
“Oke, kalau gitu kamu bisa menandatangani perjanjian dengan Nona Jasmin!” Alex melambaikan tangannya, “Jangan tampar lagi, ada begitu banyak orang di sekitar, ngak enak dilihat.”
Memang, setidaknya ada 50 hingga 60 orang yang mengitari tempat itu untuk menonton pemandangan ini.
Asman dengan cepat bangkit, terlepas dari memar dan wajahnya yang bengkak, dia bergegas menghampiri Jasmin dan segera menandatangani kembali perjanjian itu.
Akhirnya, dalam waktu 25 menit, Asman menandatangani perjanjian dengan PT. Atish dan segera melapor kepada Pak Chiko. Setelah mendengarkan laporannya, Pak Chiko tidak mengajukan keberatan dan berjanji untuk tidak memecat Asman.
Asman akhirnya bisa bernapas lega, tapi masih dia tidak mengerti: Di satu sisi, bagaimana Pak Chiko bisa tahu situasi di kota Medan? Apakah ada yang melapor kepada Pak Chiko? Sepertinya ada mata-mata di sekitar? Di sisi lain, meskipun Pak Chiko tahu tentang situasi di sini, dia juga tidak seharusnya memaksa dirinya untuk bekerja sama dengan PT. Atish! Apakah ada hubungan spesial antara Pak Chiko dan penanggung jawab PT. Atish?
Perusahaan lain yang bertanggung jawab untuk memasok baja adalah direktur pemasaran PT. Medan Steel yang bernama Mail. Orang ini dan Bernard adalah teman sewaktu kuliah dulu. Dia menjalankan perintah Bernard hanya dengan satu panggilan telepon.
Bagaimanapun, Mail bisa berada di posisi sekarang juga atas pengaruh keluarga Mahari.
Biasanya Bernard juga berkolusi dengannya untuk menjual kembali banyak besi baja PT. Medan Steel, dan mendapatkan banyak keuntungan ilegal darinya.
PT. Medan Steel adalah perusahaan besi baja milik negara, bukan perusahaan swasta.
Alex meminta Jasmin untuk melakukan segala cara untuk menyelidiki secara menyeluruh semua informasi Mail, dan berusaha untuk menyelidiki juga skandal Mail ketika masih kecil.
Pada saat yang sama, Alex juga menggunakan kekuatan intelijen Gang Beruang Hitam, yang dia dapatkan tidak hanya mengetahui dengan jelas situasi Medan Steel, tetapi juga mendapatkan beberapa informasi tentang Mail.
“Wah! Properti atas nama Tuan Mail ada di seluruh dunia! Totalnya ada 108 set? Ya Tuhan!" Alex menghela nafas saat melihat angka-angka tersebut.
Dia segera mengerahkan beberapa pasukan rahasia di daerah lain untuk secara pribadi menjelajahi rumah-rumah besar itu untuk mendapatkan informasi langsung.
Pada saat yang sama, dia juga meminta Jasmin mengirim seseorang untuk menyelidiki beberapa properti Mail di Medan untuk mengetahui situasi spesifiknya.
"Dia seorang model, namanya Cecilia, perempuan, umur 27 tahun. Dia mengenal Mail 5 tahun lalu dan jadi simpanan Mail. Mail membelikannya sebuah rumah di Medan dengan harga 13 miliar."
"Dia seorang perawat, namanya Zoey, perempuan, usia 25 tahun, lulusan Universitas kota Medan. Dia mengenal dan dijadikan simpanan oleh Mail 3 tahun lalu. Rumah yang dia tinggali bernilai lebih dari 100 miliar."
"Untuk yang ini bernama Sonia, perempuan, 33 tahun, dia karyawan PT. Medan Steel, punya suami dan seorang putra. Dia juga punya hubungan rahasia dengan Mail dan mengelola beberapa pendapatan ilegal untuk Mail."
Alex melambaikan tangannya, "Sudah, jangan perkenalkan lagi. Kita temui Pak Mail segera."
"Direktur pemasaran sebuah perusahaan milik negara! Kurasa seumur hidup pun ngak mungkin dia bisa melunasi tagihan sebuah rumah di kota Medan hanya dengan gajinya itu!"
“Itu dia. Tapi dia malah punya ratusan properti. Aku benar-benar ngak habis pikir gimana dia melakukannya.” Kata Jasmin sambil menghela nafas.
Alex menghela nafas, "Pantas saja perusahaan ini mengalami kerugian setiap tahun, rupanya di dalamnya penuh dengan koruptor seperti itu!"
"Kalau begitu, kita begini saja ..." Alex berpesan.
Mail mengunjungi mal dengan si perawat, Zoey, pada saat ini. Tiba-tiba dia menerima telepon dari Jasmin. Dia datang ke tempat yang sepi untuk menjawab panggilan tersebut, "Halo? Siapa ini?"
Jasmin menekan tenggorokannya dan berkata dengan suara genit, "Halo, Pak Mail, kamu ngak kenal aku nih? Ini lho Jasmin dari PT. Atish. Aku sudah booking tempat malam ini dan menunggumu."
“Di mana?” Mail memang pernah bertemu Jasmin, dan dengan tegas menolak Jasmin, serta mengatakan tidak akan memasok satu ton baja pun untuk PT. Atish!
Sekarang dengan tindakan seperti itu, jelas Jasmin sudah ‘memikirkannya’! Hati Mail terasa gatal begitu memikirkan pesona Jasmin, dia sudah tidak sabar lagi.
“Hotel Royal kamar nomor 2. Aku sudah menyiapkan jamuan makan untukmu nih.” Suara Jasmin lembut, dan kedengarannya geli, bahkan dia sendiri merinding mendengarnya.
“Oke, aku akan segera ke sana.” Mail sudah tidak sabar, dia buru-buru pamit pada Zoey dengan mengatakan ada urusan penting di perusahaan, kemudian pergi sendirian ke Hotel royal.
Kamar nomor 2 harus dipesan terlebih dahulu jauh-jauh hari. Mail cukup tahu dengan hotel kelas atas seperti Hotel Royal. Setelah bergegas masuk, dia segera menuju kamar dan membuka pintu.
Tapi dia tiba-tiba merasa ada yang muncul di balik pintu dan menghadang pintu.
“Selamat datang, Pak Mail.” Alex tidak berdiri sama sekali, dia memandang Mail sambil tersenyum.
“Jasmin! Apa-apaan ini? Mau ngapain kamu? Kamu udah ngak mau pakai baja dari kami lagi ya?” Ekspresi wajah Mail berubah jadi muram, dan berteriak pada Jasmin yang duduk di sebelah Alex.
“Aduh duh, Pak Mail, jangan buru-buru dong. Ayo duduk dulu,” ucap Jasmin sambil menunjuk ke kursi di hadapan mereka.
Mail melihat kembali Hengky yang menghalangi pintu kamar, kemudian duduk di seberang Alex dan Jasmin, "Mau ngapain kalian? Cepat katakan!"
Dia menggertakkan giginya diam-diam dan menatap Jasmin dengan tidak senang, dia berpikir dalam hati: Udah menggodaku tadi, tapi malah bikin jamuan kayak gini, dasar wanita bodoh. Kalau aku ngak senang, pasokan baja PT. Atish pasti ngak akan ada satu ton pun!
Alex berkata dengan datar, "Pak Mail, ayo minum teh dulu, kita bisa bicarakan pelan-pelan."
Mail berkata, "Siapa kamu?"
"Alex, Direktur utama PT. Atish."
“Mau apa?” Mail tersenyum percaya diri.
Alex berkata dengan sangat menyesal, "Pak Mail, aku juga tahu aturannya. Aku berencana untuk memberikan wanita cantik di sebelah saya ini kepada Pak Mail, dan juga mau ngobrol sedikit dengan Anda."
Mail sangat gembira di dalam hatinya: Hehe, gini baru benar! Wanita cantik ini memang berkualitas dan rasanya juga pasti enak.
Melihat tatapan mesum Mail, Jasmin memelototinya dengan galak, tapi di mata Mail, tatapan itu justru jadi kedipan genit.
Alex menghela nafas dan berkata, "Hm, tapi setelah dilakukan penyelidikan, aku jadi menyesal! Soalnya aku menemukan bahwa Pak Mail sama sekali tidak kekurangan wanita atau uang. Benar-benar menguras otak memikirkan hal ini, aku jadi bodoh sekarang. Apa yang harus aku lakukan?"