Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 545 Akhirnya Setuju


Ruby memandang Alex dengan sedikit penasaran. Jadi, Alex lanjut berkata, “Aku mendapat kabar bahwa keluarga Bazel ingin membunuhmu. Jadi, aku datang ke sini untuk melindungimu.”


Ruby masih tidak percaya pada kata-kata Alex.


Namun, tepat pada saat itu, Alex langsung memeluk Ruby, lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk menangkap pembunuh yang menyamar menjadi pengantar makanan.


Pembunuh itu menatap Alex dengan kebingungan lantaran tidak tahu bagaimana Alex menyadarinya.


Alex hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Lain kali saat ingin membunuh orang, jangan terus mengawasinya. Tapi, sayangnya, nggak ada lain kali lagi buatmu!”


Alex langsung mematahkan pergelangan tangan pembunuh itu dengan memutarnya sekuat tenaga sehingga pembunuh itu buru-buru melangkah mundur. Dia langsung mengeluarkan pistol dari tangan satunya lagi dan membidiknya ke arah Ruby.


Pembunuh ini jelas sudah tidak berencana untuk lanjut tinggal di tempat ini atau jika tertangkap, dia memang sudah berencana untuk menyerahkan diri. Tekad membunuhnya sangatlah kuat, bagaikan seorang pelayan yang siap mati untuk tuannya.


Alex tentu saja tidak akan membiarkannya menembak. Bagaimanapun juga, tempat ini adalah sekolah yang dipenuhi oleh murid-murid. Jadi, dia mengulurkan jarinya untuk menahan pelatuk pistol itu, lalu langsung meraih pembunuh itu dan membantingnya ke atas bangku batu.


Bruk!!!


Bantingan itu menimbulkan suara yang kabur. Ruby pun mundur beberapa langkah dan memandang adegan di hadapannya dengan takut.


Ruby masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kejadiannya sesuai dengan apa yang dikatakan Alex. Alex sedang melindunginya dari pembunuh yang ingin membunuhnya. Dia sudah jelas akan hal ini, tetapi dia masih tidak percaya Alex begitu baik hati untuk membantunya. Jadi, dia masih ragu mana orang jahat dan mana yang baik!


Setelah membanting pembunuh itu ke atas bangku batu, Alex langsung melayangkan sebuah pukulan ke leher pembunuh itu. Pembunuh itu hanya bisa membelalakkan matanya dan menatap Alex.


“Kamu ingin membunuh orang di hadapanku? Sepertinya kamu sudah terlalu banyak berkhayal!” kata Alex dengan nada meremehkan.


Pembunuh itu akhirnya mati. Kemudian, Alex mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan kepada Andi.


Tentu saja Andi yang harus menyelesaikan pekerjaan akhir di tempat ini. Untungnya, gerakan Alex tadi tidak mengejutkan para murid sehingga tidak ada yang menyadari kejanggalan di tempat itu. Ini adalah situasi terbaik.


Hanya saja, Ruby langsung berbalik dan berjalan menuju asramanya. Jadi, Alex langsung mengejarnya dan berkata dengan tenang, “Apakah kamu sudah percaya sekarang? Aku memang datang untuk melindungimu.”


Ruby hanya menjawab dengan dingin, “Benarkah? Kenapa aku nggak merasa kalau kamu datang untuk melindungiku? Aku hanya merasa bahwa kamu datang lantaran punya motif tersembunyi!”


Alex tidak menduga bahwa Ruby akan berkata demikian dan merasa sangat tidak berdaya. Namun, Alex juga tahu bahwa Farrel hanya akan dihukum apabila Ruby keluar untuk memberikan kesaksian melawan Farrel. Sementara, hal ini sangatlah sulit bagi seorang gadis kecil seperti Ruby. Jadi, Alex harus membujuk Ruby agar dia bersedia melakukannya.


“Sebenarnya maksud kedatanganku adalah untuk membujukmu agar bersedia bersaksi melawan Farrel sehingga dia bisa mendapatkan hukuman. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu!”


Ruby berhenti, lalu berbalik dan menatap Alex, “Kehidupanku saat ini sudah beralih menjadi lebih stabil. Lagi pula, ada beberapa pria yang mengejarku. Jadi, aku bisa memilih salah satu dari mereka yang lebih baik dan menjalani hidup dengan tenang. Aku rasa aku bisa hidup cukup baik seterusnya!”


Kemudian, dia mencibir dan berkata, “Jadi, kenapa aku harus bersaksi melawannya? Dengan begitu, aku jadi harus terekspos di mata publik serta membeberkan apa yang sudah aku alami dan bagaimana bajingan itu menodaiku!”


Alex pun mendesah, “Kamu pasti nggak tahu bahwa keluarga Bazel sangat berkuasa dan bisa bertindak sewenang-wenang, ‘kan? Kamu ingin hidup dengan tenang bersama dengan orang yang kamu sukai? Bisa, dengan catatan kamu harus meninggalkan tempat ini dan pergi ke tempat jauh yang tak terjamah oleh keluarga Bazel. Kalau nggak, keluargamu dan semua pria yang menjalin hubungan denganmu akan menjadi target keluarga Bazel.”


Ekspresi Ruby langsung menjadi muram. Dia menggertakkan gigi dan matanya tiba-tiba memerah, “Aku sudah menyerah dan menjadi seperti ini, kenapa mereka masih nggak bersedia melepaskanku? Aku tahu bahwa keluarga Bazel sangat berkuasa, tapi memangnya apa keuntungan yang bisa mereka dapatkan dengan menghantuiku hingga mati?”


Ruby sudah hampir gila. Kehidupannya sudah menjadi berantakan gara-gara masalah ini. Lagi pula, dia dan bahkan keluarganya juga berada dalam bahaya besar.


Alex menghela napas, “Aku juga nggak ingin memberimu pukulan lagi, tapi kamu dan semua orang yang memiliki hubungan denganmu sedang berada dalam situasi yang sangat berbahaya.”


Ruby menutup wajahnya dan menangis pilu.


Alex berkata dengan tenang, “Satu-satunya cara untuk bisa menghentikan semua ini hanyalah dengan mengirim Farrel ke penjara.”


Ruby mengangkat kepalanya setelah mendengar kata-kata Alex dan menatapnya, “Apakah kamu bisa melakukan itu?”


Alex tersenyum, “Bisa.”


“Kamu bisa mengirim Farrel ke penjara sehingga dia nggak bisa keluar selama-lamanya?” Wajah Ruby dipenuhi harapan dan juga sedikit tekad.


Alex mengangguk dengan serius, “Aku yakin. Kejahatan yang diperbuat Farrel sudah cukup untuk membuatnya dipenjara seumur hidup. Lagi pula, aku juga bisa menjamin bahwa nggak ada orang luar yang akan mengetahui tentang persidangan ini.”


Ruby akhirnya setuju, “Oke. Kalau begitu, aku bersedia untuk bersaksi melawan Farrel!”


Alex mengusap kepala Ruby, “Kamu sangat kuat. Setelah melewati masalah ini, aku yakin nggak akan ada masalah yang dapat menjatuhkanmu kelak!”


Ruby hanya menatap Alex tanpa ekspresi, tetapi Alex malah langsung menekan Ruby. Sebilah pisau yang dilemparkan oleh seorang pembunuh yang menyamar menjadi guru melayang melewati posisi Ruby tadi. Jika bukan karena Alex menekan kepala Ruby sehingga dia berjongkok, pisau pembunuh tadi pasti sudah menyayat lehernya.


“Masih belum selesai?” Alex berjalan ke hadapan pembunuh itu dengan kesal dan langsung mengapit leher pembunuh itu. Pada kenyataannya, lengan Alex sudah mematahkan leher pembunuh itu dengan satu hentakan.


Wajah Ruby dipenuhi keterkejutan. Dia tidak menyangka dia sudah menjadi sasaran dua pembunuh hanya dalam waktu singkat.


Alex mengeluarkan ponselnya dan memberi beberapa instruksi pada Andi. Setelah itu, dia baru membawa Ruby keluar, “Kamu sudah nggak bisa tinggal di dalam sekolah. Kalau orang keluarga Bazel mengetahui aku sudah menghubungimu, mereka pasti akan memikirkan segala cara untuk membunuhmu lantaran mereka tahu kamu bisa menjatuhkan Farrel.”


Ruby hanya bisa menatap Alex dengan panik, sedangkan Alex langsung menariknya dan berjalan keluar.


Saat ini, Andi melewati Alex dan berkata dengan tenang, “Mobilnya ada di depan pintu sekolah.”


Alex mengangguk. Andi telah memasukkan kunci mobilnya ke dalam kantong Alex saat berpapasan tadi.


“Jadi, kita harus ke mana sekarang?” Ruby menatap Alex dengan penasaran. Dia sedikit kebingungan lantaran tidak tahu apa-apa tentang Alex.