Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 563 Respons Sinarwa


Polisi yang mengepung di pintu rumah sakit menatap Alex dengan kaget, apa dia sedang bercanda?


Karena informasi yang mereka terima adalah tim penjahat itu memiliki senapan, bahkan bisa dikatakan bersenjata lengkap.


Amel juga mengatakan di telepon kalau musuh adalah tentara bayaran, kemampuan mereka juga sangat kuat. Namun, Alex malah bilang dia sudah membunuh semua tentara bayaran itu.


Apakah ini tidak berlebihan?


Max juga tidak yakin. Meskipun dia tahu Alex hebat, lawan Alex adalah tim bersenjata lengkap. Tim seperti itu sangat berpengalaman dalam berperang dan membunuh orang.


Jadi, mungkinkan Alex bisa membunuh tim seperti itu?


Polisi di sekitar sangat kaget, juga mulai mencurigai hal ini.


Setelah melihat ekspresi yakin di wajah Alex, Max pun berkata, “Sudah dengar belum? Kalau begitu, cepat bereskan mayat di dalam, lalu tangkap tentara bayaran yang masih hidup itu. Kita harus menanyakan siapa dalangnya!”


Semua polisi segera berlari ke dalam rumah sakit, sedangkan pasien dan dokter di dalam sudah diselamatkan, jadi mereka menunjukkan ekspresi senang.


Setelah polisi di sekitar pergi, Max baru datang ke sisi Alex dan bertanya dengan suara kecil, “Apa ini hal yang dilakukan oleh keluarga Bazel?”


Alex mengangguk. “Benar, mungkin kamu juga nggak bisa menanyakan informasi apa-apa dari tentara bayaran itu. Tapi, kali ini, Farraz sudah dibunuh olehku.”


Max membelalak mata. “Kamu membunuh Fa ….”


Alex tersenyum. “Iya, aku juga nggak ingin membunuhnya, tapi dia sendiri yang cari mati. Sekarang Geya masih dirawat di rumah sakit. Kalau Geya baik-baik saja, aku nggak akan mempersoalkan masalah ini. Tapi, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Geya, keluarga Bazel harus mendapat balasan yang setimpal.”


Max sudah merasakan niat membunuh Alex yang kuat. Max juga bisa memastikan kalau Alex pasti akan melakukan hal yang dia bilang.


Max menghela napas. “Aku tahu nggak bisa menyarankanmu apa-apa, tapi sekarang sebaiknya kamu lihat kondisi Geya bagaimana.”


Alex mengangguk, lalu berjalan ke koridor ruang gawat darurat. Saat ini, koridor sudah dipenuhi dengan peluru. Selain itu, polisi sedang mencari bukti di tempat kejadian.


Setelah dia sampai di koridor beberapa saat, dokter pun keluar dari ruang gawat darurat, lalu berkata pada Alex, “Kondisi pasien sudah stabil, untungnya kamu mengantarnya dengan tepat waktu, kalau gak aku juga sulit menolongnya.”


Alex menghela napas, lalu mengeluarkan ponsel untuk menelepon Friska. Setidaknya, sekarang dia bisa memberi kabar yang baik pada Friska.


Setelah dia masuk ke rumah sakit, dia mencari ruang tindakan untuk mengeluarkan peluru di tubuhnya, kemudian membalut lukanya.


Setelah melihat waktu dan memastikan Amel serta Argo tidak luka. Dia baru bergegas ke area militer, tak lama dia membawa Ruby dari area militer ke arah pengadilan.


Hari ini adalah hari sidang. Semalam ini dia terus mengurus masalah Geya, bahkan tidak tidur.


Di kediaman keluarga Bazel, Sinarwa melihat mayat anaknya sambil menghela napas dan dengan senyum melihat belasan preman yang berlutut.


Belasan preman ini menjaga di pintu barat, mereka juga datang mengaku bersalah sesuai dengan kata-kata Micky.


Asal mereka membuat keluarga Bazel marah, mereka akan mati.


Sinarwa melihat Farraz sangat lama, baru menutup kain putih itu. Lalu, dia bertanya pada para preman itu, “Kalian bilang Alex yang membunuh putraku?”


Preman itu mengangguk. “Pak Sinarwa, kami sudah berusaha. Karena Tuan Muda Farraz tidak membiarkan kami masuk ke dalam, melainkan menjaga pintu, jadi aku kurang tahu apa yang terjadi di dalam, hanya bisa mendengar suara tembakan dari dalam. Pada akhirnya, tim tentara bayaran itu mengejar keluar, juga menanyakan ke mana Alex pergi. Mereka semua baik-baik saja, tapi Tuan Muda Farraz sudah … meninggal.”


Ketua preman itu tentu tidak akan mengatakan mereka yang membiarkan Alex pergi. Dia sedang memikirkan berbagai cara agar tentara bayaran yang menanggung kesalahan. Lagian tim tentara bayaran itu sudah meninggalkan tempat ini. Meskipun mereka tidak pergi, melainkan balas dendam pada Alex dan berhasil membunuh Alex, tentu saja adalah hal baik.


Saat itu, meski Sinarwa tahu mereka yang melepaskan Alex, juga tak apa-apa, karena sudah berhasil membunuh Alex.


Kalau tentara bayaran itu mati di tangan Alex, maka tidak ada yang tahu hal yang mereka lakukan.


Sinarwa mengangguk dengan ekspresi masam, tatapannya dipenuhi dengan kemarahan. Hanya saja, dia tidak melampiaskan amarahnya, hanya duduk di kursi dan tidak tahu apa yang dia pikirkan.


Taufan berdiri di samping Sinarwa. Dia tahu saat ini Sinarwa sangat sedih, bagaimanapun juga Farraz adalah satu-satunya anak laki-lakinya.


Setelah menarik napas dalam-dalam, Sinarwa melihat belasan preman yang berlutut. “Aku memberi kalian satu misi. Kalau kalian berhasil melakukan misi ini, aku bisa membiarkan kalian hidup.”


Semua preman menunjukkan ekspresi senang. Asal tidak mati, mereka bisa melakukan apa pun.


Setelah Sinarwa mengatakan misi itu, para preman itu menunjukkan senyum, karena misi itu sangat mudah.


Sinarwa melambaikan tangan untuk menyuruh para preman itu keluar. Sedangkan, Taufan bertanya sambil membungkukkan tubuh, “Perlukah aku pergi membunuh Geya?”


Sinarwa menggelengkan kepala. “Gak usah, kematian Geya nggak akan memberi dampak apa pun pada Alex, yang bisa memberi dampak besar padanya adalah keluarganya.”


Taufan mengangguk sambil mundur. Saat ini, hanya tersisa Sinarwa dan Farraz.


Sinarwa tidak menyangka kalau anaknya bisa bertindak semena-mena, bahkan berencana membunuh Alex. Hal ini tidak perlu dikatakan, sudah tahu tidak akan berhasil.


Namun, putra bodohnya mengira dia bisa membunuh Alex dengan cara mencari tentara bayaran.


Masalah tidak sesederhana itu, sekarang situasi di Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi sangat sulit diprediksi.


Semua orang mulai mengamati. Meskipun mereka tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Bazel beberapa saat ini, juga tidak tahu kalau Biro Red Shield mau turun tangan pada keluarga Bazel.


Namun, mereka sudah mulai menebak. Bagaimanapun juga, sudah mulai terjadi beberapa hal yang tidak baik pada keluarga Bazel dan keluarga Bazel tidak melakukan balas dendam. Hal ini membuat mereka mereka berpikir apakah keluarga Bazel sudah mau musnah.


Sinarwa tersenyum dingin. “Apa kalian semua hanya berencana mengamati saja? Benar-benar lucu, apakah kalian lupa kalau keluarga Bazel hancur kalian juga ikut hancur?”


Sinarwa tidak suka dengan sikap mereka yang mengamati, tapi dia tahu itu kebiasaan dari pengusaha. Tidak ada banyak orang yang bisa membantu keluarga Bazel ketika keluarga Bazel kesulitan. Sedangkan orang yang membantu keluarga Bazel adalah orang yang bersama-sama mendirikan usaha saat ini.