Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Akting yang Luar Biasa


“Hm?” Pikiran Kennedy yang sedang menangis sedih semakin kacau setelah mendengar kabar tersebut, tapi dia malah berhenti menangis, “Tam, yang kamu katakan benar?”


Tambo mengangguk, “Kami sudah melapor polisi, aku harap pihak polisi dapat menemukan pembunuhnya berdasarkan pemeriksaan jejak tersebut, kemudian kita akan balas dendam.”


Sepasang mata Ghaston mengobarkan api kemarahan, “Guru, ngapain minta polisi menemukan pembunuhnya! Pasti Alex! Aku jamin ngak akan salah.”


Kennedy berteriak, “Benar! Alex, aku akan membunuhmu! Aku mau membakarmu jadi abu! Mengulitimu! Mengeluarkan uratmu!


Tambo berkata, “Tuan, kita perlu tenang dulu. Meskipun kita tahu pembunuhnya adalah Alex, terus bagaimana? Kita ngak punya bukti apapun! Kalau kita mencarinya begitu saja, Alex pasti ngak akan mengakuinya. Nantinya, pihak polisi akan turun tangan, dan kita malah akan mendapat tuduhan sengaja mencari masalah.”


“Ya, yang kamu katakan masuk akal, Tam.” Dia melihat Ghaston, lalu berkata, “Jam berapa sekarang?”


Ghaton melirik jam tangannya, lalu berkata, “6.30, langit harusnya sudah terang.”


Tambo tiba-tiba berkata, “Orang yang membunuh Andreas dan Nelson pasti ahli tingkat dewa perang yang tak terkalahkan, setidaknya dia setingkat denganku.”


Wiuwiuwiuwiu… Mobil polisi telah sampai, petugas kepolisian segera memeriksa TKP, mencari berbagai jejak, mengambil foto, dan menanyai saksi mata.


Tapi, siapa Alex? Mana mungkin dia meninggalkan bukti di TKP? Mesi ada beberapa jejak kaki, tapi juga tidak jelas, sama sekali tidak bisa diverifikasi.


Namun, pihak kepolisian tetap mendatangi PT. Atish pada pukul 9 lewat. Beberapa petugas polisi berdiri di depan pintu, kemudian Yudi Irawan selaku kapten dari salah satu polsek di kota Medan memimpin tim untuk menginterogasi Alex.


“Nama!”


“Alex Gunawan.”


“Jenis kelamin.”


“Pria.”


“Pekerjaan.”


“Pengangguran.”


“Omong kosong! Kamu jelas-jelas direktur utama PT. Atish! Jangan kira kami pihak kepolisian ngak tahu!” Yudi menepuk meja, “Jangan banyak tingkah kamu!”


Alex tersenyum menatapnya, lalu berkata, “Eh? Kapten Yudi, kamu lagi mancing aku ya? Atau lagi maksa? Percaya ngak aku bisa melaporkanmu?”


“Kamu!” Yudi memandangnya dengan marah, “Katakan, apa yang kamu lakukan semalam?”


“Makan, tidur.” jawab Alex bekerja sama.


“Siapa yang bisa membuktikannya?”


“Bukti? Uhm, semalam aku tidur sendirian, ngak ada yang bisa membuktikannya.”


“Tidur di mana?”


“Di dalam PT. Atish.”


“Oke, periksa cctv!” Yudi menatap Alex dengan marah, “Kalau kamu berani berbohong barang sepatah katapun, maka hukumanmu akan bertambah! Sebaiknya pikirkan baik-baik!”


Yudi keluar, tak berapa lama kemudian dia menerima laporan dari tim teknis, “Kami telah memeriksa rekaman cctvnya, semalam Alex tidur sangat awal, dan tidak keluar lagi malamnya.”


“Bagaimana bisa?” Yudi sungguh tak percaya, “Kalian percaya?”


“Tentu saja, sejak masuk ke kamar, dia tidak keluar lagi.” Anggota tim teknis sangat bertanggung jawab.


“Katakan! Siapa saja yang kamu bunuh semalam? Pakai cara apa?”


“Bunuh? Pak Yudi, maksudmu di mana ada yang mati? Berapa orang?” tanya Alex dengan ekspresi terkejut sambil mengedipkan matanya sebanyak mungkin.


“Apa maksudmu?” Yudi menatap Alex dengan kesal, dia mencoba untuk menemukan celah dari ekspresinya, “Apa kamu pergi ke villa keluarga Mahari semalam?”


Alex menggelengkan kepala dengan bingung, “Villa keluarga Mahari? Di mana itu? Aku baru saja datang ke Medan, ditambah buta arah, aku sungguh ngak pernah ke sana.”


Dalam pengalaman Yudi, selicik-liciknya rubah pasti juga tidak akan bisa menang melawan pemburu sepertinya.


Oleh karena itu, dia sangat percaya diri, merasa asalkan Alex sungguh membunuh orang semalam, maka dia pasti akan bisa menemukan sedikit jejak.


Tapi pada saat menanyai Alex, dia jadi kecewa. Dia merasa Alex mungkin memang hanya tidur di rumah, sedangkan kematian Andreas dan Nelson mungkin saja sungguh akibat ulah musuh lain keluarga Mahari yang tiba-tiba datang.


Yudi tidak rela, dia berulang kali menanyai Alex, hingga pada pertanyaan ketiga kalinya, Alex merasa kesal, “Hei! Pak Yudi, kok aku ngerasa otakmu bermasalah?”


Yudi memelototinya, “Otakmu yang bermasalah!


Alex berkata, “Kalau otakmu ngak bermasalah, kamu ngak mungkin kan ngka ingat jawaban dari pertanyaan yang sama sebanyak 3 kali?”


Yudi hampir dibuat meledak olehnya, tapi dia tetap tidak tahu apakah Alex pura-pura bodoh atau sungguh menertawainya.


Setelah sibuk sepanjang hari, Yudi juga telah menanyai 10 orang karyawan PT. Atish, hasilnya adalah Alex seharusnya tidak pernah meninggalkan PT. Atish.


Tanpa secuil bukti, tentu saja Yudi tidak punya alasan untuk menangkap Alex.


Melihat kepergian Yudi beserta orang-orangnya, Alex memerintahkan, “Lanjutkan pekerjaan rekonstruksi pelabuhan, ngak perlu pedulikan investigasi polisi.


Jasmin mengangguk sambil tersenyum, “Oke. Tuan Alex, aku paham.” Jasmin mengetahui adu kecerdasan Alex dengan Yudi, meskipun dia sendiri juga sangat mengagumi akting Alex, dia bahkan merasa Alex mungkin akan sungguh-sungguh membawa pulang penghargaan jika pergi ke Hollywood.


Dia sungguh memerankan peran bodoh hingga standar tertinggi, membuat Yudi hampir meledak saking marahnya.


Keano menghampiri, dia memberikan sebuah apel kepada Alex sambil tersenyum, “Tuan Alex, semalam kamu beneran ke villa keluarga Mahari? Bisa ngak ceritain gimana kamu menghabisi Andreas dan Nelson?”


Alex menggigit apel beberapa suap, lalu mengunyahnya, “Ngomong apa kamu? Aku ngak ngerti.”


“Ukh, Tuan Alex, polisi sudah pergi! Ngak perlu pura-pura lagi.” Keano buru-buru mengingatkan.


Alex menelan apel di mulutnya, lalu berkata, “Sana kerjakan tugasmu!”


“Ah? Oh oke.” Keano buru-buru kabur, lalu bergumam, “Tuan Alex biasanya ngak teriakin aku kayak gitu, kok hari ini aneh? Apa dia jadi bodoh habis ditanyai polisi?”


Pihak kepolisian sangat mementingkan kasus keluarga Mahari di bawah pimpinan Yudi.


Karena atasan mereka menetapkan kasus ini sebagai 118 kasus besar dan harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu, jika tidak, maka akan meminta pertanggung jawaban dari setiap pangkat pimpinan polres kota Medan!


“Tam, kamu bersikeras mau lapor polisi, lihatlah, sekarang polisi malah menjadikan villa kita jadi kantor polisi, setiap hari di sini ngak mau pergi.” Kennedy sangat murung, tapi dia harus menerima kenyataan bahwa kedua putranya telah mati, dan keinginan satu-satunya saat ini adalah membalaskan dendam untuk putranya.


Tambo berkata, “Tuan, tanggal 31 ini ada kegiatan Expo Ekonomi Dunia, PT. Atish harusnya ikut, kan?


“Hm?” Kennedy tercengang, “Tam, kamu punya rencana apa?”


Tambo menyeringai, “Bukan masalah aku punya rencana atau ngak, maksudku pasti konglomerat di seluruh dunia akan menghadiri acara Expo itu.”


“Ah?” Kennedy mengangguk, “Emang sudah begitu sejak lama! Apa masalahnya?”