
Jasmin mulai berhitung di dalam hati, 1 tawanan 100 juta, jumlahnya ada 53 orang, berarti 5,3 miliar! Memang patut disebut harta!
“Setiap orang tambah 21 juta.” Nada bicara Alex tiba-tiba berubah, “1 rupiah pun ngak boleh kurang. Kalau ngak, Ken, hajar saja satu per satu sampai cacat, lalu hadiahkan pada polisi.”
“Okeyy! Tuan Alex, siap laksanakan!” Keano menggosok telapak tangannya dengan sangat bangga: Satu kalimat dari tuan Alex langsung dapat 1 miliaran lagi!
“Baik! Aku setuju!” ucap Andreas, “Setiap orang 121 juta, totalnya 6,4 miliar, bulatkan saja jadi 6 miliar dan akan kubawa mereka semua pergi.”
Alex mengangguk, “Oke! Aku ini gampang diajak ngomong, karena transaksinya sudah deal, maka cepatlah!”
Saat Andreas membayar 6 miliar dan membawa mereka pergi, dia melihat para bawahannya sama sekali tidak mendapatkan pengobatan apapun, bahkan masih ada yang menangis dan mengadu kalau mereka dipukuli lagi setelah ditangkap semalam. Ada beberapa yang berdarah sudah dalam kondisi koma, entah masih bisa hidup atau tidak!
Andreas ingin meledak rasanya melihat situasi ini! Ingin rasanya dia memotong Alex menjadi ratusan potong sekarang juga!
Sama halnya dengan Ghaston setelah mendengar berita tersebut, “Memang sialan si Alex! Dre, kenapa kamu menyanggupi syaratnya sih? Aku ngak percaya, emang dia berani membunuh orang sebanyak ini? Untuk apa takut diserahkan ke polisi? Kita tetap saja bisa mengeluarkan mereka!”
Andreas menghela nafas, lalu berkata, “Kak, bela diri mereka lumayan hebat dan pasti nilainya mencapai 6 miliar! Selain itu, Alex memang punya bukti kesalahan mereka, kalau pihak kepolisian menangkap mereka, pasti akan dijatuhi hukuman. Dan lagi, kalau Alex yang menyerahkan mereka kepada polisi, mungkin mereka semua akan cacat.”
“Hah? Dre, maksudmu Alex berani melakukannya?” tanya Ghaston tak percaya.
Andreas mengangguk, “Aku bisa merasakan aura pembunuh anak itu yang mirip dengan dewa kematian yang baru saja kembali dari medan perang. Menurutku, dia pasti berani membuat mereka semua jadi cacat.”
Ghaston berkata dengan wajah muram, “Dre, apapun caranya, kita harus menyingkirkan Alex sebelum acara tender biar Atish ngak punya kesempatan mengikutinya!”
Andreas berkata, “Gimana kalau kita diskusikan dulu sama Ayah? Gimanapun, dengan kemampuan Alex, kurasa hanya guru kita yang bisa melawannya.”
Ghaston menggelengkan kepala, “Dre, kamu jadi bodohnya habis ditakuti Alex? Tooh dia masih muda, mau sehebat apapun juga paling-paling seri sama Sony, kalau sampai meminta guru turun tangan, sama saja dengan menampar wajah kita sendiri! Kapan-kapan kamu bawa Bernard, Nelson sama Sony, cari kesempatan buat singkarkan hama itu, dengan begitu semuanya akan beres!”
Andreas berkata, “Oke! Kak, aku akan minta orang untuk mengawasi gerak-gerik Alex dan anggota eksekutif Atish dari dekat, begitu ada kesempatan, kita akan pikirkan cara untuk melenyapkan kekuatannya.”
Ghaston mengangguk, “Alex benar-benar membuatku penasaran! Bisa-bisanya dia membuat keluarga Mahari mengalami kerusakan parah, dia harus mati!”
Kalau dia tahu Alex sudah menangkap Larry hidup-hidup, apa yang akan dia pikirkan?
“Kita menang 6 miliar dalam pertarungan ini. Karena keberanian Jasmin dan Keano, ngak ada saudara dari pihak kita yang terluka. Jadi, masing-masing dari mereka berdua mendapatkan 2 miliar, sisa 2 miliarnya dipegang oleh Hengky untuk dibagi rata kepada saudara yang lain.” ucap Alex pelan.
“Hah? Jangan!” ucap Keano membelalakkan mata.
Jasmin juga menggelengkan kepala, “Ngak boleh!”
Alex tersenyum, “Eh? Kalian berdua merasa ngak cukup?”
“Bukan, bukan, jangan asal ngomong.” Jasmin menatap Alex dengan gelisah, “Maksud kami, jangan kasih kami sebanyak itu, yang lain akan keberatan nanti!”
Keano tidak pandai bicara, dia hanya berkata, “Bener!”
“Hahaha, oke, keputusan ada di tanganku.” ucap Alex memerintah, tapi perintah seperti ini justru membuat Jasmin sangat suka.
Erika dan Friska tentu tidak akan ikut dalam keputusan pembagian uang ini.
“Ada lagi yang kena serang!” kata Friska dengan marah tiba-tiba.
“Apa-apaan?” Alex langsung jadi waspada, “Kali ini ulah keluarga Mahari?”
“Belum tahu pastinya, hanya seorang karyawan Atish yang kena tabrak dalam perjalanan pulang, aku harus ke sana.” ucap Friska sambil menggertakan gigi.
“Aku ikut!” Jasmin khawatir padanya, “Ken, kamu tetap di sini untuk jaga presdir.”
Keano mengiyakan, lalu Alex berkata, “Aku juga ikut.”
Dengan demikian, Jasmin menyetir, Alex duduk di sampingnya, dan Friska duduk di kursi belakang, tapi dia juga yang menunjukkan jalan.
Setelah sekitar lebih dari 5 km, akhirnya mereka melihat karyawan yang terluka itu di tepi jalan.
“Apa yang terjadi? Danny, kamu luka di bagian mana? Siapa yang nabrak?” Friska buru-buru bertanya.
“Manager, yang aku kendarai motor, pas baru sampai di sini langsung ditrabrak sebuah mobil, tapi lukanya ngak parah, cuma… sepertinya aku ngak bisa ke kantor sore ini.” Danny adalah seorang pemuda yang kerjanya sangat rapi, tapi saat ini dia malah meringkuk di tepi jalan dan kakinya memang terluka ringan.
Alex menghampiri untuk memeriksa luka di kakinya, “Ngak apa-apa, cuma lecet dikit. Dan, kamu istirahat saja beberapa hari.”
“Mobil itu kemana?” tanya Jasmin sambil memandang sekeliling.
Danny menghela nafas, lalu berkata, “Tadi aku susah bergerak karena kesakitan, orang itu bilang mau bantu aku cari orang buat lihat lukaku, tapi rupanya dia malah pergi.”
“Tabrak lari?” Ini kata yang terlintas di benak Friska pertama kalinya, “Dan, kamu ingat plat mobilnya?”
Danny menggelengkan kepala, “Mana bisa ingat! Setelah ditabrak aku dalam kondisi linglung...eh? Mobil itu balik lagi bawa mobil van?”
Benar saja, pemilik mobil tersebut memang kembali lagi, dan pemilik mobil tersebut adalah seorang pria paruh baya yang terlihat ramah, “Aduh, nak, maaf ya, ini tadi aku nyari 2 teman, mereka punya mobil van, ayo biar mereka bawa kamu ke rumah sakit dulu! Tenang saja, aku pasti akan mengobatimu.”
Danny berkata, “Ke rumah sakit atau ngak itu hal sepele, lukaku juga ngak parah. Tapi, kerjaanku pasti akan keteteran!”
Pria paruh baya tersebut berkata, “Ngak apa-apa, nak. Biar aku yang bayar ganti ruginya! Oh iya, kalian ke rumah sakit saja dulu! Aku akan bicarakan masalah ganti rugi dengan pemuda ini, gimana? Berobat lebih penting, kan?”
2 orang pria yang berada di dalam mobil van turun untuk membawa Danny ke dalam mobil, lalu Jasmin dan Friska pergi mengikuti mobil van tersebut.
Semuanya terlihat sangat normal.