Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 480 Anak Orang Kaya


Friska baru memperkenalkan wanita ini pada Alex, “Ini adalah teman sekamarku di kampus. Hubungan kami sangat baik. Salah satu teman terbaikku di asrama. Namanya Geya, putri dari bos PT. Infood.”


Sebelum datang ke kota Kendari, Alex telah menyelidiki situasi perusahaan di kota Kendari. PT. Infood adalah salah satu perusahaan yang harus diperhatikannya.


Bukan harus diperhatikan juga, maksudnya akan lebih bagus kalau bisa bekerja sama dengannya. Sebab PT. Infood mengendalikan industri katering di kota Kendari. Banyak toko katering yang dimiliki oleh PT. Infood.


Kemudian Friska menunjuk Alex, “Ini adalah presdir PT. Atish, Alex Gunawan.”


Alex dan Geya saling bertatapan, lalu menganggukkan kepala.


Ketiga orang segera berjalan masuk. Sedangkan Friska melepaskan luarannya dan dipakaikan pada Geya.


“Geya, apa yang kamu lakukan? Hari yang begitu dingin, kenapa kamu nggak memperhatikan dirimu sendiri?” ujar Friska dengan sedikit marah.


Saat pertama kali bertemu dengan Geya, Friska sudah menyadari bahwa Geya berpakaian tipis.


Sangat rentan masuk angin.


Geya hanya menggelengkan kepala, “Nggak apa-apa, aku nggak dingin.”


“Aneh kalau nggak dingin, aku barusan menyentuh tanganmu. Tanganmu sangat dingin!” Friska memelototi Geya dengan kesal.


Alex hanya ikut di belakang mereka masuk ke dalam ruang privat.


Saat masuk ke dalam ruang privat suhunya menjadi lebih baik karena suhu di dalam ruangan membuat orang merasa nyaman.


Friska melihat Geya dengan tidak senang, “Katakanlah, apakah si keparat itu menindasmu lagi dan tidak memperbolehkanmu memakai pakaian yang tebal?”


Setelah mendengarnya, Alex merasa ucapan Friska sangat aneh. Bagaimanapun juga mereka adalah orang yang akan menjadi pasangan suami istri, jadi mereka nggak mungkin melakukan hal yang nggak ada artinya, kan?


Geya segera menggelengkan kepalanya, “Bukan, Farraz bukan orang seperti itu. Dia menyuruhku memakai lebih banyak pakaian, tapi aku nggak kedinginan.”


Geya semakin menjelaskannya, malah membuat Alex semakin merasa hal ini tidak sesederhana ini.


Friska memberi sebuah tatapan pada Alex saat ini, maksudnya, “Kamu sudah melihatnya, kan? Mereka berdua sekarang seperti ini. Geya berusaha keras untuk melindungi citra lelaki bejat ini.”


Alex menganggukkan kepala dan memberikan tatapan paham pada Friska.


Sebelum mereka datang, Geya telah memesan makanan. Jadi, tidak lama setelah mereka duduk, hidangan pun disajikan.


Geya melihat Alex dengan tersenyum, “Pak Alex adalah orang yang hebat. Aku telah mendengar bahwa PT. Atish sekarang telah mengendalikan situasi di Manado.”


Alex berkata dengan rendah hati, “Nggak, nggak, itu semua karena ada bantuan dari perusahaan lain juga. PT. Atish sebenarnya memiliki banyak hal yang perlu ditangani di Manado.”


Geya menyipitkan matanya dan tersenyum, “Ada begitu banyak wilayah di Manado, jadi sangat wajar kalau memiliki banyak hal yang perlu ditangani, tapi Pak Alex bisa meluangkan waktu untuk menemani Friska, benar-benar setia.”


Alex hanya menggosok hidungnya.


Friska menatap Geya dengan centil. Dia tentu saja tahu apa yang ingin dilakukan Geya.


Geya berencana membuat peluang untuk Friska dan Alex, tapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan Geya.


Friska segera berkata, “Geya jangan membuat onar. Pak Alex benar-benar sejalan denganku saja dan Pak Alex adalah orang yang telah punya istri.”


Setelah mendengar ucapan Friska, Geya pikir Alex masih jomblo. Hanya saja, setelah Friska berbicara, Geya juga memperhatikan cincin di tangan Alex.


Geya tahu bahwa dirinya telah salah sangka, tapi dia tahu dengan sifat Friska. Friska tidak akan begitu serius jika tidak memiliki perasaan terhadap pihak lain.


Bahkan memperkenalkannya padanya.


Friska pasti punya hubungan yang sangat baik dengan Alex, jadi membawanya kemari.


Oleh karena itu, Geya merasa dirinya tidak salah, hanya saja Friska tidak bersedia mengakuinya.


Mungkin Friska tidak akan mengakuinya di depan Alex.


Pada saat ini, Alex juga merasa sedikit canggung. Sebab dia juga tahu perasaan Friska terhadapnya, tapi sekarang bukanlah saatnya untuk membahas masalah ini.


Alex selalu mengingatkan dirinya setiap saat bahwa Erika adalah istrinya.


Memiliki istri yang begitu baik, tapi masih berani menggoda wanita lain, merupakan tindakan yang tidak tahu terima kasih. 


Saat mereka bertiga makan dengan sangat gembira, ada beberapa lelaki yang berjalan masuk. Beberapa lelaki ini mengenakan jas dan penuh dengan aroma arak. Semua orang memancarkan senyuman di wajahnya.


“Hei, bukankah ini Nona Geya? Kamu sebentar lagi akan menikah, bahkan masih makan bersama dengan lelaki lain. Siapa wanita ini? Apakah mak comblang?”


Lelaki paling depan berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia berkata dengan nyaring dan wajah yang merah.


“Tuan Finn, kamu sedang mabuk. Apakah kamu tidak bisa melihat aku sedang menyambut temanku?” Geya melotot dengan sangat emosi.


Tuan Finn tertawa, “Maksudmu, ada temanmu di sini, maka kamu boleh bersikap lancang denganku? Apakah kamu telah lupa dulu Farraz hampir mengantarmu ke atas ranjangku?”


Ekspresi Geya sangat masam dan sekujur tubuhnya gemetaran.


Sedangkan Friska menggigit bibirnya. Dia sepertinya tahu masalah ini.


Alex tetap fokus pada makanannya. Masalah pertengkaran ini biarkan wanita yang menyelesaikannya, dia tidak suka bertengkar sama sekali.


Dia harus menyelesaikan makanan dalam piringnya dulu. Jangan sampai makanan yang lezat ini terlantar hanya karena orang-orang ini.


Mata Geya menjadi merah secara perlahan. Dia sangat ingin melawan, tapi dia tahu bahwa orang-orang ini dan Farraz adalah teman baik. Jika dia menyinggung Tuan Finn, siapa tahu apakah Tuan Finn akan menyuruh Farraz melakukan hal seperti ini lagi?


Geya sangat takut. Dulu, jika bukan karena dia mengancam dengan kematiannya dan ayahnya Farraz mengetahui masalah ini terlalu serius sehingga datang mencegah hal itu, dia mungkin telah dinodai oleh Tuan Finn.


Oleh karena itu, Geya hanya berani merasa kesal hingga tubuhnya gemetaran.


Namun Tuan Finn tertawa terbahak-bahak, “Jangan tegang, aku hanya bercanda saja, lagi pula kamu akan menikah dengan Farraz, jika aku masih mengatakan hal ini sepertinya nggak terlalu masuk akal. Aku harus memberi harga diri pada keluarga Bazel.”


Friska berjalan kemari, lalu memeluk Geya sambil menatap Tuan Finn dan lainnya dengan dingin.


Saat melihat Friska, mata Tuan Finn menjadi berbinar-binar, lalu berkata pada Geya, “Sebenarnya kita juga termasuk teman, kebetulan kami ada party nanti malam, bagaimana kalau pergi bersama? Lagipula kamu juga sedang menyambut temanmu.”


Geya menolaknya, “Nggak perlu, kami ingin mengobrol, nggak ingin ada orang yang mengganggu kami.”


Namun Tuan Finn mendengus, “Geya, aku sudah bersikap sopan padamu tapi kamu malah nggak tahu berterima kasih. Aku sekarang sedang mengundangmu karena menghargaimu dan temanmu. Kalau biasanya, apakah aku akan omong kosong denganmu?”


“Tuan Finn, kamu benar. Dia nggak ada artinya dalam hati Farraz, dia hanya seorang pelacr* yang bisa dipermainkan oleh siapapun.” Teman lain di samping Tuan Finn tertawa terbahak-bahak.