Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Kecelakaan Lagi


Tambo berkata, “Konglomerat tingkat dunia pasti akan punya pengawal yang hebat di sisi mereka. Sampai saat itu tiba, kita perlu cari cara untuk mempekerjakan beberapa ahli untuk memulai pertarungan secara langsung dengan Alex!”


“Eh? Oke! Ghaston, kamu urus masalah ini!” Kennedy agak semangat, “Kirim surat perang pada Alex, waktunya tanggal 30 November malam, tempatnya… di stadion kita saja.”


Ghaston mengangguk, “Baik!”


“Tuan Alex, Ghaston mengirim orang untuk mengantarkan sebuah surat perang, silakan dilihat.” Martin mengambil sebuah surat perang dari tangan satpam, lalu menyerahkannya ke depan meja kantor Alex.


Alex mengangguk sambil tersenyum, dia membuka surat perang itu dengan santai, “Hm? 30 November? Udah ngak banyak waktu dong! 3 ronde? Wah, bagus banget!”


Bisa membuat Kennedy tidak bersuara setelah kematian kedua putranya, sebenarnya karena Alex telah membangun status tertinggi di masyarakat, reputasi dan kepercayaannya semakin hari semakin meningkat.


Namun, di sisi Kennedy, dia sama sekali tidak mengurangi tindakan memata-matai Alex serta eksekutif PT. Atish, dia mencoba untuk mengendalikan tindakan sekecil apapun di dalam PT. Atish.


Walaupun Alex berada di bawah pengawasan pihak polisi dan keluarga Mahari, tapi dia tetap bertindak semaunya, jalan-jalan, berbelanja, bahkan masih keluar untuk mencari hiburan, seolah-seolah dia tidak menganggap ini serius.


Hal ini membuat mata-mata keluarga Mahari sangat emosi! Yudi dari pihak kepolisian juga merasa Alex terlalu sombong! Bisa tidak rendah diri sedikit di saat khusus seperti ini?


Tentunya, cara pengawasan kedua belah pihak juga berbeda.


Pengawasan dari pihak keluarga Mahari sepenuhnya berada dalam kegelapan, mereka tidak berani menghadapi Alex.


Sedangkan utusan Yudi, ada kalanya secara langsung, terang-terangan membuat Alex jelas kalau kami sedang mengawasimu!


Jadi ya lihatlah, Alex terlihat sedang jalan-jalan, kemudian masuk ke salah satu toko makanan cepat saji di tepi jalan, dan hendak makan.


Alhasil, Yudi membawa seorang polisi berseragam masuk ke dalam.


Yudi yang berseragam polisi langsung duduk di hadapan Alex tanpa permisi, “Halo, Tuan Alex.”


Alex sudah selesai memesan makanan, dia sengaja melihat ke kiri dan kanan seolah tak melihat kehadiran Yudi, lalu berkata sambil mengernyitkan dahi, “Kok aku ngerasa kayak ada 2 ekor anjing yang gigit ya?”


“Kamu!” bentak Yudi. Bentakannya seketika membuat pelanggan di sekitar terkejut dan menjadi tenang.


Alex berkata, “Mengganggu orang makan sangat tidak sopan.”


Yudi sungguh murka, dia menatap mata Alex dan berkata dengan nada berat, “Alex, kamu juga ngak perlu berlagak di depanku. Cepat atau lambat aku pasti akan menemukan bukti perbuatanmu dan memenjarakanmu!”


Alex mengibaskan tangan seperti mengusir serangga, “Sudah, aku tahu kok, kuharap kapten Yudi bisa melakukannya. Pesananku sudah datang, kamu yakin mau mengangguku makan?”


Yudi melanjutkan perkataannya, “Andreas dan Nelson adalah ahli, orang yang bisa membunuh mereka tanpa ketahuan hanya kamu, Alex.”


Alex mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Eh, kapten Yudi, kamu bodoh ya? Emangnya Tambo ngak bisa melakukannya? Kamu kok merendahkan ahli nomor satu kota Medan?”


“Kamu…” Saat Yudi masih ingin membalas, Alex menunjuk ke arah pintu , maksudnya: Silakan.


Yudi hanya bisa pergi dengan marah, dia duduk di dalam mobil polisi yang berada di luar restoran cepat saji dan merajuk.


Tidak bisa menemukan bukti tuduhan Alex, tidak ada kemajuan selama berhari-hari mengawasinya, setiap menghadapi Alex, dia pasti adalah orang yang kalah, dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa!


“Tuan Alex, orang tua Tika kecelakaan!” Suara Jasmin di telepon terdengar agak panik.


“Apa? Di mana?” Alex hanya memakan setengah porsi makanannya, lalu tiba-tiba bangkit dari kursi, “Kirim lokasinya padaku, aku akan segera kesana!”


“Oke.” Jasmin segera memutuskan panggilan dan mengirimkan lokasi.


Alex sama sekali tidak menyalahkannya, meskipun Alex menyuruhnya melindungi orang tua Tika, tapi hal di luar dugaan pasti akan datang, Jasmin juga bukan Tuhan yang bisa mencegah terjadinya kecelakaan.


Lalu lintas di kota Medan seharusnya tidak terlalu padat, jadi Alex butuh lebih dari 20 menit untuk sampai di tempat kejadian.


Kedua orang tua itu telah dilarikan ke rumah sakit, Jasmin telah meminta orang untuk mengikutinya, sedangkan dia sendiri tetap tinggal di sana untuk penyelidikan bersama pihak polisi.


“Tuan Alex! Mereka kecelakaan di sini! Eh, itu dia pelaku tabrak larinya!” Jasmin menunjuk seorang pemuda yang sedang merokok sambil berjongkok di bawah pohon sekitar 8 meter jauhnya di depan.


“Ini pembunuhan.” ujar Alex yakin.


Jasmin berkata, “Tapi ngak ada yang aneh dari pengemudi itu.”


“Ngak ada keanehan ya.” Alex berjalan menghampiri pengemudi itu.


Pengemudi itu tidak tinggi, wajahnya terlihat cemberut. Melihat kedatangan Alex, dia segera berdiri dan meringkuk sedikit, tampak tak berdaya.


Alex turun tangan dengan marah dan langsung meraih kerah leher pengemudi muda itu, "Katakan, apa yang terjadi?"


“Ah? Aku ngak bermaksud begitu! Mereka menyeberang jalan dan aku ngak sempat mengerem! Aku ngak punya uang, ngak bisa ganti rugi! Uhuhu!” Pengemudi muda mulai menangis.


Tetapi saat dia menangis, kok tidak ada air mata?


Melirik sedan BYD F3 penyebab kecelakaan, dan melihat bagian depan mobil sudah ambruk di beberapa tempat, dan masih banyak noda darah di depan mobil.


Alex menamparnya, "Menyebrang katamu? Kamu pikir kamu ngak punya tanggung jawab?"


"Hentikan!" Yudi bergegas menghampiri, dengan kuat menggenggam lengan Alex, "Bicarakan baik-baik, jangan main tangan!"


“Dia pelakunya!” teriak Alex.


Yudi merasa lengan Alex sekuat baja, dan dia tidak bisa mengguncangnya sama sekali, tapi dia masih memegangnya dengan sekuat tenaga, "Kenapa pelakunya? Kamu ngak punya hak untuk memukulnya! Tindakanmu ini melanggar hak pribadi!"


Alex kembali tenang dalam sekejap, dan berkata dengan dingin, "Kamu juga melanggar hak pribadiku dengan menggangguku menangani masalah."


Yudi melambaikan tangannya, "Bawa pergi!"


Dua petugas polisi datang dan membawa pergi pengemudi tersebut.


Begitu pengemudi yang menyebabkan kecelakaan itu pergi, Alex, yang sangat sensitif, melihat ekspresi kemenangan di matanya, hah? !


Dia tidak berniat berkomunikasi dengan polisi lalu lintas tentang pembagian tanggung jawab atas kecelakaan itu. Dia duduk di dalam mobil bersama Jasmin dan berkata, "Pasti keluarga Mahari telah menyadari Tika. Itu sebabnya mereka menyakiti orang tuanya karena ngak bisa menemukan Tika."


Jasmin mengangguk, "Tika sudah cukup menyedihkan, dan keluarga Mahari masih ngak mau melepaskannya."


Alex berkata, "Segera kirim seseorang untuk menyelidiki pengemudi itu. Yang penting periksa apa dia tiba-tiba menerima sejumlah uang!"


“Oke!” Jasmin segera menelpon seseorang.


Alex bertanya-tanya bagaimana menjelaskan berita buruk ini kepada gadis malang itu? Bisakah dia menerima pukulan sebesar ini?


Beberapa menit kemudian, berita datang dari rumah sakit: Orang tua Tika, satu meninggal dan satunya terluka parah!