Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 509 Dia Milikku


Alex terkekeh. “Maaf, sekarang Aston adalah milikku. Kalau kamu mau bawa dia pergi, tanya aku dulu.”


“Sejak kapan Aston menjadi milikmu? Kenapa aku nggak tahu? Alex, kamu baru datang dari Manado, tapi sudah berani lancang di tempat kami?” tanya Farrel dengan sangat jengkel.


Kelihatannya Farrel sudah menyelidiki identitas Alex setelah kejadian di Club Sky. Kalau nggak diselidiki, mereka nggak akan tahu bahwa Alex yang mereka temui ini adalah Alex Gunawan dari PT. Atish Kota Manado.


“Memangnya kamu nggak tahu? Sekarang PT. Infood sudah menjadi anak perusahaan dari PT. Atish,” kata Alex dengan wajah senyum.


Farrel terbengong. Dia tidak menyangka aksi Alex akan begitu cepat, bahkan sudah mengakuisisi PT. Infood dalam beberapa hari terakhir.


Alex berkata dengan senang, “Sebenarnya aku harus berterima kasih pada kalian karena bisa mengakuisisi PT. Infood selancar ini. Tanpa kalian, PT. Infood juga nggak akan menjual sahamnya secara besar-besaran.”


Seketika Farrel tidak bisa berkata apa-apa. Dia tahu Alex memutuskan untuk membeli saham PT. Infood karena keluarga Bazel ingin membunuh Aston.


Pada saat itu, keluarga Bazel sudah mengumumkan kabar sehingga tidak ada perusahaan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang berani mengakuisisi PT. Infood. Namun, tak terpikirkan oleh mereka bahwa ada perusahaan luar kota yang berani mengakuisisi PT. Infood.


Ini berada di luar dugaan keluarga Bazel.


“Benarkah? Kalau begitu, aku akan menghabisimu sekaligus! Waktu itu kamu berhasil kabur, benar-benar sangat disayangkan,” kata Farrel dengan sangat jengkel.


Alex mencibir, “Bukankah waktu itu aku melepasmu pergi karena kamu mohon ampun? Kenapa sekarang jadi kamu yang melepasku pergi?”


Seketika wajah Farrel berubah sangat muram. Namun, dia tetap memaksa diri untuk berkata, “Jangan basa-basi. Nggak ada satu pun dari kalian yang bisa kabur hari ini!”


Para preman di sekeliling mulai menghancurkan barang-barang di halaman rumah. Lahan rumput juga menjadi kacau balau karena diinjak mereka. Alex tidak bergerak. Biarkan mereka menghancurkan barang-barang di halaman karena nanti mereka harus membayar semua yang sudah mereka hancurkan.


Bahkan akan berlipat ganda.


Farrel tersenyum. “Aku tahu kamu sangat hebat. Sehebat-hebatnya kamu, kamu juga nggak mungkin lebih hebat dari peluruku. Kamu harus tahu, nggak hanya kamu sendiri di rumah ini. Semua orang yang kamu lindungi akan mati kalau kamu bertindak sembarangan.”


Alex melihatnya dengan cuek.


Tepat saat itu, akhirnya Amel maju. “Farrel Bazel ya? Sekarang kalian ditangkap atas tuduhan memasuki rumah orang secara paksa dan merusak harta milik orang lain!”


Farrel melihatnya dengan penasaran. “Kamu sedang bercanda?”


Amel menunjukkan kartu identitasnya. “Maaf, aku polisi.”


Farrel tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. “Kamu pasti bercanda, kan? Polisi? Memangnya sekarang ada polisi di Provinsi Sulawesi Tenggara yang berani ikut campur? Kenapa aku nggak tahu? Kelihatannya aku masih harus ajak ketua biro kalian makan dan beri tahu dia, berikan lebih banyak pekerjaan kalau kalian nggak ada kerjaan.”


Tiba-tiba wajahnya berubah muram. “Jangan suka cari masalah! Kalau gak, kamu bahkan nggak akan tahu bagaimana kamu akan mati!”


Amel menjadi emosi dan berkata, “Keparat, kamu sedang mengancam polisi! Dosamu akan berlipat ganda! Sekarang cepat berhenti. Kalau gak, aku akan beraksi.”


Farrel sangat senang sambil melihat Amel seperti sedang melihat sebuah lelucon. Lalu dia menunjuk seorang anak buah di sampingnya. “Hal-hal yang kamu sebut itu hanya hal sepele. Menyembunyikan senjata pistol adalah dosa berat, kan? Ayo kamu tangkap dia.”


Amel menggertakkan gigi dan meraba ke belakang pinggangnya, tapi dia baru sadar dia tidak membawa pistol.


Anak buah itu mengangkat pistolnya dan berkata dengan sombong, “Aku punya pistol, ayo tangkap aku!”


Namun, sekarang dia tidak membawa pistol, sedangkan lawannya punya pistol. Dalam situasi seperti ini, dia sama sekali tidak bisa menangkap lawannya.


Farrel berkata dengan cuek, “Kalau kamu berani tahan dia, besok kamu nggak akan berada di Provinsi Sulawesi Tenggara lagi. Sementara itu, kemana kamu akan pergi, tergantung pada nasibmu!”


Amel menggertakkan giginya. Dia tahu Farrel sedang mengancam dia, tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka.


Tiba-tiba Alex menoleh pada Amel sambil tersenyum. “Apa perlu dibantu? Aku bisa menaklukkan mereka semua. Setelah itu, terserah bagaimana kamu mau menindak mereka.”


Amel tampak terkejut. “Tentu bagus kalau kamu bisa bantu, tapi bukankah itu terlalu berbahaya? Mereka punya pistol …”


“Jangan khawatir, pistol mainan mereka sama sekali nggak berbahaya,” kata Alex dengan wajah senyum.


Amel mengangguk, tapi Farrel mencibir setelah mendengarnya, “Pistol mainan? Kalau begitu, aku tembak kamu saja biar kamu tahu apakah pistol anak buahku ini adalah pistol mainan atau bukan.”


Anak buah yang tadinya sangat sombong langsung mengarahkan pistolnya ke arah Alex. Amel terkejut dan menunjuknya. “Kamu mau apa?”


Anak buah itu tersenyum bengis.


Namun, senyuman di wajahnya langsung menjadi kaku karena lehernya ditusuk oleh sebuah pisau.


Itu adalah pisau buah yang lazim digunakan, tapi saat ini sedang menancap di leher anak buah itu. Dia melepaskan pistol dan mendekap lehernya. Mata yang membelalak menatap lurus pada Alex.


Para preman yang sedang menghancurkan barang-barang di sekeliling pun tercengang dan berhenti.


Alex terkekeh. Dia menarik sebuah kursi di samping dan duduk, lalu menoleh pada Farrel dengan acuh tak acuh.


Di belakangnya adalah ruang tamu rumah Aston. Aston berjalan keluar dan sangat kagum setelah melihat adegan itu.


Alex bahkan bisa begitu tenang saat menghadapi begitu banyak orang. Lebih penting lagi, sekelompok orang itu tidak berani bergerak.


Alex benar-benar gagah tak tertandingi!


“Hari ini kutegaskan, siapa pun yang melangkahi aku akan mati!” seru Alex dengan suara dingin pada pasukan Farrel.


Para preman di sekeliling tidak berani beraksi lagi. Ekspresi Farrel tampak marah. “Kamu kira kamu siapa? Memangnya kamu bisa lawan kami? Kamu pun akan mati kalau kutembak!”


Selesai bicara, dia langsung memungut pistol di lantai dan mengarahkannya pada Alex. Alex terus melihatnya dengan sangat tenang.


Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba Farrel menjadi ragu.


Dia tahu kalau anak buahnya yang menembak, dia bisa memberi penjelasan sesukanya. Nanti jika terjadi sesuatu, dia bisa menunjuk anak buahnya sebagai kambing hitam.


Namun, kalau dia yang menembak, masalah ini bukan lagi masalah sepele.


Selama ini dia sangat berwaspada dan menjadi dalang di balik layar.