Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Permintaan Tolong Perempuan Rendah Hati


Sehebat-hebatnya Amel, dia hanya seorang perempuan. Bahkan dalam pandangan mereka, dia juga hanya seorang wanita preman.


Amel mengangguk dan melihat Alex dengan tatapan maaf. “Jadi sekarang aku hanya bisa minta bantuan padamu. Namun, aku akan memberi kompensasi padamu setelah aku menyelesaikan kasus ini.”


Alex berkata setelah berpikir, “Sebenarnya dua bos dari PT. Zrank sudah berjanji padaku bahwa mereka akan pindah dari kota Kendari dalam tiga hari ini. Jadi kamu harus bergegas kalau kamu ingin menyelidikinya.”


“Pindah? Mengapa?” Amel terbengong karena dia sama sekali tidak mendapatkan kabar seperti ini.


Alex tersenyum. “Saat itu mereka tertangkap olehku. Lalu aku membiarkan mereka pergi setelah mereka menjanjikan beberapa syarat padaku.”


Amel merasa seperti telah mendengar sebuah lelucon. Dia membelalakkan mata sambil melihatnya. “Tidakkah kamu terlalu percaya diri? Perkataan mereka sama sekali tidak boleh dipercaya. PT. Zrank itu sendiri sudah berakar di kota Kendari. Kalau kamu suruh mereka pergi, itu sama seperti menyuruh mereka mencabut akarnya.”


Alex mengangkat bahu. “Tidak peduli mereka bercanda atau tidak, mereka tetap harus melaksanakan apa yang telah mereka janjikan padaku. Kalau tidak, aku hanya bisa menggunakan caraku sendiri agar mereka menepati janji.”


Amel terdiam dan mengakhiri percakapan ini.


Akan tetapi, dia sudah menyimpulkan bahwa Alex tidak akan mampu membuat PT. Zrank pindah dari kota Kendari. Selama ini mereka berkembang di kota Kendari dan tidak pernah menyebar ke luar kota.


Oleh karena itu, Morgan dan yang lain pasti tidak akan menuruti perkataan Alex.


Dia sangat ingin tahu cara apa yang akan digunakan olehnya untuk melawan Morgan dan Trevor.


Tepat ketika itu, ponsel Alex berdering karena panggilan telepon dari Friska.


Alex mengangkat telepon dengan heran. Dia pasti punya urusan untuk meneleponnya di larut malam.


“Halo? Ada apa?” tanya Alex setelah mengangkat telepon.


Friska berkata dengan cemas, “Alex, tadi Geya kirim pesan padaku agar aku pergi ke Club Sky untuk menyelamatkannya.”


Alex merasa heran. “Club Sky? Kenapa dia pergi ke tempat seperti itu?”


“Siapa tahu apa yang telah dikatakan oleh Farraz si bajingan itu padanya sehingga Geya pergi ke tempat seperti itu?” Friska sangat marah. Namun, dia tahu hal terpenting saat ini adalah menyelamatkan Geya terlebih dahulu.


Amel menoleh pada Alex dengan tatapan aneh setelah mendengar nama Club Sky. Dia tahu Club Sky adalah tempat hiburan skala besar. Kebanyakan dari sarana hiburan di dalamnya hanya dapat dimainkan oleh orang dewasa.


Selain itu, Club Sky adalah klub terbesar di kota Kendari yang ramai dikunjungi oleh orang kaya. Mereka dapat berfoya-foya di dalam sana. Di malam hari, rata-rata pengeluaran per orang di sana bisa mencapai puluhan juta.


Tempat itu jelas bukan tempat bagi orang biasa.


“Oke, aku akan pergi ke sana sekarang juga. Kamu harus hati-hati. Kemungkinan besar ini adalah jebakan dari Keluarga Bazel,” pesan Alex.


“Aku tahu.” Friska langsung menutup telepon setelah selesai bicara.


Alex bangkit berdiri dan menoleh ke arah Amel. “Aku punya urusan lain dan harus pergi.”


Amel mengangguk.


Setelah pergi dari rumah Amel, Alex langsung pergi ke Club Sky dengan taxi. Sesampainya di depan pintu, Club Sky memang sangat besar. Dua patung singa batu setinggi 3 meter di depan pintu pun tampak sangat megah.


Ada banyak mobil mewah yang diparkir di depan klub. Mobil seharga miliaran itu sangat wajar, bahkan ada yang seharga puluhan miliar.


Setelah berpikir sejenak sambil berdiri di depan pintu, Alex tetap memutuskan untuk masuk dan melihat situasinya terlebih dahulu. Tidak ada yang tahu kapan Friska akan datang.


Setelah memasuki klub, ada seorang pelayan yang berjalan ke arah Alex dengan senyuman profesional di wajahnya. “Apakah Tuan sudah memesan ruangan?”


Alex mengangguk. “Sudah, tetapi aku harus tanya dulu mereka ada di ruangan berapa. Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Kamu bisa melanjutkan kesibukanmu sendiri.”


Pelayan itu pergi setelah mendengarnya.


Alex memandang ke sekeliling dan menemukan bahwa suhu ruangan di dalam sangat pas. Bagian depan ini adalah bar rekreasi, lalu di dalamnya lagi adalah bar.


Saat ini adalah saat di mana bar paling ramai. Di mana-mana penuh dengan orang dan suara musik sangat nyaring sampai menutupi suara manusia. Orang-orang asyik menari dan menggerakkan tubuh seperti orang gila.


Ketika Alex hendak berjalan ke dalam, tiba-tiba dia melihat seseorang yang tidak asing. Orang ini yang mendampingi Tuan Finn pada waktu itu. Sekarang Tuan Finn sudah masuk rumah sakit, tetapi tampaknya pemuda ini sudah menemukan teman bermain yang lain.


Namun, orang ini tetap tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya.


Kemungkinan besar permintaan tolong Geya berkaitan dengannya. Sebab itu, Alex membuntutinya.


Seketika, pria yang memakai jaket ini memasuki ruangan nomor 1.


Alex berjalan ke depan. Sesampainya di depan pintu, dia kebingungan karena tidak ada kaca transparan di pintu yang dapat memandang tembus ke dalam.


Dia langsung paham setelah itu. Hal ini memang disengaja. Ruangan seperti ini khusus ditujukan pada orang-orang tertentu karena yang mereka lakukan di dalam sana adalah hal-hal terlarang.


Sebab itu, disediakanlah ruangan yang tidak transparan dan kedap suara seperti ini.


Akan tetapi, ini juga adalah sebuah keuntungan bagi Alex. Kalau benar-benar terjadi sesuatu di dalam sana, orang di luar sama sekali tidak akan tahu.


Setelah merapikan pakaiannya, Alex membuka pintu ruangan.


Ada lima pria dan belasan wanita yang sedang memainkan permainan di dalam ruangan. Hanya tersisa pakaian dalam di badan para wanita itu.


Seluruh ruangan penuh dengan suara hiruk pikuk.


Alex melirik sekilas dan menemukan Geya yang meringkuk di ujung ruangan. Wajahnya tampak murung dan putus asa, serta terdapat banyak luka di badannya.


Sementara itu, Farraz tidak berada di sana.


Saat pintu ruangan dibuka, semua orang menoleh ke arah Alex. Para pria pun merasa sangat jengkel.


Khasim yang baru masuk langsung menepuk dahinya. “Maaf, aku lupa kunci pintu.”


Setelah itu, dia memarahi Alex, “Siapa kamu? Apa kamu tidak tahu kami sangat sibuk di sini? Cepat keluar!”


Orang yang lain melanjutkan keasikan mereka dan tidak menghiraukan Alex.


Khasim menghampirinya dengan sangat jengkel. “Apa kamu buta? Apa kamu tidak tahu ini ruangan apa? Kami tidak panggil kamu, lalu kenapa kamu masuk sendiri?”


Alex hanya tersenyum. “Ada apa? Baru berapa hari berlalu, tapi kamu sudah tidak kenal aku?”


Khasim kebingungan setelah mendengarnya. Dia memang merasa wajahnya tidak asing, tetapi tidak tahu pernah ketemu di mana.


“Eh, Khasim, apa maksudmu? Pelayan rendahan begini pun tidak bisa kamu atasi? Kalau tidak bisa, cepat minggir! Aku akan menunjukkan padanya apa akibatnya sudah menerobos masuk ke tempat ini,” ujar seorang pemuda di belakangnya.