Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Mengambil Keuntungan Dalam Kesempitan


Adi mendongakkan kepala sambil menghela nafas panjang. Dia merasa waktunya juga telah tiba dan tiba-tiba berkata, “Tuan Alex, aku punya sebuah permintaan, aku harap kamu bisa merawat putraku!”


Berkata hingga di sini, Adi tiba-tiba berlutut di depan Alex dan belati juga telah menembus ke jantungnya, lalu ia terjatuh di lantai. Tubuhnya kejang beberapa saat sebelum terdiam tak bergerak lagi.


“Boss!” Hoki dan yang lainnya nggak berani berhenti bersujud, tapi hitungan mereka hampir menjadi kacau.


Meskipun Jaz sedang menangis sedih, dirinya nggak berani salah hitung sama sekali.


Dalam hati mereka, Alex bagaikan iblis yang menggantung tinggi di atas kepala mereka, membuat mereka nggak berani melarikan diri.


 “Setelah selesai bersujud dua ribu kali, kuburkanlah Bos Adi kalian,” ujar Alex dengan tegas.


“Iya, iya, iya … 631 … 632 …!”


Hoki bertugas untuk menghitung dan tiga saudara lainnya mengikuti Hoki bersujud, nggak ada satu orang pun yang berani bersujud sembarangan.


Nova tidak tergesa-gesa sama sekali. Dia terus menunggu mereka selesai bersujud baru menyeka air matanya dan hendak pergi.


Alex berkata, “Jaz, kalian berhutang tiga nyawa terhadap keluarga Willim.”


“Hah?” Sekujur tubuh Jaz bergemetaran karena terkejut. “Bos … Bos Alex, apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?”


Alex berkata, “Nova termasuk keturunan mereka, jadi aku merasa Adi harus memberikan kompensasi finansial terhadap Nova.”


“Baik! Katakanlah harus bagaimana menebusnya?!” Pada waktu seperti ini, bagaimana mungkin Jaz masih berani melawan?


Hoki dan lainnya saling bertatapan dan tidak berani melawan.


Alex berkata, “Soal uang, kamu setidaknya harus memberikan kompensasi sebesar lima puluh miliar rupiah pada Nova. Terus, aku ingin pergi ke keluarga Lucky untuk melihat. Jika ada benda pusaka yang disukai Nova, maka kalian juga akan memberikannya padanya.”


“Baik!” Jaz langsung menyetujuinya. “Aku segera panggil orang untuk mengambil jenazah ayahku, lalu pulang ke rumah untuk melakukan pemakaman dan sekaligus memenuhi permintaan Bu Nova.”


Awalnya, Nova ingin langsung menolaknya, tapi karena Alex telah mengatakannya, maka dia tidak menolak lagi. Dia juga tidak keberatan untuk menerima uang yang banyak dari keluarga Lucky, karena keluarga Lucky telah berhutang banyak terhadap Willim.


“Tuan Muda Jaz! Ada apa dengan Bos Adi?” Saat dua puluhan pemuda kekar melihat situasi di lokasi seperti ini, seorang pemimpin yang berkepala botak bertanya dengan tegas.


“Jangan banyak bacot di sini, cepat angkat Bapak ke dalam mobil. Terus, bawa kami berlima ke dalam mobil juga.” Jaz langsung memerintah.


“Baik!” Si botak langsung menjawab dan menyuruh para saudaranya bekerja. Kemudian, dia mendekati Jaz dan berbisik, “Tuan Muda Jaz, ada apa dengan satu pria dan wanita itu? Apakah mereka yang membunuh Tuan Besar?”


Ia bertanya seolah-olah berencana ingin membalaskan dendam ‘Tuan Besar’.


Jaz memelototinya dengan getir, “Botak, kenapa kamu begitu banyak bicara?! Apakah kamu nggak melihat semua kaki empat pengawal terhebat dan aku telah patah? Jika kamu berani membuat masalah lagi, aku mungkin akan mati!”


Jaz melihat ke arah Alex, “Dia adalah Alex, Tuan Alex, yang telah mengalahkan Raja Kaki Utara, Dodo Tamiang.


“Sshhh!” Si botak mendesis. “Tuan Alex? Ya ampun! Bukankah Bos Adi pergi ke Tomohon untuk mengantarkan hadiah pada Tuan Alex? Kenapa jadi begini?”


Saat Si botak sedang melakukan pekerjaannya, dia sengaja menjauh dari Alex. Raja Kaki Utara telah menjadi dewa di Provinsi Sulawesi Utara. Orang yang bisa mengalahkan Raja Kaki Utara pasti dewa terhebat di antara semua dewa. Lihatlah sekarang, dia nggak hanya membuat Bos Adi bunuh diri, bahkan Tuan Muda Jaz juga ketakutan hingga nggak berani melakukan apa pun! Wajah keempat pengawal terhebat juga babak belur.


Alex mengendarai mobil mengikuti tim mobil keluarga Lucky memasuki halaman keluarga Lucky.


Jaz nggak menyembunyikannya lagi dan langsung mengambil kunci ruang kerja Adi di tubuh Adi. Setelah itu, dia menyuruh orang mengangkat dirinya masuk ke dalam ruang kerja, “Tuan Alex, semua koleksi benda pusaka ayahku ada di dalam ruang kerjanya. Terus, mengenai uang tunai aku harus menyuruh orang untuk berdiskusi dengan pihak bank. Aku rasa hari ini mungkin akan sangat sulit untuk mendapatkan uang tunai dalam jumlah yang besar.”


“Baik.” Jaz melihat waktu sekilas. “Sekarang jam enam pagi, aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya begitu bank buka.”


“Hm.” Alex menganggukkan kepala. “Aku tetap tinggal di hotel itu. Kamu langsung antarkan ke sana setelah selesai melakukannya.”


Alex akhirnya membawa Nova pergi. Jaz menghela nafas lega. Dia tiba-tiba membelalak mata dan berteriak, “Botak, apakah kamu idiot? Cepat bawa aku ke rumah sakit! Paman Hoki dan lainnya juga memerlukan perawatan! Ayo cepat!”


Setelah kembali ke dalam kamar, Alex langsung tidur dan mulai mendengkur. Saat Nova mengenakan piyama berjalan masuk, dia melihat Alex tertidur lelap. Dia mau nggak mau meringkuk di sisi Alex sambil memeluk pinggang Alex dan tidur lelap.


“Kring … kring!” Telepon di samping kasur berdering.


Rasa kewaspadaan Alex sangat tinggi sehingga dirinya langsung terbangun. Begitu menggerakkan tubuhnya, dia merasa ada wanita cantik yang lembut di dalam pelukannya. Dia tiba-tiba terkejut, “Uhh, kamu … Nova, kenapa kamu tidur di sini?”


Nova membuka mata indahnya, kerah piyamanya terbuka dan menampakkan asetnya sekilas. Namun, Nova menunjuk ke telepon.


Alex mengangkat telepon dan menjawab, “Halo?”


“Tuan Alex, wesel yang Anda inginkan telah sampai, aku akan segera mengantarkannya pada Anda.” Ada suara yang sangat hormat berbunyi.


“Iya, antarkan kemari saja.” Alex menutup telepon. Nova memandang Alex dengan sorot mata main-main untuk menunggu Alex merangkak naik.


Alex ragu sejenak dan membalikkan tubuh untuk pergi.


Nova berteriak, “Kamu mau pergi ke mana?”


Alex juga tidak memalingkan kepalanya, “Aku pergi ambil wesel.”


Kemudian, suara ketukan pintu berbunyi pada saat ini, Alex berkata, “Masuk!”


Namun, dia masih menggunakan tubuhnya untuk menutupi pintu.


Nova di atas kasur juga segera menarik selimut untuk menutupi dirinya.


“Tuan Alex, Tuan Muda Jaz menyuruhku mengantarkan ini kemari.” Seorang pria separuh baya yang sangat cerdas memberikan selembar wesel bank pada Alex dengan sepasang tangannya.


“Hm.” Alex menerimanya.


Pria separuh baya itu berkata, “Tuan Alex, masih ada beberapa barang yang disukai Bu Nova, kami juga telah mengutus orang untuk mengantarkannya ke PT. Atish dan akan segera menerima laporan.”


“Baik, jika tidak ada apa-apa lagi, kamu sudah boleh pergi.” Alex melambaikan tangannya. Pria separuh baya itu tiba-tiba merasa lega. Dia membungkukkan tubuhnya dengan hormat pada Alex dan mundur beberapa langkah ke belakang baru membalikkan tubuhnya untuk pergi.


“Nah, ini adalah wesel kamu. Kamu boleh menyimpannya ke dalam rekeningmu di lain hari.” Alex meletakkan wesel bank itu di atas meja samping kasur.


“Hmm? Aku nggak bisa menerima uang ini.” Nova tersenyum menawan. “Aku seorang polisi dengan gaji yang kecil. Jika tiba-tiba ada puluhan miliar atas namaku, aku rasa Badan Pemeriksa Keuangan pasti akan datang menyelidikiku.”


“Jadi, kamu bantu aku simpan uang ini saja.” Nova membalikkan tubuh turun dari kasur, memeluk pinggang Alex dan memberikan bibir manisnya.


“Hei! Jangan.” Tubuh Alex menjadi kehilangan keseimbangan karena tindakan Nova dan terjatuh bersamanya ke atas kasur.


Sekarang sudah jam sembilan lewat dan jam sarapan pagi juga sudah berakhir. Ini benar-benar olahraga pagi yang menyenangkan.