Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Membuat Perhitungan


Erika takut kalau masalah ini akan menjadi lebih besar dan tidak bisa berakhir. Alex memukuli polisi, ini bukan masalah sepele. "Aduh, gimana ini?"


Sekitar lima menit kemudian, ponsel kapten polisi berdering, telepon itu dari Pak Darius selaku inspektur di Jakarta Timur. "Bima, aku memeriksanya lama sekali, rupanya kamu yang bertugas hari ini. Kamu berada di Hotel Zuma kan sekarang?"


Bima tidak menyangka kalau Inspektur akan menelpon dirinya, dan firasat buruk muncul di hatinya, "Sialan,  tampaknya dia benar-benar agen khusus. Kalau tidak, bagaimana mungkin Inspektur menelepon?"


Benar saja, Inspektur berkata: "Bima. Aku baru saja menerima panggilan darurat dari Pak Danu, beliau mengatakan bahwa ada orang khusus yang melakukan urusan militer di daerah kita. Dia memiliki masalah di Hotel Zuma dan punya konflik dengan polisi di daerah kita, dan memintaku untuk membantu menyelesaikannya. Bagaimana sekarang?"


Bima buru-buru melaporkan secara jujur, "Pak, saya menerima laporan bahwa ada yang melakukan hal ilegal, jadi saya membawa petugas untuk menangkapnya. Akan tetapi pihak tersebut mengaku sebagai anggota Red Shield..."


Inspektur berkata dengan marah: "Bima, kamu ini kan sudah bisa dibilang polisi senior. Kenapa kamu bisa melakukan seenaknya sebelum memeriksa keadaan? Kamu tidak tahu untuk memeriksa tanda pengenalnya dulu? Sikapku padamu juga tidak buruk, sebentar lagi aku akan pensiun. Tapi kamu malah membuat masalah di saat seperti ini, kamu ini sengaja ya, hah?”


Bima takut hingga berkeringat dingin setelah dimarahi Inspektur, "Pak, jangan marah, saya tahu apa yang harus dilakukan sekarang."


Setelah menutup telepon, Bima berkata sambil tersenyum: "Pak, apa yang terjadi barusan, memang salah paham. Tolong jangan marah, dan maafkan kami. Kami juga hanya menjalankan tugas…”


“Ayo, kita kembali.” Bima mencoba pergi begitu saja.


Erika menghela nafas lega, dia tidak menyangka akan lolos.


Tanpa diduga, Alex berkata: "Tunggu, masalahnya belum berakhir, tapi kamu mau pergi begitu saja?"


Bima berkata kepada Alex dengan ketakutan: "Pak, tolong berbelas kasih dan maafkan saya. Jika Anda merasa masih kesal, Anda bisa memukuli saya, tolong jangan cari atasan kami lagi, kalau tidak saya akan dipecat. Istri dan anak-anak saya masih memerlukan saya."


Alex merasa lucu.


Alex berkata tanpa ekspresi, "Bagus jika kamu tahu apa salahmu. Bukankah perilakumu tadi terlalu kasar? Mananya yang mirip dengan perilaku polisi?


Bima merasa malu, dia bergegas menghampiri Erika dan dengan sungguh-sungguh meminta maaf: "Maaf. Saya tidak sopan dalam melakukan tugas tadi. Saya benar-benar minta maaf. Mohon maafkan saya. Saya pasti akan memperhatikan perilaku saya kelak." Kata Bima. Setelah itu, dia membungkuk pada Erika.


Erika sedikit tidak enak hati, dia menatap dahi Bima yang berdarah sembari berkata, "Lupakan saja. Lain kali diperhatikan lagi."


Bima mengucapkan terima kasih dan hendak pergi, tapi Alex memanggilnya lagi: "Jangan pergi dulu, aku belum selesai."


Bima berhenti dengan kaget, "Pak, ada apalagi?"


Alex berkata, "Aku bertanya-tanya, kenapa kamu tidak memeriksa tempat lain dan malah ke tempatku? Ini jelas bukan suatu kebetulan, kan?"


Bima berkata terus terang, "Maaf, Pak. Kami awalnya menerima laporan bahwa ada kupu-kupu malam di sini, makanya saya membawa petugas ke sini."


Alex bertanya dengan marah, "Laporan? Siapa itu?"


Alex mengangguk, "Sepertinya kamu tidak berbohong. Namun, aku sangat marah dengan perilakumu hari ini. Sekarang, aku beri kamu kesempatan untuk menebus dosamu. Kembalilah dan cari tahu siapa dalangnya. Setelah ketemu, segera laporkan padaku."


Bima buru-buru berkata: "Tolong jangan khawatir, Pak. Saya akan kembali ke kantor untuk memeriksa. Asalkan dia menggunakan ponselnya sendiri, masalah ini tidak sulit, dan saya akan bisa mendapatkannya."


Alex melambaikan tangannya dan menyuruh ketiga orang itu pergi. Sebelum pergi, dia memberi Bima nomor ponselnya sehingga dia bisa melapor kepada dirinya segera setelah dia mendapat informasi.


Setelah polisi pergi, Alex tersenyum pada Erika, "Erika, sudah tidak apa-apa."


Hati Erika akhirnya kembali tenang, "Masalah hari ini cukup besar aku benar-benar takut setengah mati. Alex, kamu terlalu banyak masalah. Tadi kamu menelepon Nova? Jika dia tidak membantu, tamatlah riwayatmu. "


Alex berkata, "Bukan Nova, itu temanku yang lain, Erika, sudah tidak apa-apa sekarang." Alex berkata sambil mencondongkan tubuhnya.


Erika menghentikannya, "Aku sudah tidak mood karena mereka. Alex, selidiki masalah ini besok."


Alex juga merasa tidak nyaman diganggu oleh masalah ini hari ini. Namun, menurut apa yang dikatakan Bima barusan, ini juga bukan kesalahannya. Alex berkata: "Erika, kamu juga sudah melihatnya tadi. Ada yang membuat masalah di belakang dengan melaporkan kita ke polisi dengan sengaja."


Erika mengangguk, "Siapa itu?"


Alex berpikir lama, tetapi tidak bisa memikirkan petunjuk apapun, "Kita bicarakan lagi besok. Biarkan Bima memeriksanya. Aku ingin melihat bajingan mana yang menjebakku."


Keesokan paginya, ketika Alex sedang sarapan bersama Erika, Bima menelponnya, "Pak, saya telah menemukan orang yang melaporkan Anda."


Alex bertanya: "Siapa?"


Bima berkata: "Nama kepala keluarga yang terdaftar adalah Dicky. Saya juga telah memeriksa detailnya. Orang ini adalah preman lokal. Apakah Anda punya masalah dengannya?"


Alex tiba-tiba tersadar, "Sudah kuduga, pasti ada yang membalas dendam, ternyata bajingan ini. Terima kasih banyak untuk masalah ini, Bima. Bisakah kamu membantuku periksa di mana orang ini sekarang?"


Bima berkata: "Oke, saya akan membantu Anda mencari tahu segera. Begitu ada berita, saya akan segera memberitahu Anda."


Setelah sarapan, Alex membawa Erika ke SMP No 1 Jakarta Timur. Dia telah menghubungi kepala sekolah dan para pemimpin Dinas Pendidikan sebelumnya. Erika ingin menyumbangkan dana untuk SMP No. 1 agar sekolah dapat merenovasi gedung dan asrama.


Erika bertanya kepada Alex: "Alex, jangan perbesar masalah tadi malam lagi, oke?"


Alex tersenyum, "Oke. Aku tahu apa yang harus dilakukan."


Kemudian, Alex memanggil Edi, "Ayo, kita cari Dicky."


Edi sangat gembira. Dia tidak menyangka Alex akan mencarinya secepat ini, "Kak, jangan khawatir. Kamu tidak perlu turun tangan, aku sendiri yang akan menghajarnya, kamu mau nyawanya atau kakinya? "