Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Rangga Muntah Darah


Alex dan Hengky turun ke dasar jurang dan mencari jasad Mega, tapi mereka tidak menemukannya di manapun.


 


 


Alex berkata, “Nyawa wanita ini besar juga, lompat dari tempat setinggi itu saja tidak mati. Kayaknya dia sudah lari dengan luka.”


 


 


Alex khawatir Mega benar-benar menyembunyikan obat yang diracik dokter jenius untuk Erika, jadi dia bergegas kembali ke rumah dokter jenius.


 


 


Saat ini, Tuan Ismail dan Erika datang. Mereka sedang mendiskusikan hal ini dengan Friska.


 


 


Dokter jenius berkata, “Kalian jangan khawatir, wanita itu memang merebut beberapa bungkus obat dariku tadi, tapi dia tidak tahu kalau itu hanya beberapa bungkus tambahan yang aku siapkan untuk Erika, sisanya masih ada di sini.”


 


 


Dokter jenius membuka laci dan mengeluarkan sebuah kantong, di dalamnya ada 30 bungkus obat, dia menyerahkannya secara langsung kepada Alex dan berpesan, “Minumnya sehari sekali. Tiga hari kemudian, dia akan ada merasa tidak nyaman untuk waktu yang pendek karena cacing di kepalanya akan memberontak akibat obat ini. Dia akan merasa sakit kepala, kalau sudah seperti itu, kamu bisa beri dia sedikit obat tidur untuk tidur nyenyak sepanjang malam. Lalu, 3 hari kemudian cacingnya akan mati, kemudian jasadnya akan perlahan mencair dan dikeluarkan oleh tubuh. Satu bulan kemudian setelah obatnya habis, Istrimu juga akan sembuh total.”


 


 


Alex akhirnya tenang mendengar perkataan tersebut, “Benar-benar terima kasih banyak, Dok.”


 


 


Alex bersikeras ingin meninggalkan imbalan atas rasa terima kasihnya sebesar 22 miliar, tapi dokter jenius tidak mau menerimanya apapun alasannya. Pada akhirnya, Alex menyerahkan uang tersebut kepada Kepala Desa, “Pak, terimalah uang ini. Gunakan untuk memperbaiki jalan, dan renovasi sekolah. Kalau masih ada sisa, gunakan sebagai beasiswa.”


 


 


Kepala Desa berterima kasih sebesar-besarnya, terakhir Alex berkata lagi, “Setelah pulang, aku akan segera mencarikan 10 orang guru untuk kemari. Aku janji.”


 


 


Saat Alex dan lainnya bersiap meninggalkan desa, Christie membawakan seikat bunga untuk Erika, Erika memegang tangannya dan berkata, “Chris, Kakekmu adalah dokter yang sangat hebat. Kakak harap saat besar nanti kamu juga bisa menjadi seorang dokter baik yang menyembuhkan pasien seperti Beliau.”


 


 


Christie berkata, “Kak Erika, Kak Alex, aku pasti bisa.”


 


 


 


 


Setelah perjalanan ini berakhir, kekhawatiran di hati Alex juga sudah menghilang. Alex mengantar Tuan Ismail pulang terlebih dahulu, kemudian kembali ke Jakarta bersama Erika, Friska dan Hengky.


 


 


Saat Alex kembali, dia juga sekalian membawa pisau yang Mega gunakan untuk membunuhnya. Waktu mereka berkelahi, dia sudah merasa kalau pisau itu beracun.


 


 


DIa menyerahkan pisau itu kepada pihak berwajib, dan setelah dilakukan pemeriksaan, memang benar ada racun mematikan di pisau tersebut, selain itu jenis racunnya juga sama dengan yang ada di pisau yang digunakan untuk membunuh Putro. Hal ini cukup untuk membuktikan bahwa orang yang menyamar jadi Alex di pabrik terbengkalai hari itu, pembunuh Putro, dan juga dalang yang meledakkan Erwin hingga tewas mempunyai hubungan erat dengan Mega.


 


 


Pihak kepolisian segera menghubungi Mega, tapi setelah dilakukan pencarian di seluruh Jakarta, sosok Mega sama sekali tidak ditemukan.


 


 


Pihak kepolisian menyita perusahaan Rangga, hal ini membuat Rangga muntah darah karena saking kesal, kondisinya semakin parah dan tak lama kemudian dia meninggal.


 


 


Seluruh keluarga Utama yang dulunya keluarga terkaya nomor 1 di Jakarta pada akhirnya hancur tak bersisa, ada yang meninggal dan ada yang kabur, bisnis keluarga juga disita oleh pemerintah. Terakhir, setelah diadakan lelang, semua aset tersebut jatuh ke tangan Alex.


 


 


Pelabuhan kapal pesiar Teluk Indah juga pada akhirnya diambil oleh Erika dan Friska, dan keluarga Buana secara resmi menjadi keluarga terkaya nomor 1 di Jakarta.


 


 


Erika sekeluarga pindah kembali ke villa gunung Runju, penyakitnya juga semakin membaik dari hari ke hari. Hari ini, saat melihat Alex berdiri di balkon villa sambil memandangi ujung danau yang luas, Erika bertanya, “Yang, kamu ingin memperluas bisnis ke kota Medan ya?”


 


 


Alex berkata sambil tersenyum, “Kamu memang ngerti aku. Aku dan Roselline punya janji, aku perlu membantunya menemukan peta harta karun itu, di saat yang sama, aku juga akan memberikanmu hadiah besar. Tidak perlu waktu lama, kota Medan yang perekonomiannya paling makmur akan menjadi tempat bermulanya nama Erika!”