
Setelah melihat Alex menghabisi tiga pengawal, pengawal terakhir yang tersisa menghentikan langkahnya dengan ekspresi horor sambil melangkah mundur. Dia bahkan mengeluarkan senjatanya dengan sangat hati-hati.
Senjata yang dia keluarkan adalah sebuah tongkat lipat.
Namun, meskipun memiliki tongkat lipat, pengawal ini tetap tidak berani maju. Alex bisa menghabisi ketiga temannya dalam waktu yang begitu singkat. Hal ini sudah menunjukkan betapa luar biasa kemampuan Alex. Dia sama sekali bukanlah lawan Alex.
Jadi, meskipun menyerang Alex, dia juga hanya akan dihajar.
Dia mengeluarkan tongkat lipat hanya untuk menambah keberaniannya. Pada kenyataannya, dia sebenarnya ingin menyerah.
Bu Rin awalnya masih berniat untuk bersorak. Alhasil, setelah melihat kejadian ini, dia pun terdiam dan terlihat ketakutan.
Saat ini, Alex melambaikan tangannya dengan santai sambil berkata, “Beri tahu Anwar kalau aku nggak akan menunjukkan belas kasihan lagi saat dia memprovokasiku kembali. Slamet butuh teman.”
Setelah mendengar kata-kata Alex, pengawal itu langsung bertambah takut. Dia tidak menyangka Alex mengenal Slamet dan bahkan tahu bahwa Slamet sedang terbaring di rumah sakit.
Pengawal itu langsung mundur, sedangkan Bu Rin juga mulai berjalan keluar. Dia tahu bahwa kalau bahkan pengawalnya juga tidak bisa menghabisi Alex, percuma saja dia masih berdiam di sana.
Oleh karena itu, Bu Rin buru-buru meninggalkan tempat itu, lalu mencari tempat yang aman untuk berlindung. Dia tentu saja akan membalaskan dendam ini, tetapi dia akan membicarakannya lagi setelah sampai di tempat yang aman.
Saat melihat para karyawan yang memandang dirinya dan Erika dengan terkejut, Alex berkata sambil tersenyum, “Maaf, tolong bantu aku usir sampah-sampah ini. Mbak, sudah saatnya kamu membawa kami melihat-lihat rumah, ‘kan?”
Penjual itu tentu saja sangat senang. Dia memang tidak tahu kenapa Alex begitu kuat, tetapi asalkan bisa menjual rumah ini, dia pasti akan mendapatkan komisi besar.
Setelah Alex dan Erika selesai mengelilingi rumah itu, Alex pun langsung membelinya. Proses pembeliannya sangat cepat hingga penjual itu merasa seperti sedang bermimpi.
Selesai bertukar kontrak, penjual itu baru tersadar bahwa dirinya benar-benar sudah menjual sebuah rumah.
Rumah ini berperabot lengkap dan juga menggunakan perabot terbaik. Jadi, Alex dan Erika tidak perlu membeli perabot lagi.
Berhubung sudah pindah ke rumah baru, mereka tentu saja harus mengundang teman untuk datang makan-makan. Oleh karena itu, Alex pun menelepon Friska, Amel, Roselline dan yang lainnya untuk datang ke rumah barunya.
Amel terkejut akan kekayaan Alex dan paras cantik Erina. Namun, Friska malah tahu bahwa kedatangan Erina berarti PT. Atish sudah resmi memasuki Provinsi Sulawesi Tenggara.
Perang besar yang sebenarnya baru akan dimulai.
Selesai makan, Roselline berkata pada Alex, “Masih belum ada kabar mengenai《Mata Air》. Kita juga masih belum masuk ke ruang penyimpanan kediaman Bazel itu, entah apa yang ada di dalamnya.”
Alex berkata sambil tersenyum, “Jangan khawatir. Aku memang sudah berencana masuk ke ruang penyimpanan itu, tapi masih belum kesampaian. Seharusnya, kesempatan itu akan segera datang.”
Roselline menatap Alex dengan terkejut, “Kamu sudah merencanakan semuanya?”
Alex mengangguk, “Tentu saja. Kalau nggak, apa yang sudah kulakukan selama ini?”
Roselline malah terlihat bingung. Dia tahu mengenai semua hal yang dilakukan Alex, tetapi semua itu tidak berhubungan dengan ruang penyimpanan.
Hal-hal yang dilakukannya selama ini sepertinya lebih ditujukan untuk perkembangan PT. Atish.
Alex berkata sambil tersenyum, “Sebenarnya, rencana itu sudah bisa dijalankan begitu istriku membawa masuk PT. Atish.”
Alex tertawa, lalu berkata, “Makasih. Rencanaku kali ini bukan untuk bertarung, jadi aku memang nggak ingin kamu ikut. Tapi, aku ingin pinjam seseorang darimu.”
Roselline kebingungan, “Siapa?”
“Angel.”
Pada periode waktu berikutnya, PT. Atish mulai membuat denah untuk tanah yang dibeli mereka dengan skala besar. Lagi pula, entah sejak kapan PT. Atish juga sudah membeli tanah kosong di sekitar tanah mereka yang akan dibangun menjadi area komersial yang dipadu dengan area perumahan.
Dalam sekejap, semua pengusaha pun terkejut.
Awalnya, mereka merasa Alex akan rugi setelah membeli tanah ini. Namun, setelah Alex juga membeli tanah-tanah kosong di sekitarnya, para pengusaha tahu bahwa Alex akan untung besar.
Akan tetapi, mereka masih tidak mengerti kenapa pihak pemerintah bersedia menjual tanah sepenting itu pada PT. Atish. Perlu diketahui bahwa setelah pusat komersial dibangun, tanah itu akan tetap menghasilkan uang tidak peduli digunakan untuk apa pun.
Apa pihak pemerintah begitu bodoh hingga bersedia mengalah?
Di dalam kediaman Bazel.
Semenjak pelelangan itu, tidak terdengar kabar apa pun mengenai keluarga Bazel. Mereka seolah-olah sudah dikalahkan oleh PT. Atish.
Harry duduk di bangku sambil menatap Dondon. Dondon baru saja selesai menangani para pembunuh yang melarikan diri dari terowongan. Dia berdiri dengan patuh di samping.
Harry pun berkata dengan tenang, “Dondon, aku berencana mengirimmu ke luar negeri. Kalau ingin memakmurkan keluarga Bazel, kita nggak boleh berpuas diri. Kita harus mempelajari cara ekspansi keluarga-keluarga di luar sana.”
Dondon tidak menyangka Harry akan mengirimnya pergi di saat-saat seperti ini. Dia buru-buru berkata, “Kakek, aku nggak mau melarikan diri pada saat seperti ini. Berhubung keluarga Bazel sedang dalam kesulitan, biarkanlah aku tinggal untuk menghadapinya bersama.”
Harry langsung berkata dengan murung, “Apa yang kamu ketahui? Kamu sudah nggak mau mendengar nasihatku? Keluarga Bazel nggak takut pada kesulitan kecil seperti ini. Kamu pergi belajarlah dengan tenang.”
Dondon masih ingin membantah.
Namun, Harry malah berkata dengan dingin, “Kenapa? Perintahku sudah nggak berguna?”
Setelah itu, Dondon baru menangkupkan tangannya. “Kakek, aku akan menuruti kata-katamu.”
Harry mengangguk, lalu melambaikan tangannya untuk menyuruh Dondon pergi.
Setelah Dondon pergi, Harry baru menghela napas dengan tak berdaya. Dia menatap Sinarwa yang ada di sampingnya. Saat ini, Sinarwa memancarkan aura kelam.
Semenjak kematian Farraz, Sinarwa tidak pernah tersenyum lagi. Selain itu, dia juga menjadi makin kejam. Kadang-kadang, Harry juga bisa melihat bayangan dirinya dulu dari tindakan Sinarwa.
Bagaimanapun juga, Harry tahu kekejaman seperti ini tidak hanya melukai musuh tetapi juga diri sendiri.
Dia tidak ingin Sinarwa berubah menjadi seperti itu, tetapi dia juga tahu arti Farraz bagi Sinarwa. Bagaimanapun juga, Farraz adalah satu-satunya putra Sinarwa.
Kematian Farraz tentu saja adalah pukulan besar bagi Sinarwa.