
Martin mengikuti Alex dari belakang. Saat berjalan keluar dari lift, para satpam tadi segera mengelilingi Alex sehingga Alex berada di tengah mereka dan mereka menatap para polisi lalu lintas dengan waspada.
Momentum ini benar-benar mengejutkan si komandan polisi lalu lintas, “Eh, eh. Apa maksudnya ini? Mau melawan penegakan hukum, hah?”
Alex melambaikan tangannya, lalu Martin berteriak, “Minggir! Jangan mengganggu pertemuan Tuan Alex dengan petugas polisi.”
Kemudian, Martin melangkah maju dan berdiri di hadapan petugas polisi dan berkata, “Pak polisi, jika kalian datang untuk menegakkan hukum, maka aku harap kalian melaksanakannya sesuai dengan peraturan, jangan melewati batas. Kalau nggak, aku akan memperlihatkan padamu seberapa besar bahaya dari kelewat batas!”
Selesai bicara, dia berbalik dan pergi.
“Wah wah! Beraninya bocah itu mengancamku? Jangan pergi kamu!” Teriak komandan itu sambil menunjuk Martin.
Martin menoleh sambil tersenyum, “Ada apa? Ingin menegakkan hukum dengan kekerasan? Dengar ya, aku mungkin saja akan melawan.”
Selesai bicara, Martin mengepalkan tangannya sampai berbunyi.
Belasan orang satpam segera berkumpul di samping Martin dan menatap beberapa petugas polisi itu.
Alex melambaikan tangan dan berkata, “Cukup! Sana kerjakan tugas kalian, biar aku yang berbicara dengan petugas.”
Setelah itu, Martin pun memimpin para satpam meninggalkan tempat itu, tapi mereka memelototi para polisi dengan ancaman sebelum pergi.
“Alex, setelah kami mengecek CCTV di sekitar, kami pun mencurigai bahkan kamu terlibat dengan sebuah kecelakaan mobil. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk membuat rekaman.”
“Oke, ke mana kalian ingin membawaku?” ucap Alex dengan acuh tak acuh.
“Tentu saja ke departemen polisi lalu lintas! Ayo!” Ketika si Komandan membawa Alex keluar, mereka melihat Martin memimpin belasan orang satpam sedang berdiri di depan pintu.
Alex segera berkata, “Mau ngapain kalian?”
Martin berkata, “Pak Alex, jangan khawatir! Kami nggak akan membuat masalah, kami hanya ingin mengantar pak polisi ini.”
“Sudahlah, nggak usah antar lagi, kembali sana! Kalian harus percaya bahwa pihak polisi akan menangani kasus ini dengan adil,” kata Alex sebelum masuk ke dalam mobil polisi.
Di sebuah ruangan gelap di departemen polisi lalu lintas, Alex duduk di kursi interogasi dan 4 orang polisi lalu lintas duduk di hadapannya.
Komandan yang tadi berkata, “Alex, kami sudah memeriksa CCTV di tempat kejadian itu. Apakah kamu benar-benar berputar balik mendadak saat berada di Jalan Semangka?”
Alex mengangguk, “Iya.”
Komandan mengoperasikan layar besar dan berkata, “Perhatikan baik-baik, setelah kamu berputar balik, mobil di belakangmu tiba-tiba melaju ke depan dengan cepat dan kebetulan bertabrakan dengan truk. Apa maksud dari ini?”
“Apa? Aku ditahan?” Alex tersenyum pahit, “Komandan, bisakah aku menelepon dulu?”
“Nggak boleh!” Komandan melihatnya dengan tatapan dingin, “Kamu ingin mencari koneksi untuk lewat jalan pintas ya? Maaf, aku harus menegakkan hukum dengan adil, jadi nggak bisa memberimu kesempatan seperti ini.”
Alex tersenyum, “Bukan begitu, aku hanya ingin mengurus hal-hal kecil. Baiklah, kalau begitu, bolehkah aku membela diri terhadap tuduhan yang kamu sebutkan tadi?”
Komandan berkata, “Kesimpulan kami sama dengan kesimpulan ilmiah. Bagaimana kamu ingin menyangkalnya? Meskipun disangkal juga nggak berguna! Tempat ini adalah kantor polisi, ngerti? Pihak kepolisian menyatakan ini adalah tanggung jawab atas kecelakaan lalu lintas, maka itulah kesimpulan terakhir.”
Alex berkata, “Namun, jika aku nggak melewati garis pemberhentian itu, lalu berputar balik, maka aku lah yang akan ditabrak oleh mobil di belakang! Aku juga mungkin saja akan mati karena ditabrak! Sebagai seorang warga biasa, aku berhak menghindari bahaya dalam keadaan darurat!”
Komandan berteriak, “Tindakanmu itu disebut menerobos lampu merah, bukan menghindari bahaya! Kamu tiba-tiba melaju cepat sehingga membuat mobil di belakang mengira lampu sedang hijau dan nggak melambat kecepatan mobil, lalu menabrak truk! Intinya, kamu lah yang menyebabkan tewasnya dua orang di dalam mobil hitam itu!”
Alex menatap plafon sambil menghela nafas, “Ya Tuhan! Apakah nggak ada lagi keadilan di kota Tomohon ini? Sebenarnya aku menghindari bahaya karena menyadari mobil di belakang berencana menabrakku. Kenapa aku malah berubah menjadi orang yang menyebabkan kecelakaan? Dia yang melaju cepat di belakang, jelas-jelas dia yang sengaja menabrakku. Emangnya aku harus membiarkan dia menabrakku begitu saja? Pak polisi, tolong ajari aku kalau begitu.”
Komandan mendengus, “Ini semua cuma alasan. Mobil di belakang itu melaju melewati persimpangan dengan cepat karena melihatmu melaju cepat.”
“Oke, kalau begitu! Bung, bolehkah aku mengetahui namamu atau nomor kepolisianmu?” Alex melihatnya.
“Kamu kira aku takut padamu? Dengar baik-baik, aku adalah ketua di kantor polisi ini, namaku Rayzan Narta, tuntutlah aku kalau bisa!” Rayzan menatap Alex dengan marah dan melanjutkan “Tapi, kamu sudah nggak ada kesempatan lagi, karena orang-orang pusat penahanan akan segera tiba. Jika kamu nggak patuh di sana, maka kamu akan mendapat hukuman! Haha.”
“Rayzan, kamu tahu jelas bahwa keputusan hukumanmu seperti ini sengaja bertentangan dengan hati nuranimu. Kamu pasti ada hubungannya dengan Richard, kan?” Alex melihat wajah Rayzan dan melanjutkan, “Percayalah padaku bahwa kamu akan mendapat hukuman.”
“Haha! Bocah sombong! Aku, Rayzan, sudah bekerja di kepolisian lalu lintas selama 20 tahun, kamu kira kamu bisa mengancamku? Aku telah menentukan ribuan hukuman, dan nggak ada kesalahan satupun sampai sekarang. Kali ini, kamu sengaja melakukan pelanggaran hukum, jadi aku nggak akan mengampunimu!” Rayzan melihat Alex, “Pusat penahanan akan mengajarimu bagaimana cara menjadi orang baik.”
Saat ini, begitu pintu dibuka, empat orang anggota dari pusat penahanan berjalan masuk, lalu melakukan serah terima dengan Rayzan dan membawa Alex pergi.
Sebenarnya pengemudi yang menyebabkan kecelakaan mobil tidak perlu duduk di mobil tahanan dan cukup dikawal oleh dua petugas polisi. Alex dan petugas polisi duduk di kursi belakang mobil polisi dan diapit di tengah untuk mencegahnya kabur, kemudian membawanya ke pusat penahanan seperti itu.
Pusat penahanan memang dijaga ketat, di sekitarnya terdapat tembok tinggi, dan ada tentara yang mengawasi di atas gedung dengan dilengkapi senjata. Alex baru ditempatkan di sebuah ruangan yang mirip dengan sangkar besi setelah melewati tiga gerbang besi yang terkunci.
Tidak ada yang menghiraukannya untuk waktu yang cukup lama. Malamnya, juga nggak ada yang memberi makan dan minum untuk Alex.
Untungnya, fisik Alex sangat spesial. Jika diganti dengan orang biasa, pasti pasti akan lemas kelaparan karena tidak makan dan minum sedikit pun selama seharian.
Alex menempatkan diri di satu-satunya tempat tidur di ruangan itu dengan tenang. Meskipun tidak ada selimut di atas kasur, tapi Alex tetap memejamkan mata dengan tenang dan tidak bergerak seolah-olah sedang melatih pernafasan.
Ini adalah teknik menghemat energi yang dilatih oleh Alex, bahkan dia bisa memperlambat kecepatan pernafasan dan aliran darah dengan teknik ini. Alex pernah menggunakan jurus ini untuk membantunya melewati waktu 7 hari di kondisi darurat. Ini adalah batas hidup manusia pada saat tidak makan dan minum sedikitpun, hingga akhirnya dia berhasil diselamatkan oleh teman seperjuangannya.