
Morgan duduk dengan kecewa, tetapi dengan cepat melihat kedua tangannya. Dia sangat bersyukur karena setidaknya masih bisa hidup. Meskipun tidak bisa lanjut tinggal di tempat ini, dia masih tetap bisa hidup enak asalkan masih hidup. Lagi pula, mereka masih punya banyak uang.
Setelah menjual PT. Zrank, uang mereka juga akan makin banyak. Mereka bisa mencari tempat lain untuk melalui sisa hidup mereka.
Morgan pun langsung tersenyum.
Alex masuk ke ruang interogasi lain. Saat melihat Trevor yang masih bertahan, dia berkata sambil tersenyum, "Aku sangat salut padamu. Rekanmu sudah mengatakan semuanya, tapi kamu masih nggak berniat menceritakan kejadian waktu itu."
Trevor mendengus, "Aku percaya dia nggak akan berbuat begitu."
Alex bertepuk tangan, "Bagus sekali. Memang benar kalau kamu harus percaya pada rekanmu. Tapi ada yang nggak kamu ketahui, dia sudah memutuskan untuk menjual PT. Zrank kepadaku. Jadi, aku datang untuk minta persetujuanmu. Bagaimanapun juga, itu adalah perusahaan kalian. Aku juga perlu sahammu."
Trevor tertawa terbahak-bahak, "Ternyata demi sahamku? Maaf, aku nggak akan menyerahkan sahamku padamu. Sebaiknya kamu menyerah."
Alex menggeleng, "Morgan tahu kalau hanya PT. Atish yang bisa menolongnya sekarang. Makanya, dia baru setuju menjual PT. Zrank kepadaku. Sebagai gantinya, aku akan menolongnya."
Trevor tertegun sejenak. Morgan mungkin tidak akan melakukannya jika hanya demi uang. Namun, Morgan benar-benar mungkin langsung menjual PT. Zrank demi nyawanya.
Senyum Trevor langsung lenyap. Dia menatap Alex dengan wajah pucat.
Alex sama sekali tidak panik, menginterogasi Trevor memang butuh sedikit kesabaran. Setelah mengetahui bahwa Morgan sudah setuju untuk menjual PT. Zrank, Trevor sudah tidak bisa bersikap arogan.
Alex membujuknya, "Kamu seharusnya mengerti maksud Morgan. Lagian, kalian juga sudah nggak bisa tinggal di sini. Jadi, nggak ada gunanya kalian mempertahankan PT. Zrank. Bukannya lebih bagus kalian menukarnya dengan uang, lalu pensiun ke tempat lain?"
Trevor menggertakkan giginya. Meskipun tidak ingin percaya, dia tahu Morgan memang bisa melakukan hal itu. Apalagi Morgan memang sudah mempunyai rencana seperti itu. Setelah melewati masalah ini, dia akan menyerahkan PT. Zrank untuk dikelola orang lain, lalu hidup di tempat lain. Dia hanya akan kembali untuk mengurus masalah yang benar-benar serius. Selain itu, dia akan menetap di luar.
Saat melihat Trevor yang mengepalkan tangannya dan juga gemetar, Alex langsung tahu bahwa pertahanan Trevor sudah pelan-pelan roboh.
Alex tidak buru-buru. Dia duduk di dalam ruang interogasi sambil meminum teh yang dituangkan Argo untuknya.
"Kalau kamu masih nggak percaya padaku, aku juga sudah kehabisan cara. Tapi, kamu seharusnya mempertimbangkan dirimu sendiri, 'kan? Lagian, Morgan sudah menyerahkan perusahaan kalian untuk menyelamatkan nyawanya. Bagaimana denganmu?" tanya Alex sambil tersenyum.
Saat melihat ekspresi Alex yang tenang, Trevor langsung merasa dirinya sudah tiba-tiba tua beberapa tahun. Dia duduk bersandar di kursi dengan frustasi, "Aku juga setuju."
Alex tertawa, "Bagus. Aku akan suruh pengacara untuk menyiapkan kontraknya. Kamu adalah orang cerdas. Bukannya bagus kalau kamu dan Morgan bisa sama-sama meninggalkan tempat ini?"
Trevor hanya cemberut tanpa mengatakan apa pun.
Sebab, dia tahu bahwa kali ini, mereka sudah benar-benar kalah dari Alex.
Tak lama kemudian, pengacara dari PT. Atish pun tiba untuk menyerahkan kontrak yang harus ditandatangani Morgan dan Trevor. Alex menyerahkan dua dokumen itu pada mereka.
Setelah Morgan dan Trevor dibawa keluar dari ruang interogasi dan sampai di luar kantor polisi, keduanya langsung membelalakkan mata mereka.
Mereka mengira tempat ini sudah dikepung keluarga Bazel. Namun, mereka baru tahu di luar sama sekali tidak ada orang keluarga Bazel atau orang yang ingin membunuh mereka.
Morgan menoleh ke arah Amel dan Argo, "Beraninya kalian menipuku!"
Alex tertawa terbahak-bahak, "Benar, kami memang sudah menipu kalian."
Morgan langsung hendak maju untuk menghajar Alex, tetapi Trevor langsung menahan dan menariknya pergi.
Setelah kedua orang itu meninggalkan kantor polisi, Amel menghampiri Alex dan bertanya dengan heran, "Kamu akan biarkan mereka pergi begitu saja?"
Alex memegang kontrak itu, lalu menjawab sambil tersenyum, "Tentu saja nggak. Aku hanya ingin mendapatkan benda yang kuinginkan dulu sebelum mereka mengakui dosa. Janji harus ditepati, 'kan?"
Amel menatap Alex dengan sedikit bingung, sedangkan Alex hanya berkata sambil tersenyum, "Sekarang, serahkan rekaman suara itu pada keluarga Bazel. Aku rasa, pasti ada beberapa orang bodoh di keluarga Bazel yang ingin melakukan sesuatu."
Amel baru mengerti apa yang direncanakan Alex. Dia menatap Alex dengan ngeri, "Kamu berniat membunuh mereka, ya!"
Alex mengangkat bahunya, "Ini adalah trik yang harus digunakan untuk menghadapi orang jahat. Kalau mereka adalah orang baik, aku juga pasti memperlakukan mereka dengan tulus. Aku toh bukannya iblis."
Amel merasa Alex sangat mengerikan. Alex biasanya sangat baik hati saat bergaul dengan mereka. Namun, saat menghadapi Morgan dan yang lainnya, Alex sama sekali tidak menunjukkan simpati.
Amel tiba-tiba merinding, terutama setelah melihat senyum Alex saat ini.
Pada saat ini, Alex malah tiba-tiba berkata, "Tapi kita tetap harus jaga-jaga, soalnya ada juga orang cerdas di keluarga Bazel. Mereka pasti bisa menyadari maksudku dan nggak bersedia dimanfaatkan. Jadi, aku perlu bantuanmu untuk melakukan sesuatu."
Amel menatap Alex dengan ragu.
Alex tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, itu bukan hal sulit. Aku hanya mau kamu membuat perselisihan."
Saat melihat senyum Alex, Amel tahu Alex akan memulai rencananya lagi.
Saat ini, Trevor dan Morgan sudah kembali ke perusahaan mereka. Ketika sedang membereskan barang-barang mereka, beberapa orang dari Perusahaan Jaya Shield mengunjungi mereka.
Friska tersenyum, lalu menatap seluruh karyawan PT. Zrank sambil berkata dengan lantang, "Mulai sekarang, PT. Zrank sudah diakuisisi Perusahaan Jaya Shield. Ke depannya, kalian adalah karyawan Perusahaan Jaya Shield. Tenang saja, keuntungan yang biasa kalian dapatkan nggak akan berubah dan bahkan akan menjadi lebih baik."
Melihat Friska datang begitu cepat, Morgan dan Trevor yang sedang beres-beres langsung menjadi sangat murka. Akan tetapi, mereka tahu hal terpenting yang harus mereka lakukan saat ini adalah meninggalkan tempat ini.
Saat di ruang interogasi, Alex sudah memberi tahu mereka untuk menunggu di stasiun kereta api.
Saat ini, Amel sedang mengenakan pakaian kasual. Dia memandang beberapa pengawal Perusahaan Jaya Shield di sisinya, lalu menatap bawahan Figo. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana Alex bisa membuat bawahan Figo melakukan hal ini.
Ini adalah tindakan yang mengkhianati Figo!
Frendy, bawahan Figo itu hanya terlihat sedikit gugup dan bersemangat. Dia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
"Sudah siap? Kalau sudah, ayo masuk." Amel menatap semua orang. Mereka pun mengangguk.