
Kakek Nova bernama Ismail, Beliau adalah seorang eremit dan juga merupakan guru pendamping Nova.
Tuan Ismail tidak suka kehidupan perkotaan yang ramai, jadi Beliau menetap di sebuah Desa yang terpencil, Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu, dan sekarang Beliau hidup sendirian.
Tuan Ismail sangat menyayangi cucunya, Nova. Saat mengetahui Nova akan datang, dia segera menyiapkan semeja makanan untuk menyambutnya.
Nova, Alex dan juga Erika sampai di rumah pada siang hari, setelah temu kangen dengan sang Kakek, Nova mulai menceritakan kondisi penyakit Erika, Tuan Ismail seketika jadi khawatir, “Walaupun dokter jenius ini pernah menyembuhkanku, tapi orang ini sangat aneh, selain itu dia juga sering mencari obat-obatan di gunung, dan itu akan memakan waktu beberapa hari. Aku coba telepon dulu liat dia ada di rumah atau tidak.”
Tuan Ismail menelpon ke rumah dokter jenius, yang menjawab telepon adalah cucunya, Christie. Dia memberitahu Tuan Ismail kalau Kakeknya pergi mencari obat-obatan di gunung sejak kemarin, jadi mungkin akan pulang 2-3 hari lagi.
Sebelum menutup telepon, dia mengatakan akan menelpon balik Tuan Ismail setelah Kakeknya pulang.
Alex dan Nova berdiskusi, karena tidak tahu kapan dokter jenius tersebut akan pulang, jadi mereka akan tinggal sementara di rumah Kakeknya Nova selama 2 hari.
Alex berkata pada Nova, “Nov, kamu juga punya urusan pribadi, pergilah. Aku dan Erika akan menunggu di sini.”
Nova berkata, “Baiklah, aku kasih tahu Kakek dulu, saat dokternya pulang, aku akan meminta tolong Beliau untuk mengantar kalian berobat ke Gunung Pandani.”
Setelah selesai dengan urusannya di sini, Nova kembali ke Jakarta seorang diri. Sedangkan Alex dan Erika menginap semalam di rumah Tuan Ismail, siang keesokan harinya, Tuan Ismail memberitahu kabar gembira kepada keduanya bahwa Christie baru saja menelpon dan berkata kalau Kakeknya sudah pulang.
Alex sangat gembira mendengarnya, “Tuan, kalau begitu apa kita bisa berangkat hari ini?”
Tuan Ismail berkata, “Tentu saja. Kereta sapinya sudah kusiapkan, jalan pegunungan menuju Gunung Pandani tidak bisa dilewati mobil.”
Alex berterima kasih, “Terima kasih banyak, Tuan Ismail.”
Setelah makan siang, ketiganya pun berangkat. Tuan Ismail meminjam sebuah kereta sapi dari warga lainnya, lalu mengantar Alex dan Erika ke Gunung Pandani.
Desa ini tersebar di seluruh wilayah Gunung Pandani, total penduduknya sekitar 2000 jiwa, dengan total 9 kelompok yang menyerupai sebuah kampung.
Gunung Pandani adalah sebuah gunung besar yang membentang hingga ratusan kilometer sampai ke laut, gunung di sini tinggi-tinggi dan hutannya juga lebat, orang-orang yang tidak terbiasa dengan tempat ini pasti akan tersesat.
Sambil mengendarai kereta sapi, Tuan Ismail berkata, “Jarak dari rumahku ke rumah dokter jenius puluhan mil, jalannya sangat sulit dilalui karena ada sebagian jalan yang tidak diperbaiki, mobil biasa tidak akan bisa melaluinya, sapi ini sangat kuat, tidak akan ada masalah jika membawa kita kesana.”
Jalan pegunungan ini memang sulit dilalui, Alex baru menyadari kalau selain jalannya tidak rata, di bagian tengah jalan juga terdapat banyak genangan air, mobil biasa ataupun motor sama sekali tidak bisa melewatinya.
Kereta jadi semakin goyang begitu kecepatan ditambah, Alex melihat tubuh Erika yang terombang-ambing seperti hampir hancur dan juga kedua tangannya yang memegang erat pegangan besi.
“Tuan, kapan kita akan sampai?” tanya Erika, jika terus begini, dia akan kewalahan. Untuk mencegah sakit kepala, dia kemudian menutup mata.
Tuan Ismail menjawab, “Sebentar lagi, kira-kira setengah jam.”
Erika hanya bisa menahan guncangan ini, perjalanan ini memakan waktu hampir 2 jam, dan tulang-tulang tubuhnya seolah patah berserakan akibat guncangan di sepanjang jalan, untungnya Desa tujuan mereka sudah sampai. Kereta sapi menaiki sebuah tanjakan jalan gunung, dan di depan mereka sudah terlihat bangunan-bangunan rumah khas desa tersebut, pemandangannya mirip dengan dunia kahyangan yang ada dalam cerita rakyat.
Langit akan cepat menggelap di daerah pegunungan, dan hari yang cerah mulai perlahan digantikan dengan malam. Erika membuka matanya setelah Tuan Ismail mengurangi kecepatan kereta, wajahnya yang cantik nan mempesona menoleh, lalu menyampingkan badan menghadap Alex, saat melihat Desa di depannya, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. “Lex, kita sudah sampai?”
Alex menjawab, “Ya, kita sudah sampai.”
Tuan Ismail mengendarai kereta sapi hingga ke Tim produksi 3, lalu berkata, “Ketua tim produksi di sini teman lamaku. Hubungannya dengan dokter jenius sangat baik, kita mampir dulu ke rumahnya sebentar. Nantinya baru ke rumah dokter sama-sama.”
Ketua tim produksi telah memanggil semua kerabatnya ke rumah begitu mengetahui teman lamanya akan datang, dia juga menyiapkan makan malam yang terbilang mewah. Sekitar 20 an orang dari tua hingga muda berkumpul di depan rumah dengan pakaian baru, senyum sumringah terlihat jelas di wajah mereka semua.
Erika tersentuh dengan adat istiadat mereka yang sederhana dan murni, dia berjalan mendekat dan bersalaman dengan semuanya, serta mengobrol. Yang membuatnya terkejut adalah banyak warga yang sudah lanjut usia tidak mengerti dengan bahasanya.
Alex sudah membuat persiapan demi mengobati penyakit Erika. Beberapa hari ini dia telah membeli tidak sedikit hadiah. Di dalam tasnya ada belasan alat pembelajaran bahasa inggris portable yang bagus, benda-benda seperti ini adalah barang langka di pedesaan terpencil. Karena tahu akan kesulitan ekonomi di sini dan juga kondisi keluarga para siswa di sekolah, jadi sangat jarang ada yang membelikan alat seperti ini untuk anak-anak mereka, makanya saat hendak datang kemari, Alex membawa lebih banyak barang ini. Hadiah-hadiah ini diberikan semua kepada murid-murid yang sedang bersekolah, hal ini membuat para orang tua sangat senang.
Setelah ketua tim produksi berbincang dengan Tuan Ismail, dia kemudian mengantar Alex dan Erika menemui dokter jenius.
Dokter tersebut tidak tinggal di tim produksi 3, melainkan di tim produksi 9 yang berada di belakang gunung yang juga merupakan daerah paling jauh dan terpencil di tempat ini.
Tuan Ismail berkata, “Alex, Erika, aku sudah memberitahu kalian sebelumnya. Dokter jenius sungguh aneh, dia tidak menerima sembarangan orang, jadi kalian harus punya persiapan.”
Alex bertanya, “Kenapa dia tidak mau mengobati orang luar? Tuan, bukannya Anda juga orang luar?”
Tuan Ismail berkata, “Pas mengobatiku, dia belum membuat sumpah ini. Hah, ceritanya panjang.....”
Ketua tim produksi berkata, “Keluarga dokter jenius pernah disulitkan oleh para pejabat di luar sana, oleh karena itu dia bersumpah tidak akan mengobati orang luar. Namun, kalian tidak perlu khawatir, aku berhubungan baik dengannya, aku akan membantu kalian nanti.”
Erika malah tampak tak peduli, dia terlihat seolah-olah hal ini tidak ada hubungannya dengannya. Dia lebih memperdulikan masalah pendidikan, jadi dia bertanya kepada ketua tim produksi, “Bagaimana kondisi sekolah kalian? Ada berapa siswa dan guru?”