
Damian sebenarnya sedang menguji kemampuan Alex ketika terjadi kontak fisik antara keduanya. Dia sebenarnya juga terus menguji kekuatan Alex sedari tadi, oleh karena itu dia nggak menggunakan tenaga kuat untuk berjabat tangan dengannya. Namun, pengujian yang dilakukannya sangatlah terampil, sedangkan Alex yang bisa merasakan dengan jelas bahwa dia sedang mengujinya pun tetap berpura-pura nggak tahu.
Setelah diuji, Damian mengetahui bahwa kemampuan Alex seperti laut dalam yang tak bisa diprediksi!
Keyakinannya semakin kuat. Dengan adanya master sehebat ini, setidaknya bisa melawan Raja Kaki Utara.
Mereka berdua menghabiskan masing-masing satu botol bir. Alex memutuskan untuk berhenti minum, sedangkan wajah Damian sudah memerah dan sedikit mabuk. Kemudian, mereka berdua keluar dari restoran, lalu Damian berkata, “Tuan Alex, meskipun sudah malam, tapi aku masih ingin mengundangmu berkunjung ke PT. Makmur-ku, sekalian biar para eksekutif itu mengenalmu.”
“Nggak usah! Damian, menurutku, justru kamu bisa berkunjung ke tempatku. Sebagai cabang PT. Atish, gedung itu masih kosong dan perlu menunggu banyak karyawan untuk bergabung. Selain itu, meskipun aku sudah mengakuisisi Grup Athena, tapi aku juga membutuhkan waktu untuk mengatur ulangnya.” Alex melihatnya, lalu melanjutkan “Kelak, kamu akan menangani ini semua, apa kamu bisa mengelolanya dengan baik?”
“Hm? Bisa dong!” Yang Damian ketahui adalah PT. Makmur yang didirikannya setelah bertahun-tahun dengan susah payah seimbang dengan Grup Athena. Sedangkan Alex bisa-bisanya mengakuisisi Grup Athena semudah itu! Selain itu, dia bahkan meminjam tangan PT. Teflaski untuk mengakuisisi Grup Athena itu!
“Aku akan membawa orang ke sana besok pagi. Tuan Alex, gimana menurutmu?” Damian menjelaskan, “Aku baru saja minum begitu banyak bir, nggak baik kalau pergi ke sana dengan bau alkohol.”
“Oke! Gitu saja.” Alex kembali ke gedung yang dibeli Andi setelah berpisah dengannya.
Segera, Andi melihat Alex melalui CCTV, lalu berbicara dengannya melalui CCTV, “Bos, kamu masih tahu pulang ke sini toh?! Jangan-jangan kamu ke luar buat nyari cewek cantik ya?”
Alex melirik ke arah CCTV itu, lalu mengabaikannya dan masuk ke dalam lift.
“Eh? Kok tumben bos berubah jadi begitu sombong gitu, dia bahkan mengabaikanku!” Suara Andi terdengar dari lift CCTV.
“Fasilitas CCTV di dalam gedung cukup baik,” puji Alex.
“Eh! Hahaha! Nah, gitu dong! Yang kuundang ‘kan orang profesional! Bos, aku ada di kamarmu, cepatlah kemari!” ucap Andi dengan sangat antusias.
“Ngapain kamu di kamarku?” Alex mengerutkan kening.
“Nanti juga kamu tahu!” Andi menunjukkan tampang misterius.
Ketika Alex membuka pintu kamar dan melihat Erika beserta Friska di dalam, dia pun berkata dengan kaget, “Erika? Friska? Kenapa kalian nggak bilang dulu kalau mau datang?”
Sepasang mata indah Erika tertuju pada Alex.
Friska berkata, “Kami datang ke sini secara rahasia dan nggak memberitahu siapa pun.”
“Oh, baiklah jika sudah datang. Malam ini, istirahat dengan baik dulu karena besok masih ada hal yang perlu dilakukan.” Ucap Alex sambil melihat ke arah Andi.
Andi menjelaskan, “Aku juga baru tadi melihat kakak ipar tiba. Sebenarnya mereka baru tiba belasan menit dan aku belum sempat melaporkan hal ini padamu.”
Friska melihat ke arah Alex, lalu berdiri dan hendak pergi, “Oke deh. Karena sudah berhasil mengantar Erika ke sisi Dirut Alex, maka mari semuanya beristirahat dulu.”
Alex berkata, “Eh! Fris, tunggu bentar.”
Friska tercengang, dalam hati dia berpikir: Apakah dia ingin memintaku untuk tinggal?
Alex berkata, “Aku sudah menemukan seorang penanggung jawab di Tomohon, dia akan datang besok, jadi kamu dan Erika perlu bertemu dengannya.”
“Ah, oke! Jam berapa?” Dalam hati Friska sangat kecewa.
Alex berkata, “Namanya Damian Rinal, katanya dia akan datang besok pagi, sepertinya akan tiba pukul 7.”
“Oke, sip.” Friska merasa cemburu saat dia berbalik dan hendak pergi. Erika dan Alex pasti akan bersenang-senang malam ini, sedangkan dirinya sangat ngenes karena nggak bisa mendapatkannya.
Friska yang kembali ke kamarnya terus memikirkan adegan Erika dan Alex mandi bersama saat dirinya sedang mandi. Semakin dipikir, semakin dia menginginkannya dan tenggelam dalam lamunan itu.
Dia menyetel alarm untuk pukul 7 pagi, tapi dia tidak bisa tidur karena ilusi yang muncul di depannya selalu adegan Alex dan Erika bersenang-senang…
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia terbangun karena kaget, lalu mengambil telepon dan menjawabnya dalam keadaan linglung, “Halo?”
Suara Erika terdengar dari seberang telepon, “Ih? Kok kamu belum bangun? Masih ngantuk ya? Cepetan deh, Damian sudah tiba.”
“Kok pagi banget?” Friska melihat jam, rupanya sudah jam 06.50! Dia segera berdiri, dan berpikir: Biasanya aku bakal bangun tepat waktu jam 6.30, kok tumben hari ini molor? Apa efek tidur kemalaman ya?
Setelah bersiap-siap lebih dari 20 menit, Friska akhirnya datang ke kantor di lantai satu dengan pakaian rapi dan riasan cantik.
Di sisi Damian terdapat dua pria dari Timur Laut dengan postur tubuh yang sangat bagus. Keduanya terlihat berusia sekitar 27 atau 28 tahun. Mereka berdua sedikit berjanggut dengan sepasang mata yang bercahaya. Mereka berdiri di sisi Damian dengan penuh semangat.
“Wah! Kak Damian pagi sekali kamu datangnya, ayo silakan duduk. Jangan berdiri terus.” Alex dan Erika muncul pada saat yang sama. Terutama Erika, dia adalah sosok wanita yang menawan di mata Friska.
Friska berkata dalam hati: Wanita yang dicintai memang cantik!
Damian tetap berdiri tegak, lalu berkata “Halo, Tuan Alex! Perkenalkan, mereka berdua adalah muridku, yang ini namanya Marvel Pranata dan satu lagi Markus Pranata. Mereka berdua kakak adik.”
Alex mengangguk dan berjabat tangan dengan mereka berdua.
Damian sudah memperkenalkan pada Marvel tentang kemampuan Alex yang hebat.
Tapi, Marvel merasa kemampuannya kini sudah seimbang dengan gurunya, jadi bisa seberapa hebat Alex? Oleh karena itu, dia tiba-tiba mengencangkan jabatannya tangannya dengan sekuat tenaga!
Friska dapat melihat trik yang dimainkan Marvel. Dia tertawa diam-diam dalam hati: Bisa-bisanya ingin menunjukkan kemampuan di depan Alex, sungguh konyol!
Dia dapat melihat jelas dari samping bahwa Marvel sudah menggunakan kekuatan yang sangat besar sampai urat nadi di dahinya melonjak dan tangan kanannya gemetar.
Sebaliknya, Alex masih berekspresi tenang. Dia bahkan tidak terlihat mengeluarkan kekuatan dan masih bisa bercanda, “Wah, kekuatan tangan Marvel sungguh kuat.”
Marvel terkejut! Dengan kemampuan grand master tingkat awalnya, dia sudah bisa menghancurkan papan dari kayu mahoni, maka dari itu tangan manusia biasa pasti akan berubah bentuk!
Namun, tangan Alex seperti tiba-tiba kehilangan bentuk, sehingga kekuatan besarnya kehilangan target.