Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Semua Kemungkinan


Alex tidak berencana untuk tetap membiarkan Suprianto si pengacau tetap hidup, jadi dia akan langsung membunuhnya! Lalu diam-diam menghilang dalam kegelapan malam.


“Ayo.” Alex masuk ke mobil dan berkata dengan santai.


Rega segera menyalakan mobil, Roni akhirnya bertanya setelah ragu-ragu selama kurang lebih 3 menit, "Kek, gimana dengan Tuan Supri?"


Dia merasa Alex tidak menghabiskan waktu 10 menit dari masuk hingga keluar, dan jelas dia tidak melakukan negosiasi apa pun.


"Mati," kata Alex singkat.


Roni ketakutan sampai menjulurkan lidahnya, dan tidak berani berbicara lagi, dia merinding ketakutan.


Alex membawa Roni kembali ke kediamannya, lalu melemparkannya dari mobil. Meskipun Roni jatuh begitu keras, tapi dia tidak berani berpendapat sedikit pun.


Terlebih lagi, setelah Roni kembali ke kediamannya, dia segera mengubur keempat anjing besarnya, dan kemudian memesan saudara-saudaranya, "Saudara-saudara sekalian, kita harus memahami situasinya sekarang! Kalau ngak, kita bahkan ngak akan tahu akan mati seperti apa! Keluarga Mahari memang hebat, tapi Kakek satu ini lebih kejam lagi. Dia bisa membunuh orang semaunya, dan sekali bunuh belasan orang!"


"Terus kita harus ngapain, Kak? Emang kita bisa membantah perintah Tuan Supri?"


“Tuan Supri? Haha! Kita ngak perlu mendengarkan perintahnya lagi! Karena dia sudah mati.” Perasaan Roni sangat kacau saat mengucapkan kata-kata ini.


Jika dia adalah dalang di balik kekacauan di lokasi konstruksi, mungkin dia sudah mati sekarang!


“Ayo kita pergi bersantai! Jangan tinggal di rumah, terlalu berbahaya!” Setelah mengatakannya, Roni pun berberes sebentar, kemudian meninggalkan rumahnya dan langsung pergi ke rumah sakit tempat Si Tonggos Budi dirawat.


“Kak Roni, silakan duduk, mari.” Si Tonggos Budi dengan cepat mendorong wanita di sampingnya dan menyambut Roni masuk.


Roni berkata dengan wajah cemberut, "Bud, mulai hari ini, kamu bertanggung jawab untuk melindungi lokasi konstruksi. Jika ada yang berani membuat masalah, maka hajar dia!"


“Hah?” Si Tonggos Budi tercengang, “Kak Roni, lukaku masih belum sembuh.”


Roni berkata, "Yah, kalau kamu ngak mau, aku akan meminta orang lain."


“Mau! Tentu saja mau! Ayo pulang!” Si Tonggos Budi langsung setuju, memang kenapa kalau kakinya patah? Lagian sudah dipasang gipsum, jadi mending rawat di rumah.


Dengan demikian, keesokan harinya, dalam perjalanan ke lokasi konstruksi dari Desa Sanwari, nampak Si Tonggos Budi duduk di kursi roda, dengan perban di kaki kanannya, dan dua tongkat kruk aluminium di tangannya, “Pulang semuanya! Jangan bikin masalah di lokasi konstruksi! Satu lagi, kembalikan semua barang yang kalian ambil dari lokasi konstruksi! Jika ada yang tidak mengembalikannya, akan kuhajar dia!"


"Kak Budi, ada apa denganmu?"


"Suka-suka aku mau ngapain! Kalian cukup dengarkan saja! Cepat pulang dan bawa kembali barang-barang yang kalian ambil! Cepat!"


Dari kejauhan, sosok Alex terlihat muncul di lokasi konstruksi lagi, Si Tonggos Budi sangat ketakutan sehingga dia dengan cepat mendorong kursi rodanya menjadi lebih jauh.


Dia tidak pernah berani main-main dengan Tuan satu ini lagi! Roni hebat, kan? Tapi dia saja sudah ditundukkan oleh Alex.


Selain itu, dengar-dengar Tuan satu ini membunuh Suprianto tadi malam? Entah itu beneran apa bohongan, yang penting semuanya akan terbukti saat mendengar laporan dari pihak kepolisian.


Sebenarnya, dia tidak perlu mendengarkan laporan polisi, karena di lingkaran teman-teman di desa-desa sekitarnya, sebuah hal dengan cepat menyebar: Suprianto dan pengawalnya, total 16 orang, terbunuh di kediaman mereka! Dugaan pembunuhan karena dendam!


Pantas saja Roni sangat ketakutan tadi malam! Jadi begitu rupanya!


"Eh? Kalian, berhenti! Kenapa pergi ke lokasi konstruksi lagi? Sini balik! Dengarkan aku..." Dalam sekejap, ada beberapa penduduk desa berjalan ke lokasi konstruksi lagi, dan Si Tonggos Budi hampir buang air kecil di celananya karena ketakutan, dia dengan cepat meneriaki mereka kembali.


"Tuan Alex, kami telah mendapatkan informasi keberadaan Pak Asman, tapi dia tidak mau menemui kami sama sekali! Teleponnya juga tidak bisa dihubungi, bagaimana sekarang?" Suara Jasmin terdengar sangat cemas, "Main kasar juga bukan solusinya. Kalau Asman kesal, takutnya pasokan semen kita akan semakin jadi masalah besar."


“Asman? Jasmin, tenang dulu, aku akan segera ke sana.” Alex secara pribadi mengendarai mobil Volkswagen biasa ke tempat yang dikatakan Jasmin. Ternyata itu adalah sebuah kedai teh dengan papan nama emas: Kedai Teh Aroma.


“Tuan Alex, baguslah kamu datang!” Jasmin menyapanya dengan cepat, “Gimana sekarang?” Tanpa dia sadari, Alex telah menjadi tempat dia bersandar.


Entah kesulitan apa yang ditemuinya, di saat dia tidak punya solusi, dia akan langsung memikirkan Alex.


Alex tidak terlihat cemas sama sekali. Dia menatap papan nama Kedai Teh Aroma sambil tersenyum dan berkata, "Tuan Asman boleh juga. Ngomong-ngomong, siapa tamunya?"


Jasmin berkata, "Kami sudah memeriksa, Bernard tiba di Kedai Teh Aroma pagi-pagi sekali, dan tampaknya Bernard yang mengundang Asman minum teh."


“Oh, apa posisi Asman di PT. Tiga Gerobak?” Alex kembali duduk di mobil, dan Jasmin dengan cepat duduk di kursi penumpang.


"Asman adalah penanggung jawab Departemen Penjualan PT. Tiga Gerobak di kota Medan. PT. Tiga Gerobak memiliki cabang di seluruh negeri. Ikbal Sutejo selaku direktur utama adalah orang yang sangat misterius. Manajer umum PT. Tiga Gerobak saat ini, bernama Chiko, dia juga sangat terkenal dalam industri konstruksi."


“Ikbal? PT. Tiga Gerobak?” Alex bergumam sendiri, dan kemudian mulai menggerakan jarinya di atas layar ponsel.


"Tuan Alex, kita harus mencari cara untuk berbicara dengan Asman. Orang ini sangat arogan. Jika kita ngak bisa memenangkannya, maka kita ngak akan punya semen sama sekali!" Jasmin menggosok tangannya karena saking gelisah. Dia menatap wajah Alex dari samping dengan matanya yang bulat. Dua kata yang keluar dari dalam hatinya adalah: Tampan banget!


Alex mengotak-atik ponselnya sebentar, lalu menutup matanya dan berbaring di kursi pengemudi, "Tidak apa-apa, mari kita istirahat dulu."


"Istirahat? Tuan Alex..." Jasmin ingin mengatakannya lagi, tapi melihat Alex menutup matanya, dia pun menyimpan kata-kata itu di dalam hatinya.


“Jangan khawatir, jika Asman keluar untuk memohon padamu nanti, kamu ngak boleh berhati lembut.” Alex melirik sekilas Jasmin yang cemas dari sudut matanya.


“Tuan Alex, apa yang kamu bercanda?! Asman sangat sombong, ngapain dia keluar untuk memohon padaku?” Jasmin tidak percaya.


Alex tersenyum dan berkata, "Dunia ini penuh dengan kemungkinan. Mungkin saja otak Asman sedang rusak, jadi dia mohon padamu untuk mengampuninya?"


Jasmin berkata, "Tuan Alex, aku tahu kamu kuat, tapi jangan membuat lelucon seperti itu, oke?"


Alex berkata, "Kalau begitu tunggu saja pelan-pelan, mungkin lelucon itu akan menjadi kenyataan?"


Di sebuah ruangan di dalam Kedai Teh Aroma, Asman berkata dengan lantang, "Tuan Bernard! Anda tenang saja, saya yang punya keputusan akhir untuk pasokan semen di kota Medan! Saya jamin PT. Atish ngak akan punya pasokan semen sekarung pun! Hahaha!"


Bernard yang berada di hadapannya masih belum mengetahui berita kematian putranya, Suprianto. Dia tersenyum sambil mendorong sebuah kartu bank, "Pak Asman, ada 2 miliar di dalam kartu ini, silakan diterima. Asalkan PT. Atish menunda masa konstruksi, aku akan mengganti kerugianmu lagi sebesar 2 miliar."