Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pertunjukan Besar


“Apa Yudo beneran sudah mati? Siapa yang melakukannya?” Richard mendapat kabar ini di saat pertama. Namun, dia menyadari bahwa para satpam di Klub Bintang nggak bisa menjelaskan apa yang terjadi setelah ditanya.


Karena perlu menjaga privasi, maka nggak ada banyak CCTV yang dipasang di Klub Bintang. Sehingga tidak ada bukti yang bisa menunjukkan siapa yang telah berinteraksi dengan Yudo.


Lapor polisi? Bukankah sangat memalukan jika mereka melaporkannya karena anak buah Richard terbunuh?


“Adakan upacara pemakaman terbesar untuknya!” kata Richard.


Dia tentu saja tahu bahwa Yudo telah melakukan banyak hal jahat di kota Tomohon selama bertahun-tahun belakangan. Jika ingin berbicara tentang musuh, mungkin sudah nggak bisa dihitung dengan jari, bahkan karena saking banyaknya tersangka, sehingga nggak bisa diselidiki.


Richard nggak menyangka bahwa Alex, si pemuda yang baru saja menginjakkan kaki di Tomohon berani melakukan hal yang begitu keterlaluan.


Sebenarnya, masalah besar yang terjadi di Tomohon yang membuat Richard tercegang adalah bisa-bisanya Athena Grup beralih kepemilikan!


Hal membuat Richard semakin nggak paham adalah kenapa Nikita bisa menjual Athena Grup tersayangnya kepada orang lain? Selain itu, pihak pembeli adalah orang  Rusia.


Kok bisa PT. Teflaski datang untuk membeli Grup Athena? Richard merasa sangat pusing, apa hubungan pemuda bernama Alex dengan PT. Teflaski? Apa PT. Teflaski memang kebetulan membeli Grup Athena di saat seperti ini?


Rafatar tahu apa yang dipikirkan Richard, maka dari itu dia berkata, “Tuan Richard, aku sudah memeriksanya. Kampung halaman Alex ada di Jakarta, jadi nggak akan ada hubungan dengan PT. Teflaski.”


“Itu berarti bahwa akuisisi PT. Teflaski atas Grup Athena nggak ada hubungannya dengan Alex?” Richard nggak percaya, “Tapi, emang ada hall yang begitu kebetulan? Alex bilang dia akan mengakuisisi Grup Athena dalam waktu tiga hari. Kemudian, PT. Teflaski yang mengakuisisinya? Oh ya, Raf, apa kamu tahu detail cara akuisisi mereka dan bagaimana Nikita menjualnya?”


“Sekarang ini aku hanya tahu kalau Grup Athena telah diakuisisi, untuk detailnya aku beneran nggak tahu.” Rafatar berkata, “Aku sedang menyuruh orang untuk mencari tahu, mungkin sebentar lagi akan ada kabar.”


Benar saja, ponselnya berdering pada saat ini, pesan teks masuk satu per satu. Tampaknya kemampuan Rafatar dalam mendapat berita sangat hebat.


Ekspresi Rafatar terus berubah ketika melihat ponselnya.


“Ada apa?” Richard mengerutkan kening, “Kamu kira lagi main opera di depanku?”


“Tuan Richard, setelah Nikita menjual Grup Athena-nya, dia nggak keluar rumah lagi, bahkan sepasang kaki Nando juga dipatahkan,” kata Rafatar.


“Hm? Kalau gitu, Nikita menjual Grup Athena karena terpaksa, kan? Tampaknya PT. Teflaski benar-benar hebat,” ujar  Richard menyimpulkan.


“Iya, apa yang dikatakan Tuan Richard benar.” Rafatar melihat ponsel sambil berkata, “Dikatakan bahwa Nando dipukuli oleh dua orang dari luar kota, tetapi mereka hanya ada punya konflik kecil.”


“Hanya konflik kecil saja mereka memukul tuan muda Grup Athena?” Richard merasa bingung, “Nando pasti perlu dirawat di rumah sakit setelah dipukuli. Apa orang luar kota yang memukulnya sudah kabur?”


“Anehnya di sini. Nikita yang arogan itu malah nggak mempersoalkan hal ini dengan mereka dan membiarkan kedua orang luar kota itu pergi.”


“Hah? Bisa-bisanya Nikita diam begitu. Ini benar-benar aneh.” Ekspresi Richard berubah dan ini tidak beda dengan ekspresi Rafatar tadi.


“Ada lagi, Nikita sedang menjual sahamnya dan dibeli dengan harga murah oleh orang.”


“Kok dia mau menerima kerugian segede itu? Apa otaknya sudah rusak?” Richard semakin tidak paham.


“Benar!” Richard mengangguk, “Raf, kenapa Nikita bisa terpaksa? Apakah dia takut sesuatu? Tapi, mana mungkin?”


“Benar kata Tuan Richard! Nikita seharusnya sedang takut akan sesuatu, tapi Nikita nggak mengatakan apa-apa, dan juga nggak menyebarkan berita apa pun. Bahkan putranya Nando juga nggak tahu apa yang terjadi.” Rafatar sendiri juga tidak mengerti, “Aku mengutus orang untuk mendekati Nando, tapi dia memang nggak tahu apa-apa.”


“Aduh! Keluarga Nikita sudah kabur!” Rafatar terkejut ketika melihat pesan baru dari ponselnya.


“Kabur? Kok bisa?” Richard semakin bingung, “Kenapa harus kabur setelah menjual Grup Athena? Apa yang ditakutkan Nikita?”


Rafatar berdiri dan menghentakan kaki dengan gelisah, “Keluarga Nikita tiba-tiba meninggalkan Tomohon dengan mengendarai mobil. Lalu, dia meminta temannya untuk menjualkan vilanya, ini jelas kalau dia nggak ingin melakukan usaha di Tomohon lagi. Mungkinkah dia dipaksa pergi oleh PT. Teflaski?”


“Ya, PT. Teflaski memang memiliki latar belakang dan kekuatan besar. Sebenarnya nggak susah untuk memaksa Nikita pergi, tapi kenapa PT. Teflaski berbuat begitu? Sebelumnya perusahaan itu nggak bersedia melakukan bisnis di sini!” Richard semakin bingung.


“Alex!” Mata Rafatar tiba-tiba berbinar, “Tuan Richard, kita bisa berspekulasi seperti ini. Alex bersumpah akan mengakuisisi Grup Athena dalam tiga hari, kemudian dia berjanji akan memberi keuntungan pada PT. Teflaski dan meminta PT. Teflaski mengakuisisi Grup Athena secara paksa. Dengan begini, semua hal yang terjadi menjadi masuk akal.”


“Emang Alex sehebat itu? Yakin?” Richard nggak percaya, “Apa sudah jelas tujuan kedatangan Alex ke Tomohon sekarang?”


Rafatar menggelengkan kepala, “Oh ya, dia pernah ada kontak dengan Tuan Justin. Kemampuan bela diri orang ini sangat hebat. Dia juga pernah memiliki kontak dengan Aldo dan Abdul. Perlukah aku memanggil mereka kemari agar Anda bisa bertanya secara detail?”


“Oke! Aku jadi mulai tertarik dengan Alex.” Richard tersenyum sinis, “Jika dia datang ke Tomohon untuk melawanku, maka ini adalah pertunjukan besar.”


Rafatar mendengus, “Dia? Meskipun dia mengakuisisi Grup Athena sekali pun, emang dia bisa apa? Bisnis Tuan Richard nggak bisa dibanding dengan Grup Athena.”


Richard berkata dengan arogan, “Jika dia benar-benar mau melakukan pertunjukan besar ini, maka aku, Richard, akan menemaninya sampai akhir!”


“Tuan Richard, apa Anda mencariku?” Aldo tahu bahwa Richard memanggilnya, maka dari itu dia mau tak mau harus bersikap hati-hati.


Richard mengangguk, “Aldo, duduk. Kita hanya berbincang saja, ngapain kamu gugup begitu?”


Aldo tersenyum, “Tuan Richard, aku bukan gugup, melainkan hormat pada Anda.”


“Iya, aku tahu.” Richard mengangguk, “Kalau gitu aku akan terus terang saja. Kamu telah berhubungan dengan Alex baru-baru ini, kan?”


“Ya, Tuan Richard. Alex bukanlah orang sederhana, dia memiliki kemampuan bela diri yang hebat!” jawab Aldo dengan jujur.


“Kemampuan bela diri yang hebat? Seberapa hebat?” Ekspresi Richard sangat fokus.


Aldo berpikir secara teliti sebelum berkata, “Tuan Richard, aku merasa bertarung dengannya seperti bertarung dengan guru.”


“Hm?” Kali ini Richard juga ikut berdiri dengan sepasang mata berbinar, “Aldo, maksudmu kemampuan bela diri Alex ini sebanding dengan gurumu? Bagaimana mungkin?”


Aldo berkata, “Tuan Richard, aku pernah beradu tangan dengannya, aku yakin perasaanku nggak salah.”


“Haha, master ya! Nggak heran dia berani datang ke Tomohon dengan begitu” Ekspresi Richard sulit dimengerti.