
Pameran perabot selama tiga hari di Museum Jakarta telah berakhir, dan perabot-perabot itu diterbangkan kembali ke tempat asalnya.
Pagi itu, Alex membawa Erika ke Villa di Gunung Runju. Renovasi Villa No.9 telah selesai, dan satu minggu kemudian, ulang tahun pertama pernikahan keduanya akan tiba.
Alex bertanya: "Erika, aku akan membuat pesta pernikahan di hari itu, apa kamu bersedia?"
Erika berkata dengan malu: "Jadi hadiah yang diantar perusahaan EO benaran dari kamu?"
Alex mengangguk, "Awalnya, aku hanya ingin menjadi orang biasa. Seperti yang kamu lihat, dunia ini sangat aneh sehingga tidak memberiku kesempatan seperti itu."
Erika tersenyum, "Bagaimanapun, orang-orang jahat itu sudah diadili. Bahkan Devan juga ditangkap. Aku dengar dia akan dijatuhi hukuman mati."
Telepon berdering tiba-tiba, Alex melihatnya. Yang menelpon adalah Nova. Setelah menjawab panggilan, Nova berkata, "Alex, aku akan mengirimkan lokasi untukmu. Datang ke rumahku sebentar. Seseorang ingin bertemu denganmu! "
Alex bertanya: "Siapa?"
Nova berkata: "Kamu akan tahu saat datang."
Alex menutup telepon dan memandang Erika, "Erika, padahal sudah janji akan menemanimu ke lokasi konstruksi. Pameran perabot kan sudah selesai, kenapa lagi Nova mencariku?"
Erika berkata, "Kalau dia mengatakan ada sesuatu, maka pasti ada masalah. Pergilah."
Alex bertanya lagi: "Erika, mau pergi denganku?"
Erika tersenyum, "Kapten mencarimu untuk meneliti sesuatu, bukannya mencariku untuk ngobrol, lupakan."
“Yah, aku akan mencarimu ke lokasi konstruksi kalau sudah selesai.” Alex mengucapkan selamat tinggal pada Erika dan pergi menemui Nova.
Siapa yang akan Nova perkenalkan padaku? Misterius sekali? Dengan suasana hati yang gugup, Alex membunyikan bel pintu, gerbang villa terbuka secara otomatis. Terdengar suara seorang wanita: "Selamat datang, Komandan Alex, aku telah menunggumu lama di gym lantai dua."
Itu bukan suara Nova, dia juga tidak melihat gadis ini muncul, Alex sangat bingung, pihak lain langsung memanggilnya Komandan Alex, siapa dia?
Ketika Alex naik ke atas, dia mempercepat langkahnya, dia dengan cepat berjalan ke ruangan gym besar di lantai dua, berharap untuk mengungkap misteri wanita ini lebih awal. Gymnya sangat luas dan terang. Sisi yang terang penuh dengan jendela kaca setinggi langit-langit dengan berbagai peralatan olahraga. Seorang wanita yang mengenakan kaus profesional masih berdiri di samping meja biliar.
Celana panjang, kemeja putih, dan dasi, wanita itu berdiri di depannya layaknya pemandangan yang indah.
Ketika melihat wanita ini, Alex benar-benar terpana. Tersirat kegagahan di antara kecantikannya. Rambut hitam panjangnya halus dan lurus. Bentuk tubuhnya juga sangat seksi, gayanya sangat berbeda, ada sifat tegas di balik kedewasaannya.
Bagaimana mungkin Alex tidak mengenal wanita yang berdiri di depannya, yang tak lain adalah dewa tentara pertama yang terkenal? Roselline, kapten Pasukan Khusus Red Shield—dengan pangkat mayor jenderal.
Menghadapi Alex, Roselline tersenyum dan berdiri dengan kedua tangan di punggungnya: "Komandan Alex, sejak perpisahan waktu itu, dan ketika berjumpa lagi hari ini, kenangan di masa lalu masih terasa baru."
Dua tahun lalu, di luar negeri. Alex, yang masih menjadi Komandan Gang Beruang Hitam, ditantang oleh Jovian, penguasa tertinggi Pasukan Khusus Red Shield.
Gang Beruang Hitam selalu dianggap sebagai komplotan yang harus dibasmi di mata Jovian.
Bahkan ada orang-orang jahat yang melakukan kejahatan mengatasnamakan Gang Beruang Hitam.
Karena itu, Jovian selalu menganggap Alex sebagai musuh terkuatnya.
Jovian menerima berita yang dapat dipercaya bahwa Alex muncul di Louvre, Paris, jadi Jovian ingin menangkap Alex. Setelah bertarung, Jovian kalah dari Alex dan terluka olehnya.
Alex tidak ingin bermusuhan dengan Jovian, jadi dia tidak mempersulit Jovian, dia pergi tanpa membunuhnya.
Tapi tak disangka, karena cederanya, Jovian dikepung lagi oleh organisasi asing dan meninggal di negara asing.
Pada saat itu, Roselline adalah seorang kepala instruktur di Red Shield.
Setelah gugurnya Jovian, Roselline menggantikan jabatan Jovian. Setelah itu, untuk membalaskan dendam Jovian, Roselline tidak sedikit mencari masalah dengan Alex.
Sebelum Alex pensiun, keduanya pernah berhadapan langsung, tetapi setelah bertarung sepanjang hari, tidak ada yang kalah ataupun menang. Tentu saja, Alex tidak ingin membuat perseteruan dengan Roselline, jadi dia tidak menggunakan kekuatan penuh.. Jika tidak, pemenangnya pasti akan ketahuan setelah satu hari satu malam.
Namun, ada satu segi di mana Roselline lebih unggul dari Alex, dan itu adalah keahlian menembak Roselline.
Tidak heran ketika dirinya memasuki pintu, dia merasakan semacam tekanan batin. Ternyata dia menunggu dirinya di sini, apakah dia akan balas dendam?
Melihat ekspresi gugup Alex, Roselline malah agak tenang. Dia berjalan santai, mengambil tongkat, dan memberikannya kepada Alex, "Komandan Alex, mengapa harus repot-repot bertarung begitu bertemu? Kita bisa menyelesaikan permainan ini dulu sebelum membicarakan hal lain."
Alex menerima tongkat itu, tetapi matanya tidak pernah beralih dari Roselline. Dia harus waspada terhadap serangan mendadak pihak lain. Jika dia melakukan serangan mendadak, dia mungkin akan terbunuh dalam satu gerakan!
Roselline tertawa lagi, "Komandan Alex, bagaimana kita bisa bermain kalau kondisimu seperti ini? Aku, Roselline, selalu tepat janji. Jangan khawatir, tidak peduli seberapa besar dendam di antara kita, kita akan membicarakannya setelah ini."
Alex tersenyum simpul, "Kapten Rose, jarang-jarang sikapmu sebaik ini!" Alex berjalan ke depan meja biliar. Bola telah diletakkan di atas meja.
"Kapten Rose, silakan duluan."
Roselline mengangguk, "Baik, kalau begitu."
Alex mengulurkan tangannya, "Silakan!"