerima serangan tanpa bisa melawan. Jika dia berani melompat keluar dari tempat perlindungan dan memungut senjatanya, maka dia akan jatuh dalam perangkap lawan.
Arkan mengeluarkan moncong senjatanya lewat celah dinding dan mengamati area kosong di sebelah tiang tanpa berkedip, begitu Alex keluar, dia akan langsung menembaknya.
Namun, Alex sama sekali tidak bergerak, waktu terus berlalu, Arkan merasa matanya mulai sakit, tapi dia tetap bertahan lagi selama 3 menit, dan Alex sama sekali tidak muncul.
Dia lalu memarahinya, “Hei pengecut, aku juga bisa membunuhmu meskipun kamu tidak keluar!” Dia mengingat kembali kerja sama yang dia lakukan dengan Olivia mengenai tembakan tank, entah apakah Olivia sudah berhasil melarikan diri dari kepungan atau belum sekarang.
Arkan memeriksa kembali pelurunya dan membuat keputusan. Dia mengangkat senjata dan mengunci target. Sebuah tembakan tepat mengenai bagian tengah tiang dan membuat lubang sebesar mangkuk dengan kedalam belasan sentimeter. Tiang tersebut adalah benda diam, jadi lebih mudah ditembak daripada tank yang bergerak.
Segera, dia kembali mengisi peluru kedua, mengunci target, lalu menembak. Tembakannya tepat mengenai lubang peluru pertama, kali ini debu-debu bebatuan bertebaran di mana-mana, tembakannya kali ini memperdalam lubang sedalam 30 an sentimeter, tiang tersebut sudah tembus hingga ke bagian tengah.
Dia tertawa jahat sejenak dan kembali mengisi sebuah peluru penembus zirah dan kembali menembak seperti sebelumnya. Tembakannya kali ini cukup untuk menembus tiang tersebut dan membunuh Alex. Namun, dia tidak terburu-buru menembak kali ini, melainkan menatap area kosong antara tiang dan senapan sniper tersebut, dia sedang berpikir apakah Alex akan muncul dari belakang.