Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Rukun


Semua orang yang hadir tercengang, tidak ada yang tahu dari mana orang ini muncul, siapa dia?


Bagaimana dia bisa memiliki keberanian seperti itu untuk muncul di medan perang dua orang ahli? Dia bahkan berani bertindak sesuka hati?


Di tempat kejadian tidak kekurangan ahli tingkat apapun, tapi entah siapa mereka, mereka tidak punya keberanian untuk maju dan menanggung kekuatan serangan dari dua ahli itu, karena sangat mungkin serangan gabungan dari keduanya akan menghancurkan mereka berkeping-keping!


Tapi wanita ini tidak hanya melakukannya, tetapi juga menampar Tambo, ini setidaknya menunjukkan bahwa dia berada di pihak Alex!


"Ah? Ro..." Setelah Tambo ditampar, dia tiba-tiba menarik kekuatannya. Kebetulan Alex juga kehabisan kekuatannya saat ini.


Tambo berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa. Ketika Kennedy mencoba bertanya dengan heran, Tambo hanya mengatakan satu kata, "Pergi!"


Dalam sekejap mata, anggota keluarga Mahari pergi semua.


"Tuan Alex!" Keano, Jasmin dan Friska segera menghampiri Alex. Ketika mereka memapah Alex, mereka menemukan bahwa wajah Alex sudah pucat, keringatnya sederas air hujan, dan dia tampak sangat lelah.


Alex memaksakan senyumannya, kemudian begitu matanya tertutup, seluruh tubuhnya pun melemas.


“Biarkan dia istirahat,” kata wanita yang 'melerai’ pertempuran tadi.


“Benar! Biarkan Tuan Alex istirahat dulu, cepat, bantu bawa dia ke atas,” kata Jasmin dengan cemas.


Saat berada di dalam lift, Friska tiba-tiba berkata, "Eh? Ahli tadi kemana?"


Keano mengedipkan matanya, lalu berkata, "Dia ngak masuk lift."


Semua orang membawa Alex untuk beristirahat di kamar, kemudian Keano buru-buru turun, "Heng, mana wanita tadi?"


Hengky berkata, "Aku cuma fokus ke kalian dari tadi,  ngak perhatiin. Emang dia ngak ngikutin kalian ke atas?"


Keano menghentakkan kakinya tanpa henti, "Seorang ahli emang beda ya."


Hengky berkata, "Datang dan pergi ngak diketahui, emang ahli sih. Tapi siapa dia? Apakah dia kenalan Kak Alex?"


Keano mengangguk, "Harusnya sih iya. Kalau bukan, dia ngak mungkin akan mengambil tindakan ketika Tuan Alex sudah kewalahan."


Keano sebenarnya tidak bodoh sama sekali, hanya saja dia berhati mulia dan terobsesi dengan seni bela diri.


Harus dikatakan bahwa sebagai ahli sejati tingkat dewa perang, kekuatan serangan Tambo memanglah sangat kuat. Setelah Alex melawan Cartel selama hampir setengah jam, tenaganya sudah berada di ambang batas. Dan pada saat itu, Tambo segara menyerang dengan ganas, Alex sudah harus bersyukur karena Tambo tidak membunuhnya di tempat.


Menurut perasaan Alex, kekuatan Cartel seharusnya sedikit lebih kuat daripada Tambo.


Bagaimanapun, meskipun Alex kelelahan, tapi patut dibanggakan karena dia bisa melawan dua ahli di tingkat dewa perang.


Jika dia tidak bisa menahannya, maka seluruh PT. Atish akan runtuh hari ini!


“Alex, bangunlah.” Mata Erika berlinang air mata dan hatinya terasa hancur.


Di hadapan Erika, Friska dan Jasmin tidak berani berkata terlalu banyak meskipun mereka juga sedih, sehingga mereka hanya bisa menemani Erika dan menangis dalam diam.


“Kamu sudah bangun?” Akhirnya, melihat Alex perlahan membuka matanya, Erika menangis dengan gembira dan membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Alex.


Alex mengedipkan matanya, "Kalian ngak berpikir kalau aku sudah mati, kan?"


Jasmin buru-buru berkata sambil meneteskan air mata, "Ngak kok! Tentu saja ngak!"


Erika menutup mulutnya, "Ngomong apa sih kamu? Apanya yang mati? Jangan sembarangan bicara."


Alex menyeringai, "Ahem, maklum takut istri, hehe."


Keano tiba-tiba tertawa, "Hahaha!"


"Ih, ngomong apaan kamu? Emang sejak kapan kamu takut istri?" Erika memukul dada Alex beberapa kali karena tidak tahan, tetapi setelah beberapa saat, dia segera berhenti karena ingat bahwa dia baru saja bangun, “Gimana? Ada luka ngak?"


Alex berkata, "Kalau kamu ngak menindihku, aku sudah duduk dari tadi."


"Ish!" Erika langsung merasa malu, dia bergegas berdiri untuk menghindari kecurigaan 'menindihnya'.


Alex duduk seperti yang diharapkan, tapi dia masih belum melepas pakaiannya yang basah kuyup.


Jasmin membawa sekotak susu, "Nih, minum susunya!"


Alex mengedipkan matanya, "Susumu panas ngak?"


“Tentu saja panas, aku membuatnya khusus untukmu.” Jasmin tidak menyembunyikan perasaannya terhadap Alex.


Friska berkata, "Nah, minum dulu untuk mengisi kembali energimu. Ka, kamu suruh dia mandi dulu, kami pergi duluan."


“Oke.” Erika mengangguk, dan yang lainnya pergi.


Begitu pintu ditutup, Erika memandang Alex, "Apa yang kamu katakan barusan, kamu pengen minum susu Jasmin, hah?"


“Aku jamin ngak punya pikiran seperti itu! Kamu yang terlalu banyak berpikir! Aku bersumpah!” Alex mengangkat tangan kanannya dan kotak susu hampir tumpah.


“Oke, oke, aku cuma bercanda kok, ngapain kamu serius gitu?” Erika mengambil kotak susu dari tangan Alex, “Kalau kamu ngak punya tenaga untuk mandi, gimana kalau aku bantu?"


Alex awalnya hendak berdiri, tapi ketika dia mendengar perkataan Erika, dia segera duduk kembali dan berkata, "Eh, perasaan tadi masih ada tenaga, kok sekarang tiba-tiba ngak bisa berdiri?"


“Kamu ngak tahu malu!” Erika memutar matanya dengan marah, tapi masih tetap mencoba yang terbaik untuk memapah Alex ke dalam kamar mandi.


Di kamar mandi, suasananya sangat rukun, sama sekali tidak perlu campur tangan orang luar.


“Tam, kenapa kamu tiba-tiba mundur? Siapa orang itu?” tanya Kennedy ketika semua orang sudah pergi.


Tambo menghela nafas, "Orang itu bagian dari pemerintah, namanya Roselline. Dia adalah ahli tertinggi, kekuatannya jauh melampauiku. Keberadaannya bukanlah hal sepele baik di militer atau pihak kepolisian. Dia memegang banyak misi keamanan para pemimpin tertinggi, tapi dia tidak pernah muncul, dia sangat misterius. Jika orang ini adalah orangnya Alex, maka kita ngak akan punya peluang untuk menang."


"Sehebat itu dia?" Kennedy tercengang. "Tapi Alex cuma seorang gangster. Sebagai bagian dari pemerintah negara, bagaimana bisa Roselline membantunya? Ini tidak masuk diakal."


Tambo berkata dengan sedih, "Aku juga ngak berharap akan jadi begini. Tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana orang seperti dia bisa muncul di PT. Atish? Apakah ini suatu kebetulan? Hanya sekedar uluran tangan saja?"


Kennedy berkata, "Entah apa alasan Roselline muncul, yang penting pertarungan kita besok harus dilakukan sesuai jadwal. Sekarang, Cartel telah dikalahkan oleh Alex dan mengalami luka parah, jadi kita masih perlu mencari kekuatan tempur yang lebih kuat."


Tambo mengangguk, "Ya, kita semua perlu berusaha untuk mendapatkan seseorang yang dapat mengalahkan Cartel, uang bukanlah masalah."


Dengan demikian, seluruh anggota keluarga Mahari mulai memobilisasi semua koneksi mereka, dan mulai mencari tahu siapa yang memiliki pengawal terbaik di antara orang terkaya yang berpartisipasi dalam Ekspo Ekonomi Bisnis, dan kemudian mencoba untuk menghubungi mereka.


Waktunya tidak banyak, jika Roselline benar-benar akan membantu Alex pada saat itu, Kennedy merasa pihaknya pasti akan berakhir dengan kekalahan yang mengenaskan! Hal ini tidak boleh terjadi!


Namun, sampai pada tanggal 30 siang, meskipun telah menemukan seorang ahli super bernama Raymond, tapi negosiasi di antara mereka belum terjalin.