
“Krek!” Alex menendang betis kiri Gala hingga patah, kemudian mencibir, “Aku bukan polisi, kamu salah panggil.”
Marvin merasa senang dalam hati: Bagus!
Mata Gala membereng ke atas dan pingsan.
Suasana hati beberapa polisi menjadi rumit ketika melihat kapten dan wakil kapten tidak menghadangnya, tapi mereka nggak berani mengatakan apa-apa.
Huar! Alex mengambil sebotol air mineral, lalu membuka tutupnya dan menuangnya ke kepala Gala!
Gala menggigil, lalu pelan-pelan siuman. Ketika dia menggerakkan lidahnya, dia merasakan dua gigi di mulutnya patah dan ada banyak gigi yang longgar.
Dia juga merasakan rasa sakit tak tertahankan ketika ia tidak sengaja menggerakkan tulang betis kanannya yang patah.
Keringat dan air mineral yang bercampur di kepala Gala telah membasahi kepalanya sehingga dia nggak bisa membedakan apakah itu keringat atau air.
Dia merasakan rasa sakit tak tertahankan begitu dia menggertakkan giginya, namun dia hanya bisa menarik napas dingin sambil berkata, “Alex, Tuan Richard pasti akan menebasmu seribu kali!”
“Akan kutunggu dia kapan saja.” Alex berkata dengan acuh tak acuh, “Namun, kamu sudah beberapa kali menyelinap ke pusat penahanan untuk membunuh dakwa, jadi kamu harus dihukum terlebih dahulu.”
“Ka… kamu nggak ada bukti, jadi nggak ada gunanya kamu mengatakan ini.” Gala masih keras kepala.
“Bukti? Menurutku Pak Joko serta penjaga penjara yang bernama Gaston akan menjadi saksimu melakukan kejahatan.” Alex berdiri, “Awalnya, kamu masuk ke ruang tahanan untuk membunuhku, jadi wajar saja aku membunuhmu. Tapi sekarang aku telah menyerahkanmu kepada polisi setelah melampiaskan emosiku! Sampai jumpa.”
“Bryan, apakah kamu nggak tahu kalau Gala adalah orangku? Kok bisa sih kamu menangkap dan mengintrogasinya secara sewenang-wenang? Kamu sebaiknya melepaskan Gala, atau jabatan pimpinanmu ini akan terancam!” Seorang pria paruh baya yang berdiri di hadapan Bryan, ketua Biro Keamanan Kota dengan marah adalah Richard.
“Haha, Pak Richard, apa kamu nggak ngerasa kalau kamu terlalu banyak mengatur? Kamu sebaiknya ke tempat lain untuk melakukan aktivitasmu! Ini adalah kantor polisi dan aku adalah ketua di sini,” kata Bryan dengan tegas.
Richard menatap Bryan dengan muram, “Pak Bryan, kita nggak usah basa-basi, kamu juga tahu aku, Richard, ini orang seperti apa. Aku memiliki hak bicara di kota ataupun di kabupaten, jadi pendapat banyak orang sangat penting bagi kenaikan jabatanmu. Selain itu, keluargamu juga di kota Tomohon… kamu mengerti.”
Plak! Bryan tiba-tiba menepuk meja, “Richard! Apa kamu sedang mengancamku?! Aku, Bryan adalah tentara, jadi telah mengorbankan nyawaku pada negara! Sedangkan keluargaku, jika kamu berani mencelakai mereka, maka aku, Bryan akan membalas dendam padamu secara pribadi! Harap kamu bisa menerimanya!”
Tangan Bryan memegang pistol sendiri sambil menatap Richard dengan marah dan momentum yang kuat.
Bryan seorang prajurit khusus tentu saja nggak takut ancaman Richard, malah akan memberikan serangan balik, “Sedangkan Gala harus bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukannya! Meskipun meminta ampun, juga nggak akan aku mengampuninya! Kalo gak, orang-orang yang mati itu nggak bisa ditenangkan! Aku, Bryan mendukungmu! Sedangkan Gala, kamu bisa menginterogasinya sesuka hatimu, tapi pengacaranya harus ikut campur.”
Setelah Richard keluar dari kantor Bryan, Bryan segera menelepon Marvin, “Kapten Marvin, Richard sudah datang! Kamu hanya perlu ingat, kamu boleh menangani kasus ini sesuai prosedur hukum dan nggak usah takut padanya!”
“Baik! Terima kasih Pak Bryan.” Marvin paling suka mendengar kata ini, selama atasan mendukungnya, maka dia hanya perlu menangani kasus dan nggak menghadapi tekanan dari semua pihak.
“Aku Danur Artha, pengacara Tuan Gala, aku ingin bertemu klienku. Kapten Marvin, kamu nggak ada hak melarangku dan kamu harus membiarkanku bertemu dengannya.” Seorang pengacara berkacamata datang ke kantor Marvin.
Marvin menatapnya dengan senyum, “Um, Tuan pengacara yang terhormat, aku hanya bisa memberitahumu dengan menyesal kalo Tuan Gala terlibat dalam kasus pembunuhan yang sangat tragis. Meskipun kamu ingin bertemu dengannya, kamu juga nggak boleh bertemunya di waktu penyelidikan kami. Jadi silakan kembali.”
“Kapten Marvin, kamu ini sedang melanggar hukum! Aku harus bertemu klienku selama dia diinterogasi! Ini adalah aturan hukum!” Danur membantahnya.
“Ini… Pengacara Danur, jika kamu bersikeras ingin bertemu Gala, maka kamu hanya bisa menunggu.” Marvin sangat licik, lalu memberi isyarat ke samping, “Aldi, kemari dulu, temani Pengacara Danur untuk menunggu pertemuan nanti.”
Aldi berlari ke sini dengan bingung, “Um, Kapten Marvin, kami memiliki disiplin, jadi nggak boleh membiarkan tersangka bertemu dengan pengacara seenak mungkin?”
Marvin mengedipkan mata pada Aldi, lalu memelototinya, “Jika pak Danur mau bertemu dengannya, maka boleh bertemu! Kami nggak boleh melanggar hukum, mengerti gak? Hanya saja, pak Danur mungkin perlu menunggu amat lama, haha.”
Dia menepuk bahu Aldi, “Kamu harus melayani pak Danur dengan baik, jangan sampai pak Danur kelaparan dan kehausan. Jika pak Danur lelah, tentu saja ada tempat tidur, jadi bisa istirahat!”
“Aih! Oke deh, Kapten Marvin, aku sudah mengerti! Pak Danur, silakan kemari.” Aldi sangat cerdik, jadi dia segera mengerti maksud Marvin yaitu menunda waktu pak Danur setelah ‘pencerahan’ Marvin.
“Pak Danur, ini adalah ruang pertemuan tim polisi kriminal kami. Nggak begitu megah, jadi mohon dimaklumi.” Aldi membuka pintu untuk mengantar Danur ke dalam, kemudian mengangkat satu kursi untuk duduk di depan pintu sambil mengeluarkan ponsel, bahkan ponselnya diisi daya di depan pintu dan mulai menggeser layar ponsel…
Danur sudah menunggu belasan menit, akhirnya tidak sabar lagi, “Petugas Aldi, aku ingin bertemu klienku! Aku mohon kalian untuk segera memberitahu klienku!”
Aldi pelan-pelan mendongak dari layar ponselnya sambil berkata, “Um... aku sudah membiarkan rekanku memberitahunya! Mungkin rekanku tidur terlalu larut tadi malam, jadi belum bangun. Pak Danur, jangan buru-buru, tunggu saja dengan sabar.”
“Apa? Ini sudah jam 10 siang, apa belum bangun? Di mana disiplin kerja kalian? Aku mau menuntut kalian!” Danur menunjuk Aldi dengan marah.
Andi menyeringai, “Um… pak Danur, sebenarnya, jika polisi kriminal malas-malasan, maka klienmu Gala pasti sangat senang, kan? Dengan begitu dia bisa semena-mena! Benarkan? Jadi, kamu sebagai pengacara Gala, nggak boleh menuntut kami malas! Kalo gak, aku akan segera membiarkan Kapten Marvin segera menginterogasi Gala.”
“Kamu! Kamu ini ngomong apa?” Danur nggak kepikiran kata-kata bagus untuk membantah Aldi. Tapi, dadanya naik-turun karena marah, lalu dia hanya bisa duduk dan menunggu dengan cemas.