Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 583 Membuat Rusuh di Lokasi Konstruksi


Alex melihat ekspresi Hengki dan merasa agak bingung. Bagaimanapun, dia telah meminta Huayu untuk pergi ke biro real estat untuk memastikan semua tanah di sini milik negara dan telah diterapkan pada PT. Atish untuk pembangunan.


Kenapa sekarang malah muncul sekelompok penduduk setempat di sini?


Ini membuatnya sangat bingung, tentu saja dia ingin mencari tahu.


"Tapi kami sudah mengajukan permohonan untuk tanah ini secara resmi. Tanah ini milik negara, aku yakin akan hal ini!" Alex tersenyum, "Jadi aku ingin tahu apakah ada kesalahpahaman di sini atau barangkali salah orang?"


Hengki mencemooh, "Kamu bilang milik negara ya milik negara? Kami adalah penduduk desa ini, mana mungkin kami nggak tahu tanah kami sendiri?"


Alex hanya bisa mengabaikan masalah menjengkelkan semacam ini. Dia menoleh ke tim konstruksi dan berkata, "Pergilah ke tempat lain. Aku akan membereskan sesuatu di sini sesegera mungkin. Ini nggak akan memengaruhi masa konstruksi."


Ini baru membuat para pekerja konstruksi meninggalkan tempat ini, sementara kelompok Hengki masih berdiri di sini dengan teguh dan sama sekali tidak berniat untuk pergi.


Alex berpikir sejenak, kemudian mencondongkan tubuh ke depan dan berkata, "Kak, kalian ini pasti hanya ingin uang. Sebutkanlah harganya, berapa yang harus kami bayar untuk tanah ini?"


Hengki langsung tersenyum setelah mendengar ini, "Kalau ingin kami menyerahkan tanah ini, boleh. Kami nggak ingin banyak, cukup beri kami 20 triliun rupiah, kami akan memberikan tanah ini kepadamu."


Alex tersenyum, "Bukankah 20 triliun rupiah ini terlalu besar? Kami nggak punya banyak uang. Kamu juga tahu kalau kami membeli sebidang tanah itu dengan uang dari pinjaman bank."


Hengki berkata dengan sinis, "Lelucon apa itu? Apakah kamu pikir aku nggak tahu? Kamu sama sekali nggak meminjam bank dan kekuasaan PT. Atish masih begitu besar. Aku tahu hal ini!"


Senyuman Alex melebar, "Jadi bagaimana kamu sebagai orang biasa bisa tahu PT. Atish nggak menggunakan pinjaman bank untuk membeli tanah?"


Raut wajah Hengki berubah, tetapi dia langsung berkata, "Bukankah ini sesuatu yang dapat dengan mudah diketahui? Semuanya sudah disebutkan di berita."


Alex mengangguk, "Aku juga tahu berita yang kamu katakan, tapi aku nggak ingat berita itu pernah menyebutkan apakah kami membelinya dengan pinjaman atau pembayaran penuh, hanya menyebutkan PT. Atish membeli tanah itu."


Raut wajah Hengki menjadi semakin buruk dan bergegas mengubah topik pembicaraan, "Jangan banyak bicara lagi, cukup katakan apa kamu akan memberikannya atau nggak. Kalau nggak, kami nggak akan pernah menyerahkan desa ini. Walau ada pihak resmi datang, mereka nggak berhak untuk merebut tanah kami!"


Alex merasa tidak berdaya. Dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, jadi dia mengeluarkan ponselnya, "Karena sudah seperti ini, aku akan memanggil pihak resmi kemari. Lagipula, masalah seperti ini lebih baik diselesaikan oleh para pihak resmi."


Hengki tidak pernah berpikir bahwa Alex benar-benar akan memanggil pihak resmi datang. Dia mengira tanah yang diperluas Alex ini dibangun oleh Alex sendiri.


Tanpa ada persetujuan dari atasan.


Akan tetapi sekarang, sepertinya Alex telah memperoleh persetujuan resmi untuk memperluas cakupan konstruksi.


Untuk sesaat, Hengki agak kewalahan. Bagaimanapun, dia sendiri tahu kalau pihak resmi datang datang untuk memverifikasi, mereka tidak akan bisa bertahan.


Melihat bahwa Alex benar-benar menelepon, dia langsung bergegas maju dan ingin merebut ponsel Alex. Sayangnya, Hengki hanyalah orang biasa dan gerakan Hengki terlihat sangat lambat di mata Alex.


Alex tersenyum dingin, "Ingin mengambil ponselku? Mimpi!"


Pada saat ini, Hengki jatuh ke atas lantai dan meratap, "Dia memukulku! Bos berhati kejam ini memukulku!"


Semua orang yang datang bersama Hengki berkumpul dan menunjuk ke arah Alex, "Bagaimana kamu bisa melakukan hal ini? Kami hanya ingin berunding denganmu, kenapa malah memukulnya?!"


"Begitulah, kurasa orang ini sama sekali tidak memiliki hati nurani dan melakukan segalanya hanya untuk menghasilkan uang. Dia sama sekali tidak berperikemanusiaan!"


"Orang seperti ini pantas mati. Mengira dengan segelintir uang dia bisa melakukan segalanya!"


Alex mengernyitkan dahi setelah mendengar tuduhan mereka, kemudian meletakkan ponsel dan berkata dengan acuh, "Yang kalian katakan sangat masuk akal, aku memang memiliki segelintir uang."


Semua orang berhenti menghina dan menatap Alex dengan heran, sementara Alex tersenyum dan berkata, "Benar, aku hanya memiliki segelintir uang, karena itulah aku bersikap seperti ini. Kalau nggak, bagaimana menurut kalian? Sekarang aku sudah kaya. Dengan uang, aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan."


Seketika, semua orang yang mengira Alex tidak akan tahan dengan tuduhan ini tidak tahu harus berkata apa.


Ucapan ini membuat mereka kehilangan kata-kata selama beberapa saat.


Hengki terbaring di atas lantai sambil berguling-guling dengan kesakitan.


Seolah baru saja ditabrak mobil.


Alex tahu seberapa besar kekuatan yang dia gunakan untuk menendangnya. Sekarang tidak ada masalah dengan Hengki. Dia hanya sedang berpura-pura.


"Walau kaya, kamu juga nggak boleh membunuh orang. Kalau sampai melakukan itu, kamu akan menjadi seorang pembunuh dan masuk penjara!"


"Benar, memangnya kenapa kalau kaya? Apakah kalau sudah kaya, itu artinya kamu bisa membunuh orang?"


Alex berkata dengan acuh, "Sebenarnya, kalian semua tahu kalau aku ini sangat kaya. Kalau aku ingin membunuh seseorang, hukuman yang akan kuterima sangatlah ringan dengan kompensasi cukup. Aku juga bisa menyerahkan perusahaan untuk dikelola orang lain dan akan menjadi bos setelah keluar dari penjara."


Semua orang tidak bisa berkata-kata.


Memang benar Alex sudah menang. Mana mungkin mereka bisa membantah ucapan ini?


Alex menatap semua orang yang terdiam dan berkata dengan seringai di wajahnya, "Tapi nggak satu pun dari beberapa masalah ini terjadi, jadi aku nggak harus masuk penjara, tapi pihak biro real estat dan kantor polisi akan datang. Begitu tiba saatnya, kuharap kalian bisa memberi tahu mereka dengan tulus, apakah tanah ini milik kalian atau pemerintah? Kalau ini milik kalian, aku bisa meminta kompensasi dari pemerintah."


Semua orang saling menatap dengan wajah muram dan ada yang cemas. Tentu saja mereka tahu tanah ini bukan milik mereka. Tanah mereka telah lama direbut kembali dan saat itu, negara telah memberi mereka banyak kompensasi. Sekarang mereka hanya ingin mendapatkan keuntungan.


Alex berkata dengan acuh, "Lihat, kalian mulai goyah. Bagaimana kalian bisa memerasku?"


Semua orang yang Hengki bawa pun pergi karena tidak ingin ditahan. Mereka kemari karena Hengki bilang akan mendapatkan keuntungan, tetapi sepertinya mereka tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Kalau tidak pergi, mungkin saja mereka akan ditangkap.