Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 596 Nggak Ingin Keluar


Trevor juga tahu masalah kali ini tidak sesederhana itu. Jadi, sebaiknya mereka pergi ke kantor polisi untuk melihat situasinya dulu. Setelah memberi keterangan, mungkin mereka punya kesempatan untuk meninggalkan tempat ini.


Jika mereka tidak pergi ke kantor polisi, keluarga Bazel pasti akan langsung mengira mereka sengaja berbuat begitu. Dengan pergi ke kantor polisi, mereka justru bisa memberikan keluarga Bazel waktu untuk berpikir.


Namun, Morgan tahu tidak peduli apakah keluarga Bazel mencurigai mereka atau tidak, mereka sudah tidak bisa terus berdiam di tempat ini. Keluarga Bazel sudah tidak bisa bersabar dalam menghadapi mereka.


Apabila mereka masih berdiam di sini, keluarga Bazel pasti tidak akan mengampuni mereka. Sebab, mereka sudah menimbulkan cukup banyak masalah untuk keluarga Bazel. Lagi pula, mereka juga bisa menebak siapa yang melaksanakan rencana kali ini.


Jika Sinarwa tahu mereka sudah merusak rencananya, dia pasti tidak akan melepaskan mereka.


Amel tidak menyangka Morgan dan Trevor bersedia mengikuti mereka ke kantor polisi. Hal ini benar-benar mengejutkan Amel. Namun, Amel juga tahu semua ini berkat rencana Alex.


Morgan dan Trevor dibagi ke dua ruang interogasi yang berbeda. Amel sedang menangani Morgan, sedangkan Argo menangani Trevor.


Setelah selesai menginterogasi Morgan, Amel pun berkata, "Kamu sudah boleh pulang. Ini hanyalah perkelahian biasa, Tim Konstruksi Cahaya yang harus bertanggung jawab. Nggak ada hubungannya dengan kalian."


Saat ini, Morgan malah tidak ingin meninggalkan tempat ini karena tidak tahu bagaimana situasi di luar. Apa keluarga Bazel sudah mengirim orang datang untuk menghabisi mereka?


Mereka tidak tahu akan semua itu. Jadi, sebelum bisa memastikan keselamatan dirinya, Morgan masih tidak ingin meninggalkan kantor polisi. Dia hanya bisa menatap Amel dengan tidak berdaya dan berkata, "Aku rasa masalah ini masih belum diselidiki dengan jelas."


Setelah mendengarnya, Amel menatap Morgan dengan terkejut, "Ada apa denganmu? Sudah berubah? Dulu, kamu selalu ketakutan saat kami memintamu kemari. Sekarang, kamu malah nggak mau pergi?"


Morgan menatap Amel dengan malu, lalu berkata dengan cepat, "Sebenarnya, aku yang memerintahkan pengawal-pengawal itu untuk ikut berkelahi. Jadi, aku juga punya tanggung jawab dalam masalah ini. Kurung saja aku."


Amel menatap Morgan sambil tersenyum, lalu berkata, "Bagus sekali, sepertinya kamu sudah ngaku. Kalau begitu, hal ini sudah nggak bisa diubah."


Awalnya, Morgan masih belum mengerti maksud Amel. Namun, begitu Amel memutar ulang kata-katanya barusan, dia pun langsung mengerti.


Morgan menatap Amel dengan murka, "Bajingan! Kamu mau apa?"


Ekspresi Amel langsung menjadi muram, "Kamu tahu sudah berapa lama aku menunggu hari ini? Meskipun sudah lewat bertahun-tahun, aku masih ingat kamu berutang nyawa pada ayahku. Kalian sudah sepantasnya mati."


Morgan langsung tercengang, "Aku benar-benar nggak tahu apa maksudmu. Tapi apa yang kamu lakukan ini nggak sesuai aturan, 'kan?"


Amel berkata sambil tersenyum sinis, "Kenapa nggak sesuai aturan? Semua pertanyaan yang ditanyakan di ruang interogasi itu direkam. Aku hanya sudah memutar ulang rekamannya untukmu. Tapi aku nggak yakin apa hanya kamu yang akan mendengarnya. Rekaman suara ini mungkin akan segera sampai ke tangan keluarga Bazel."


Morgan langsung memukul meja dan berdiri. "Bajingan! Amel, apa maumu? Kamu jelas sedang memfitnahku!"


Amel tersenyum mengejek sambil menatapnya, "Memfitnahmu? Aku toh nggak paksa kamu untuk bilang apa-apa, kamu sendiri yang mengatakannya. Sekarang kamu malah mau mengelak? Coba pergi tanya keluarga Bazel apa mereka setuju atau nggak."


Saat ini, Morgan langsung putus asa. Dia tahu Amel hanya perlu menyerahkan rekaman suara ini ke keluarga Bazel apabila Amel menginginkannya mati. Keluarga Bazel tentu saja akan bertindak.


Morgan buru-buru berdiri, sedangkan Amel langsung pindah tempat duduk. "Silakan kalau kamu ingin keluar. Aku rasa kamu juga sudah familier dengan jalan di sini. Bisa keluar sendiri, 'kan?"


Morgan langsung menjadi lemas. Dia tahu dirinya sudah salah bicara, tetapi dia tidak bisa menarik kembali kata-kata itu. Sekarang, orang keluarga Bazel pasti mengira bahwa dia yang merencanakan hal ini.


PT. Zrank sudah tidak tertolong.


Morgan tahu dia tidak boleh keluar dari kantor polisi. Begitu keluar, dia pasti akan langsung dibunuh. Setelah mendengar rekaman suara ini, keluarga Bazel tidak akan melepaskannya.


Morgan juga tahu bahwa Amel sedang menunggunya meninggalkan tempat ini. Jika dia tidak pergi, Amel tidak akan bisa memberikan rekaman suara itu pada keluarga Bazel. Akan tetapi, untuk tetap tinggal di sini atau bahkan masuk penjara, dia juga harus punya alasan untuk ditahan.


Morgan berpikir sebentar dan baru saja berniat menyerang Amel, tetapi Amel malah tersenyum sinis, seolah-olah langsung tahu apa yang ingin dia perbuat. "Kamu mau menyerang polisi? Aku bisa langsung menembakmu."


Morgan langsung mematung di tempat lantaran tahu jelas akan situasinya sekarang. Dia sudah tidak bisa tinggal di tempat ini, tetapi juga tidak mungkin mengakui kejahatannya.


PT. Zrank sudah melakukan banyak tindakan kriminal, termasuk dirinya sendiri. Namun, semua hal ini tidak boleh dibocorkan karena mereka pasti akan dipenjara sangat lama.


Morgan tidak ingin membuat pilihan itu.


Amel sama sekali tidak panik. Tepat pada saat ini, Argo berjalan masuk, lalu membisikkan sesuatu pada Amel sambil mengerutkan alisnya.


Saat ini, Morgan sangat panik. Ketika melihat kemunculan Argo, dia sangat penasaran akan apa yang dikatakan Argo.


Morgan sama sekali tidak mengetahui informasi apa pun di dalam ruang interogasi ini. Jadi, dia juga tidak tahu apa ada orang keluarga Bazel yang sedang menunggunya di luar.


Amel memandang Morgan dengan dingin, sedangkan Morgan mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata sambil tersenyum, "Bu Amel, sebenarnya aku merasa ada salah paham di antara kita."


Amel berkata sambil tersenyum sinis, "Nggak ada salah paham di antara kita, hanya dendam."


Morgan mendesah, "Kalau bukan karena ayahmu melindungi kami dengan nyawanya, kami juga nggak akan hidup sampai sekarang. Sejujurnya, aku harus berterima kasih pada ayahmu. Waktu itu, aku belum sempat balas budi, tapi sekarang juga masih sempat. Bagaimana kalau begini saja, aku akan memberimu 10% saham PT. Zrank."


Amel hanya menatap Morgan dengan dingin. Dia tidak menyangka Morgan punya begitu banyak trik. Begitu tahu dirinya dalam masalah, Morgan mulai mengerahkan cara untuk menyogok Amel.


Bagaimanapun juga, hanya Amel yang tahu apabila ada orang keluarga Bazel yang sedang menunggunya di luar.


Amel tentu saja tidak akan menerima sogokan Morgan. Dia hanya ingin tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi pada ayahnya. Dia tidak akan membiarkan ayahnya mati sia-sia.


Saat melihat Amel yang tetap bersikap dingin, Morgan sangat panik. Semakin Amel bersikap tenang, itu berarti situasinya juga semakin buruk.


Morgan tidak ingin mati di sini, jadi dia menggertakkan giginya dan berkata, "20%, itu adalah nilai terbesar yang bisa kuberikan. Asalkan kamu bantu aku pergi dari sini, aku akan memberimu 20% saham PT. Zrank."