
Ckiit! Nova memarkir mobilnya di sudut alun-alun tanpa berkata sepatah kata pun dalam beberapa saat.
“Kenapa?” Alex bertanya karena merasa sedikit aneh, “Ada kasus yang sulit diatasi?”
“Iya nih, tapi bukan juga.” Wajah Nova sudah dibasahi oleh air mata ketika dia menengadahkan kepala.
“Eh? Ka… kamu jangan nangis.” Alex mulai panik ketika melihat wanita menangis. Bagaimanapun juga, dia pernah melakukan hubungan intim dengan Nova, makanya dia akan merasa semakin panik ketika melihatnya menangis, “Cepat katakan, masalah apa? Biar aku bantu!”
Ini adalah efek dari sifat protektif seorang pria terhadap wanita ketika melihat wanita sedang sedih.
Nova menarik tangan Alex seolah-olah memiliki rasa aman, kemudian berkata dengan pelan, “Ayahku, Jody Ardiansyah, hanya pegawai sipil biasa, tapi tugasnya adalah menyelidiki beberapa pegawai sipil yang melanggar aturan.”
“Ah?” Alex menganggukkan kepala, “Benar kok.”
“Tapi, kemarin ayahku tiba-tiba dilaporkan menerima uang suap senilai 10 miliar. Sekarang polisi sudah menangkapnya,” ujar Nova sambil menangis.
“10 miliar ngak banyak kok.” Alex ngak menganggap ini masalah besar.
“Kamu tuh ya! Aku tahu betul sifat ayahku, dia ngak akan mungkin menggelapkan satu sen pun, apalagi menerima suapan! Tapi…” Nova pun menjadi kesal ketika berkata sampai sini, “Aku juga ngak ngerti mengapa pihak KPK bisa menemukan uang tunai 10 miliar di bawah tempat tidur ayahku dan itu semua sudah usang. Aku juga sudah melihat foto-foto bukti.”
“Haha, banyak orang yang bermuka dua…” kata Alex dengan santai.
“Jangan sembarangan ya! Ayahku bukan orang seperti itu! Pasti bukan dia yang nyembunyiin uang itu!” kata Nova dengan marah.
“Iya deh iya, entah apapun kebenarannya, toh juga ngak ada gunanya kamu meneriakiku.” Lalu, Alex membujuknya, “Jika uang itu benar-benar bukan hasil korupsi ayahmu, maka kebenarannya pasti akan akan terungkap. Apa sekarang kamu ada petunjuk?”
Nova berkata dengan kesal, “Sekarang, aku adalah anggota keluarga tersangka, meskipun aku ingin menyelidiki kasus ini, tapi menurut hukum aku harus menghindari kasus ini!”
Alex langsung memberi kesimpulan, “Jika ini adalah difitnah, maka ini pasti ada hubungannya dengan Richard atau perbuatan anak buahnya!”
“Iya! Aku juga mencurigai Richard, tapi terlalu sulit untuk menemukan petunjuk. Kediaman Richard dijaga ketat, walau aku bisa menyelinap masuk, tapi ngak mungkin bisa menemukan petunjuk yang berguna.” Nova menyeka air mata dan mencoba tegar.
“Orang macam apa yang ayahmu hubungi baru-baru ini? Apa ada cara untuk mengetahuinya?” Alex mulai berpikir.
Nova masih saja menghela nafas, “Ayahku ngak pernah memberitahuku tentang pekerjaannya! Terlebih lagi, aku sangat sibuk sehingga kami jarang bertemu dan aku juga sama sekali ngak tahu dia berhubungan dengan siapa!”
Saat ini, Nova menyalahkan diri sendiri: Apakah perhatianku terhadap ayahku terlalu dikit? Aku memang ngak berbakti!
Alex merenung sejenak dan berkata, “Kalau begitu kamu harus memperhatikan kasus yang ditangani ayahmu dan pihak yang belakangan ini dirugikan.”
Nova menganggukkan kepala, lalu berkata,“Sebenarnya ada orang penting yang dirugikan, orang itu adalah Susanto selaku wakil inspektur kota Tomohon. Dia dan Richard diam-diam berkolusi, keduanya berpartisipasi dalam berbagai kolusi antara pejabat dan pengusaha. Hal ini diketahui oleh ayahku, lalu ayahku bersikeras menyerahkannya ke BPKP untuk diselidiki. Sekarang, Susanto telah ditangkap, sedangkan kasus yang terkait dengan suap sedang diselidiki oleh kantor polisi pihak kepolisian dan kasusnya belum selesai.”
“Oke! Terus apa yang harus kulakukan?” Nova akan mengandalkan Alex jika Alex ada di sisinya.
Alex berkata, “Sekarang Susanto masih dalam tahanan, jadi sulit untuk bertemu dengannya. Tapi, kita bisa mencari pengacaranya.”
“Ya! Benar juga! Philips Tionarwi!” kata Nova dengan senang.
Philips adalah pengacara terkenal di kota Tomohon, firma hukum yang dibuka oleh Philips juga sangat terkenal. Makanya, saat ini ada seorang wanita dengan ekspresi muram yang sedang mendiskusikan kasus perceraian dengannya.
Dua orang anak muda berjalan masuk ke dalam, mereka tampaknya seperti sepasang kekasih, mereka bertanya begitu masuk, “Apa pengacara Philips ada?”
Philips lekas berdiri, “Aku Philips! Ada apa ya?”
Alex berkata, “Kami mau konsultasi dan biaya konsultasinya bukan masalah.”
“Ah! Perihal apa yang ingin kalian konsultasikan? Kami akan menentukan standar biaya konsultasi sesuai kompleksitas masalah.” Philips menjadi semangat ketika mendengar kata ‘biaya bukan masalah’!
“Em….” Alex mengeluarkan uang 400 ribu, lalu meletakkannya di depan Philips, “Kami butuh ruang pribadi.”
“Baik! Di atas ada ruang konsultasi khusus!” kata Philips sembari menyimpan uang 400 ribu.
“Eh? Pak Philips, jadi masalahku gimana? Dahulukan yang datang duluan dong.” Ekspresi wanita tersebut menjadi tidak senang.
Philips dengan cepat tersenyum dan menjelaskan, “Nyonya Athena, maaf, mereka adalah temanku. Bagaimana kalau aku meminta pengacara lain untuk menerima konsultasi Anda?”
Nyonya Athena menghentak kaki, lalu mengeluarkan setumpuk uang dari tasnya, kemudian menarik sepuluh lembar uang dan melemparkannya ke atas meja, “Pak Philips, bukankah itu karena mereka memberimu uang yang banyak? Aku akan memberimu satu juta dulu, biaya konsultasinya akan dihitung secara terpisah.”
“Em…” Philips tergoda ketika melihat uang satu juta tersebut, tapi dia malu untuk mengatakannya.
Ekspresi Nova menjadi tegang, saat dia hendak bertengkar dengan wanita itu, Alex segera menghentikannya dengan tatapan dan mengulurkan tangan pada Philips, “Baiklah, kami akan menunggu.”
Philips ragu sejenak, lalu mengembalikan uang 400 ribu kepada Alex, kemudian menerima uang satu juta dari Nyonya Athena dan meminta maaf pada Alex, “Mohon kalian tunggu sejenak, aku akan selesai sebentar lagi.”
Nyonya Athena menunjukkan tatapan sombong ketika melihat sepasang anak muda itu bersedia mengalah, dia melirik Alex sekilas dan berkata, “Pak Philips, apa maksudnya ‘sebentar lagi selesai’?! Aku beri tahu ya, kasus ini sangat rumit, ini terkait dengan pembagian harta setelah cerai, jadi kamu harus mengatasinya dengan baik sebelum menerima kasus lain!”
Nova yang sedang cemas hampir saja meledak saking kesalnya, tapi Alex menghentikannya, “Sudahlah, jangan kecil hati gitu sama wanita.”
Nova sangat patuh padanya, akhirnya dia duduk kembali dan menatap punggung Nyonya Athena dengan marah.