Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Hasil Tempur yang Langka


“Hati-hati, semua!” teriak Ghaston sambil menggunakan tangannya untuk mengingatkan saudaranya.


“Son, gimana kamu? Bangun! Ayo teruskan!” Nelson yang punya hubungan paling baik dengan Sony berteriak, lalu kembali mengepung Alex dengan waspada bersama ketiga kakaknya.


Tapi, Sony tidak merespon sama sekali, darah juga mengalir dari sudut bibirnya, dia berada dalam kondisi koma saat ini.


“Perhatikan kerja sama, jadikan Sony sebagai peringatan!” Ghaston tersontak kaget di dalam hati: Meskipun tanding solo juga hanya beberapa orang di seluruh Medan yang bisa menjatuhkan Sony dalam sekali pukul! Tapi Alex berhasil melakukannya! Pemuda ini terlalu kuat!


Dengan demikian, Alex dikepung di tengah oleh keempat saudara tersebut, tapi mereka tidak menyerangnya, melainkan hanya terus mengujinya.


Tapi, persepsi Alex terhadap jarak dan perbedaan kekuatan lawan sangat jelas, jurus-jurus yang digunakan untuk mengujinya sedikitpun tidak dipedulikan Alex, dia setenang sebuah gunung dan menatap mereka berempat dengan acuh tak acuh.


Keempat orang tersebut berjalan di sekitar Alex, dan inti perhatian mereka tentu saja Alex yang berada di tengah.


Sulit dibayangkan bagi keempat bersaudara itu karena harus sangat berhati-hati ketika berhadapan dengan Alex meskipun keempatnya adalah master bela diri.


Waktu terus berlalu, setelah lebih dari 10 menit berlalu, keempat bersaudara itu masih belum benar-benar melancarkan serangan.


“Hei kalian berempat, ngak capek apa mutar terus dari tadi?” Alex tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka suara.


“Ngak.” Telapak tangan kanan Nelson tiba-tiba bergerak maju dan hendak meraih dahi Alex.


“Tepat waktu!” Alex mengangkat tangannya hendak menahan serangan.


Kesempatan sudah datang! Ghaston menyerang diam-diam dari belakang dengan menendang ke arah pantat Alex.


Kalau tendangan ini tepat sasaran, maka tubuh Alex pasti akan condong ke depan, sedangkan di depan Alex ada Nelson, dan di kedua sisi ada Andreas dan Bernard, kemungkinan untuk hidup sangat nihil dalam situasi seperti ini.


Dalam sekejap mata, Alex telah melakukan pilihan yang tepat.


Dia tiba-tiba memplesetkan langkah kakinya dan badannya menabrak ke arah Bernard yang berada di sisi kiri.


“Hah?” Bernard menghindar dengan kecepatan tercepat, untungnya Nelson dan Andreas menyerang Alex tepat waktu sehingga memperlambat serangan Alex dan membuat Bernard terhindar dari nasib yang sama dengan Sony.


Bernard berkeringat dingin akibat terkejut, tapi dia tetap segera bergabung dalam timnya untuk menghindari cedera saudaranya.


Awalnya 5 orang master datang untuk menyerang seorang pemuda yang tak dikenal, dengan begitu mereka pasti akan menang telak, dan lawan akan mati.


Namun, tak terbayangkan oleh mereka berempat jika pihak lawan masih bisa bertahan setelah diserang bersama oleh mereka berempat.


Hanya dalam waktu sekejap, ratusan jurus telah dilayangkan, Alex juga bermain cepat, meskipun dia lebih banyak melakukan pertahanan, dan lebih sedikit dalam menyerang, tapi dia sudah cukup bangga.


Sedangkan Sony yang terkapar di tanah tidak bergerak sedari tadi, sepertinya dia masih belum bangun dari koma.


Pertarungan sengit 4 vs 1 terus berlangsung selama belasan menit, kedua belah pihak telah sangat kelelahan.


Syut! Mereka berempat mundur dari area tersebut bersama dan kembali mengepung Alex, menatapnya dengan ganas sambil mengamati kesempatan untuk menyerang lagi.


Alex juga sudah kehilangan banyak tenaga saat ini, oleh karena itu, dia juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatur nafasnya. Sepasang tangan sulit untuk menghadapi 4 orang musuh, seperti seekor harimau ganas yang juga takut dengan sekelompok serigala.


Namun, barusan Alex berhasil melawan 8 buah tangan dengan sepasang tinju! Hampir setiap detik dilaluinya di dalam keadaan ekstrim.


Yang perlu dibanggakan adalah kondisi 4 bersaudara Mahari juga tidak lebih baik dari Alex.


Mereka masing-masing merasakan kehebatan bela diri Alex, jika bukan 4 orang menyerang bersama, maka kesempatan untuk seri saja tidak akan ada! Pemikiran ini membuat mereka semua ketakutan: Sebenarnya sehebat apa anak ini?


Tambo sekalipun juga akan kesulitan bertahan selama ini jika mereka berempat menyerang bersama meskipun sangat paham dengan jurus dan kekuatan mereka masing-masing!


Ghaston tertegun, Nelson berteriak, “Kak, pergilah dulu!”


Ghaston tak lagi ragu, dia muncul di sisi Sony dalam sekejap dan memukul pundak Sony.


Sony segera terbangun, “Eh, Tuan Ghaston.”


“Ayo pergi! Masih bisa jalan?” tanya Ghaston buru-buru.


“Bisa, tentu saja bisa.” Sony merasa sangat bersalah, tapi sekarang dia sudah kehilangan sebagian besar kekuatan tempurnya, dia hanya akan menjadi beban bagi 4 tuan muda jika tetap tinggal di sini.


“Oke, cepat pergi, cepat!” Setelah berteriak, Ghaston tiba-tiba merasakan Alex kembali menyerang ketiga saudaranya, Ghaston berteriak dan kembali dalam pertarungan.


Dia merasa dirinya tidak boleh pergi, kalau tidak, maka nyawa ketiga saudaranya kemungkinan pasti akan melayang di sini.


Lagi-lagi pertarungan menegangkan antara kekuatan, kecerdikan dan kecepatan. Setelah selang waktu 5 menit, keempatnya kembali keluar dari arena.


Alex menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu berdiri diam dalam keadaan siaga sambil memperhatikan gerak-gerik keempat orang itu dengan tatapan dingin.


“Ayo pergi!” Ghaston memberi arahan kepada saudara-saudaranya, lalu berbalik pergi.


Sebagai kakak, Ghaston dan Andreas selalu berada di belakang.


“Heh.” Setelah menenangkan diri, Alex mendadak merasa sekujur tubuhnya menjadi lemas!


Pertarungan ini hampir menguras habis semua energinya.


Meskipun dia tidak bisa membuat salah satu di antaranya luka parah, tapi dia sudah melukai Sony, dan ini sudah merupakan hasil yang langka.


Tapi, tempat ini terlalu berbahaya, dia tidak boleh beristirahat.


Oleh karena itu, setelah hanya menenangkan diri selama 3 menit, Alex tiba-tiba bangkit semangat lagi dan pergi secepat kilat!


Dengan kemampuan tempurnya, sangat mudah untuk menghindari kepungan para anak buah keluarga Mahari di siang bolong.


Setelah berhasil melarikan diri, barulah dia mengeluarkan ponsel dan menelpon Friska, “Halo, gimana kalian? Ngak apa-apa, kan?”


Friska berkata, “Tenang saja, orang-orang bodoh itu sudah kami tahan! Danny juga ngak apa-apa, dia lagi di rumah sakit sekarang. Oh iya, gimana keadaan di tempatmu? Ngak ada bahaya, kan? Tadi kami ngak berani menelponmu.”


Alex merasakan kehangatan di lubuk hatinya mendengar kekhawatiran Friska pada dirinya, “Ngak apa-apa, ngak bakal ada yang terjadi kok. Supir itu sudah kubunuh, terus Sony juga terluka.”


“Apa?!” Friska terkejut, “Kamu diserang? Siapa saja di pihak lawan?”


Alex berkata dengan tenang, “Selain Larry, semua anggota keluarga Mahari datang. Tapi mereka sudah kabur sekarang, aku akan segera ke rumah sakit.”


“Oh, oke! Baguslah kalau kamu ngak apa-apa.” Friska menghela nafas lega, “Cepatlah ke sini.”


Setelah mengakhiri panggilan, Alex pun lega karena dia dan Jasmin tidak apa-apa, kemudian dia menghentikan sebuah taksi dan menuju rumah sakit.


“Ngak kusangka Ghaston dan yang lainnya akan membuat jebakan seperti ini hanya untuk membunuhmu.” Jasmin menyesal, “Kalau tahu begini aku pasti akan tetap bersamamu di sana dan membantumu!”